
"Tinka...pantas kau betah di sini...bagus, tempat yang kau pilih sangat bagus dan pemandangan nya indah...mama papa suka"
"Iya mah...ini tempat penuh kenangan" jawab Tinka.
"Apakah dengan Adrien juga?" tanya Mamanya.
"Iya...sebenarnya pagi ini aku ingin mengajak kalian berkeliling, kalau Adrien ada di sini, mungkin cafe nya sudah buka, makanannya sangat enak" ucap Tinka menahan sedih.
"Sudah jangan bersedih, kita ke sini kan ingin bersenang-senang, lagian kau bilang Adrien sudah menikah, lupakan saja..." hibur mamanya.
"Tinka...ayo..Jane sudah ingin jalan-jalan" teriak papa Tinka yang di tarik-tarik Jane sedari pagi.
"Bocah itu..." ucap mama Tinka.
Mereka pun menuruni lift apartment dan berjalan melewati pantai.
"Mami...aku ingin ke pantai!" Jane yang tidak sabar ingin ke pantai.
"Kita cari makan dulu ya...oma dan opa laparrr" mama Tinka melotot ke arah Jane yang sedari tadi tidak mau diam.
"Oma....ah sebal" gerutu Jane.
Semua tertawa melihat tingkah lucu Jane.
Tinka membawa keluarga nya ke arah cafe milik Adrien yaitu RISE cafe, karena bagi Tinka makanan di sana sangat enak.
Sampailah mereka di RISE cafe.
Tinka sangat senang melihat cafe milik Adrien telah buka, tapi dia juga khawatir soal Lauren ada di sana juga.
RISE cafe sudah buka, itu berarti Adrien ada di Indonesia, tapi pasti dia membawa Lauren bersama nya, Lauren adalah istrinya, tapi...tidak apa-apa kan aku membawa keluarga makan di sini?, selain enak aku bisa bertemu Abel, aku juga rindu dengannya, batin Tinka.
"Tinka...inikah cafe nya?" tanya mama Tinka.
Tinka mengangguk.
"Yakin kita makan di sini?, kau tidak apa-apa?" tanya Mamanya lagi.
"Kita masuk saja, ada Abel dia temanku selama di sini, dan di sini makanan Italy nya enak" ucap Tinka.
"Aku suka makanan Italy" sambung papa Tinka.
"Selamat datang..." sapa Abel dan Ricky kepada keluarga Tinka, dan Abel melihat Tinka masuk langsung menyambut nya.
"Ka Tinka...ka Tinka...ini benarkan ka Tinka?" Abel memeluk Tinka.
Adrien mendengar nya dari pantry.
"Iya Abel...ini aku...oh iya aku membawa keluargaku" jawab Tinka.
"Sini...silahkan om tante...ada tempat duduk yang biasa kak Tinka makan dulu...wah siapa gadis cantik yang sedang cemberut ini?, mirip ka Tinka..."
"Dia putriku...Jane"
"Aku Jane...dan aku gak mau makan, aku mau ke pantai, mami!!!" gerutu Jane.
"Jane...." lirik oma nya.
Mereka pun menghiraukan Jane yang merengek dan duduk lalu memesan makanan.
__ADS_1
"Baik...pesanan nya Fettuccine semua ya" Abel bersemangat.
"Oh iya...ka Tinka, mau bertemu ka Adrien?" bisik Abel.
"Jangan...kami makan saja" jawab Tinka.
Aku tidak ingin bertemu Adrien pasti ada Lauren bersamanya, pikir Tinka.
Adrien mendengar percakapan Abel dan Tinka.
Tidak mungkin dia ingin bertemu denganku, kemungkinan pertama dia pikir aku sudah menikah dengan Lauren dan yang kedua dia pasti sudah tidak mencintai ku, dia akan menikah dengan Robert, untuk apa dia ke Bali kalau bukan untuk pernikahan mereka?, batin Adrien.
Abel berlari ke arah pantry.
"Ka Adrien...ada ka Tinka..." ucap Abel berbinar.
"Iya aku tahu...biar aku yang mengantar kan makanan nya" jawab Adrien.
"Wah...benarkah, baik ka!" seru Abel.
Aku merindukan mu Tinka...pikir Adrien.
Adrien merapihkan pakaian nya dan membawa troly makanan berisi pesanan mereka.
Adrien berjalan santai membawa makanan yang di pesan keluarga Tinka.
Sampailah di meja Tinka dan keluarga nya.
"Selamat pagi..." Sapa Adrien ramah ke arah mereka.
Semua mata keluarga Tinka tertuju pada wajah tampan Adrien yang mulai memperkenalkan diri.
