AKU INGIN LARI

AKU INGIN LARI
Pemaksaan


__ADS_3

Sore menjelang, setelah Tinka menceritakan semuanya kepada maminya.


Baby Jane yang bermain dengan Tinka untuk menghabiskan rindunya pada putrinya itu.


"Tinka... " Suara Kevin menggema, menghampiri Tinka dan putrinya lalu memeluk mereka.


"Setelah aku tahu kamu pulang, aku langsung memesan penerbangan saat itu juga demi bertemu denganmu " ucap Kevin menatap Tinka.


Tinka mendorong Kevin agar menjauh darinya.


"Kamu tak tahu malu masih datang menemui kami" ucap Tinka sinis.


"Tinka...apakah aku harus bersujud di hadapan mu, aku hanya ingin bersamamu lagi dan baby jane" ucap Kevin meratapi dirinya.


"Nak Tinka..tolong maaf kan Kevin, dia sudah cerita semuanya soal Luna dan Kevin saat pernikahan kalian, hanya nak Tinka yang saya restui jadi menantu kesayangan, jangan terlalu keras pada Kevin, bebannya berat..dia menyayangimu dan putri kalian" ucap ibu Kevin yang tiba-tiba ikut masuk ke kamar baby Jane.

__ADS_1


"Jeng...saya bukan membela siapa yang benar dan salah, tapi Tinka putriku perlu waktu, sakit hati sekali sudah di khianati dan pergi meninggalkan putrinya, untuk menutupi kesalahan Kevin, saya ingin Tinka di berikan waktu" ucap mami Tinka membela Tinka.


"Tapi jeng sudah tidak ada waktu, kasihan cucuku baby Jane kalau tumbuh tanpa figur ayah" ucap ibunya Kevin.


"Saya tak ingin memaksa Tinka jeng...biar itu pilihannya, kehidupannya" ucap mami Tinka dan Tinka tersenyum bangga pada maminya.


"Mami...kalau mami sudah tahu soal kesalahan ku dari cerita Tinka dan saya akui itu benar, saya mohon maaf sudah menyakiti putri anda, saya akan menebusnya, tolong bantu saya agar Tinka mau menerima saya, saya akan jadi pria yang akan membahagiakan hidupnya" ucap Kevin menghampiri maminya Tinka dan bersujud di hadapan nya.


"Nak Kevin...bukan saya tidak mau bantu, tapi semua keputusan ada pada Tinka, saya tidak ingin mencampuri urusan kalian" ucap mami Tinka memegang Kevin agar berdiri.


"Jeng...kita sudah berteman lama, tolonglah, kami akan meneruskan kerja sama perusahaan dan membangun dua Company bersamaan, pikirkan cucu kita jeng" ucap ibu Kevin memelas.


"Tinka...beri aku kesempatan " ucap Kevin memohon.


"Nak Tinka..jangan terlalu keras pada Kevin, apabila kamu masih tetap keras kepala, pertama pikirkan baby jane, kami bisa mengambilnya kapan saja, karena kau sebagai ibu lalai meninggalkan bayi berumur 1 bulan, Kevin bisa mengambil alih pengurusan baby jane jadi putri Kevin satu-satunya, karena selama nak Tinka tidak ada Kevin lah yang hampir setiap hari datang menjaga baby Jane, bisa tanya dengan mami Tinka, kedua apabila kamu masih menolak putraku Kevin pikirkan kerjasama antara perusahaan kami, bisa kami batalkan kapan saja, ingat itu nak Tinka" ucap ibu Kevin angkuh.

__ADS_1


"Jeng...ini pemaksaan dan pengancaman" ucap mami Tinka tak mau kalah.


"Jeng..pikirkan dua kali, demi kebaikan bersama...ayo Kevin, kita hanya tinggal menunggu keputusan mereka" ucap ibu Kevin meninggalkan mereka.


"Tinka...ku mohon pikirkan lagi" ucap Kevin masih memohon.


"Ayo Kevin!!!" ucap ibu Kevin menggertak.


Mereka berdua pergi meninggalkan Tinka yang mematung.


"Cih!!, sombong sekali, tak ku sangka aku berteman dengan penyihir galak itu" ucap mami Tinka kesal.


"Kita harus bagaimana Tinka?!" lanjut maminya.


"Kita tinggal menunggu papi mi, kita harus bicarakan semuanya " jawab Tinka.

__ADS_1


"Besok papimu pulang" jawab mami Tinka.


Aku harus menjauh dari keluarga Kevin, kenapa mereka sangat memaksa?, apa yang mereka mau?, batin Tinka.


__ADS_2