AKU INGIN LARI

AKU INGIN LARI
Mencari Luna


__ADS_3

"Apa?!, kamu hanya di beri waktu satu minggu?, apa yang akan kamu lakukan Tinka?" tanya maminya Tinka.


"Aku harus cepat mencari Luna" ucap Tinka.


"Papi, sudah dapat informasi belum tentang wanita bernama Luna?" tanya mami Tinka lagi.


"Papi bilang sedang bertemu orang hari ini, dia biasa mencari orang hilang, tapi waktu Tinka pergi papi berusaha mencari Tinka tidak mi?" tanya Tinka.


"Papimu mau mencarimu waktu itu, mami mendesak papimu untuk mencarimu, tapi papimu bilang gini, anak manja itu biarkan dia biar mandiri sampai kapan dia bisa hidup seperti itu, tapi sebenarnya papimu sedih sekali waktu kamu pergi Tinka, terlihat tatapannya saat lihat baby jane karena mukanya mirip denganmu" mami Tinka menjelaskan.


"Papi..walaupun terlihat keras dan tegas tapi masih mau memikirkan Tinka, oh iya mi, aku tidak bisa menunggu papi, hari ini Tinka mau ke tempat apartment Luna yang waktu itu, Tinka harus coba berbagai cara, siapa tahu dia masih di sana ataupun ada info tentang nya d apartment itu" ucap Tinka.


"Mami temani ya" ucap maminya.


"Tidak usah mi, Tinka sendiri saja bawa mobil Tinka, tidak jauh ko hanya 30 menit dari sini, mi...kalau papi sudah datang, telepon Tinka ya" jawab Tinka.


"Hati-hati ya Tinka, kabari kalau ada apa-apa " ucap maminya khawatir.


"Tinka pergi dulu ya mii" pamit Tinka.


Tinka pun pergi menyetir sendiri ke apartment Luna yang lama, apartment yang memiliki kenangan buruk bagi Tinka, saat dia menangkap basah Kevin dengan Luna berselingkuh, dan membuat hatinya sakit. Kenangan yang tak terlupakan bagi Tinka.


Semoga Luna masih ada di sana, batin Tinka.


30 menit Tinka sampai di apartment itu dan memakirkan mobilnya. Dia melihat ada mobil yang tidak asing baginya, iya mobil Kevin di parkiran apartment itu, Tinka tahu mobil Kevin karena mobil itu dulu sering dia pakai saat mereka menikah.


Untuk apa Mobil Kevin di sini?, apakah untuk menemui Luna?, apakah mereka masih diam-diam bertemu?, aku harus selidiki ini, ini akan bagus, bisa ku rekam atau ku foto, sebagai bukti, pikir Tinka senang.


Dia berjalan ke arah Lobby apartment diam-diam, tiba-tiba security apartment menghampiri Tinka, dan membuat nya terkejut.


"Mba, maaf mau ke mana ya?" tanya security tiba-tiba.

__ADS_1


"Eh pak...saya mau ke lantai dua tapi saya lupa nomornya, saya mau ke apartment teman saya" ucap Tinka sambil mengingat nomor apartment Luna waktu itu.


"Kayaknya mba ini pernah deh ketemu saya, sekretaris pak Kevin bukan ya?, saya lupa, waktu itu sudah hampir setahun ya" ucap security itu mengingat-ingat.


"Iya pak...Bu Luna teman saya, apa bapak lihat pak Kevin?, saya lihat ada mobilnya terparkir di parkiran, nomor berapa ya apartment nya saya lupa? sudah lama tidak ke sini" tanya Tinka bersandiwara dan lupa nomor apartment nya Luna.


"Iya...pak Kevin sedang mengecek apartment bu Luna, apartment nya di nomor 139, mau saya antar?" tanya security itu.


"Oh iya 139 lantai dua..tidak usah di antarkan pak, pak Kevin sudah menunggu saya, biar saya sendiri saja, terimakasih pak bantuannya" ucap Tinka berlalu meninggalkan security itu dan memasuki lift.


