Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan

Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan
Tidak Sendirian


__ADS_3

Jam dinding telah menunjukkan pukul 11.30 siang, yang berarti waktu istirahat bagi para karyawan telah tiba. Tetapi Reyna terlihat masih berkutat dengan pekerjaannya.


“Ya ampuuunnn.. udah waktunya istirahat masih sibuk aja ibu Reynaa!” ucap Gita dengan nada mengejek sambil berjalan menghampiri meja kerja Reyna.


“Iya nih.. kamu ngapain sih Rey kayak sibuk banget?” tanya Anya yang juga ikut menghampiri Reyna.


“Ah, ini kak.. aku lagi ngecek laporan anggaran yang masuk dari masing-masing divisi, dan lagi ngecek laporan-laporan dari tahun-tahun sebelumnya juga biar tahu, kan aku masih baru hehe.” jawab Reyna menjelaskan.


“Yaelahhh Rey, gue kira lu kenapa. Habis wajah lu kelihatan kayak serius gitu?!” ucap Gita.


“Iyaaa.. serius banget malahan!” kata Anya menyetujui ucapan Gita.


“Yaudah kalau gitu kita ke kantin yuk, udah lapeerr bangettt guee daritadi, tadi pagi lupa sarapan.!” ajak Gita cepat.


“Yeee.. lu mah kebiasaan, bangun pagii dong biar bisa sarapan!” cecar Anya kepada sahabatnya itu.


“Bawel lu.. Yuk ah, keburu gue pingsan ini!” ucap Gita seraya menggandeng tangan Anya dan Reyna dan menuntunnya menuju kantin.


Setelah sampai dikantin dan memesan makanan, mereka pun duduk dibangku dan berbincang-bincang.


“Kamu kenapa sih Rey, kok dari tadi melamun terus?” tanya Anya tiba-tiba. Ya, sedari tadi saat tengah asik berbincang-bincang, Reyna sering melewatkan obrolan dengan melamun, Seakan-akan sedang memikirkan sesuatu yang serius.


“Ah, enggak kok kak, aku nggak papa. Cuma mikirin pekerjaan aja.” balas Reyna singkat.


“Eh Rey, jangan bilang lu lagi mikirin kejadian kemaren ya? Udahlah Rey, nggak usah dipikirin. Enjoyy ajaaaa!!” ucap Gita memecahkan suasana.


“Sedikit sih, tapi kali ini aku beneran cuma mikirin pekerjaan aja kok kak..” jawab Reyna jujur.


“Emang ada apa sih Rey? cerita aja ke kita siapa tau kita bisa bantu?!” ujar Anya menawarkan.


“Ah, itu... Sebenernya waktu aku ngecek laporan anggaran dari masing-masing divisi tadi aku merasa ada yang aneh kak..” ucap Reyna menjelaskan sedikit tentang ganjalan yang ada di hatinya.


“Emang apa yang aneh Rey?” tanya Gita yang juga tertarik atas topik yang Reyna katakan.


Namun, belum sempat Reyna mengangkat bibirnya untuk menjelaskan kepada Anya dan Gita. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekat ke meja mereka.


“Oh.. jadi kamu karyawan baru yang keluar dari lift bersama pak Revan tadi?!” ucapnya dengan nada sinis.


“Ternyata hanya wanita biasa, tidak cantik pula, dan kelihatan masih seperti bocah ingusan!” lanjutnya lagi dengan nada dan tatapan mengejek ke arah Reyna.


“Lu apa-apaan sih Lita? Gila ya lu?!!” ucap Gita yang langsung beranjak dari tempatnya.


Wanita yang menghampiri meja Reyna, Gita, dan Anya itu bernama Lita. Karyawan dari divisi yang sama dengan pak Andrew, staff divisi personalia. Berbeda dengan Reyna, Gita, dan Anya yang merupakan staff divisi keuangan..


“Sorry, aku nggak ada urusan sama wanita bar-bar kayak kamu!” jawab Lita yang langsung membuat emosi Gita meluap.


“Bar-bar kata lu?!!” teriak Gita yang sontak membuat orang-orang dikantin langsung menoleh kearahnya.


“Ehh.. Gitaaa.. sabar dong..!” ucap Anya menenangkan salah satu sahabatnya itu.

