
Mereka bertiga berjalan di pinggir pantai bergandengan tangan, Tinka, Jane dan Adrien.
Andaikan ini menjadi sebuah kenyataan, batin mereka bertiga.
"Kita berhenti di sini ya, di sini terlihat lebih indah" ucap Adrien.
"Tapi...aku masih ingin jalan-jalan" gerutu Jane.
"Tapi mami capek Jane" keluh Tinka yang sedari pagi lelah membantu Desy mempersiapkan acara pernikahan.
"Hm...yaudah Jane jalan-jalan sendiri" Jane berlari bolak balik ke arah Tinka dan Adrien.
"Kamu sangat sibuk ya? hm....di hotel Robert" tanya Adrien menatap Tinka.
"Iya...itu adalah acara special jadi harus di siapkan dengan baik agar berjalan lancar" jawab Tinka.
"Hmmm...tentu saja" singkat Adrien.
"Adrien, akhirnya kamu bertemu Jane..."
"Iya gadis itu sangat manis, lucu seperti mu" tukas Adrien.
"Apa kau tidak apa-apa membawa aku dan Jane berjalan melihat sunset?" tanya Tinka.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?...aku senang berjalan denganmu dan Jane...senang sekali"
"Maksudku...soal...hmmm...Lauren, apa dia tidak marah?" tanya Tinka lagi.
"Lauren?!...ooo I see...."
"Iya..dia kan istrimu" jelas Tinka.
"Aku dan dia tidak pernah menikah...dan tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini"
"Maksudnya?!" Tinka terkejut.
"Aku tahu, saat itu Lauren mengangkat telepon darimu dan memberitahukan mu kalau aku dan dia menikah...Diana lah yang memiliki ide untuk pernikahan palsu, supaya mama senang di akhir hidupnya...tapi Lauren melewati batas dan mama mengetahui nya bahwa itu hanya sandiwara, gara-gara Lauren, kau menjadi salah paham dan memutuskanku, aku marah padanya dan mengusirnya, mama mendengar nya dan saat itu juga mama kritis di akhir hidupnya dan meninggalkan kami selamanya...." beber Adrien.
"I'm sorry to hear that" balas Tinka.
Ternyata Adrien dan Lauren tidak menikah, dan aku salah paham, kenapa aku tidak menunggu penjelasan nya pada saat itu, aku terlalu gegabah, pikir Tinka.
__ADS_1
"Hm...tidak apa-apa, paling tidak kau sudah bahagia Tinka...I'm happy for you" senyum Adrien.
"Aku...aku bahagia...Kenapa kau tidak menghubungi ku sebelumnya? dan menceritakan rencana mu dengan Lauren, mungkin aku tidak akan salah paham" Tinka marah di hadapan Adrien.
"Aku tidak ingin mengganggu mu, kau begitu sibuk untuk masalah putrimu dan mantan suamimu, dan aku focus merawat mama...maafkan aku...maafkan aku Tinka" Adrien memegang tangan Tinka.
Tinka pun meneteskan air matanya, Adrien menatapnya dan mengusap air mata Tinka.
Jane melihat mereka dan penasaran dengan apa yang terjadi kenapa maminya menangis, Jane pun menghampiri mereka.
"Om...mami kenapa?"
"Mami tidak apa-apa Jane" Tinka mencoba tersenyum di hadapan putrinya.
"Tapi kenapa mami menangis?, om Adrien gak jahatin mami kan?" Tanya polos Jane.
"Mami hanya menangis bahagia, Jane" ucap Tinka.
"Kenapa?" tanya Jane.
"Lihat sunset di sana sangat indah" lanjut Tinka menunjuk keindahan yang ada di hadapan mereka.
Adrien dan Jane melihat ke arah laut.
"Adrien...terimakasih sudah menceritakan semuanya" Tinka mengecup pipi Adrien.
Adrien mematung dengan sikap Tinka.
Apakah ini kecupan terakhir sebelum pernikahan nya dengan Robert?, batin Adrien.
"Tinka!..." Adrien mengejar Tinka dan Jane yang sudah berjalan meninggalkan nya.
Adrien menghampiri Tinka dan Jane di depan apartment.
Tiba-tiba seorang pria memanggil Jane.
"Jane!!"
"Papa...papa datang" Jane menghampiri Kevin dan memeluknya yang ternyata sedari tadi menunggu Jane di Lobby bersama istrinya Luna dan bayinya.
Tinka menarik tangan Adrien untuk menemui mereka.
__ADS_1
"Akhirnya kalian sudah sampai" sapa Tinka.
"Iya...setelah landing Kevin kangen sama Jane, jadi sebelum ke hotel, dia ingin bertemu Jane" beber Luna.
"Oh iya perkenalkan ini Adrien, ini Luna istri Kevin dan baby Marco putra mereka usianya 1,5 tahun" Tinka memperkenalkan mereka.
"Apakah ini Adrien yang itu?" tanya Luna sembari mengedipkan mata ke arah Tinka, dan Tinka hanya tersenyum malu.
"Adrien...aku minta maaf waktu itu membuat gaduh di cafe mu" beber Kevin malu.
"Tidak apa-apa, aku sudah melupakan itu" jawab Adrien.
"Mama Luna...aku ingin gendong adik aku, baby Marco" ucap Jane.
"Berat sayang, baby Marco kan gendut, dia masih tertidur lagi" jawab Luna.
"Kalian istirahat dulu di apartment ku, setelah baby Marco bangun, kalian bisa ke hotel, nanti ku antarkan" beber Tinka.
"Baiklah" ucap mereka bersamaan.
Mereka pun berjalan bersamaan memasuki lift dan sampai di depan apartment Tinka.
Kevin dan keluarga nya masuk ke dalam di sambut mama papa Tinka.
Adrien menunggu di depan pintu.
"Adrien...ayo masuk" Ajak Tinka.
"Aku...aku akan pulang ke tempatku...semoga besok acaramu lancar Tinka" senyum pahit Adrien.
"Apa kau datang?" tanya Tinka.
"Aku....aku tidak tahu"
"Kumohon datanglah...aku senang ada kamu"
"Hmmm....baiklah"
"Janji padaku...kau akan datang..."
"Iya baiklah, jika itu keinginan mu" ucap Adrien.
__ADS_1
"Baiklah Adrien, sampai bertemu besok" Tinka sekali lagi mengecup pipi Adrien dengan tersipu malu dan menutup pintu.