AKU INGIN LARI

AKU INGIN LARI
Memiliki maksud tersembunyi


__ADS_3

"Tinka...Tinka, benarkan ini kamu Tinka?" Seorang pria berjas tampan menghampiri Tinka dan Desy terkejut melihat ke arah pria itu sambil menyenggol lengan Tinka yang sedari tadi asik bermain ponsel memberi pesan pada Adrien.


Tinka pun mendongak dan melihat pria itu.


"Robert?!..ternyata kau ada di Jakarta juga?" Tinka keheranan dengan keberadaan mantan boss nya itu.


"Kamu tahukan aku sedang membangun hotel di Jakarta, apa kabarmu Tinka?, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Robert.


"Tinka, siapa dia?" Desy berbisik.


"Aku baik-baik saja, aku sedang ada keperluan, oh iya perkenalkan ini temanku Desy, dan ini Robert dia mantan boss ku di Bali" Tinka pun memperkenalkan Robert dan Desy.


Tiba-tiba security hotel menghampiri Tinka.


"Nona Tinka, taxi Nona sudah menunggu di depan"


"Baik" Tinka pun bersiap.


"Tunggu, kau menginap di hotel ini?, berapa lama?, Tinka, kau akan ke mana?, aku bisa mengantarkanmu " Robert begitu ingin membantu Tinka.


Ini kesempatan ku mendekati Tinka, batin Robert.


"Robert, aku ada keperluan mendesak, aku terburu-buru, maafkan aku, mungkin lain kali kita bisa bertemu kembali " Tinka tersenyum ke arah Robert.


"Tunggu...tunggu...biarkan aku membantumu kali ini, kumohon" Rayu Robert.


"Hmmm..security!, ini uang untuk taxi yang menunggu, nona Tinka akan pergi bersama ku" Robert memanggil security dan memberikan uang yang banyak untuk security dan taxi yang sudah menunggu.


"Robert..Apa-apaan?"


"Please Tinka, give me a chance " bujuk Robert.


Tinka melihat ke arah Desy. dan Desy pun mengangguk setuju.


"Hmm...baiklah" jawab Tinka terpaksa.


Tak lama mereka pun masuk ke dalam mobil mewah Robert.


"Wah..." Desy takjub dengan mobil yang seharga hampir 3 M ya mobil Robert Lexus Ls 500.


"Kau menyetir sendiri?" tanya Tinka.


"Ya....sebelum ke Bali aku cukup lama di Jakarta, jadi aku sedikit tahu daerah Jakarta" jawab Robert.


"Oh by the way..kalian mau ke mana?" tanya Robert.


"Kau tahu daerah ini?" Tinka menyodorkan catatan alamat yang di berikan sekretaris papinya.


"I know that place but....hmmm...so crowded" ucap Robert mengangkat alis.


"Macet pasti" tiba-tiba celetuk Desy yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1


"Ya...traffic"


"Hm...kalau begitu tidak apa-apa, kami naik taxi saja" ucap Tinka.


"Jangan...biar ku antar kalian...kebetulan hari ini, project pembangunan hotel milikku sedang terkendali, tidak ada masalah" senyum lebar Robert ke arah Tinka.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Tinka meyakinkan.


" Tidak apa-apa...kau tenang saja Tinka...hmmm....kalau boleh tahu, untuk apa kau ke tempat itu?, tempat itu agak sedikit kumuh, rumah susun yang agak terbengkalai, yah...kalau kau mau memberitahukan alasannya, kalau tidak pun tidak apa-apa" Robert ingin tahu.


"Ini tentang..."


"Tidak apa-apa, kalau kau tidak ingin memberitahukan ku..."


"Waduh macet parah" Desy membuyarkan keheningan mereka.


"Oh iya...kau teman dekat Tinka?...maaf aku mengacuhkan mu" Robert yang sedari tadi asik mengobrol dengan Tinka tidak ingat soal Desy temannya.


Segede ini gak terlihat apa, pikir Desy kesal.


"Iya...tidak apa-apa ko" jawab Desy.


"Sudah lama kalian berteman?" Robert melirik ke arah Desy.


