
Tika benar-benar bingung saat ini untuk menghindar dari pertanyaan yang diajukan oleh Denis, melihat raut wajah sang mama yang nampak gelisah dan tidak nyaman membuat Denis yakin bahwa apa yang tadi ia dengar itu bukanlah sebuah isapan jempol semata.
“Kenapa Mama hanya diam saja? Apakah yang barusan aku dengar tadi itu benar?”
“Kamu ini bicara apa? Bukankah Mama sudah mengatakan bahwa itu semua tidak benar.”
“Kalau memang itu tidak benar, kenapa ekspresi Mama seperti ini?”
“Sudahlah, kamu ini membuat Mama kesal saja.”
Buru-buru Tika pergi meninggalkan Denis karena tidak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh putranya itu.
****
Eva mendatangi rumah keluarga Hermanto pada pagi ini, ia berteriak dari depan pagar memanggil-manggil nama Ariandra, ia sudah coba diusir oleh satpam yang berjaga di depan pintu namun Eva sama sekali tidak mau
pergi dari sana, ia tetap memanggil nama Ariandra dan apa yang dilakukan oleh Eva tersebut mengganggu keluarga itu yang tengah sarapan.
“Wanita itu sepertinya datang lagi, mengganggu saja,” ujar Tika yang hendak menghampiri wanita itu namun Ariandra menahan mamanya untuk tidak beranjak dari meja makan.
“Biar aku saja yang menemui wanita itu.”
Ariandra kemudian pergi keluar rumah untuk menemui Eva, ketika melihat Ariandra sontak saja Eva berteriak meminta pria itu membukakan pintu untuknya namun Ariandra sama sekali tidak melakukan seperti apa yang diminta oleh Eva.
“Ariandra, kenapa kamu tidak mau membukakan pintu untukku?”
“Apa tujuanmu datang ke sini?”
“Tentu saja aku datang ke sini untuk menemuimu, kita perlu bicara!”
“Sepertinya tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu.”
“Apa katamu? Tentu saja ada yang perlu kita bicarakan!”
“Lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini sebelum aku memanggil polisi.”
“Ariandra, kenapa sikapmu jadi berubah begini? Apakah semua ini karena wanita itu?”
****
Ariandra kembali ke meja makan selepas mengancam Eva, ketika di meja makan Tika bertanya pada Ariandra apakah Eva sudah pergi atau belum dan Ariandra menjawab bahwa ia akan segera menelpon polisi kalau ia tidak
mau pergi juga.
“Kenapa sikapmu pada wanita itu jadi berubah?” tanya Rangga penasaran.
“Aku tidak berubah, hanya saja wanita itu menggangguku,” jawab Ariandra.
__ADS_1
“Bukan karena kamu sudah mulai bosan dengannya dan tertarik pada wanita lain?” tuduh Rangga.
“Suamiku, kamu ini bicara apa?” ujar Tika yang membela putranya.
“Sikap Ariandra yang seperti ini bisa ditebak Tika, kamu tidak perlu melindunginya.”
Ariandra kemudian pergi dari meja makan tanpa mengatakan sepatah kata pun, Tika kemudian mengejar Ariandra yang sudah pergi meninggalkan meja makan dengan raut wajah masam.
“Nak, kamu mau pergi ke mana?”
“Mama tidak perlu tahu.”
Ariandra segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu meninggalkan pekarangan rumah, Tika hanya dapat menghela napasnya berat seraya berharap semoga saja Ariandra tidak mengemudikan mobil dalam
kecepatan tinggi yang dapat berakibat fatal pada keselamatannya.
“Ke mana anak itu pergi?” tanya Rangga.
“Dia sama sekali tidak mengatakan dia akan pergi ke mana, semua ini gara-gara kamu, andai saja kamu tidak mengatakan itu, dia tidak akan bersikap seperti ini,” ujar Tika yang mulai menyalahkan suaminya.
****
Ariandra benar-benar merasa kesal dengan sang papa, ia melajukan kendaraannya menuju suatu tempat yang tidak lain adalah rumah Astrid, ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelpon Dela, tidak butuh waktu yang
lama sampai Della menjawab telepon darinya.
