
Mendengar ucapan Revan membuat Reyna diam terpaku dan tidak bisa lagi mengontrol debaran jantungnya yang semakin kencang hingga seakan-akan mau meledak.
“Benar apa yang dikatakan atasanmu Re.” tiba-tiba bunda Mery memasuki bangsal VVIP tempat Reyna terbaring. Diikuti Bagas dibelakangnya dan langsung menyahuti pembicaraan antara Reyna dan Revan yang terlihat cukup serius.
“Memangnya kenapa kalau Rian adalah kakakmu?! dia sudah sangat kelewatan Re, bahkan dia tega melakukan hal keji seperti itu terhadapmu yang merupakan adik kandungnya sendiri!” lanjut bunda Mery dengan tatapan nanar seraya menghampiri putrinya yang masih terbaring di ranjang pasien dan langsung memeluknya.
“Bundaaa..?!” ucap Reyna kaget dengan kehadiran sang bunda.
“Hiks.. hiks.. maafin bunda ya Re.. maafin bundaa.. karena bunda, kamu jadi mengalami hal seperti ini. Bunda merasa gagal menjadi orang tua untuk kalian. Hiks” ungkap bunda Mery seraya menangis sesegukan melihat kondisi putrinya tersebut.
“Bunda.. bunda ngomong apa sih?! Bunda nggak pernah gagal menjadi orang tua, bunda adalah orang tua yang baik bagi Rere dan kak Rian. Namun untuk saat ini kak Rian memang sedang berada dalam kondisi yang sulit, jadi dia terjerumus ke jalan yang salah, lagian Rere juga baik-baik aja kok. Bunda jangan nangis lagi ya..” ucap Reyna bijak dengan maksud menenangkan hati sang bunda sambil menyeka air matanya.
“Tapi Rian memang harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya kali ini Re.. selama ini kita selalu diam saja atas semua perbuatan yang dilakukannya, tapi kali ini Rian sudah sangat keterlaluan!” ungkap bunda Mery dengan tatapan penuh amarah.
“Saya setuju dengan apa yang Nyonya ucapkan.” sahut Revan menyetujui apa yang bunda Mery katakan, membuat bunda Mery melepaskan pelukannya pada Reyna dan langsung berdiri dengan panik merasa bersalah karena terhanyut dengan suasana tanpa mempedulikan bahwa ada dua orang yang sedari tadi memperhatikan mereka yakni Revan dan Bagas.
“Ah, maafkan saya.. saya terlalu terhanyut dengan suasana.” ucap bunda Mery sembari menundukkan kepalanya.
“Ah tidak apa-apa Nyonya, saya mengerti apa yang Nyonya rasakan. Nyonya tidak perlu meminta maaf.” jawab Revan kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Pfftt..!” Reyna berusaha menahan tawa karena melihat Revan yang salah tingkah, namun malah membuat telinga dan wajah Revan menjadi memerah karena malu.
Melihat suasana yang menjadi canggung, membuat Bagas berusaha mengalihkan topik.
“Tuan muda, beliau adalah Nyonya Mery. Ibu dari nona Reyna. Dan Nyonya Mery, beliau adalah tuan muda Revan CEO Perusahaan Z.” ucap Bagas mengalihkan topik dengan memperkenalkan bunda Mery dan Revan.
“Ah tuan muda Revan. Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa anak saya.” ucap bunda Mery dengan tulus menundukkan kepalanya sejenak sebagai bentuk penghormatan kepada Revan.
“Tidak, tidak. Anda tidak perlu seperti itu Nyonya. Saya melakukan apa yang harus saya lakukan sebagai sesama manusia, dan tolong jangan memanggil saya seperti itu. Nyonya cukup memanggil nama saya saja, Revan.” jawab Revan bijak.
“Apakah saya boleh memanggil anda seperti itu?! Nak Revan?!” tanya bunda Mery memastikan panggilannya dengan hati-hati.
“Tentu saja Nyonya, dengan senang hati.” jawab Revan dengan senyuman yang menawan hingga membuat Reyna dan Bagas terpaku kaget.
