AKU INGIN LARI

AKU INGIN LARI
Sebuah pesan


__ADS_3

Dengan kesedihan yang di alami Tinka setelah mendengar dari Lauren bahwa Lauren akan menikah dengan Adrien, membuat Tinka merasa bahwa Adrien telah mengkhianatinya.


"Tinka...ada apa?" Mama Tinka masuk ke dalam kamarnya dan melihat putrinya menangis.


"Tidak ma..."


"Ada apa Tinka?...bukankah seharusnya kau bahagia baby Jane sudah ada di tanganmu?" ucap mama nya kembali.


Iya benar, apa yang di katakan mama benar, seharusnya aku bahagia karena baby Jane dalam asuhan ku, aku tidak akan memikirkan soal laki-laki, pikir Tinka.


"Mama benar...Tinka akan selalu bahagia untuk baby Jane" jawab Tinka dengan mengusap air matanya.


"Apakah soal kekasih Italy mu?" mama Tinka masih penasaran.


"Sudah Ma...Tinka sudah baik-baik saja..."


"Baiklah...mama tinggal ya...jangan bersedih lagi...mama tunggu di kamar baby Jane" ucap mamanya.


"Iya mah..."

__ADS_1


Mama Tinka pun meninggalkan kamarnya.


Tinka langsung mengambil ponselnya dan menulis pesan untuk Adrien.


Aku akan menulis pesan ucapan selamat kepada Adrien dan perpisahan, setidaknya aku ingin kita berpisah baik-baik, dan setelah itu, aku akan mengganti nomor ponselku, agar Kevin, Adrien maupun Robert tidak bisa menghubungi ku lagi, aku akan focus pada baby Jane saja, batin Tinka.


- Pesan Tinka untuk Adrien -


"Adrien...aku tidak tahu harus berkata apa?, hari ini adalah hari kebahagiaan ku, karena aku mendapatkan hak asuh putriku, entah kau ingin mengetahui nya ataupun tidak, tapi...aku berharap kau tahu, bahwa kemenangan ku membuat Kevin tidak bisa menikah denganku...dan...hari ini pun hari kesedihan ku, aku mendengar kau akan menikah dengan Lauren...semoga kau selalu bahagia dengannya, sulit sekali menghubungi mu, mungkin memang kau bukan di takdirkan untukku...aku meminta maaf padamu, jika aku bukan yang terbaik untukmu..." Love Tinka.


Tinka menutup ponselnya dan mematikannya untuk selamanya lalu membuangnya ke tempat sampah.


Tak lama Desy masuk ke dalam kamar Tinka.


"Des...sepertinya aku dan Adrien sudah tidak bisa bersama lagi...dia akan menikah dengan Lauren, aku ingin focus pada baby Jane..."


"Oh Tinka...im sorry to hear that, kau berhak bahagia Tinka, ku yakin suatu saat kau kan bahagia...oh iya btw ada Kevin di depan...aku tidak tahu dia ingin apa?, Luna sampai ketakutan dan aku suruh Luna masuk ke kamarnya, Kevin ingin bertemu denganmu, dia hanya terduduk di teras depan rumah mu, papamu sampai memanggil security, dia bilang cuma ingin bicara baik-baik denganmu" ucap Desy.


"Apa yang dia inginkan?!...oh iya Des, besok temani aku membeli ponsel dan nomor baru ya..."

__ADS_1


Desy mengiyakan permintaan temannya.


Tinka pun berjalan keluar kamarnya, dan semua orang keluarga nya menatap nya.


"Tinka...lebih baik jangan temui dia" mohon papa Tinka.


Tinka melihat dari tirai jendela rumahnya, Kevin yang terduduk dan di dampingi oleh beberapa security papa Tinka.


"Tidak apa-apa papa, hanya sebentar" Tinka pun membuka pintu rumahnya.


Kevin melihat Tinka membuka pintu langsung berlari bersujud di kakinya.


"Tinka...maafkan aku...aku sangat bodoh....ampuni aku..." Kevin merintih di kaki Tinka.


"Kevin...aku memaafkan mu...sekarang pergilah" jawab Tinka.


"Bolehkah aku berkunjung untuk bertemu baby Jane?, aku takut tidak bisa bertemu dengan putriku, seperti yang kau katakan di pengadilan" keluh Kevin.


"Entahlah Kevin...mungkin suatu saat kau bisa bertemu dengan baby Jane...aku takut kau melakukan hal buruk" ucap Tinka.

__ADS_1


"Tidak akan...aku berjanji...terimakasih Tinka..."


"Sekarang pergilah...." Tinka berbalik dan meninggalkan Kevin.


__ADS_2