AKU INGIN LARI

AKU INGIN LARI
Kejutan yang menyakitkan


__ADS_3

"Kau aman di rumahku Luna...aku juga memanggil dokter untuk memeriksamu dan kandungan mu" ucap Tinka kepada Luna yang ikut pulang bersama Tinka dan Desy.


"Terimakasih Tinka..." balas Luna.


"Istirahat lah...aku tunjukan kamarmu...dokter datang malam ini, jadi kau bisa Istirahat dahulu" Tinka sangat ramah kepada Luna.


Tinka menunjukan kamar tamu untuk Luna, dan meninggalkan Luna beristirahat setelah penerbangan dari Jakarta.


Tinka menghampiri keluarga nya yang sudah berkumpul di ruang keluarga termasuk Desy.


"Akhirnya kau menemukan Luna" ucap mama Tinka.


"Iya mi...aku bersyukur sekali"


"Semoga sidang pengambilan hak asuh baby Jane yang akan dilaksanakan 2 hari lagi di menangkan olehmu" seru papa Tinka.


"Iya..." Tinka berharap.


"Des...terimakasih menemani ku mencari Luna..." Tinka menghampiri sahabat nya.


"Ah...tidak masalah...kau kan sahabat ku, tapi btw Robert gimana?, kamu tinggalin?" tanya Desy.


"Yah...pagi tadi aku sempat menelepon nya untuk pulang, dia bilang harus tetap keep and touch" jawab Tinka.


"Cieee...pdkt sama Robert nih sekarang" ledek Desy.


"Gaak...aku tetap ingin bersama Adrien, tapi sudah ku hubungi berapa kali pun dia tidak mengangkat teleponku" Tinka lemas.


"Keep positive...mungkin dia sibuk soal mamanya"


"Iya Des...terima kasih " balas Tinka.


"Ya udah deh...aku pulang dulu ya...holiday it's over!!!, back to reality...padahal seru jalan bareng sama kamu" keluh Desy.


"Next...kita bisa jalan bareng lagi" ucap Tinka.


"Ok Tinka...bye...aku pulang ya...bye om tante...hubungi aku kalau ada apa-apa " Desy melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan temannya itu.


"Tinka...mama papa senang kau berhasil" sambut mamanya sembari menggendong baby Jane.


"Oh...baby Jane...mami merindukan mu" Cium Tinka kepada putrinya yang masih berusia 8 bulan, yang sudah mulai mengecek dan merangkak.


Drrt! Drrrt!


Ponsel Tinka pun berbunyi.


Tinka melihat ternyata dari Kevin.


"Hallo Kevin...ada apa?" tanya Tinka.


"Kau sudah ku berikan waktu...tinggal 2 hari lagi, Baby Jane skan ku ambil" ucap Kevin di dalam telepon.


"Lawan aku Kevin!...aku tetap menolak menikah denganmu, dan aku tidak akan kalah" Tinka menutup teleponnya.


Kevin tidak tahu kejutan apa yang telah ku siapkan untuknya, batin Tinka.




\- 2 HARI KEMUDIAN -



Persidangan hak asuh anak pun di mulai.



Kevin yang begitu menggebu ingin merebut baby Jane dari tangan Tinka dengan menyiapkan pengacara terbaiknya, selain itu keluarga Kevin pun ikut dalam persidangan itu, sebagai saksi dan menonton persidangan berlangsung.



Tinka sangat percaya diri, dia memiliki senjata terakhirnya yaitu Luna.



"Yang mulia...mantan istri tuan Kevin, meninggalkan putrinya untuk pria lain dan pergi ke pulau dewata bersenang-senang, dia meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, dan menitipkan bayinya kepada orang tua nya, oleh karena itu tuan Kevin mengajukan dua permintaan demi si buah hati, pertama tuan Kevin ingin rujuk menikah kembali demi kebaikan putri mereka dan ternyata nyonya Tinka menolak nya, oleh karena itu, baby Jane berhak berada di tangan ayah kandung nya yang begitu mencintai nya" beber pengacara Kevin.


__ADS_1


"Keberatan!!!" sanggah pengacara Tinka.