“Saya merasa terhormat bisa memanggil nak Revan seperti ini, saya harap nak Revan juga tidak memanggil saya dengan sebutan Nyonya. Nak Revan bisa memanggil saya bunda Mery, sama seperti Reyna.” ucap bunda Mery sukses membuat Reyna dan Bagas kaget, bahkan Reyna sampai membelalakkan matanya tak percaya.
“Bundaaa,,!!” ucap Reyna ingin protes namun tak dihiraukan karena mendapatkan respon berbeda dari Revan yang terlihat sangat antusias karena jawaban bunda Mery.
“Apa boleh saya memanggil anda seperti itu Nyonya?” tanya Revan memberikan respon yang sama dengan bunda Mery.
“Tentu saja nak Revan. Saya lebih suka dipanggil seperti itu, agar hubungan tidak merasa canggung karena nak Revan adalah atasan anak saya. Saya hanya ingin kita menjadi akrab.” jawab bunda Mery dengan senyuman tulus dan ramah.
“Ah begitu.. mungkin saat ini hubungan saya memang sebagai atasan Reyna, tapi..” Revan menggantungkan kalimatnya.
“Mungkin saja nanti bisa lebih dari itu.” gumam Revan dalam hati sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya pada bunda Mery..
“Semoga kedepannya kita bisa menjadi semakin akrab, bunda Mery.” lanjut Revan dengan senyuman yang ramah.
“Begini terdengar lebih baik.” ucap bunda Mery mendengar Revan mulai memanggilnya ‘bunda’.
Revan dan bunda Mery pun akhirnya bercakap-cakap dan saling bertukar pendapat mereka, dan sesekali Reyna juga ikut menyahuti. Bahkan mereka sampai tidak sadar bahwa malam telah tiba.
“Ah tak terasa sudah malam saja karena asik berbincang. Apa bunda Mery mau saya antarkan pulang?! Biar saya yang menjaga Reyna bermalam disini.” ucap Revan menawarkan.
“Deg!”
__ADS_1
“Kenapa pak Revan memberikan tawaran seperti itu?! Apa sih maksudnya?! daritadi kalimat yang dia ucapkan selalu membuat hatiku berdebar-debar.” gumam Reyna dalam hati yang masih bingung dengan ucapan Revan..
“Tidak perlu nak Revan, bunda ingin menjaga Rere disini.” jawab bunda Mery menolak tawaran Revan dengan halus.
“Apa benar tidak apa-apa? saya perhatikan sedari tadi waktu kita berbincang-bincang, bunda Mery sesekali terbatuk. Apa tidak sebaiknya bunda Mery istirahat saja di rumah?” tanya Revan sekali lagi. Ya, sedari tadi saat mereka berbincang bunda Mery sesekali terbatuk karena memang kondisi tubuhnya yang tidak fit.
“Saya baik-baik saja nak Revan, nak Revan tidak perlu khawatir.” Jelas bunda Mery berusaha membuat Revan percaya.
“Bunda beneran nggak papa?” tanya Reyna yang juga menyadari bahwa kondisi sang bunda yang kurang baik-baik saja.
“Iya sayang, bunda nggak papa. Biarkan bunda bermalam disini untuk nemenin kamu.” jawab bunda Mery dengan tatapan penuh harap.
“Baiklah, kalau bunda Mery bilang tidak apa-apa saya tidak bisa memaksa. Bunda Mery bisa beristirahat di kasur itu malam ini.” ucap Revan seraya menunjuk kasur double size yang berada di sudut ruangan yang memang diperuntukkan bagi keluarga pasien yang bermalam.
“Kalau begitu saya permisi dulu bunda, Reyna.” lanjut Revan langsung berpamitan.
“Tunggu, apa waktu menolong saya, pak Revan melihat laptop milik saya?” tanya Reyna yang mulai ingat akan laptopnya yang terlempar.
“Ya, aku menyuruh Bagas untuk membawanya ke tempat service karena kondisi LCD laptopmu yang pecah.” jawab
Revan santai.
“Apa?! Pecah?! Berarti data-data di laptop saya menghilang?! Ya ampuunn!! Pasti karena saat itu terlempar begitu jauh. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Padahal besok aku harus mendiskusikan materi presentasi untuk rapat bersama pak Anthony.” ucap Reyna shock setelah mengetahui kondisi laptopnya yang rusak.
