Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan

Aku, Kenangan, Angan Dan Masa Depan
Tolong Jangan Begini Padaku!


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa jam pulang kantor pun telah tiba. terlihat ruang kerja divisi keuangan mulai sepi dan hanya tinggal Reyna, Gita, dan Anya yang masih berada di dalam ruangan.


“Anya, Reyna! gue balik duluan ya.. gue lagi buru-buru nih ada urusan.” ucap Gita berpamitan kepada kedua sahabatnya itu.


“Eh, tungguin dong.. gue ikut! Gue juga mau pulang nih, mau beliin obat pesenan nyokap gue di apotek!” sahut Anya yang langsung membereskan meja kerjanya.


“Lu nggak pulang juga Rey?” tanya Gita yang melihat Reyna masih asik dengan pekerjaannya tanpa menunjukkan tanda-tanda dia akan beranjak dari meja kerjanya untuk pulang bersama mereka.


“Oh enggak kak, kalian duluan aja nggak papa. Aku masih mau nyiapin materi presentasi, biar besok bisa ku diskusikan sama pak Anthony dan nggak terburu-buru, hehe.” jawab Reyna dengan santai.


“Eh.. kan bisa dikerjain dirumah Rey.. ini udah lewat jam kerja loh?!!” ucap Anya menyahuti jawaban Reyna.


“Iya Rey, bener tuh kata Anya.. Kenapa harus repot-repot kerjain disini sih, kan lebih enak di rumah?!” ucap Gita menyetujui perkataan Anya.


“Nggak enak ah kak kalau dikerjain di rumah, di rumah itu waktunya istirahat. Jadi aku jarang bawa kerjaan pulang ke rumah. Aku juga harus bantu-bantu bunda dirumah, jadi takut nggak sempet kak. Lagian ini tinggal dikit lagi kok!” jelas Reyna dengan semangat.


“Iya sih! emang nggak enak kalau sudah dirumah tapi kita malah masih lanjut kerja.” ucap Anya setuju dengan jawaban Reyna.


“Yaudah kalau gitu kita balik dulu ya Rey.. Byee Rey?!” pamit Gita seraya melambaikan tangannya kepada Reyna.


“Aku juga balik dulu ya Rey.. Bye-bye..!!” ucap Anya ikut berpamitan.


“Iya kak Gita, kak Anya. Hati-hati dijalan.!!” balas Reyna perhatian kepada kedua sahabatnya.


“Iya Rey, kamu jugaa!!”


“Oke Rey, lu juga yaa..!!” ucap Anya dan Gita bersamaan, sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan ruangan.


“Oke! Tinggal sedikit lagi bakalan kelar nih materi presentasinya! Semangatt Reynaa! Kamu pasti bisa menjadi perwakilan yang baik bagi divisi ini!” ucapnya menyemangati diri sendiri sebelum akhirnya melanjutkan pekerjaannya.


Tak terasa 35 menit berlalu begitu cepat dan pekerjaan Reyna telah selesai.


“Hoaaaamm!!”


“Akhirnyaaa!! Kelar juga nih kerjaan, waktunya pulaangg! Semoga saat ku dikskusikan dengan pak Anthony besok, beliau setuju dan tidak ada banyak revisi terhadap materi rapat yang aku siapkan ini.” Gumam Reyna semangat sembari mencangklong tasnya dibahu sebelah kanan dan menenteng laptopnya ditangan, bersiap untuk pulang.


Reyna berjalan keluar dari ruangannya, melewati koridor yang nampak sepi seorang diri menuju lift, hingga suara dentingan bel lift terdengar sangat nyaring dan bergema karena kesunyian ini.


“Ting!”


“Sepertinya karyawan lain sudah pada pulang, sepi banget.” gumam Reyna sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift untuk menuju lobi.


Sesampainya di lobi yang begitu sepi, Reyna berjalan keluar gedung dengan santai sambil bernyanyi kecil karena merasa lega telah mempersiapkan materi presentasinya. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya dengan kasar dari arah belakang.


“Eh apa-apaan in..ii!” ucap Reyna sedikit berteriak kaget dan segera memutar badannya untuk melihat siapa yang menariknya dengan begitu kasar kedalam gang kecil disebelah gedung perusahaan.


“Ka .. kak Ri-rian?!!” lanjutnya kaget dengan suara sedikit terbata-bata karena takut.


“Ya! Lama tidak bertemu ya adikku sayang!” jawab Rian dengan seringaian liciknya namun tangannya tetap mencengkeram erat lengan Reyna.


“Kak.. Sa-sakitt!!” rintih Reyna merasakan sakit dilengannya, namun tidak dihiraukan oleh Rian.


“Ka.. kakak ngapain kesini?! Kakak tau dari mana aku kerja disini?!” tanya Reyna takut.


“Hahaha sepertinya karena kita lama tidak bertemu, kamu jadi semakin bodoh ya Rey!”