“Aku ada di depan rumahmu, bisakah kamu keluar dan temui aku?”
“Apa?”
“Aku tunggu, ya?”
Selepas itu Ariandra menutup sambungan teleponnya, tidak lama berselang Dela keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobil Ariandra.
“Ada apa? Kenapa datang sepagi ini ke rumah?”
“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
“Ke mana?”
“Nanti kamu akan tahu.”
Ariandra kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Astrid menuju suatu tempat, Dela tidak mengatakan apa pun sampai akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang mengingatkannya ketika dulu pertama kali dirinya dan Ariandra bertemu.
“Tempat apa ini?”
“Turun saja, nanti aku akan menceritakannya.”
__ADS_1
Ariandra dan Dela kemudian turun menuju tempat yang tidak lain adalah sebuah hutan kota dengan bukit kecil di tengahnya, mereka berjalan menyusuri hutan kota yang masih sepi itu sampai akhirnya mereka tiba di puncak bukit dan duduk di sana.
“Tempat ini adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan mendiang istriku.”
“Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?”
“Selain itu juga tempat ini menjadi tempat yang menenangkan untuk menenangkan diriku yang sedang kalut.”
****
Dela tidak percaya dengan cerita Ariandra bahwa ia sampai saat ini masih mencintainya kalau memang Ariandra masih mencintainya maka tidak mungkin dia bersikap kasar dan mencoba membunuhnya kala itu. Namun
tentu saja Dela menahan diri untuk tidak mengatakan sepatah kata pun untuk tidak membuat Ariandra curiga bahwa dirinya sebenarnya adalah Dela.
“Terima kasih karena kamu mau mendengarkan ceritaku.”
“Tidak masalah.”
“Apakah kamu lapar? Ayo kita cari makan dulu.”
Dela sama sekali tidak keberatan ketika Ariandra mengajaknya mencari jajanan di dekat hutan kota ini, namun sebelum mereka menemukan jajanan justru mereka malah bertemu dengan Eva yang rupanya sejak tadi membuntuti mereka berdua.
“Sudah aku duga sikapmu yang berubah ini karena wanita ini!”
“Astaga kamu lagi, aku kali ini akan benar-benar memanggil polisi kalau kamu berani melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.”
“Ariandra, kenapa sikapmu jadi berubah semenjak ada wanita ini? Sebenarnya apakah kamu tertarik padanya?”
“Jaga bicaramu Eva.”
“Kalau begitu apakah kamu menyukainya karena dia mengingatkanmu pada mendiang istrimu yang sudah meninggal itu?”
Ariandra kemudian mengajak Dela untuk pergi meninggalkan Eva namun Eva tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja, Eva hendak menyerang Dela namun Ariandra menghalanginya untuk melakukan hal tersebut.
“Kenapa kamu melindunginya Ariandra?”
“Karena kamu hendak berbuat hal yang tidak baik padanya, bukankah aku sudah memberikan peringatan padamu untuk tidak melakukan hal yang buruk? Apakah kamu ingin mendekam di penjara atas perbuatanmu?”
“Kenapa kamu tega sekali padaku Ariandra? Bukankah kamu mencintaiku dan akan menikah denganku? Kenapa sekarang kamu malah membelanya?”
“Siapa bilang aku akan menikah denganmu?”
“Apa? Tentu saja kamu sendiri yang bilang akan menikah denganku, kamu sudah berjanji akan segera menikah denganku, Ariandra!”
“Aku tidak pernah menjanjikan itu, sepertinya kamu hanya sedang berhalusinasi saja, kita hanya teman dekat dan tidak lebih.”
“Apa?! Tega sekali kamu mempermainkanku, Ariandra!”
__ADS_1
“Kimmy, lebih baik kita pergi saja sekarang,” ujar Ariandra membawa Dela pergi meninggalkan Eva yang menjerit tak terima dengan apa yang barusan Ariandra katakan.