Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan

Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan
Munculnya Sebuah Perhatian


__ADS_3

Reyna pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Revan. Namun, saat ia menolehkan wajahnya kesamping, ia mendapati Bagas tengah duduk di meja kerjanya yang berada di luar ruangan Revan, membuat Reyna menyapanya.


“Mari pak Bagas, saya permisi dulu.” sapa Reyna ramah disertai senyuman.


“Silahkan..” jawab Bagas singkat tanpa ekspresi.


“Pantas saja dia dijuluki batu giok oleh orang-orang, dia tidak pernah mengubah ekspresinya lebih dari tiga kali selain marah, khawatir kepada bosnya, dan wajah datarnya itu.” ucap Reyna dalam hati sambil terus melangkah menuju lift.


Yap, banyak karyawan yang memberikan julukan batu giok kepada Bagas yang selalu berada disamping Revan. Julukan itu diberikan karena Bagas memiliki wajah yang tampan namun jarang sekali berekspresi. Membuat mereka gemas hingga ada yang menganggap Bagas seperti robot manusia.


Saat Reyna hendak memasuki lift tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


“Reyna!” panggil seseorang itu seraya mendekat kearahnya membuat Reyna langsung menolehkan wajahnya.


“Pak Anthony?!” sapa Reyna setelah ia tahu orang yang memanggilnya ialah pak Anthony yang tak lain ialah kepala divisinya.


“Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja? Apa kita perlu ke rumah sakit?!” ucap Anthony panik hingga melontarkan pertanyaan yang bertubi-tubi saat ia sudah berada didepan Reyna.


“Ah, saya baik-baik saja pak, dan tidak perlu ke rumah sakit karena pak Revan tadi sudah mengobatinya.” jawab Reyna yang seketika membuat Anthony mengangkat sebelah alisnya seolah meminta penjelasan lebih atas jawaban Reyna.


“Maksud saya beliau membelikan obat untuk saya mengobatinya..!” jelas reyna lagi.


“Lah, kenapa aku jawabnya jadi gini sih? Kenapa aku gak bisa ngomong kalau memang pak Revan lah yang mengobatiku?!” Geram Reyna dalam hati.


Entah kenapa Reyna memberikan penjelasan yang seolah-olah menutupi kebaikan Revan, entah karena ia tak mau orang lain salah paham atas perlakuan Revan padanya, ataukah Reyna malu mengakui kebaikan Revan dihadapan orang lain.


Namun, tiba-tiba Anthony mengangguk-angguk seolah mengerti maksud Reyna, dan dalam sekejap merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria.


“Syukurlah kalau gitu!” ucap Anthony lega.


“Syukur?” tanya Reyna yang berbalik mengangkat satu alisnya.


“Emm.. Maksudnya syukurlah kalau kamu nggak papa. Iya gitu..! syukurlah!” jelas Anthony dengan panik, membuat Reyna mengangguk mengerti. Entah benar-benar mengerti, atau hanya bersikap seolah-olah ia mengerti.


“Kalau gitu sekarang kamu mau kemana Rey?” tanya Anthony mengalihkan topik pembicaraan.


“Saya mau pulang pak, karena pak Revan menyuruh saya pulang untuk istirahat hingga keadaan saya membaik.” jawab Reyna menjelaskan.


“Kalau gitu biar saya yang antar kamu pulang.” ucap Anthony menawarkan.


“Oh nggak usah pak, saya naik bus saja.” tolak Reyna ramah.


“Nggak papa Reyna.. masa dengan kondisimu yang seperti ini kamu malah mau naik bus sih?! Kan nggak enak nanti kamu jadi dilihatin orang..” ucap Anthony berusaha membuat Reyna menerima tawarannya.

__ADS_1


Terlihat Reyna sedang memikirkan ucapan Anthony yang dirasa ada benarnya juga.


“Emm.. Nggak papa nih pak? Inikan masih jam kantor..” tanya Reyna seolah-olah ingin diyakinkan sekali lagi.


“Iya Reyna.. nggak papa, lagian kerjaan saya hari ini sudah hampir beres.” jawab Anthony seraya tersenyum lebar.


“Baiklah kalau gitu, maaf kali ini saya harus merepotkan pak Anthony.” ucap Reyna yang langsung membuat Anthony sangat bersemangat.


“Tidak merepotkan sama sekali kok!”


“Baiklah, kalau gitu mari saya antar!” ucap Anthony seraya menekan tombol lift dan mempersilahkan Reyna masuk ke dalam lift terlebih dahulu.


“Baik pak, terimakasih!” ucap Reyna kikuk.


“Kenapa perlakuan pak Anthony jadi gini yaa?!”


“Sikap beliau yang tegas dan ramah kepada para staffnya memang baik sih, tapi apa ini bagian dari sikap ramahnya itu? Atau karna beliau kepala divisi jadi selalu memberikan perhatian seperti ini kepada staffnya sebagai bentuk tanggungjawab? Kalau begitu baguslah! Berarti beliau adalah sosok atasan yang sangat baik dan care kepada bawahannya.” ucap Reyna dalam hati seraya melihat ke arah Anthony.


Anthony yang sedari tadi melihat pantulan pintu lift mulai menyadari bahwa Reyna sedang memandangi dirinya, membuat ia sangat gugup karena jantungnya yang berdebar kencang.


Terlihat papan display lift sudah menunjukkan angka 0 yang berarti mereka sudah berada di lantai basement.


“Ting!”


