
“Bundaa..!!”
“Bundaaaa..!!”
“Bundaaaaaaa..!!”
Terdengar teriakan bertubi-tubi dari seorang gadis yang baru saja tiba dirumahnya. Siapa lagi kalau bukan Reyna.
“Hsssttt.. Rere! Apa-apaan sih kamu teriak-teriak kayak gitu, nggak malu kalau sampai di dengar tetangga? Bunda aja yang lagi angkat jemuran di halaman belakang sampai kedengeran!” sosok wanita paruh baya muncul dengan omelan khasnya yang membuat Reyna langsung terdiam cengengesan. Ya, wanita itu ialah bunda Mery.
“Hehehe.. coba tebak bun, apa yang bikin Rere sampai teriak-teriak kayak gitu?” tanya Reyna kepada sang bunda.
“Habis nemu uang 500 perak dijalan ya kamu?” jawab bunda Mery asal.
“Ihh, bukanlah.. masa nemu uang 500 perak sih bun. Coba tebak lagi.” tantang Reyna.
“Habis nemu jodoh dijalan ya?” jawab bunda Mery masih menggoda anaknya.
“Ish, bunda mah.. ini serius bun..” ucap Reyna sambil merengek dan langsung terdengar suara kekehan dari sang bunda.
“Hahaha.. bunda gak tau ih, kamu langsung cerita aja ah, kenapa harus main tebak-tebakan segala!” ucap bunda Mery.
“Okey, bunda dengerin Rere baik-baik ya..” pinta Reyna yang langsung mendapatkan anggukan dari sang bunda yang artinya setuju.
“Bundaa.. Rere Diterima bekerja di perusahaan Z yang Rere impikan buunn..!! perusahaan terbaik di negara ini.!!” ucap Reyna disertai teriakan kebahagiaan.
“Hah? Beneran Rey? Rere nggak bohong kan sama bunda?” ucap bunda Mery heran tak percaya.
“Beneran bunn.. Rere nggak bohongg! Mulai besok Rere sudah mulai bekerja bunn..!!” ucap Reyna meyakinkan.
“Syukurlaahhh.. akhirnya kamu menjadi karyawan di perusahaan impianmu Rey.. Bunda seneng bangeett..!! huhuhuhu.” seru bunda Mery dengar air mata yang mulai meluncur di pipinya.
“Eh, bunda.. kenapa bunda menangis? Ini kan kabar bahagia bun.” ucap Reyna kebingungan sambil menyeka air mata sang bunda.
“Bunda tahu Rey, tapi air mata ini adalah air mata bahagia.. Akhirnya perjuanganmu selama ini membuahkan hasil.. Semoga ini adalah jalan kamu menuju kesuksesan ya Rey?!” jawab bunda Mery dengan penuh harap.
“Iya bundaa.. Rere akan berusaha lebih keras lagi agar impian Rere bisa segera terwujud, dan Rere bisa mengubah nasib keluarga kita bun.” jawab Reyna dengan yakin.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dengan tempo yang lambat perlahan mendekat ke arah Reyna dan bunda Mery.
“Plok..! Plok...! Plok..! Plok!”
__ADS_1
“Wahh.. Sungguh suasana yang mengharukan!” ucap seorang pria dengan suara berat yang sedari tadi mengamati Reyna dan bunda Mery dari arah samping. Siapa lagi kalau bukan Rian, kakak Reyna.
“Ka- Kakak..!” ucap Reyna sedikit gugup.
“Iya Rey, ini kakakmu. Mau siapa lagi, hahaha!” balas Rian disertai tawa yang menggelegar.
Namun, suara tawa itu membuat suasana menjadi hening. Reyna dan bunda Mery terdiam seribu bahasa.
“Barusan kudengar, kamu diterima bekerja di sebuah perusahaan besar?!” ucap Rian.
“Wahh.. pasti gajinya gede, yakan Re? Hahahah!” lanjutnya, yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Reyna.
“Kenapa diam? Padahal kakak ikut seneng loh kamu di terima di perusahaan itu Re. Kakak seneng banget melebihi kamu.”
“Sini, Rere sayang.. peluk kakak!” ucap Rian dengan suara lembut.
Reyna masih diam tak bergeming.
“Kenapa diam saja? Sini !!” ucap Rian kesal yang diakhiri dengan teriakan.
Entah kenapa, mendengar teriakan Rian yang menggelegar. Reyna langsung melangkahkan kakinya menuju arah Rian dengan takut.
“Oohh.. Adikku tersayaangggg..” ucap Rian sambil mendekap adiknya. Namun, tiba-tiba..
“Riaannn..!! apa yang kamu lakukan?! Lepaskan adikmu!” teriak bunda Mery, dan tanpa pikir panjang langsung mendekat, mencoba melepaskan tangan Rian yang menarik rambut Reyna. Namun, bunda Mery malah didorong oleh Rian hingga tersungkur.
“Bundaaa..!!” teriak Reyna yang malah mendapatkan jambakan yang lebih kuat pada rambutnya.
“Aww..!” Reyna meringis menahan rasa sakit di kepalanya.
“Ngapain sih wanita tua ini! drama banget. Padahal aku cuma mau bicara sama adikku yang sebentar lagi akan jadi orang sukses ini!” ucap Rian sambil meyeringai.
