
Riuh hotel milik Robert, banyak tamu datang ikut merayakan kegembiraan Robert dan Desy sang pengantin.
"Selamat ya"
"Congratulations"
"Happy Wedding"
Ucapan demi ucapan terdengar untuk kedua mempelai yaitu Robert dan Desy yang merayakan hari special mereka, sedangkan Tinka sedang sibuk mencari sosok Adrien di antara para tamu.
"Hei...kau mencari Adrien?" tanya Kevin kepada Tinka memecah risau nya.
"Ya...mungkin dia tidak akan datang, Jane dan Marco sudah tidur?" tanya Tinka.
"Iya....mereka tidur bersama papa mama mu di kamar hotel, ini sudah terlalu malam" jawab Kevin.
"Adrien pasti datang, kau tenang saja" lanjut Kevin menghibur Tinka dan Tinka hanya tersenyum kecut.
Tiba-tiba tangan Tinka di tarik Desy untuk berdansa bersama Luna.
"Ayo ibu direktur!!!" teriak Desy kepada Tinka sembari mendengar kan alunan musik, tiga wanita itu asik berdansa.
"Sudah cukup, aku lelah, aku akan beristirahat" ucap Tinka yang melihat teman-teman nya masih asik menari.
Luna memberikan kunci kamar, agar Tinka bisa beristirahat.
"Ini kunci kamar yang di berikan untuk kita beristirahat"
"Hmm..baiklah, bersenang-senang lah kalian" ucap Tinka.
Tinka pun beranjak ke kamar hotel kosong dan merebahkan badannya.
"Adrien tidak datang, padahal esok aku harus kembali ke kota ku, aku ingin mengungkapkan perasaan ku padanya, bahwa aku masih mencintainya, hmmm...." Tinka memejamkan matanya.
Pesta pernikahan Desy dan Robert yang meriah, alunan musik dari band yang terkenal dan sambutan dari kerabat mereka.
Adrien dan Abel datang terlambat, langsung di sambut Kevin dan Robert.
"Adrien...kenapa baru datang?" tanya Robert.
"Maafkan aku..."
"Tadi ada perkelahian di cafe, seorang pemabuk masuk dan membuat keributan, perkelahian yang membuat beberapa orang luka dan polisi baru membereskan nya, kami merapihkan cafe dan bersiap datang kemari" Abel menjelaskan.
"Sungguh waktu yang tidak tepat" seru Robert.
"Hai.....Adrien ya?" Desy datang menghampiri para pria yang sedang mengobrol.
"Oh iya...ini Desy, istriku, pengantin wanita malam ini" ucap Robert memperkenalkan Desy kepada Adrien dan Abel.
"Aku Desy sahabat Tinka, kita pernah bicara di telepon saat itu, kamu ingat?" ucap Desy.
"Tunggu...ku kira malam ini pernikahan Tinka dan Robert" Adrien terheran.
__ADS_1
"Bukan Tinka, Tinka dari tadi mencarimu, dia pikir kau tidak datang, besok dia sudah pulang ke kotanya" jelas Desy.
"Adrien...Tinka mencari-cari mu, kami bisa mengantarkanmu ke kamarnya" ucap Kevin dan Luna.
Adrien pun mengangguk, dia sangat bahagia.
"Ehmm...sebentar" Adrien menghampiri Robert dan Desy.
"Happy Wedding for you, selalu bahagia selamanya, terimakasih telah mengundangku" ucapan Adrien kepada kedua mempelai.
Mereka pun tersenyum mendengar ucapan Adrien.
Adrien pun mengikuti Kevin dan Luna untuk bertemu dengan Tinka.
Sampailah di depan pintu kamar hotel yang di jadikan tempat istirahat Tinka.
"Adrien...ini kamarnya, mungkin Tinka sedang beristirahat di dalam" ucap Luna.
"Terimakasih pada kalian" seru Adrien.
Kevin dan Luna meninggalkan Adrien sendiri berdiri di depan pintu, dan memencet bel pintu hotel.
"Aku sangat gugup" gumam Adrien.
Adrien mencoba memencet bel sekali lagi.
Di dalam kamar hotel, Tinka mendengar bunyi bel kamarnya berbunyi, dan malas beranjak dari tempat tidur.
"Iya sebentar" ucapnya malas.
Tinka sangat terkejut melihat Adrien sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Tinka membuka pintu kamar hotel.
"Adrien..."
"Tinka...hmm...boleh aku masuk?"
Tinka mengangguk dan membuka lebar pintunya.
Adrien masuk dan segera memeluk Tinka.
"Jangan pergi lagi...kumohon" lirih Adrien.
Tinka membalas pelukan Adrien.
Adrien mengusap wajah Tinka dan mencium bibirnya.
Tinka membalas ciuman Adrien.
"Ku pikir kaulah yang akan menikah dengan Robert" ucap Adrien sembari menatap Tinka.
"Aku..." Tinka menggeleng kan kepalanya.
__ADS_1
"Aku bersyukur itu bukan kamu, Tinka" peluk Adrien sekali lagi.
"Aku hanya mencintai mu Adrien, bukan yang lain"
"Aku mengerti...maafkan aku sudah membuat mu kecewa, maafkan aku yang tidak memahamimu, aku ingin selalu bersamamu" tukas Adrien.
"Aku akan selalu di samping mu, aku janji, aku milikmu"
Adrien menciumi Tinka dan mengangkat tubuh Tinka ke atas tempat tidur.
Adrien menciumi wajah Tinka dan melepaskan jas serta kemejanya, dan membuka resleting long dress milik Tinka.
Dada bidang Adrien terlihat dan tubuh mungil Tinka terekspose.
Adrien yang sangat merindukan Tinka pun malam itu melepaskan hasratnya bersama dengan wanita yang dia cintai.
Malam itu menjadi malam yang indah untuk mereka berdua, saling melepaskan rindu.
Pagi hari menjelang siang, mereka berdua masih terlelap, begitu lelah Adrien dan Tinka semalaman.
Tiba-tiba telepon Tinka berdering.
"Hmmm...hallo"
"Mami...mami di mana?, kita sebentar lagi pulang, Jane tunggu ya di apartment" ucap Jane putrinya di dalam telepon.
Tinka terkesiap melihat sekeliling, Adrien yang masih terlelap tanpa pakaian sehelai pun masih tertidur lelap di sampingnya.
"Adrien..."
"Hmmm...."
Tinka membangunkan Adrien, dan bangkit dari tempat tidurnya.
Adrien mulai membuka mata, melihat Tinka memasuki kamar mandi.
Tinka sudah bersiap dan terburu-buru.
"Kau mau ke mana?" tanya Adrien yang melihat Tinka sudah rapih.
"Hari ini adalah penerbangan ku untuk pulang, keluarga ku sudah menungguku" ucap Tinka.
Adrien menarik tangan Tinka.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Adrien.
"Kau mau ikut?"
"Iya...aku tidak mau jauh darimu lagi, kemanapun kau pergi aku ingin ada di samping mu" ucap Adrien.
Tinka tersenyum dan mencium Adrien.
"Hmmm....baiklah ayo kita harus bersiap"
__ADS_1
Adrien dan Tinka pun bergegas ke apartment menggunakan mobil milik Adrien.
Sampailah mereka di apartment, semua orang sudah menunggu, dan melihat Tinka bersama Adrien membuat semuanya tersenyum bahagia.