“Kau sedang mempersiapkan materi presentasi untuk rapat dua hari lagi?” tanya Revan dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Benar, saya terpilih untuk mewakili divisi keuangan mendampingi pak Anthony dalam rapat tersebut. Tapi sepertinya itu mustahil untuk saat ini.” jawab Reyna dengan wajah yang murung.
“Kenapa mustahil?” tanya Revan sekali lagi.
“Apa setelah pingsan kau berubah menjadi bodoh?!” tanya Revan sinis, membuat Reyna langsung mendelikkan matanya.
“Bodoh?! Apa maksud anda?!” Reyna balik bertanya karena tak terima dengan apa yang baru saja Revan ucapkan.
“Apa kau tidak tahu jika hanya LCD laptopmu yang rusak tidak akan mengakibatkan datamu hilang?!” ucap Revan.
“Tidak hilang?!” tanya Reyna lagi sembari memastikan apa yang baru saja Revan ucapkan. Tak menjawab pertanyaan Reyna, Revan malah memberikan isyarat kepada Bagas untuk menjelaskannya.
“Benar nona Reyna, laptop anda hanya mengalami kerusakan pada LCD dan bukan pada hardisknya. Jadi hanya perlu mengganti LCd dan data anda akan baik-baik saja.” jelas Bagas singkat namun detail.
“Syukurlah.” ucap Reyna sembari membuang nafas lega.
“Tapi, walau begitu sepertinya saya tidak akan bisa mengikuti rapat karena kondisi sa..” lanjut Reyna yang tidak bisa menyelesaikan kalimatnya hingga akhir karena langsung dipotong oleh Revan.
“Fokuslah pada pemulihanmu, jangan pikirkan tentang rapat. Apa kau tidak mendengar pengumuman bahwa rapatnya diundur beberapa hari lagi?!” ucap Revan tegas.
“Eh, di undur?” tanya Reyna sedikit kaget dengan apa yang Revan ucapkan.
“Benar, jadi kau tak usah khawatir.” jawab Revan santai yang sontak membuat Bagas menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Syukurlah, aku akan lebih fokus pada pemulihan dan akan mengikuti rapat dengan baik tanpa mengecewakan divisi keuangan.” ucap Reyna bersemangat yang berhasil membuat Revan tanpa sadar menyunggingkan senyuman bahagia.
“Baiklah, semuanya sudah jelas. Kalau begitu saya permisi dulu.” ucap Revan akhirnya berpamitan sekali lagi.
“Baik nak Revan. Segeralah beristirahat. Terimakasih sekali lagi karena telah menyelamatkan putri saya.” jawab bunda Mery.
__ADS_1
“Sudah saya bilang, anda tidak perlu beterima..” Revan menghentikan kalimatnya karena langsung dipotong oleh bunda Mery.
“Jangan begitu nak Revan. Tolong terimalah rasa terimakasih ini, karena bagaimanapun juga Reyna bisa selamat dan berada disini juga karena nak Revan.” potong bunda Mery lagi-lagi dengan tatapan tulus dan penuh harap, membuat Revan terdiam tak bisa berkata-kata.
“Terimakasih pak Revan.” sahut Reyna tiba-tiba, suaranya terdengar sangat tulus dan bahkan sorot matanya terlihat sangat berbinar. Ya, walaupun mereka seringkali berdebat tapi bagaimanapun juga Revan lah yang telah menyelamatkannya.
“Deg!”
Kali ini giliran jantung Revan yang berdebar-debar karena tatapan dan senyum tulus Reyna yang mungkin baru pertama kali ia lihat.
“Baiklah kalau begitu, kali ini saya akan menerima rasa terimakasih kalian yang tulus ini.” Akhirnya Revan melontarkan kalimat yang diinginkan oleh Reyna dan bunda Mery dengan tatapan serta senyuman yang sangat ramah.
“Selamat beristirahat bunda Mery, Reyna.” ucap Revan seraya beranjak pergi meninggalkan ruangan diikuti Bagas dibelakangnya setelah ia juga berpamitan pada bunda Mery dan Reyna.
