
“Reyna..!!”
Terdengar suara teriakan dari belakang Reyna. Suara nyaring dan berat yang dirasa sangat tidak asing bagi Reyna dan membuat ia segera menoleh. Betapa bahagia dan terkejutnya Reyna melihat sang ayah yakni Tn. Handoko berdiri dihadapannya dengan tangan dibentangkan seolah memberi isyarat agar Reyna memeluknya.
“Ayaaahhh..!!” teriak Reyna yang langsung berlari kedalam pelukan ayahnya tanpa berpikir panjang.
“Reyna ngapain berdiri sendirian disana? Tahu nggak kalau ayah dan bunda daritadi nyariin Reyna? Kak Rian juga terus-terusan menangis karna Reyna tiba-tiba nggak ada.” kata sang ayah dengan nada lembut sambil membelai puncak kepala anak bungsunya itu.
“Reyna tadi ngikutin kupu-kupu, cantik banget ayah.” kata Reyna dengan polosnya tanpa tahu kekhawatiran yang dirasakan keluarganya.
“Ya ampun sayang.. lain kali bilang dulu ya, biar ayah atau bunda nemenin kamu kejar kupu-kupunya. Kamu tahu nggak kami khawatir banget kalau kamu kenapa-napa. Apalagi tempat piknik ini juga dekat hutan, ayah sama bunda takut banget kamu tersesat sampai ke hutan. Lain kali Reyna harus bilang dulu ya..” ucap sang ayah panjang lebar mengungkapkan semua kekhawatirannya.
“Hehehe iya ayah, Reyna janji kalau nanti Reyna mau kejar kupu-kupu bakal bilang ayah sama bunda dulu.” janji Reyna yang disertai dengan senyuman manisnya.
“Pinter banget anak ayah yang satu ini.” ucap sang ayah sembari mencubit hidung Reyna.
“Ayah lihat, Reyna suka banget sama kupu-kupu. Kenapa Reyna suka kupu-kupu?” lanjut sang ayah.
“Reyna suka banget sama kupu-kupu karena punya sayap yang cantik dan bisa terbang tinggi. Nanti kalau Reyna sudah dewasa, Reyna mau tumbuh cantik seperti kupu-kupu, terus ngajak ayah, bunda dan kakak terbang ke awan lihat bintang.” celoteh Reyna dengan segala khayalannya yang langsung mendapatkan kekehan dari ayahnya.
“hahahaha.. ya ampun anak ayah lucu banget hehehe. Reyna.. Reyna kan manusia, tidak bisa tumbuh sayap di tubuh Reyna. Kalau Reyna mau terbang ke awan, kita bisa naik pesawat bareng-bareng agar Reyna bisa lihat bintang.” jelas sang ayah memberikan pengertian kepada putrinya itu.
“Huaaaaa.. jadi Reyna nggak bisa terbang seperti kupu-kupu dong yah? Berarti Reyna nggak cantik seperti kupu-kupu yang bisa terbang itu dong.” tangis Reyna pecah setelah mendengar penjelasan dari sang ayah.
“Hussttt.. cup cup cup.. sayang, dengerin penjelasan ayah. Reyna itu cantik bahkan cantiikkk bangeeettt!! perempuan tercantik ke-3 setelah nenek dan bunda.” jelas ayah Handoko yang langsung membuat Reyna berhenti menangis.
“Beneran yah? Ayah nggak bohong?” tanya Reyna dengan mata sembab sambil menatap ayahnya.
“iya sayaangg ayah nggak bohong. Reyna harus selalu ingat ini sampai dewasa nanti, bahwa Reyna adalah perempuan tercantik di muka bumi ini setelah nenek dan bunda. Dan walaupun Reyna tidak bisa memiliki sayap seperti kupu-kupu secara nyata, tapi ayah bisa melihat ada sayap yang sedang akan tumbuh di bahu Reyna. Karena ayah yakin bahwa suatu hari nanti Reyna akan menjadi wanita paling bahagia di bumi ini yang bisa meraih impian dan mengepakkan sayap kecil ini melebihi sayap kupu-kupu yang indah. Reyna mengerti?” ucap ayah Handoko sembari menatap wajah anaknya.
“Iya ayah, Reyna paham.” ucap Reyna dengan senyuman lebar dan semangat diwajahnya.
“Kalau gitu coba ulangi apa yang ayah katakan ke Reyna.” tantang ayah Handoko.
“Reyna adalah perempuan tercantik di bumi ini setelah nenek dan bunda, Reyna juga punya sayap kecil yang akan tumbuh lebih lebar dan lebih cantik dari sayap kupu-kupu untuk meraih impian Reyna. Betulkan ayah?” tanya Reyna memastikan jawabannya.
__ADS_1
“Betull sekalii !! pinter banget kamu sayang. Pokoknya dalam keadaan dan hal apapun, Reyna harus selalu ingat itu ya sayang.” jelas ayah Handoko.
“Siap laksanakan ayah!” ucap Reyna tegas sambil menghormat lucu kepada ayahnya.
“Yaudah kalau gitu kita balik ke tempat piknik kita yuk, pasti bunda dan kak Rian sudah menunggu.” ajak sang ayah sembari menggandeng tangan Reyna.
“Let’s Go ayah!” ucap Reyna bersemangat.
