
Waktu makan siang telah tiba. Terlihat Reyna, Gita dan Anya telah berada di salah satu meja kantin seraya menyantap makan siangnya sambil berbincang-bincang.
“Gilaa!! Sejak kapan soto di kantin ini jadi terasa enak bangett kayak di hotel bintang lima?!” ucap Gita disela-sela makannya.
“Yaelah, dari dulu juga udah enak kali Git!” ucap Anya membenarkan.
“Enggak, hari ini beneran enak banget deh rasanya. Beda dari biasanya. Mana gue laper banget dari semalam belom makan!” jawab Gita kekeh dengan opininya sambil terus memasukkan suapan demi suapan kedalam mulutnya.
“Itu mah karna lu kelaperan kali ah! Makanya jadi enak banget berkali-kali lipat!” celetus Anya yang gemas mendengar jawaban Gita.
“Hehehe! Iya kali yak!” balas Gita dengan cengiran khasnya.
“Lu kenapa diem-diem aja si Rey? tumben banget?!” lanjut Gita menanyai Reyna.
“Emm.. sebenarnya ada hal lain yang ingin kuceritakan ke kalian, awalnya aku ragu. Tapi setelah aku mendapatkan bukti yang cukup aku baru berani bercerita.” jawaban Reyna berhasil membuat Anya dan Gita menghentikan aktifitas makannya dan menyimak lebih jauh kemana arah pembicaraan Reyna.
“Ada apa Rey? apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Anya serius.
“Iya Rey.. apa itu sesuatu yang buruk?” ucap Gita ikut melemparkan sebuah pertanyaan kepada Reyna.
“Apa kalian ingat saat hari pertama aku bekerja? Waktu itu aku terlihat cukup sibuk dan saat kalian tanya, aku hanya menjawab kalau aku lagi ngecek laporan anggaran dari masing-masing divisi kan..?!” tanya Reyna seraya memberikan gambaran kepada kedua sahabatnya itu untuk mengingat kembali kejadian yang Reyna maksud.
“Iya, aku ingat. Waktu itu ada suatu hal yang ingin kamu jelaskan ke kita. Tiba-tiba si Lita datang dan bikin kegaduhan itu kan?!” jawab Anya yang langsung mendapatkan anggukan mantap dari Reyna.
“Oh iya gue juga ingat soal itu! Emang apa yang mau lu sampaiin ke kita waktu itu Rey?” tanya Gita setelah berhasil mengingat kejadian yang Reyna maksud.
“Sebenarnya waktu itu aku merasa ada yang aneh dengan laporan anggaran yang diajukan oleh divisi personalia. Awalnya aku menyadari hal ini karena jumlah anggaran yang mereka ajukan itu lebih besar dari anggaran divisi lain yang kerjanya lebih banyak mengeluarkan uang seperti divisi pemasaran dan divisi riset dan pengembangan..”
“Namun, setelah aku telusuri laporan pengajuan anggaran divisi personalia dari tahun ke tahun makin meningkat, dan saat aku crosscheck laporan penggajian karyawan ternyata jumlah gaji yang seharusnya dibayarkan tidak sebesar anggaran yang mereka ajukan. Selain itu angka ganjil ada dilaporan akhir yang setiap bulan mereka serahkan. Entah darimana angka itu datangnya tiba-tiba ia susupkan kedalam laporan.” jelas Reyna panjang lebar membuat Anya dna Gita shock.
__ADS_1
“Haa?! Divisi personalia?! Pak Andrew?!” tanya Anya tak percaya.
“Iya kak Anya!” jawab Reyna mantap.
“Lalu, apa lu udah ambil tindakan untuk lapor ke pak Anthony atau pak Revan?!” tanya Gita serius.
“Sebenarnya, Aku ingin melaporkannya ke pak Anthony. Namun, saat itu bukti yang kukumpulkan belum cukup. Tapi kalau sekarang sepertinya aku sudah siap!” jawab Reyna tanpa ragu-ragu.
“Baguslah kalau gitu! Tapi Reyna, saat akan mengungkapkan hal seperti itu lu harus hati-hati. Gue takut kalau kebenaran terungkap pak Andrew bakalan ngincer lu!” ucap Gita mengkhawatirkan sahabatnya.
“Iya Rey, bener kata Gita. Apa kamu udah siap dengan itu semua?!” tanya Anya yang setuju akan pemikiran Gita.
“Sudah kak! Kali ini aku sudah memantapkan hati dan fikiranku untuk mengungkapkan tindakan yang merugikan perusahaan ini. Apapun resikonya, asal kebenaran terungkap aku akan maju menghadapinya!” jawab Reyna yakin. Membuat kedua sahabatnya kagum atas sikap berani yang Reyna miliki.
“Kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu, kita bakalan dukung kamu Rey!” ucap Anya memberikan semangat.