"Lumayan lama...bukan sekedar teman tapi sahabat" jawab Desy.


Mereka pun mengobrol sembari melewati keadaan jalan yang macet parah.


"Akhirnya sampai...ini tempat yang ada dalam catatan kalian" ucap Robert.


Desy dan Tinka pun turun dari mobil Robert.


"Aku menunggu saja di sini" ucap Robert.


"Kau bisa kembali ke urusanmu, terimakasih sudah mengantarkan kami" ucap Tinka tersenyum ke arah Robert.


"Baiklah..aku ingin bertemu denganmu di hotel, kalau boleh aku tunggu di Lobby nanti malam pukul 20.00, kalau kau bersedia, Tinka.." bujuk Robert memohon.


"Baiklah...sebagai rasa terimakasih karena sudah mengantarkanku" ucap Tinka.


"Yesss...ok Tinka..jangan lupa nanti malam" Robert kegirangan.


Robert pun meninggalkan mereka.


Tinka dan Desy memasuki gedung yang besar dan banyak sekali sampah, semua mata yang ada di sana melihat mereka, apalagi mereka baru turun dari mobil mewah.


"Kayaknya Robert suka sama kamu ya" ledek Desy.


"Hush...ehm...permisi" ucap Tinka kepada salah satu pemuda yang duduk-duduk di sana berpengalaman bersama teman-teman nya.


"Iya Nona yang cantik, ada yang bisa aku bantu" para pemuda itu tersenyum senang melihat mereka.

__ADS_1


"Saya ingin bertanya tentang alamat ini" tanya Tinka.


Para pemuda itu usil saling tersenyum dan menggoda.


"Kalau ku beritahu, nona mau kasih apa?...haha" mereka semua tertawa.


"Tinka...aku takut" bisik Desy.


"Hei kalian!!!...pegi pegi!!, ganggu tamu aje lo pada, kalian begini tar ga ada yang mau ngontrak di mari...dasar pengangguran!"


Teriak seorang pria tua ke arah para pemuda itu.


"Ah pak RT ga asik, susah bener liat orang seneng, ayo kita pegi" ucap salah satu pemuda dan mereka pun bubar.


"haduh syukurlah" gumam Desy.


"Iya Neng, ada yang bisa saya bantu?" tanya pria tua itu.


"Pak..saya mencari tempat ini, benar di sini?" tanya Tinka.


"Oh iya bener, tempat neng Luna, neng mau ngontrak?" tanyanya pada Tinka.


"Iya bener Luna...boleh antarkan kami?" Tinka bersemangat.


"Boleh...boleh..neng ikutin saya, jangan naik lift suka macet neng, lewat tangga aja ya...ini alamatnya kan di lantai 3 doang" ucap pria tua itu.


"Baik pak" ucap Tinka.


Mereka pun sampai di tempat yang di tunjukkan itu.


"Emang neng mau ngontrak?" tanyanya.


"Bukan...saya mencari Luna"


"Neng Luna mah dah lama kagak dimari, kirain mau ngontrak...ini tempat dulunya punya neng Luna...cuma sekarang di kontrak in sama sepupu nya, ini masih kosong, lha gw kira neng mau ngontrak"


"oo..begitu pak...boleh saya tahu nomer telepon pemiliknya" tanya Tinka lagi.


"Boleh...ini tar ya" Pria itu membuka ponselnya dan menunjukkan no sepupu nya Luna.


Tinka memfoto nomer telepon itu.


"Jadi ini kosong ya pak?" tanya Desy.


"Iya Neng, telepon aja itu nomer ntu, yaudah ya neng saya pegi dulu"


"Iya pak terimakasih " senyum Tinka.


Gw kira mau ngontrak, kan lumayan dapat persenan, gumam pria tua itu sambil meninggalkan Tinka dan Desy.


"Gila ini..rumah kayak tempat sampah" gerutu Desy.

__ADS_1


"Aku telepon nomer ini ya, siapa tahu ada petunjuk" ucap Tinka.


Tinka pun menelepon nomer yang di berikan pria tua itu dan tidak lama ada seorang wanita yang mengangkat telepon nya.


__ADS_2