
“Tok! Tok! Tok!”
“Masuk!” ucap seseorang didalam ruangan mempersilahkan.
“Tuan muda, ada kepala divisi keuangan didepan ingin menemui anda, katanya ada sesuatu yang penting dan mendesak.” ucap Bagas menyampaikan pesan.
“Anthony?!” tanya Revan mengangkat sebelah alisnya, karena tak biasanya Anthony datang ke ruangannya.
“Iya tuan muda, dia bersama nona Reyna.” jawab Bagas membuat Revan semakin penasaran akan hal penting yang ingin mereka sampaikan.
“Baiklah, suruh mereka berdua untuk masuk!” perintah Revan yang tanpa menunggu lama langsung dipatuhi oleh Bagas.
“Baik tuan muda.” ucap Bagas seraya berjalan ke pintu ruangan untuk mempersilahkan Anthony dan Reyna masuk.
“Silahkan pak Anthony dan nona Reyna.” ujar Bagas mempersilahkan. Akhirnya, mereka berdua masuk ke dalam ruangan Revan dan diikuti Bagas dibelakangnya.
“Permisi pak Revan!” ucap Anthony dan Reyna bergantian setelah masuk kedalam ruangan Revan.
“Duduklah!” ujar Revan mempersilahkan mereka untuk duduk sebelum memulai percakapan.
“Terimakasih pak!” ucap Anthony dan Reyna seraya duduk di kursi yang berada di hadapan Revan.
“Hal penting apa yang ingin kalian sampaikan padaku?” tanya Revan langsung tanpa basa-basi.
“Reyna, silahkan.." ucap Anthony mempersilahkan Reyna untuk menjelaskannya kepada Revan.
“Sebelumnya silahkan bapak melihat berkas-berkas ini terlebih dahulu.” ucap Reyna seraya menyerahkan berkas-berkas ditangannya itu kepada Revan.
“Ini.. bukti-bukti penggelapan?!” ucap Revan setelah melihat berkas-berkas yang diberikan oleh Reyna.
“Benar pak! Saya menemukan bahwa kepala divisi personalia selama tiga tahun terakhir ini telah melakukan penggelapan uang perusahaan dengan mengatasnamakan kepentingan karyawan, dia bahkan juga membuat bukti pengeluaran palsu untuk menyisipkan angka-angka ganjil itu kedalam laporan anggaran yang mereka serahkan untuk mengelabui divisi keuangan.”
“Saya menyadari hal ini pada saat hari pertama saya bekerja, menerima laporan pengajuan anggaran dari semua divisi untuk bulan ini, dan yang membuat saya curiga jumlah anggaran yang mereka ajukan lebih besar dari divisi-divisi lain, seperti divisi pemasaran yang membutuhkan banyak uang untuk media promosi.” jelas Reyna panjang lebar.
“Lalu, kenapa kamu tidak segera melaporkan hal ini kepadaku saat itu?” tanya Revan penuh selidik.
__ADS_1
“Saya tidak bisa melaporkan hal tersebut kepada bapak saat itu juga karena saya belum menemukan bukti yang kuat atas kecurigaan saya, karena saya tidak bisa sembarangan membicarakan hal seperti ini tanpa adanya bukti yang valid. Oleh sebab itu saya terus mengumpulkan bukti-bukti yang cukup sebelum akhirnya melaporkannya kepada pak Revan dan pak Anthony.” jawab Reyna membuat Revan menyunggingkan senyuman tipis agar tak terlihat senang karena jawaban yang Reyna berikan.
“Ternyata dia gadis yang cerdas! Kejutan yang tak terduga lagi dari dirinya.” gumam Revan dalam hati.
“Baiklah, aku mengerti! Sekarang kalian bisa keluar dan kembali bekerja!” ucap Revan mempersilahkan mereka keluar, seolah-olah tidak menganggap serius kasus ini.
“Ha?! Bagaimana bisa bapak menyepelekan kasus seperti ini?! Pak Revan harus ingat bahwa apa yang telah dilakukan pak Andrew itu hal yang salah dan hal ini juga merugikan perusahaan bapak!” protes Reyna atas sikap Revan.
“Sudah ngomongnya?!” tanya Revan saat Reyna selesai melakukan aksi protesnya. Namun, entah kenapa Reyna terdiam seribu bahasa saat Revan menanyainya.
“Apa kau meragukanku?!” tanya Revan lagi.
“Tidak pak, maafkan saya yang tidak bisa menahan diri.” jawab Reyna pasrah.
“Aku tau apa yang harus kulakukan, jadi kau jangan khawatir. Sekarang kembalilah ke ruanganmu untuk melanjutkan pekerjaanmu.” ucapan Revan sangat membuat bingung Reyna dan Anthony, namun mereka tidak bisa mengatakan apapun dan satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan saat ini ialah mencoba percaya pada Revan yang terlihat biasa saja menanggapi kasus ini.
“Bagas!” panggil Revan pada Bagas yang sedari tadi berdiri disampingnya.
“Iya tuan muda.” sahut Bagas menjawab panggilan itu.
“Antarkan mereka berdua keluar!” perintah Revan.
“Mari nona Reyna, pak Anthony.” ajak Bagas membuat Reyna dan Anthony berdiri dari kursinya.
“Baiklah pak, kalau begitu kami permisi dulu!” pamit Anthony dengan sedikit membungkukkan badannya hormat. Berbeda dengan Reyna yang diam saja dengan ekspresi wajah yang menunjukkan ketidakpuasannya atas tindakan Revan.
Setelah berpamitan, mereka pun berjalan dibelakang Bagas sampai akhirnya keluar dari ruangan Revan.
“Baiklah. Sekarang silahkan anda kembali bekerja.” ucap Bagas saat telah mengantarkan mereka keluar.
