
Vicko mencoba mengunjungi rumah sakit jiwa di mana Grace dirawat namun sayangnya ia tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam karena itu adalah perintah dari Astrid. Vicko begitu sedih dengan sikap mamanya yang seperti ini, ia sudah berusaha menyadarkan Astrid untuk tidak terlalu larut dalam dendamnya namun sepertinya Astrid tetap tidak mau mendengarkan apa yang ia bicarakan. Mamanya itu masih begitu berambisi membalas rasa sakit hatinya pada Rangga Hermanto 30 tahun yang lalu yang berakibat kini kebaikan dalam hatinya kalah oleh sisi gelap yang dipenuhi oleh dendam. Vicko kemudian mencoba menelpon Della dan menanyakan di mana keberadaan wanita itu dan untungnya saja Della langsung menjawab teleponnya dan mau memberitahu dia sekarang di mana.
****
Tanpa membuang waktu Vicko langsung pergi menemui Della di rumah keluarganya, Della mengajak Vicko untuk masuk ke dalam dan kini mereka berada di ruang tengah.
“Kamu mau minum apa?”
“Tidak perlu repot-repot.”
“Jadi kenapa kamu mau menemuiku?”
“Apakah kamu sudah mendengar berita kalau mamaku membuat adikku masuk rumah sakit jiwa?”
“Apa?”
“Iya, mamaku membuat Grace masuk rumah sakit jiwa hanya karena adikku itu menyebarkan rencana jahatnya pada Ariandra.”
Della nampak terkejut dengan cerita Vicko barusan, ia tidak menyangka kalau Astrid bisa melakukan hal seperti itu pada putrinya sendiri.
“Sekarang kamu tahu sendiri bagaimana sifat asli mamaku kan? Dia bukanlah orang yang baik seperti yang kamu pikirkan, jadi tolong jangan mau terbuai dengan bujuk rayuannya.”
“Aku ….”
“Aku tahu tidaklah mudah bagimu untuk melupakan apa yang Ariandra dan mamanya lakukan selama ini padamu, namun membalas perbuatan mereka hanya akan menghancurkan dirimu. Kamu bisa perlahan melepaskan semua
kebencian dan dendam yang ada dalam dirimu kemudian hiduplah bahagia seperti semula.”
“Entah apakah aku bisa melakukannya atau tidak.”
“Tentu saja kamu bisa, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya.”
Della nampak tertegun ketika melihat kesungguhan dalam diri Vicko saat pria itu mendorongnya untuk melupakan dendamnya pada Ariandra dan Tika kemudian memulai hidup yang lebih baik, namun di sisi lain ia juga memikirkan Astrid, bagaimana kalau wanita itu tidak terima dengan keputusannya?
****
Ariandra sudah memberitahu Tika bahwa adanya masalah antara sang papa dengan Astrid dan semua masalah itu bermula 30 tahun yang lalu. Tika tentu saja ingin mendengar secara langsung dari mulut sang suami mengenai masalah apa yang sudah membuat Astrid begitu benci pada keluarga mereka hingga mengutus Della untuk membalaskan dendamnya.
__ADS_1
“Jujurlah padaku Rangga.”
Rangga pada awalnya memang tidak mau menceritakan ini pada Tika, namun karena semua sudah kepalang tanggung maka ia pun menceritakan masalah yang terjadi di antara dirinya dan Astrid 30 tahun yang lalu.
“30 tahun yang lalu sebenarnya aku dan Astrid saling mencintai namun sayangnya orang tuaku sudah menjodohkanku denganmu hingga akhirnya kami terpaksa untuk berpisah namun di malam sebelum kami berpisah kami sempat melakukan itu dan dia dinyatakan hamil. Aku tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau mengakui anak yang dikandungnya itu sebagai darah dagingku, aku mengirim orang itu menggugurkan janin yang ada di dalam kandungannya. Dia begitu marah dan depresi atas kejadian itu hingga orang tuanya membawanya ke
Inggris untuk beberapa waktu dan aku tidak tahu kabar mengenai dirinya sampai dia sudah menikah dengan seorang pengusaha sukses dan memiliki dua anak.”