Akhirnya Reyna dan ayahnya memutuskan untuk kembali ke tempat piknik mereka, berjalan kaki beriringan sambil bergandengan tangan.
“Huaaaaa.. huaaaaa..!!”
Terlihat sosok anak kecil yang menangis dari kejauhan bersama seorang wanita cantik yang berusaha menenangkan anak kecil itu.
“Kak iaaannnnnn..!!” teriak Reyna memanggil anak yang sedang menangis tersedu-sedu itu.
“Rere..!! huaaaa Rere!!” teriak anak kecil itu menangis kegirangan melihat Reyna adiknya telah kembali bersama ayahnya. Ya, anak kecil yang menangis itu adalah Rian kakak Reyna.
“Ya ampun, syukurlah kamu menemukan Reyna sayang. Rian daritadi menangis terus karena Reyna hilang.” ucap bunda Mery penuh syukur.
“Karena kejadian ini gimana kalau kita langsung pulang aja? Biar anak-anak bisa istirahat dirumah.” pinta bunda Mery kepada ayah Handoko.
“Kalian pulanglah, maaf aku harus pergi.” ucap ayah Handoko tiba-tiba. Seketika Reyna dan Rian pun langsung menoleh ke arah kedua orangtuanya yang terlihat serius.
“Ayah mau kemana?” tanya Reyna.
“Maaf, ayah sudah tidak bisa bersama kalian lagi. Ayah akan pergi dengan teman ayah.” ucap ayah Handoko.
“Sayang, apa maksudmu? Kamu mau kemana?” tanya bunda Mery dengan gelisah.
“Maaf Mery!” ucap ayah Handoko dan langsung melangkahkan kakinya menjauh menuju seseorang yang sedari tadi berdiri dikejauhan. Ya, seorang wanita terlihat menatap kearah keluarga kecil itu sedari tadi.
“Ayah..!! jangan pergi..!!” ucap Rian berlari memohon didepan ayahnya.
“Handoko! Apa maksudmu meninggalkan kami dan berlari ke arah wanita itu?!” teriak bunda Mery dengan wajah memerah karena amarah.
__ADS_1
“Dia wanita yang aku cintai saat ini, dan dia lebih membutuhkanku dibandingkan dengan kalian, maaf Mery. Tolong urus anak-anak dengan baik.” ucap ayah Handoko tanpa perasaan.
“Keterlaluan kamu Handoko!!” teriak bunda Mery sembari mengangkat sebelah tangannya dengan cepat dan..
“Plaakk!!” suara tamparan terdengar begitu keras dan terlihat membekas di pipi ayah Handoko.
“Ayaaaahhhh..!!” terdengar teriakan Reyna yang nyaring sambil berlari ke ayahnya.
“Reyna mohon ayah jangan pergi, Reyna sayang ayah.. huaaaa!!” pinta Reyna sambil menangis tersedu-sedu. Tetapi tanpa sepatah katapun ayah Handoko berjalan menjauh dari mereka dan terlihat pergi bersama wanita yang sedari tadi menunggunya.
Terlihat bunda Mery dan Rian yang menangis tersedu-sedu tanpa bisa berbuat apa-apa.
Reyna berlari mengejar ayahnya sambil berteriak dan menangis tersedu-sedu. Berharap ayahnya mau kembali bersamanya.
“Ayaaaaahhhhh..!!”
"Ayaahhhh..!! Jangaann pergiiii..!! Kami butuhh ayahh !! kami sayang ayahh..!!"
"Ayaahhhh..!!"
“Ayaaaaaaaaahhhhhhhh..!!”
“Hosh.. hosh.. hosh!” terdengar teriakan dan deru nafas yang kencang dan tak beraturan dari seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ya, gadis itu adalah Reyna.
“Ternyata hanya mimpi.” ucap Reyna sambil mengatur nafasnya agar kembali stabil.
“Kenangan itu.. Ayah berkata bahwa aku akan menjadi wanita yang paling bahagia dan akan mengepakkan sayapku untuk meraih cita-citaku. Tapi nyatanya, aku gadis yang kurang beruntung karena keluargaku yang hancur. Huftt!” Reyna menggumam dengan tatapan sendu penuh kepedihan yang dipendamnya selama ini.
“Klik klik.. Klik klik!” terdengar suara alarm disamping nya berbunyi yang menunjukkan pukul 07.00 pagi.
“Ya ampun aku mikir apaansih! Sampai lupa kalau hari ini aku ada wawancara kerja di Perusahaan Z yang aku impikan, mana udah jam 7 lagi. Aku harus cepet siap-siap.” ucap Reyna sembari melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
30 menit berlalu. Terlihat seorang gadis mungil nan cantik berdiri didepan cermin dengan riasan natural, rambut kuncir kuda dengan ikatan pita yang serasi dengan baju kerja yang membalut tubuh kecilnya, terlihat rapi dan elegan. Ya, gadis itu tak lain tak bukan ialah Reyna.
“Ayo Reyna! Semangatt!! Ini perusahaan impianmu, kamu harus bisa lolos, kamu pasti bisa mengubah nasib keluargamu! Fighting!!” ucap reyna menyemangati diri sendiri dihadapan cermin. Tak lama setelah itu Reyna melenggangkan kakinya keluar untuk menuju perusahaan Z dimana ia akan melakukan wawancara kerja.
__ADS_1