
Dela dan Ariandra berjalan menuju sebuah tempat yang agak sepi untuk mereka berdua bisa lebih leluasa untuk mengobrol dan kini mereka tengah duduk di sebuah kursi taman yang kebetulan kosong.
“Aku dengar wajahku ini mirip sekali dengan mendiang mantan istrimu yang sudah meninggal dunia?”
“Dari mana kamu mendengar itu?”
“Tanteku mengatakannya, aku sebenarnya tidak terlalu mengetahui siapa dirimu namun setelah tanteku mengatakan itu maka aku jadi penasaran siapa dirimu ini.”
“Iya, aku akui bahwa wajahmu mengingatkanku pada mantan istriku yang sudah meninggal itu.”
“Kalau aku boleh tahu kenapa bisa istrimu itu meninggal?”
“Dia awalnya menghilang dan tidak lama setelahnya kami mendapatkan kabar bahwa jenazahnya ditemukan di sebuah pantai yang tak berpenghuni setelah melakukan autopsi kini jenazahnya sudah dikebumikan dengan
layak.”
****
Dela sengaja memancing Ariandra untuk mengorek kebenaran kenapa Ariandra melakukan hal itu padanya namun Ariandra seperti mempertahankan argumennya mengenai tidak tahu apa pun mengenai meninggalnya sang istri.
“Kenapa sepertinya kamu begitu tertarik dengan cerita mendiang istriku?”
“Apa? Oh mungkin karena aku penasaran sebenarnya apakah kamu melihatku sebagai mendiang istrimu atau diriku sendiri.”
“Tentu saja aku memandangmu sebagai orang lain, walaupun kamu dan istriku memiliki wajah yang mirip namun kepribadian kalian sangatlah berbeda.”
“Benarkah?”
“Iya begitulah.”
Setelah mengobrol cukup lama, Ariandra mengajak Dela pergi makan siang bersama dan tentu saja Dela sama sekali tidak menolak ajakan dari Ariandra tersebut, mereka pergi ke sebuah café yang letaknya tidaklah jauh
dari taman. Selepas memesan menu yang akan menjadi makan siang mereka, Dela pamit pergi ke toilet sebentar untuk buang air meninggalkan Ariandra sendirian di sana, ketika ia tengah sendirian di meja menunggu sampai Dela kembali ke sini, justru Ariandra malah dikejutkan dengan kemunculan Eva.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu ada di sini? Dan sepertinya kamu datang ke café ini tidaklah sendiri, kamu pasti bersama orang lain kan?”
****
Ariandra awalnya mengelak dari tuduhan Eva namun elakan itu tidak berlangsung lama karena Della sudah kembali dari toilet dan hal tersebut membuat suasana semakin panas.
“Kamu bilang kamu datang sendiri, lalu wanita ini siapa?!”
__ADS_1
“Siapa wanita ini?” tanya Dela pada Ariandra yang membuat pria itu bingung, ia kemudian meminta izin pada Della keluar sebentar untuk bicara dengan Eva.
Eva yang hendak dibawa Ariandra keluar dari café itu awalnya menolak, ia ingin melabrak Dela karena sudah berani dekat dengan pria yang ia cintai namun sebelum Eva sempat melakukan hal itu, Ariandra sudah menarik
tangan Eva untuk keluar bersamanya.
“Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa malah menarikku keluar?!”
“Aku tidak mau kamu membuat keributan di dalam, ingat tempat ini adalah tempat umum.”
“Sudah tahu kalau ini adalah tempat umum dan kamu malah mencari gara-gara.”
“Asal kamu tahu saja Eva, aku dan dia tidak ada hubungan apa pun.”
“Iya, memang sekarang kalian belum memiliki hubungan apa pun namun aku yakin kalau perlahan tapi pasti kamu akan jatuh cinta pada wanita itu karena mengingatkanmu pada Dela!”
“Cukup Eva, jangan bicara omong kosong lagi!”
“Omong kosong katamu?! Aku mengatakan yang sebenarnya!”
“Terserah kamu mau mengatakan apa, aku sama sekali tidak peduli asal kamu jangan mencoba untuk masuk ke dalam.”