Tinka diam-diam keluar dari lift, dia berjalan mendekati apartment nomor 139, dia melihat pintu apartment Luna terbuka, Tinka mengintip, karena yakin pasti ada Kevin di dalamnya, dan benar saja, ada Kevin dan dua orang pria sepertinya pesuruh Kevin. Tinka diam d samping pintu agar Kevin tak melihatnya tapi mendengarkan percakapan mereka.


"Kalian pastikan perempuan ini sudah pergi dari kota ini, dan lacak ke mana pergi nya dan awasi jangan sampai kembali ke kota ini, bagus dia sudah mengosongkan apartment ini dan pergi menjauh, jangan sampai dia ada di kota ini" ucap Kevin kepada dua orang pria di depannya.


"Baik pak Kevin " jawab dua pria itu.


Tinka bergegas meninggalkan apartment itu memasuki pintu lift terburu-buru, dia takut Kevin menemukannya.


"Pak..Bu Luna sudah pindah ya?" tanya Tinka terburu-buru.


"Iya mba...mba sudah ketemu pak Kevin?" tanya security lagi.


"Ehmmm...iya pak sudah, tapi saya tidak tahu bu Luna pindah ke mana?, bapak tahu tidak?" tanya Tinka lagi.


"Saya di suruh Bu Luna tidak boleh memberitahukan pindahnya ke mana termasuk kepada pak Kevin mba, bu Luna berpesan kepada saya begitu, jadi maaf ya mba" ucap security itu.


Tinka mengeluarkan beberapa uang dan memberikan kepada security itu.


"Tolong pak beritahu saya, saya teman dekat bu Luna " ucap Tinka sambil memberikan beberapa uang kepada security itu.


"Saya tidak tahu tepatnya, cuma saya lihat barangnya di kirim ke jakarta, alamat nya saya tidak tahu mba, itu saja" jawab security itu.

__ADS_1


"Tinka!" tiba-tiba suara Kevin memanggil Tinka.


Tinka mematung ketakutan, karena Kevin menghampiri nya bersama dua pria suruhannya.


"Kamu sedang apa di sini?, kamu mencari Luna?" tanya Kevin sambil mengamati Tinka.


"Ehmm...Kevin, aku..." jawab Tinka terbata-bata.


"Kau tidak akan menemukan nya Tinka, anggap saja kejadian satu tahun yang lalu tidak pernah ada, itu hanya cerita omong kosong mu, tidak ada bukti apapun, dan baby Jane akan ku ambil, pikirkan Tinka, jadi istriku dan kita hidup bersama dengan baby Jane, aku dan kamu, aku akan membuatmu bahagia atau...ehmm...kau akan kehilangan baby Jane selamanya" ucap Kevin mengancam dan meninggalkan Tinka yang mematung.


Kevin kurang ajar, tunggu dulu, security ini bisa jadi salah satu saksi, bahwa Kevin sering datang ke apartment Luna pada saat kami masih menikah.


Tinka menghampiri security itu.


"Pak...saya minta tolong" ucap Tinka pada security itu.


"Apa mba?" jawab security itu.


"Pak bisa bantu saya, bapak bisa tidak bersaksi bahwa satu tahun yang lalu Pak Kevin sering mengunjungi apartment ini untuk bertemu bu Luna kan?" tanya Tinka sambil mengeluarkan handphone nya untuk merekam percakapan nya dengan security.


"Mba..saya tidak tahu apa-apa yang berhubungan dengan pak Kevin, maaf ya mba" ucap security itu panik.


Kevin pasti sudah mengancam security ini, jalan satu-satunya memang aku harus mencari Luna, pikir Tinka.


Kevin sudah selangkah lebih maju dari aku, tapi aku tak kan biarkan dia mengambil baby Jane, Kevin pasti punya rencana, aku pun harus bertindak cepat, gumam Tinka.


Tiba-tiba handphone Tinka berbunyi.


"Hallo...iya mi, Tinka sebentar lagi pulang" ucap Tinka kepada maminya yang menelepon.


Semoga Papi mendapatkan alamat Luna, batin Tinka.

__ADS_1


__ADS_2