__ADS_1


“Maaf, maksud kakak bicara seperti itu ke saya apa ya?!” Reyna memberanikan diri untuk bertanya guna mengetahui maksud dan tujuan Lita yang menghinanya secara terang-terangan di depan umum yang belum pernah ia alami sebelumnya.


“Oh.. aku Cuma mau bilang aja, jangan sok kegatelan sama pak Revan. Aku tadi lihat kamu berduaan dengan pak Revan di lift pribadinya. Pasti kamu sok-sok an tersesat dan masuk lift pribadinya buat ngedeketin pak Revan kan?! Hahaha Sadar diri dong, bentukan kayak gini berani-beraninya mau memikat pak Revan!” ucap Lita dengan nada sinis.


Ya, tidak ada yang tahu bahwa saat Reyna keluar dari lift dan berbicara kepada Revan ada seseorang berdiri di kejauhan dan memperhatikan mereka dengan tatapan jengkel, tentunya orang itu adalah Lita yang tanpa berpikir panjang langsung berasumsi bahwa Reyna sedang menggoda Revan.


“Heh! Secantik apa sih lu sampai bisa bilang gitu ke Reyna? Kenapa emang kalau dia lagi dekat sama pak Revan? Lu iri? Hah?! Ngaca dong lu! Reyna itu LEBIH CANTIK beribu-ribu kali lipat daripada elu! Modal dempul dan lipstik merah aja udah berasa jadi ratu sejagad!” Gita yang sedari tadi tak tahan melihat hinaan Lita kepada Reyna langsung angkat bicara. Membuat semua orang yang ada di kantin saling berbisik dan melempar pandangan ke arah Reyna dan Lita secara bergantian, seperti membandingkan dan setuju dengan perkataan Gita.


“Eh iya bener, lebih cantikan karyawan baru itu kemana-mana daripada si Lita!”


“Lita kan dari dulu suka pak Revan, tapi sayang pak Revan nggak pernah nganggap dia ada”


“Niatnya mau bikin malu si karyawan baru, nyatanya malah malu-maluin diri sendiri!”


“Suka gak nyadar sih sama tampangnya sendiri!”


“Bodoh banget si Lita..!!”


Bisikan-bisikan seperti itulah yang dilontarkan oleh para karyawan di kantin yang menyaksikan kejadian tersebut. Membuat wajah Lita merah padam karena emosi yang tidak bisa ia luapkan dan rasa malu yang ia terima.


“Awas ya kalian!” ancam Lita sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari kantin.


“Huuuuuuuuuu..!!” suara sorakan yang dilontarkan oleh orang-orang dikantin pun terdengar cukup riuh mengiringi kepergian Lita dari sana.


“Huuhh.. bener-bener gila itu si Lita, bisa-bisanya bikin tuduhan nggak berdasar, dasar nenek sihir!” cerca Gita seraya membuang nafas sebal.


“Aku nggak papa kok kak Anya.” jawab Reyna yang tiba-tiba menunjukkan senyuman manisnya.


“Aku malah berterimakasih banget sama kak Gita udah ngebelain aku, baru pertama kali ini aku ngerasa nggak sendirian. Sekali lagi terimakasih ya kak Gita, kak Anya.” lanjut Reyna mengungkapkan apa yang ia rasakan.


“Rey, nggak perlu berterimakasih kayak gitu. Kita kan temen, udah seharusnya saling ngebantu dan ngebela satu sama lain. Bahkan gue dan Anya udah nganggep lu itu lebih dari temen. Sahabat gitu.. itu sih kalau lu ngebolehin, iyakan An?” jelas Gita seraya melemparkan pertanyaan kepada Anya untuk mecari dukungan.


“Iya Rey, bener kata Gita. Kita udah nganggap kamu sahabat kita sendiri. Jadi jangan pernah lagi kamu menganggap diri kamu sendirian. Kamu nggak sendirian, sekarang ada kita, jadi tenang aja. okey ?!” kata Anya tulus.


“Boleh banget kak Gita..” Reyna menjawab perkataan Gita.


“Ya ampun, kak Anya.. kak Gita.. aku terharu banget. Aku merasa beruntung bisa bertemu kalian disini.” lanjutnya. Reyna merasa bahagia bisa memiliki dua orang baik ini disampingnya, saking bahagianya mata Reyna pun mula berkaca-kaca seakan-akan ingin menangis.