“Kita sudah sampai! Mari Reyna kita ke mobil saya.” ucap Anthony gugup dan langsung berjalan sedikit cepat didepan Reyna seraya menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya.


Mereka akhirnya berhenti didepan sebuah mobil Toyota vios berwarna silver metalic keluaran terbaru yang tak lain ialah mobil Anthony. Setelah berada didepan mobilnya, Anthony segera bergegas membukakan pintu mobil disebelah kemudi dan mempersilahkan Reyna untuk masuk.


“Reyna, silahkan..” ucap Anthony mempersilahkan, membuat Reyna sedikit bingung dengan tingkah atasannya itu yang dirasa terlalu baik.


“T-terimakasih pak!” jawab Reyna bingung seraya duduk di bangku sebelah kemudi.


“Jlek!”


Segera setelah menutup pintu disisi Reyna, Anthony bergegas masuk ke mobilnya.


“Rumah kamu kearah mana Rey?” tanya Anthony setelah menyalakan mesin mobilnya.


“Rumah saya di Desa Putik gang. 02 pak, lumayan jauh sih dari sini.. beneran nggak papa pak?” jawab Reyna diakhiri dengan pertanyaan saat menjelaskan alamat rumahnya karena masih merasa tidak enak kepada atasannya itu.


“Nggak papa kok Rey, bagi saya itu nggak terlalu jauh.” jawab Anthony santai disertai dengan senyuman.


“Baiklah kalau gitu kita berangkat!” Lanjutnya seraya menjalankan mobilnya, terlihat Reyna hanya bisa tersenyum karena tingkah atasannya hari ini yang sedikit berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Di sisi lain, terlihat Bagas tengah berdiri di depan pintu ruangan bosnya dengan wajah cemas karena jam makan siang yang sudah tiba namun Revan tak kunjung keluar dari ruangannya.


“Tok! Tok! Tok!”


“Permisi tuan muda, jam makan siang sudah tiba, kenapa anda tidak kunjung keluar?” tanya Bagas khawatir seraya memasuki ruang kerja Revan.


“Oh, Aku masih belum lapar gas, jadi aku melanjutkan pekerjaanku yang hanya tinggal sedikit lagi.” jawab Revan masih berkutat dengan Macbooknya.


“Tapi tuan muda, kali ini anda tidak boleh melewatkan jam makan siang, karena anda tadi pagi sudah melewatkan sarapan anda. Lalu ..” jelas Bagas dengan tegas namun langsung dipotong oleh Revan.


“Sedikit lagi, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sedikit lagi untuk makan siang.” ucap Revan tak bergeming dari Macbooknya. Membuat Bagas memutar otak untuk membuat bosnya berhenti sejenak agar mendengarkannya.


“Maaf tuan muda, apakah tadi anda menyuruh nona Reyna untuk pulang?” tanya Bagas kepada Revan. Benar saja, pancingan Bagas berhasil membuat Revan berhenti dari aktivitasnya dan berfokus pada pertanyaan Bagas.


“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” tanya Revan dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Oh, karena tadi saya sempat melihat nona Reyna berbincang dengan Anthony kepala divisinya, dan tak sengaja mendengar percakapan mereka. jawab Bagas menjelaskan.


“Apa yang mereka bicarakan?” tanya Revan lagi dengan tatapan penasaran yang tak sabar.


“Saya sempat mendengar bahwa Anthony akan mengantar nona Reyna pulang.” jawab Bagas lagi dengan jelas. Membuat raut wajah Revan berubah.


“Jadi gadis itu diantarkan oleh kepala divisinya?” tanya Revan sekali lagi.


“Benar tuan muda.” jawab Bagas mantap.


“Heeehh! Ternyata gadis itu berhasil memikat hati banyak orang!” gumam Revan dengan pandangan sinis.


“Lalu, apa maksudmu memberikan informasi ini kepadaku?” tanya Revan dengan pandangan menyelidik.


“Maaf tuan muda, tapi anda terlihat sangat tertarik dengan informasi yang saya berikan ini.” jawab Bagas tersenyum membuat Revan kalah telak.


“Ehem.! Ehem!” Revan hanya bisa berdehem seraya mengalihkan pandangannya.


“Lalu, apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan? Sepertinya tadi aku memotong ucapanmu..” tanya Revan berusaha mengganti topik pembicaraan. Ya, hal inilah yang diinginkan Bagas. Mendapatkan perhatian Revan atas informasi penting yang akan ia sampaikan.


“Ada tuan muda, tadi tuan besar menghubungi saya dan menanyakan soal keluarga Phanthom yang hancur dan menyuruh tuan muda untuk segera pulang dan menjelaskannya kepada beliau.” ucap Bagas menyampaikan pesan dari Tuan Nugroho.


“Lalu, Nyonya besar juga berpesan agar anda makan siang di rumah bersama mereka sebelum membahas tentang keluarga Phanthom.” lanjut Bagas lagi.


“Hmm.. Walaupun aku menghancurkan mereka secara diam-diam, tetap saja kabar ini akan segera tersebar hingga ke telinga papa. Baguslah!” ucap Revan bangga.


“Baiklah, kita pulang kerumah sekarang!” ucap Revan memerintah.

__ADS_1


“Baik tuan muda.” jawab Bagas patuh.


Segera setelah itu, Revan beranjak dari kursinya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan diikuti oleh Bagas dibelakangnya untuk bergegas pulang menemui kedua orang tuanya.


__ADS_2