“Tunggu pak Bagas! Saya mohon agar anda membicarakan ini dengan pak Revan bahwa ini bukanlah hal yang bisa ia sepelekan karena ini sangat merugikan perusahaan!” pinta Reyna pada Bagas sebelum Bagas kembali ke ruangan Revan.
“Percayakan pada kami.” jawab Bagas tegas sebelum akhirnya masuk kembali ke ruangan Revan.
“Huuft! Kenapa bisa gini sih?! Ada apa sih dengan CEO itu! Udah dibantuin juga, malah responnya kayak gitu!” gerutu Reyna saat ia berjalan dengan Anthony untuk kembali ke ruang kerja mereka.
__ADS_1
“Sabaar Reyy.. sebaiknya kita memang mempercayakan hal ini pada pak Revan.” ucap Anthony menanggapi.
“Jadi bapak bener-bener percaya sama pak Revan yang malah menyuruh kita keluar dari kantornya seolah-olah tidak ada hal genting yang terjadi pada perusahaannya ini?” tanya Reyna dengan sewot dan penuh penekanan.
“Karena aku tahu pak Revan bukan orang yang akan diam saja seperti itu, apalagi jika menyangkut tentang perusahaannya. Yaaaa walaupun dia terlihat seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi. Tapi, aku tahu bahwa dia sudah menyiapkan sesuatu dibalik ucapannya itu. Jadi jalan satu-satunya, kita memang harus percaya padanya!” jawab Anthony berusaha meyakinkan Reyna.
“Heemm.. Baiklah, karena pak Anthony yang sudah lama bekerja disini, dan lebih tau tentang pak Revan dibandingkan dengan saya. Kali ini saya akan mencoba percaya pada beliau!” ucap Reyna akhirnya memilih untuk mempercayai Revan ketimbang ia hanya memikirkan sikap Revan yang terlihat seperti acuh-tak acuh itu.
Disisi lain, saat Bagas telah kembali masuk ke dalam ruangan Revan. Terlihat Revan yang masih sibuk melihat berkas-berkas yang berisikan bukti-bukti yang Reyna kumpulkan itu. Ekspresi wajah dan sorot matanya pun berubah menjadi sangat menyeramkan dibandingkan saat ada Reyna dan Anthony di ruangannya yang ekspresinya terlihat sangat tenang.
“Bagas! selidiki bukti-bukti ini dan juga transaksi keluar masuk dari rekening Andrew, satu jam! Aku hanya akan menunggu satu jam untuk hasilnya!” perintah Revan dengan tegas.
“Baik tuan muda akan saya laksanakan, saya permisi.” jawab Bagas seraya pamit undur diri dari hadapan Revan untuk melaksanakan tugas yang diterimanya.
Pukul 15.00, tepat satu jam setelah Revan memberikan perintahnya pada Bagas, dan terlihat Bagas sudah didalam ruangan Revan untuk menyampaikan hasil penyelidikannya.
“Tuan muda, berdasarkan hasil penyelidikan yang saya lakukan terkait bukti-bukti penggelapan pak Andrew kepala divisi personalia yang dikumpulkan oleh nona Reyna, adalah benar dan valid. Saya juga sudah mengecek transaksi rekening pak Andrew, dan benar saja banyak dana yang masuk ke rekeningnya selama beberapa tahun terakhir ini.” ujar Bagas menejelaskan dengan detail.
“Lalu, Bobby juga turut membantu saya menyelidiki hal ini tuan muda, dan dia akan segera datang kesini untuk menyampaikan informasi yang ia peroleh.” lanjut Bagas. Benar saja, setelah Bagas selesai berbicara terdengar suara ketukan pintu sebelum akhirnya pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok Bobby. Sosok yang tinggi, manly dan tampan, namun terlihat sedikit menyeramkan karena terdapat goresan luka di pipinya.
“Halo boss!” sapa Bobby setelah masuk ke dalam ruangan Revan dengan santainya.
“Informasi apa yang ingin kau sampaikan padaku?!” tanya Revan to the point.
“Come on boss! Aku baru saja datang dan kau malah tanpa basa-basi langsung menginterogasiku?!” ucap Bobby seraya duduk dihadapan meja Revan. Namun, Revan hanya merespon ucapannya dengan tatapan tajam.
“Oke.. okee! Aku kesini hanya untuk memberitahu hasil penyelidikanku atas uang yang digelapkan oleh karyawanmu itu. Uang itu ia gunakan untuk membeli satu unit apartemen mewah di kota XX dan juga ia gunakan untuk membeli dua mobil sport. Oh ya, satu lagi dia juga menggunakan uang itu untuk bersenang-senang dengan para wanita disebuah hotel yang cukup mewah. Dan.. ini bukti-buktinya.” jelas Bobby seraya memberikan bukti yang ia peroleh dari penyelidikannya kepada Revan.
“Oke kerja bagus! Tak salah kau memang seorang mata-mata yang handal!” puji Revan kepada Bobby.
“Aku memang mata-mata yang handal sejak dulu!” ucap Bobby congkak.
“Bagas, kau tau kan apa yang harus kau lakukan?!” tanya Revan kepada Bagas.
“Saya tahu tuan muda, dan saya akan segera melaksanakannya.” ucap Bagas hormat dan segera beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
“Tunggu gas! Aku mau ikut denganmu!” ucap Bobby langsung beranjak dari duduknya dan segera mengikuti Bagas meninggalkan ruangan Revan.
“Berani-beraninya tikus got ini membuat masalah denganku! Kita lihat apa yang akan kau lakukan setelah ini Andrew!” gumam Revan pelan dengan sorot mata yang sangat menyeramkan.