“Kamu tidak ingat saat aku menguping pembicaraanmu dengan ibumu si tua bangka itu?! Hahaha dasar bodoh!” ucap Rian kasar menjawab pertanyaan Reyna.


“La.. lalu.. Apa mau kakak?!” tanya Reyna lagi dengan bibir bergetar merasakan sakit di lengannya dan rasa takut dihatinya.


“Uangku sudah habis, beri aku uang!” jawab Rian dengan santainya.

__ADS_1


“Untuk apa kak?! Bukannya kakak sudah pergi dari rumah dengan membawa semua uangku yang tersisa?!” ucap Reyna memberanikan diri mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan.


“Uangmu yang Cuma sedikit itu?! Sudah habis kugunakan! Sekarang jangan banyak omong, cepat beri aku uang!” ucap Rian dengan sedikit berteriak.


“Lepaskan dulu tanganmu dariku! Ini sangat sakit!” ucap Reyna yang sudah merasa tidak tahan dengan rasa sakit di lengannya karena cengkraman Rian yang semakin kuat.


“Beri aku uang! Baru kulepaskan!” ucap Rian dengan nada mengancam.


“Aku tidak punya uang kak!” ucap Reyna sedikit berteriak karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap Rian.


“Dasar nggak berguna! Kamu kira aku bodoh?!!” ucap Rian murka seraya berganti menjambak rambut Reyna.


“Beri aku uang atau aku tidak akan segan lagi denganmu!” ancam Rian pada Reyna dengan menambah kekuatan cengkraman pada rambut adiknya tersebut hingga membuat Reyna meringis kesakitan.


“Ish.. Lepasin kak! Ini tempat umum!” ucap Reyna merintih kesakitan dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.


“Kalau kau tahu ini tempat umum, maka segera beri aku uang dan kau tidak akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dari ini!” ucap Rian masih terus mengancam, membuat Reyna meneguk salivanya takut. Karena ia tahu bahwa kakaknya akan melakukan apa yang ia katakan, walaupun itu hal kejam sekalipun.


“Sudah kubilang! Aku tidak punya uang! Lagipula jika aku punya, aku tak akan memberikannya padamu untuk berfoya-foya!” ucap Reyna memberanikan diri. Namun Reyna tak menyadari akibat dari kalimat yang ia lontarkan tersebut.


“Braak!!”


“Awss!! Sakit!” ucap Reyna merintih kesakitan karena dihempaskan dengan kasar oleh Rian hingga membuatnya tersungkur dan laptop ditangannya terlempar sedikit jauh darinya.


“Tidak mungkin seseorang yang bekerja di perusahaan besar seperti ini tidak punya uang!” teriak Rian setelah membuat Reyna terungkur, mengambil tas Reyna dan langsung membuka dompet Reyna.


“Ini apa?! Dasar adik nggak tahu diri! Berani-beraninya kamu berbohong pada kakakmu ini?!” lanjut Rian murka setelah melihat ada uang didalam dompet Reyna. membuat ia menendang adiknya dan menamparnya dengan sangat keras.


“Bugh!”


“Plakk!”


“Kak! Sakit kak! Tolong hentikan!” rintih Reyna kesakitan.


“Bugh!”


“Buagh!!”


Namun, mendengar adiknya merintih kesakitan membuat Rian tidak berhenti dan malah semakin membabi buta.


“Inilah akibatnya jika kamu mulai berani padaku Reyna!” ucap Rian kegirangan karena merasa berhasil membuat adik satu-satunya itu takut padanya.


“Aku mohon hentikan kak!” ucap Reyna memohon pada sang kakak.


“Atau aku akan berteriak minta tolong!” lanjut Reyna mengancam dengan tujuan untuk membuat Rian takut.


“Mau teriak?! teriak saja sesukamu! Aku tidak takut!” jawab Rian dengan lantang tanpa tersirat rasa ketakutan di wajahnya.


“Bugh!”


Rian menghantam perut Reyna dengan kakinya. Membuat Reyna semakin tersungkur dan merasakan sesak di dadanya.


“To-Tolong!! Si-siapapun Tolong akuu!!” ucap Reyna sedikit berteriak dengan sisa tenaganya yang ada. Namun, nihil. Entah mengapa, tetapi suasana di sore hari ini sangat sepi dan tidak ada orang yang berlalu lalang.


“Hanya segitu saja teriakanmu?! Atau mau kubantu berteriak?! Hahaha! Ayo teriak, teriaklah yang kencang!!” ucap Rian seolah-olah memberikan perintah kepada Reyna agar berteriak lebih keras.


“Tolong!!” Reyna mencoba berteriak sedikit keras walaupun tubuhnya sudah mulai lemah, berharap seseorang akan datang menolongnya. Namun, karena teriakannya itu, Rian semakin menghujani Reyna dengan tendangannya hingga berkali-kali.


“Bugh!”


“Bugh!”

__ADS_1


“Bugh!”