****
Astrid mendatangi rumah Ruswianthi untuk bertemu dengan Dela namun Ruswianthi sama sekali tidak mengizinkan Astrid untuk menemui putrinya, Ruswianthi mengatakan bahwa Astrid hanya membawa pengaruh buruk untuk putrinya jadi dia tidak akan membiarkan Astrid memberikan pengaruh buruk lebih banyak untuk Dela.
“Saya hanya membantu anak anda untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Namun cara yang anda lakukan itu salah, anda tahu kalau balas dendam itu hanya akan menghancurkan dirinya.”
“Itu adalah pilihannya, jadi anda harus menghargainya.”
“Aku adalah ibunya, aku harus memberitahunya jika apa yang dia lakukan itu tidak benar.”
Astrid nampak tidak mau berdebat terlalu panjang dengan Ruswianthi, ia meminta supaya Ruswianthi segera memanggil Dela untuk menemuinya namun Ruswianthi menolaknya, ia mengatakan kalau Astrid masih nekat
“Baiklah, aku akan pergi sekarang namun bukan artinya aku akan tinggal diam saja.”
Selepas mengatakan itu Astrid kemudian pergi meninggalkan rumah Ruswianthi, selepas Astrid benar-benar pergi dengan mobilnya barulah Dela keluar dari dalam kamarnya.
“Kamu pokoknya jangan sekali-kali menemui wanita itu lagi, kamu mengerti kan?”
“Aku mengerti, Bu.”
****
Maya mendapatkan telepon dari mamanya bahwa saat ini Eva sudah tidak pulang ke rumah selama tiga hari dan keberadaannya tidak diketahui sampai sekarang. Sebagai seorang adik tentu saja ia merasa khawatir dengan keadaan kakaknya yang tidak diketahui keberadaannya.
“Ada apa?” tanya Denis.
“Kakakku, dia sudah tiga hari tidak kembali ke rumah,” jawab Maya.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Iya, aku khawatir padanya.”
“Apakah menurutmu Ariandra adalah dalang di balik semua ini?”
“Aku tidak mau menuduh kakakmu kalau tidak ada bukti.”
“Kamu benar juga, apakah mamamu sudah melapor pada polisi?”
“Iya, mama sudah melapor pada polisi namun sampai saat ini keberadaannya belum juga diketahui.”
Keesokan harinya Denis bertanya pada Ariandra apakah kakaknya itu masih berkomunikasi dengan Eva atau tidak, Ariandra yang mendengar pertanyaan itu tentu saja mengerutkan keningnya heran kenapa Denis malah menanyakan soal Eva padanya.
“Aku tidak tahu keberadaan wanita itu dan aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya.”
“Begitu rupanya.”
“Apakah kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan?”
“Bukannya aku tak percaya, namun aku tidak tahu apakah aku harus mempercayai apa yang kamu katakan atau tidak.”
“Jadi kamu ingin memancing keributan pagi-pagi denganku?”
“Sudahlah kalian berdua jangan bertengkar di meja makan,” lerai Tika.
Tika kemudian menanyakan kenapa Denis bertanya soal Eva pada Ariandra dan Denis pun menjelaskan bahwa Eva sudah tiga hari tidak kembali ke rumah tanpa kabar.
“Dan kamu mencurigaiku sudah berbuat hal yang buruk pada wanita itu?”
“Bisa saja kan begitu.”
“Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan wanita itu.”
Selepas sarapan, Ariandra, Denis dan Rangga pergi ke kantor namun tanpa sepengetahuan mereka ada sosok yang sejak tadi memperhatikan mereka dari balik pohon di seberang rumah, sosok itu terus memperhatikan dengan
mengepalkan kedua tangannya geram dan tatapan mata yang penuh dengan dendam.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia, aku akan membuatmu merasakan kesakitan yang tengah aku rasakan, Ariandra.”