"Hallo Adrien..." sapa Tinka bersemu merah.
"Hallo Tinka...apa kabar?" jawab Adrien.
Tinka...kau selalu cantik seperti biasa, batin Adrien.
Abel datang menghampiri dan membantu Adrien memberikan makanan di atas meja mereka.
"Om....om yang kemarin ya?!...yang menolong Jane tersesat!?" teriak Jane.
"Wah kita bertemu lagi..." girang Adrien menyapa bocah yang sedari tadi cemberut ingin ke pantai.
"Aku baik Adrien...oh iya perkenalkan ini orang tuaku...dan ini putriku Jane...akhirnya kau bertemu dengannya" Lanjut Tinka sembari menunjuk keluarga nya.
"Hallo semuanya" sapa Adrien ke keluarga Tinka, orangtua Tinka pun membalas senyuman Adrien.
"Om...sangat tampan dan baik lagi, kenapa om tidak menikah saja sama mami ku?" Jane polos.
"Jane!!!" semua mata melihat ke arah Jane dengan emosi.
Adrien tersenyum melihat tingkah centil bocah berusia 3 tahun itu.
"Baiklah...selamat menikmati hidangannya" Adrien tersenyum dan mulai berbalik badan meninggalkan keluarga Tinka yang siap menyantap makanan yang di buat nya.
"Tunggu om...." Jane berdiri bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Adrien.
"Jane...." bisik Tinka.
__ADS_1
Adrien menoleh ke arahnya dan berjongkok agar tingginya sama dengan Jane.
"Iya..." jawab Adrien.
"Om...aku sekarang tinggal di apartment yang kemarin, aku tidak punya teman di sini, om mau gak temani Jane ke pantai?...please..." wajah imut Jane membuat Adrien sangat terhipnotis.
"Baiklah....om bisa temani, tapi kalau sore gimana?, pemandangan nya lebih indah sore dan kita bisa melihat sunset, bagaimana?" ajak Adrien.
Tinka menghampiri mereka.
"Maaf Adrien...apakah Jane mengganggu mu?" Tinka menarik pelan Jane.
"Tidak apa-apa Tinka...dia hanya mengajakku bermain di pantai sore ini, bagaimana kalau kau ikut bersama kami?" ajak Adrien.
"Mami...please...please...please...please..." Jane menarik narik tangan Tinka.
"Jane...sssttt...hmmm...apa tidak mengganggu mu Adrien?" tanya Tinka.
Jane sangat berisik, bagaimana bila Lauren mendengar nya?, batin Tinka.
"Tidak...tidak sama sekali..." jawab Adrien.
"Hmmm....baiklah" ucap Tinka membalasnya.
"Yessss...asiiik...mami love you" Jane memeluk Tinka.
"Baiklah...temui om jam 4 sore ini di Lobby ya" Adrien mengusap rambut Jane.
Jane kegirangan dan tersenyum mengiyakan.
Adrien pun meninggalkan mereka.
Tinka dan Jane pun kembali ke tempat duduk mereka.
"Jane...tadi apa?" bisik Tinka kepada putrinya.
"Jane...kamu tidak boleh begitu" oma nya pun ikut mengomelinya.
"Hufft...aku suka sama om itu, Jane kan cuma pengen punya teman di sini" gerutu bocah itu.
"Adrien...pria yang baik" papa Tinka tiba-tiba ikut berbicara sambil menyantap Fettuccine yang ada di hadapannya.
"Betul opa...Jane sayang opa" Jane merasa ada yang mendukung nya.
"Dan...satu lagi makanan buatan nya enaaaak" lanjut papa Tinka.
"Papa..." lirih Tinka.
"Andai saja...kau dan Adrien bisa bersama...papa bisa makan enak setiap hari" lanjut papa nya.
"Hmm...iya enak banget makanan nya, tampan lagi orangnya" mamanya pun ikut memuji Adrien.
Kalian benar, andai saja, Adrien belum menikah dengan Lauren, mungkin aku bisa memiliki nya, batin Tinka.
"Sudah...sudah ayo kita makan yang banyak, kita harus cepat membantu Desy" potong Tinka mengalihkan.
Mereka pun menikmati makanan buatan Adrien.
~ Di Pantry ~
__ADS_1
"Tinka....aku sangat merindukanmu, melihat mu tersenyum ke arahku, aku sangat senang, walaupun kau akan menikah dengan pria lain, ku doakan kau bahagia, kau memang pantas bahagia, sore ini aku akan mengucapkan perpisahan terakhir untukmu dan menjelaskan padamu soal Lauren, andai saja...aku bisa memilikimu...pasti aku akan menjadi pria paling bahagia" gumam Adrien.