"Nyonya Tinka pergi karena memergoki tuan Kevin berselingkuh bersama seorang perempuan bernama Luna, dan Nyonya Tinka menutupi perselingkuhan mereka atas permintaan tuan Kevin, Tuan Kevin memohon kepada nyonya Tinka" lanjut pengacara Tinka.



"Tidak ada bukti yang mulia...tidak ada bukti bahwa tuan Kevin berselingkuh" ucap pengacara Kevin.



"Kami memiliki saksi Valid..." sambung pengacara Tinka.



Semua tamu di persidangan riuh, termasuk keluarga Kevin.



Luna masuk perlahan ke dalam ruang sidang di temani Desy teman Tinka.



Semua mata melihat ke arah Luna, termasuk keluarga Kevin sangat terkejut dengan munculnya Luna.



Kevin terlihat kesal dan marah melihat Luna datang.



Luna pun menceritakan semuanya, bahkan dia menunjukan photo serta bukti Chat semuanya yang di simpan di ponselnya.



Hakim dan juri pun memeriksa nya, dan memeriksa tanggalnya.



Luna pun memberitahukan kepada semua orang yang hadir bahwa dia sedang mengandung anak Kevin.




Kevin tertunduk malu, dengan pernyataan Luna.



Hak asuh baby Jane pun jatuh ke tangan Tinka, team Tinka sangat senang dengan kemenangan mereka.



Selesai sidang Kevin menghampiri Luna dan menamparnya.



Plak!!!



"Kevin!...apa yang kau lakukan?!" Tinka melerainya, Luna yang sangat terkejut dan shock atas perbuatan Kevin.



"Dasar kau wanita murah dan menjijikan, kenapa kau datang ke mari?, kau menghancurkan hidupku!!!" Kevin menunjuk ke arah Luna.



Luna hanya menangis, dan Kevin di bawa oleh beberapa polisi yang ada di sana.



"Tinka...tinka...maafkan aku...tinka...kita harus bersama demi baby Jane" teriak Kevin sembari di bawa paksa para polisi.



Tinka menghampiri Kevin.

__ADS_1



Plak!!!



Tinka menampar Kevin dengan sangat keras.



"Ku pastikan...anakku ataupun anak dari Luna tidak akan pernah menganggap mu sebagai ayah mereka...jauhi kami atau aku akan beetindak lebih dari ini, bawa dia pak!!" ancam Tinka.



"Tinka...." Kevin pun di bawa paksa keluar dari persidangan.



Semuanya bergembira melihat kemenangan Tinka.



Tinka mendekati Luna yang terduduk karena trauma atas tamparan Kevin.



"Kita bisa tanpa Kevin...aku ingin membantumu, kau bisa tinggal di tempatku dan bekerjalah denganku...kau bisa membesarkan anakmu...bagaimana pun...anakmu adalah saudara baby Jane" peluk Tinka ke arah Luna.



Luna pun tersenyum dan membalas pelukan Tinka.



Sampailah di Rumah Tinka, semua keluarga Tinka ingin merayakan keberhasilan nya, tapi Tinka merasa rindu kepada Adrien dan mencoba menelepon nya untuk memberitahukan kabar gembira soal keberhasilan nya merebut hak asuh baby Jane.



Tinka menghubungi Adrien, lalu tiba-tiba ada yang mengangkat telepon nya.



Adrien mengangkat nya, pikir Tinka senang.



"Hallo..." Suara perempuan.



"Hallo...is Adrien there?" tanya Tinka.



"Hallo Tinka...apa kabar?...kau masih ingat denganku?" Suara perempuan itu.



"Lauren...apa yang kau lakukan?" tanya Tinka.



"Well...kau tidak tahu?!...aku dan Adrien akan menikah...jadi ku harap kau jangan menghubungi nya lagi...ok..." Lauren menutup teleponnya.



Tinka sangat terkejut dan menjatuhkan ponsel nya.



Brak!!!



Semua mata melihat ke arah Tinka dan bertanya-tanya, apa yang terjadi.



Tinka pun berlalu dan menangis di kamarnya.

__ADS_1



Tidak mungkin Adrien mengkhianati ku, batin Tinka.


__ADS_2