AKU INGIN LARI

AKU INGIN LARI
Ke Jakarta


__ADS_3

"Hoaammmm.." Desy menguap panjang.


"Ayo kita sudah sudah landing Des" Tinka membangunkan temannya yang tertidur di pesawat.


"Hmm..aku masih ngantuk banget lagian kamu pesan penerbangan malam" gerutu Desy.


"Kita sudah tidak ada waktu lagi, kamu bisa tidur di hotel, besok pagi kita menyusun rencana" Tinka serius.


Mereka pun bersiap turun dari pesawat dan kembali ke hotel.


Satu jam perjalanan menuju hotel menggunakan taxi, Desy tertidur sepanjang perjalanan.


Mereka pun sampai di hotel, hotel megah di ibukota Jakarta yang di pesan Tinka bersama Desy untuk 3 hari, sesampainya di kamar mereka pun beristirahat.


~Pagi hari~


"Tinka..bangun" Desy membangun kan temannya yang terlelap tidur karena kelelahan.


"Des, jam berapa ini?" tanya Tinka.


"Ini sudah jam 8 pagi, apa rencana kita hari ini?" tanya Desy pada Tinka.


"Hah jam 8!!!, ayo bersiap Des, kita sarapan dulu di hotel, lalu..." Tinka terputus.


"Lalu..." Desy penasaran.


"Oh Desy, aku tidak tahu, aku begitu panik memikirkan baby Jane, aku tidak terpikirkan selanjutnya, aku harus bagaimana?" Tinka terisak di pelukan Desy sahabat nya.


"Hmmm...tunggu dulu, kamu bilang papi mu dan ayah Kevin membuat Mall di Jakarta, berarti Ayah Kevin memiliki kantor di jakarta, mungkin kita bisa mencari informasi dari sana, kamu bilang dulu Luna adalah sekretaris ayahnya Kevin kan?, kamu bisa telepon papimu menanyakan alamat kantor ayah Kevin dan kita bisa menyelidikinya" Desy menyarankan.


"Iya benar sekali, Des beruntungnya aku punya teman sepertimu, kan ada untungnya aku bawa kamu ke sini" Tinka memeluk Desy erat.

__ADS_1


"Aku telepon papi dulu ya" lanjutnya.


"Hallo pii"


"Tinka kamu sudah sampai, Syukurlah, ada apa Tinka?, rencanamu hari ini apa?"


"Pii...Pak Wijaya ayah Kevin punya kantor di jakarta?"


"Ada"


"Boleh kirim ke Tinka pii alamatnya, Tinka mau ke sana mencari informasi soal Luna, dulu kan dia mantan sekretaris ayahnya mungkin aku bisa ke sana bertanya mencari informasi "


"Iya kau benar Tinka, papi akan kirim alamatnya padamu"


"Baik pii Tinka tunggu ya" Tinka pun mengakhiri telepon dari ayahnya.


"Tinka, ayo aku dah siap" Tiba-tiba Desy sudah rapih.


"Hmmm...yang sudah punya pacar, cariin donk temanmu yang jomblo ini pacar" gerutu Desy dan Tinka hanya tersenyum.


Tinka berkali-kali mencoba menelepon Adrien tapi tidak di angkat nya.


"Hmm...mungkin dia sibuk" lirih Tinka.


Tidak lama papinya Tinka menelepon.


"Tinka...papi kirim alamat rumah Luna" papinya bersemangat.


"Hah...bagaimana papi bisa dapat alamatnya?" tanya Tinka yang tak kalah bersemangat nya.


"Sekretaris papi menelepon ke kantor ayahnya Kevin, dan meminta beberapa data eks sekretaris ayahnya, sekretaris papi bilang butuh sekretaris yang handal dan datanya, dan mereka percaya memberikan 3 kandidat eks sekretaris handal, salah satunya Luna, kamu bisa mengecek nya" Papi Tinka kegirangan.

__ADS_1


"Wah hebat, papi harus menaikan gaji sekretaris papi, baiklah Tinka akan mengeceknya" Tinka senang sekali.


"Gimana?!!" Desy pun ikut penasaran melihat temannya berbinar.


"Kita dapat petunjuk Des, kita tidak perlu ke kantor ayahnya Kevin yang di Jakarta, sekretaris papiku dapat alamat Luna di Jakarta " Tinka melompat kegirangan.


"Ko bisa?!, sekretaris papimu hebat!!" Desy ikut melompat kegirangan.


"By the way Tinka, kita belum sarapan aku Lapeer " Desy mengeluh.


"Kita room service ya Des, abis itu langsung berangkat, oh iya Des, aku ingin kamu lihat alamat Luna, kamu tahu kan daerah itu?" timpal Tinka.


"Aku tahu ini" jawab Desy pasti.


"Baguslah, kita tidak akan menghabiskan banyak waktu"


Setelah mereka berdua sarapan mereka pun bersiap ke lobby.


Saat di Lobby.


"Mba, tolong pesankan taxi untuk kami" Tinka berbicara pada bagian reservations.


"Baik, atas nama siapa?" tanya petugas resepsionis.


"Tinka"


"Baiklah, silahkan tunggu sebentar, kami pesankan taxi"


Tinka dan Desy pun duduk menunggu taxi datang.


"Tinka...Tinka, benarkan ini kamu Tinka?" Seorang pria berjas tampan menghampiri Tinka dan Desy terkejut melihat ke arah pria itu sambil menyenggol lengan Tinka yang sedari tadi asik bermain ponsel memberi pesan pada Adrien.

__ADS_1


Tinka pun mendongak dan melihat pria itu.


__ADS_2