“Iya bener Rey! Kalau ada apapun yang bisa kita bantu, lu harus langsung ngomong ke kita, karena kita bakal bantu lu semaksimal mungkin!” giliran Gita memberikan dukungannya serta menawarkan dirinya dan Anya untuk membantu, membuat Reyna terharu atas sikap sahabat-sahabatnya yang sangat tulus itu.
“Terimakasih banyak kak Gita, kak Anya!” lanjut Reyna tersenyum bahagia.
“Iya sama2 Rey, sudah seharusnya kita saling membantu! Iyakan Git?!” jawab Anya diakhiri kalimat pertanyaan yang ditujukan pada Gita.
“Yoi! Santai aja Rey. kita malah seneng bisa bantu lu.” ucap Gita dengan senyuman manisnya.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka langsung kembali ke ruang kerja mereka. Karena Reyna akan segera melapor pada pak Anthony.
“Tok! Tok! Tok!”
“Permisi pak Anthony..” ucap Reyna sebelum akhirnya masuk ke ruangan pak Anthony setelah dipersilahkan.
__ADS_1
“Masuk!”
“Eh Reyna! silahkan duduk Rey!” ucap Anthony setelah melihat bahwa Reyna lah yang memasuki ruangannya.
“Baik pak, terimakasih!” jawab Reyna disertai senyuman manisnya.
“Ada apa Rey? apa ada yang perlu saya periksa dan tanda tangani?!” tanya Anthony setelah Reyna duduk dihadapannya.
“Bukan pak, saya kesini karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan.” jawab Reyna to the point.
“Ada apa Rey? kalau melihat dari ekspresimu, sepertinya sesuatu yang cukup serius?” tebak Anthony yang langsung mendapatkan anggukan dari Reyna.
“Benar pak. Ini soal laporan pengajuan anggaran dari divisi personalia. Saya perhatikan dari laporan tahun-tahun sebelumnya, anggaran mereka semakin meningkat dan jumlahnya cukup besar dibandingkan divisi lain dengan mengatasnamakan gaji karyawan. Hal itu membuat saya menelusuri laporan penggajian karyawan setiap bulan, dan saya mendapatkan hasil yang mencengangkan!”
“Karena jumlah gaji yang dibayarkan kepada karyawan dan juga pengeluaran mereka setiap bulannya tidak sebesar jumlah anggaran yang mereka ajukan dan anggaran yang telah dicairkan ke divisi mereka selama ini, dan tiba-tiba ada angka ganjil yang entah datang dari mana disusupkan kedalam laporan yang mereka serahkan selama ini. Saya juga sudah mengecek bukti-bukti pengeluaran mereka, namun ada bukti pengeluaran palsu yang sengaja dibuat untuk mengelabui divisi kita.” jelas Reyna panjang lebar hingga membuat wajah Anthony yang awalnya kalem menjadi shock dan membuat dia segera mengecek berkas-berkas yang Reyna serahkan.
Setelah beberapa menit berlalu, berkas ditangan Anthony sudah dicek dengan sangat teliti, dan benar saja yang dikatakan Reyna bahwa Pak Andrew dari divisi personalia telah menggelapkan uang perusahaan selama 3 tahun terakhir ini dan setiap bulannya.
“Ternyata benar apa yang kamu katakan Rey, semuanya jelas terlihat dalam berkas-berkas ini. Argghh!! Bagaimana bisa selama ini saya kecolongan dengan hal seperti ini!” ucap Anthony frustasi.
“Pak, anda tidak perlu menyalahkan diri anda sendiri. Karena pak Andrew cukup cerdik menyusupkan angka pada laporan mereka untuk mengelabui kita. Namun, sekarang yang paling penting, kita harus segera melaporkan tindakan kotornya ini!” ucap Reyna tegas.
“Baiklah Rey, sekarang kita harus segera melaporkan dan membawa bukti-bukti ini ke Pak Revan. Ayo kita ke ruangan Pak Revan sekarang!” ajak Anthony yang langsung disetujui Reyna.
Akhirnya mereka berdua keluar ruangan untuk menuju ruangan Revan, Namun saat berjalan di koridor. Mereka malah bertemu dengan Andrew yang tersenyum melihat ke arah mereka.
“Hei Anthony! Mau kemana kau tergesa-gesa seperti ini?!” sapa Andrew dengan tampang tak berdosa.
“Bukan urusanmu!” jawab Anthony sewot sambil terus melangkahkan kakinya diikuti Reyna di belakangnya.
__ADS_1
“Ada apasih dengan dia?! Gak jelas banget! Lalu kenapa juga Reyna tidak menyapaku?! Bukankah dia tahu kalau aku juga termasuk atasannya?! Dasar orang-orang aneh!” gumam Andrew sambil mengangkat kedua bahunya. Ya, ia masih sangat tenang karena tak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah Reyna berhasil mengungkap perbuatan kotornya itu kepada Revan.