“Eh, eh.. jangan nangis donggg. Kenapa jadi haru gini suasananya.” ucap Gita sambil seolah-olah sedang menyeka air mata tetapi dengan gaya nyelenehnya, namun berhasil membuat Reyna tertawa terpingkal-pingkal.


“Tapi Rey, emang bener ya kata si Lita kalau kamu di lift berduaan bareng pak Revan?” tanya Anya penasaran.


“Iya Rey.. emang bener kata nenek sihir itu?” Gita pun ikut melontarkan pertanyaan yang sama.


“Emm.. bener sih.. tapi..” ucapan Reyna terpotong karena Gita langsung heboh mendengar jawaban yang keluar dari mulut Reyna walaupun belum selesai sepenuhnya.


“Waaahhh..!! Paraaahhh sih lu Rey.. kejadian se-langka itu nggak lu ceritain ke gue. Ya ampuunnn, se-lift sama pak Revan.. berduaan.. awww!!”


“Pletak!”

__ADS_1


Terdengar suara jitakan yang lumayan keras mendarat di kepala Gita.


“Anyaaa..!! lu apa-apaan sih, sakit tau..!!” protes Gita tak terima atas tindakan sahabatnya itu.


“Gue sebel sama lu, Reyna masih mau ngejelasin semuanya, ehh.. baru ngomong dua kata udah lu potong seenak jidat lu!” ucap Anya sedikit kesal.


“Ya maap, habis setelah denger dia bilang kalau itu beneran gue jadi excited gitu.” jawab Gita membela diri.


“Makanya dengerin duluu!” ucap Anya masih dengan raut wajah yang kesal.


“Eh, kok jadi berantem gini, udah dong.. kapan ceritanya ini aku?!” kata Reyna mencoba menengahi.


“Oh iya jadi lupa, lanjutin lagi Rey ceritanya.”


“Kali ini jangan memotong ucapan Reyna lagi!” ucap Anya mempersilahkan Reyna dan memperingatkan Gita.


“Iyaaa iyaaa bawell” balas Gita dengan nada mengejek.


Akhirnya Reyna menceritakan kejadian dilift kepada Gita dan Anya. Dari bagaimana dia bisa naik lift pribadi Revan, yang ia kira lift karyawan. Reyna juga menjelaskan bahwa dia tidak hanya berdua dengan Revan saja, tetapi juga dengan sekretarisnya.


“Jadi gituu..” ucap Gita dan Anya bersamaan.


“iya kak..” jawab Reyna.


“Berarti bener dong tadi tindakan gue, dasar nenek sihir! suka banget nuduh orang tanpa dasar. Pengen rasanya gue cubit-cubit tuh si Lita!” ucap Gita kesal mengingat kejadian tadi.


“Ternyata lu berguna juga ya Git.!” kata Anya mengejek.


“Apa kata lu?!” ucap Gita mendelik mendengar perkataan sahabatnya itu.


“Nggak, gue nggak ngomong apa-apa.” jawab Anya dengan muka polos tanpa dosa.


“Hahaha!” Reyna hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua sahabat barunya yang konyol itu. Sebelum akhirnya datang ibu-ibu paruh baya ke meja mereka.


“Permisi mbak Gita.. ini pesenannya..” ucap ibu-ibu itu sembari menyajikan makanan yang mereka pesan.


“Pas banget makanannya udah datang, makasih ya bu Surti!!” ucap Gita.


“Makasih bu Surti.”


“Makasih bu..” ucap Anya dan Reyna bergantian.


“Nah.. yok langsung kita santap makanannya. Gue udah laper bangett ini..” ucap Gita yang langsung menyantap makanannya dengan cepat.


“Ya ampun kak Gita pelan-pelan, nanti tersedak!” kata Reyna mengingatkan.


“Biarin aja Rey kalau dia tersedak, biar kapok..!!” ucap Anya yang malah seperti mendoakan.


“Bener-bener ya lu An, gaada perhatian-perhatiannya sama gue!” protes Gita dengan mulut penuh makanan yang langsung membuat Reyna dan Anya tertawa terbahak-bahak atas sikap konyolnya itu.

__ADS_1


__ADS_2