****
“Aku sama sekali tidak masalah, namun sepertinya wanita itu adalah kekasihmu, ya?”
“Oh dia sama sekali bukan kekasihku, dia hanya teman dekatku namun dia selalu menganggap bahwa aku ini kekasihnya.”
“Sepertinya kamu adalah pria yang setia pada istrimu, ya?”
“Tentu saja, aku adalah pria yang setia pada pasangan, dia sudah berulang kali mencoba menggodaku namun aku sama sekali tidak tergoda oleh bujuk rayunya.”
“Namun satu hal yang perlu kamu ingat sekali lagi Tuan Ariandra, aku bukanlah mendiang mantan istrimu.”
“Aku mengerti Kimmy, kamu dan Della adalah dua orang yang berbeda.”
Ketika Ariandra dan Dela sedang makan siang bersama di café itu, Eva berusaha masuk ke dalam namun dihalangi oleh satpam yang berjaga, satpam itu mengusir Eva untuk tidak lagi membuat keributan di tempat ini atau kalau ia masih nekat juga maka terpaksa ia akan melaporkan kasus ini pada polisi. Eva nampak bersungut marah pada satpam itu, namun ia tidak mau membuat masalah ini semakin melebar hingga akhirnya ia memilih untuk pulang
saja.
****
Selepas makan siang, Ariandra mengajak Dela untuk pergi ke mall awalnya tentu saja Dela menolak namun karena Ariandra terus memaksa maka ia pun mau menuruti permintaan Ariandra itu. Di mall, Ariandra membelikannya beberapa pakaian dan sepatu serta mentraktirnya nonton film walaupun Dela mengatakan bahwa ia bisa bayar sendiri namun Ariandra sama sekali tidak membiarkan Dela melakukan itu. Selepas mereka jalan-jalan di
__ADS_1
mall, Ariandra mengantarkan Della menuju rumah Astrid, sebelum Dela turun dari dalam mobil Ariandra, ia sempat berterima kasih pada pria itu dan oleh-oleh yang diberikannya.
“Itu tidaklah seberapa.”
“Namun ini banyak sekali, aku sangat berterima kasih atas hadiahnya.”
“Syukurlah kalau kamu menyukainya.”
“Aku keluar dulu, sekali lagi terima kasih banyak.”
Dela kemudian turun dari dalam mobil Ariandra dan berjalan masuk ke dalam rumah Astrid, selepas Dela sudah masuk ke dalam rumah tersebut barulah Ariandra melajukan kendaraannya meninggalkan rumah Astrid menuju rumahnya. Ketika ia baru saja tiba di rumahnya, sang mama sudah menunggunya di ruang tamu dan langsung mengajaknya untuk bicara.
“Aku sedang lelah Ma, nanti saja kalau mau bicara.”
“Kamu barusan menemui wanita yang wajahnya mirip dengan Dela kan?”
Ariandra yang sebelumnya berjalan menuju tangga memberhentikan langkah kakinya saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang mama, ia segera menoleh pada sang mama yang saat ini sedang melipat kedua
tangannya di dada.
“Bagaimana bisa Mama tahu?” tanya Ariandra yang menghampiri mamanya.
“Tentu saja Mama tahu, kenapa kamu menemui wanita itu?” tanya Tika heran.
“Apakah Mama tadi mengikutiku?”
“Jawab pertanyaan Mama terlebih dahulu Ariandra.”
“Itu bukan urusan Mama.”
“Jangan bilang kalau kamu tertarik pada wanita itu.”
“Sekali lagi itu bukan urusan Mama.”
Selepas mengatakan itu Ariandra langsung pergi meninggalkan sang mama walaupun sang mama sudah memanggil-manggil namanya namun Ariandra tetap tidak mau menoleh dan melanjutkan langkah kakinya menaiki
tangga.
“Kenapa Mama teriak-teriak begini?” tanya Denis penasaran.
“Apa? Oh… bukan apa-apa,” kilah Tika.
“Tadi aku sempat mendengar percakapan Mama dengan Kak Ariandra, apakah wanita yang wajahnya mirip dengan Dela itu benar adanya?”
__ADS_1