“Kak ian, apa mau kakak? Kenapa kakak kayak gini ke aku dan bunda?” tanya Reyna pelan.
“Reyna.. Reyna.. kayak baru hidup beberapa hari aja sama kakak. Hahaha!” jawab Rian dengan tawa yang menakutkan.
“Apa mau kakak?” tanya Reyna sekali lagi.
“Beri aku uang!” jawab Rian singkat.
“Uang? Untuk apa kak? Untuk membeli minuman-minuman jahannam itu?!” sentak Reyna.
__ADS_1
“Plaakkk!!”
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Reyna hingga meninggalkan bekas.
“B*ngs*t kau! Hanya meminta uang saja kau banyak bicara!” ucap Rian murka dan langsung menggeledah tas Reyna, mengambil uang dari dompetnya.
“Riaan..!! kamu keterlaluan!” teriak bunda Mery sambil menangis berlari ke arah Reyna dan memeluknya.
“Diam..!! siapa suruh kau tidak cantik, membiarkan ayah kabur bersama wanita lain dan menghancurkan keluarga kita.! Kau sudah tidak punya hak atas diriku! Kau juga yang sudah membuatku menjadi seperti ini, jadi kau diam saja ibu Mery!” ucap Rian tanpa perasaan.
“Kak Riaann! Cukuuuuppp..!!” teriak Reyna lantang sembari memegang pipinya yang mulai membengkak.
“Ambil! Ambil semua uang di dompet itu dan pergi!! Jangan biarkan aku mendengarmu mengucapkan kalimat menyakitkan pada bunda lagi! Ambil! Ambil dan pergilah!” ucap Reyna keras sembari memberikan peringatan pada Rian.
“Gini dong daritadi! Kalau kayak gini kan aku juga nggak bakal kasar ke kalian.. hahahhaha!” jawab Rian disertai tawa biadabnya dan berlalu pergi meninggalkan Reyna dan bunda Mery.
“Huhuhuhu.. Reyna.. kamu nggak papa sayang?” tanya bunda Mery sambil menangis tersedu-sedu.
“Reyna nggak papa bun..bunda nggak papa kan? Nggak ada luka kan?” Reyna balik bertanya sembari mengecek kondisi bunda Mery.
“Bunda nggak papa Rey.. Tapi pipi kamu..” jawab bunda Mery sambil menatap pipi Reyna dengan tatapan nanar.
“Nggak papa bunda.. ini tinggal dikompres aja seperti biasa nanti bengkaknya juga hilang. Kalau soal bekasnya tinggal di tutupin pakai make up aja udah beres kok bun hehe..” jawab Reyna sambil tersenyum, berharap bisa menghilangkan setidaknya sedikit kekhawatiran dalam hati sang bunda.
“Maafin bunda ya Rey.. Maafin bundaaa..”
“Gara-gara bunda keluarga kita menjadi seperti ini, Maafin bunda Rey.. bunda bersalah dalam hal ini.. maafin bundaa yang membuat kalian menjadi seperti ini.. huhuhuhu!” ucap bunda Mery terisak.
“Bunda.. bunda ngomong apa sih, ini semua bukan salah bunda.. bunda nggak salah! Keluarga kita hancur karena godaan yang tidak bisa dihindari oleh ayah. Bunda sama sekali nggak bersalah dalam hal ini, bunda tenang ya.. bunda nggak usah dengerin kata kak ian. Selama ini bunda sudah berjuang sangat keras demi kami, bunda nggak bersalah.” ucap Reyna menenangkan sang bunda dalam pelukannya.
Mendengar isak tangis bunda Mery membuat Reyna semakin membulatkan tekadnya agar berjuang lebih keras lagi untuk mengubah nasib keluarganya, menyelamatkan kakaknya dari belenggu minuman keras, serta keinginan untuk menemukan keberadaan sosok sang ayah yang sampai saat ini masih sangat dirindukannya.
“Sudah.. sudah.. Bunda istirahat ya.. Reyna anterin ke kamar.” ucap Reyna sambil menuntun bunda Mery ke kamarnya.
“Rere.. sekali lagi maafin bunda ya..” ucap bunda Mery pelan setelah berbaring di kasurnya.
“Bundaa.. nggak ada yang perlu Rere maafin, karena bunda nggak salah apapun. Sudah ya, bunda istirahat, Rere juga mau ke kamar.” balas Reyna sambil menutup setengah tubuh bunda Mery dengan selimut, sebelum akhirnya beranjak pergi dari kamar sang bunda.
Reyna berjalan menuju dapur untuk mengambil ember kecil dan air es, setelah itu ia menuju kamarnya untuk mengompres pipinya yang bengkak.
“Ternyata bengkaknya lumayan parah dari biasanya. Tidak heran kalau bunda jadi se-khawatir itu.” gumam Reyna didepan cermin sembari mengompres pipinya.
__ADS_1
“Sekarang sebaiknya aku istirahat dulu.” lanjut Reyna pelan, sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki menuju ranjang miliknya dan berbaring di kasur seraya menatap sendu dinding langit kamarnya sambil berharap hari esok akan lebih baik.
Lambat laun akhirnya mata Reyna terpejam, bagi Reyna tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan semua penat yang menumpuk di dadanya.