“Hati-hati di jalan nak Revan, nak Bagas.” ucap bunda Mery perhatian seraya beranjak dari samping Reyna untuk mengantar Revan dan Bagas hingga kedepan pintu.
Perhatian yang diberikan bunda Mery tersebut langsung dibalas Revan dengan anggukan mantap sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.
“Baik Nyonya Mery.” jawab Bagas hormat sebelum akhirnya berjalan menjauh mengikuti Revan.
“Hati-hati pak, Revan..” ucap Reyna di akhiri dengan suara yang sangat pelan hingga tidak ada orang yang mendengar kecuali dirinya sendiri, karena melihat punggung Revan yang telah menghilang dibalik pintu.
“Bagaimana keadaanmu sekarang Re.?” tanya bunda Mery menghampiri Reyna setelah selesai mengantarkan Bagas dan Revan.
“Udah mendingan kok bun, tinggal rasa nyeri dari lebam-lebamnya ini sih.” jawab Reyna sambil menunjuk luka lebamnya.
“Tapi bunda bersyukur banget nak Revan nyelametin kamu, bunda nggak bisa bayangin kalau dia nggak ada disitu buat nyelametin kamu.” ucap bunda Mery.
“Iya bunda, Rere juga bersyukur banget pak Revan nolongin Rere.” jawab Reyna dengan tatapan yang memandang jauh kedepan serta senyuman yang terukir di bibir tipisnya. Melihat reaksi putrinya itu, bunda Mery tak sabar ingin menggodanya.
“Nak Revan orangnya baik dan perhatian banget ya Re?” tanya bunda Mery berusaha memancing Reyna.
“Bener banget bun! Walaupun kadang sifat nyebelin dan arogannya muncul seperti tadi, tapi dia juga punya sisi yang baik, lembut dan perhatian banget. Ups!” jawab Reyna antusias dan tiba-tiba teringat bahwa ia terlalu bersemangat menjawab pertanyaan tentang Revan.
“Ih bunda mah gitu. Bunda sengaja ya?!” lanjut Reyna menyadari bahwa sang bunda sedang menggodanya.
“Sengaja apasih Re? Bukannya kamu sendiri yang semangat banget jawabnya? Hahaha.” ucap bunda Mery tak berhenti menggoda Reyna bahkan hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak karena reaksi lucu putrinya itu.
“Ah gatau ah, nggak lucu!” jawab Reyna sembari mengerucutkan bibirnya.
“Hahaha iya-iya maaf, bunda nggak ketawain kamu lagi deh. Hehe.” ucap bunda Mery seraya mengusap matanya yang ber air karena tertawa.
“Tapi Re, kalau dilihat dari reaksimu. Sepertinya kamu juga menyukai nak Revan?” tanya bunda Mery serius.
“Mana mungkin! Pak Revan itu atasan Reyna bun, latar belakang kita juga berbeda. Kalau diibaratin pak Revan itu kayak langit dan bumi. Pak Revan langitnya dan Reyna buminya.” jelas Reyna nyerocos tanpa henti, membuat bunda Mery terkekeh kecil.
“Ternyata anak bunda sudah besar ya, sudah mulai jatuh cinta.” ucap bunda Mery diakhir kekehannya.
“Bundaaaaaa..” ucap Reyna memanggil sang bunda dengan maksud protes.
“Aduh, nanti kalau Rere menikah, bunda bakalan tinggal sendiri dong aduhh..” lanjut bunda Mery lagi dengan heboh dan penuh drama.
“Bunda ish! Apaan sih! Males ih, Rere mau bobok aja.” ucap Reyna yang langsung berbaring dan menarik selimutnya dengan kasar hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Melihat hal itu bunda Mery hanya bisa tertawa kecil dan merasakan perasaan yang bahagia.
__ADS_1
“Tawamu, rengekanmu, dan semangatmu yang seperti ini selalu membuat bunda bahagia Re. Semoga kelak kamu mendapatkan suami yang bisa melindungimu dan menyayangimu melebihi apapun, karena yang bunda inginkan hanyalah melihatmu bahagia.” gumam bunda Mery dalam hati sambil tersenyum memandangi putrinya itu.