“Ayo teriak lagi!! Teriak sesuka hatimu! Kita lihat apakah ada orang yang akan menolongmu?!!” teriak Rian yang mulai berhenti menendang adiknya dan berjongkok didepan Reyna. membuat Reyna merangakak sedikit menjauh dari Rian. Namun, sayangnya Rian lebih cepat menarik rambutnya dan membuatnya berhadapan langsung dengan kakaknya yang brutal itu.


“Plaakk!”


“Duagh!”


Tamparan keras melayang di pipi Reyna, tak berhenti di situ Rian masih melayangkan bogeman ke bahu adiknya itu, membuat Reyna tersungkur berkali-kali.


“Siapapun.. Tolong aku!! Aku mohon! Atau aku akan berakhir ditangan kakakku sendiri hari ini! Tolong aku! Aku masih ingin melihat bundaku! Aku ingin bahagia!” gumam Reyna dalam hati sambil meneteskan air mata. Pasrah, hanya itu yang bisa Reyna lakukan saat ini.


“Kenapa?! Sudah tidak ada tenaga lagi untuk berteriak?!” tanya Rian dengan seringaian liciknya. Namun tiba-tiba..


“Buagkh!!”


Rian tersungkur begitu jauh di belakang Reyna.


“Aaaaaaa..!!” teriak Reyna histeris melihat sang kakak yang terlempar begitu jauh karena tendangan dari seseorang.


“Reyna! tenang! Tenangkan dirimu! Ini aku.. Revan!” ucap pria itu yang tak lain ialah Revan, ia langsung menangkup kedua pipi Reyna untuk membuat Reyna melihat kearahnya dan menenangkannya.


“Pa-pak Revan?!” ucap Reyna terbata-bata dan terlihat sangat takut.


“Iya Reyna! ini aku! Tenang Reyna! ada aku disini! Tenangkan dirimu!” ucap Revan langsung memeluk tubuh Reyna yang sudah lemas itu kedalam dekapannya.


“Bangs*t! Siapa kau?! Berani-beraninya membuatku seperti ini?!” teriak Rian murka setelah berhasil bangkit.


“Dasar Bajing*n tengik! Berani-beraninya kau mengusikku!” lanjut Rian berteriak begitu keras dan berlari kearah Revan, bersiap untuk menghajarnya.


“Bugh!”


“Bugh!”


“Bruak!”


“Tuan muda! Anda tidak apa-apa?!” ucap Bagas datang disaat yang tepat setelah berhasil menjatuhkan Rian dengan telak.


“Aku tidak apa-apa Bagas, tapi sepertinya kondisi Reyna terlihat parah!” jawab Revan sedikit panik, melihat Reyna yang sudah terdiam di dekapannya dengan lemah.


“Aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang!” lanjut Revan bersiap membopong tubuh Reyna.


“Baik tuan muda, saya akan mengurus bajing*n ini!” ucap Bagas tegas dan dijawab dengan anggukan mantap oleh Revan.


“Ja.. Jangan.. Jangan sakiti d-dia..” ucap Reyna pelan dengan segenap tenaganya yang tersisa.


“Kenapa Reyna?! Si Brengs*k itu sudah membuatmu menjadi seperti ini!” ucap Revan sedikit murka karena ucapan Reyna.


“D-dia B-bukan Ba-bajing*n.. d-dia.. ka-kakak s-saya!” ucap Reyan berusaha berteriak dengan seluruh tenaganya yang tersisa, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan dalam gendongan Revan.


“Rey..!! Reyna..!! Reynaaa!!!” ucap Revan sangat panik setelah melihat Reyna tidak sadarkan diri.


“Ayo Bagas! kita harus segera ke rumah sakit!!” perintah Revan panik.


“Lalu bagaimana dengan orang itu tuan muda?!” tanya Bagas yang melihat Rian masih terengah-engah karena tersungkur oleh hantaman Bagas yang sangat kuat.


“Karena Reyna, kali ini.. untuk kali ini saja aku akan membiarkanmu! Tapi kalau sampai aku melihatmu sekali lagi menyakitinya, akan kuhancurkan dirimu! Tak peduli siapa dan apa hubunganmu dengan wanitaku!” ancam Revan kepada Rian dengan tatapan membunuh yang sangat menyeramkan yang bahkan Bagas pun baru pertama kali melihatnya. Membuat Rian bergidik ngeri dan hanya bisa diam terpaku di tempatnya.


“Ayo Bagas!” ajak Revan dan segera beranjak dari gang tersebut dengan membopong Reyna dan diikuti Bagas di belakangnya.


Revan dan Bagas pun segera masuk ke dalam mobil, membaringkan Reyna di kursi belakang lalu memangku kepala Reyna di pahanya.

__ADS_1


“Jalankan mobilnya! Kita ke rumah sakit sekarang! Cepat!” perintah Revan panik namun tetap tegas.


“Baik tuan muda.” jawab Bagas yang langsung menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit milik keluarga Nugroho.


__ADS_2