Aku Kembali

Aku Kembali
Kubuat Mereka Membayar Semuanya


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Vicko masih memikirkan apa yang Grace katakan padanya sekaligus apa yang ia dengar secara tidak sengaja saat sang mama sedang bertelepon dengan seseorang di ruangan kerjanya. Sesampainya di rumah Grace seperti sudah menunggunya, Grace membawanya menuju ruangan kerja Vicko untuk mereka berdua bisa bicara dengan leluasa tanpa adanya gangguan.


“Jadi Kakak ingin tahu kenapa aku pergi menemui Mama tadi siang kan? Aku akan menceritakannya sekarang juga.”


“Sebenarnya tadi siang aku juga secara tidak sengaja mencuri dengar apa yang sedang mama bicarakan mengenai kamu yang mengetahui masa lalu mama, mama sangat penasaran siapa gerangan orang yang memberikan


informasi itu padamu,”


“Baiklah sepertinya ucapanku yang itu cukup terbukti kan? Namun sebelum aku bicara jauh lebih banyak mengenai apa yang aku ketahui mengenai rencana balas dendam mama pada Rangga Hermanto, berjanjilah padaku jangan mengatakan ini pada siapa pun.”


****


Vicko keluar dari ruangan kerjanya dan hal itu bersamaan dengan Dela yang hendak melintas di depan ruangan kerja Vicko dan ia nampak terkejut ketika Vicko keluar dari ruangan kerjanya.


“Dela.”


“Iya?”


“Anu ….”


“Ada apa?”


“Kak,” ujar Grace mengingatkan Vicko supaya tidak mengatakan apa pun pada Dela.


“Bukan apa-apa,” ujar Vicko.


“Aku pergi ke kamar dulu,” ujar Dela yang kemudian bergegas menuju kamarnya dan selepas Dela pergi barulah Grace angkat bicara mengenai apa yang barusan hendak dilakukan oleh kakaknya ini.


“Apa yang barusan ingin kamu katakan padanya?”


“Bukan apa-apa.”


“Ingat Kak, jangan ada siapa pun yang mengetahui mengenai rahasia ini.”


“Aku mengerti.”


Vicko kemudian pergi menuju kamarnya, namun sesampainya di kamar ia tidak langsung mandi dan berganti pakaian karena memikirkan rahasia yang baru saja Grace katakan padanya menyangkut masa lalu sang mama dengan Rangga Hermanto.


“Sungguh sulit dipercaya,” lirihnya.


Vicko seketika teringat Dela dan ia menjadi merasa sedih ketika tahu Dela hanya dijadikan boneka untuk balas dendam pada keluarga itu.


“Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.”


****

__ADS_1


Vicko mengirim pesan pada Dela untuk bertemu di taman


belakang sekarang, Dela yang mendapatkan pesan dari Vicko itu nampak terkejut


dan bertanya-tanya dengan apa maksud Vicko mengajaknya bertemu di taman


belakang rumah sekarang. Della keluar dari kamar dengan mengendap-endap menuju


halaman belakang dan di sana sudah berdiri sosok Vicko yang membelakanginya.


“Tuan Vicko.”


Vicko membalikan tubuhnya dan berjalan menghampiri Dela hingga jarak di antara mereka sudah sangat dekat sekali saat ini, Della pun menjadi bingung sebenarnya apa yang hendak Vicko katakan padanya saat ini.


“Tuan Vicko, ada apa?”


“Bukankah aku sudah melarangmu memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’ di depan namaku?”


“Aku ….”


“Dela, apakah kamu masih ingin balas dendam pada suami dan mama mertuamu?”


“Kenapa kamu menanyakan itu?”


“Aku mohon hentikan balas dendammu ini.”


“Kamu hanya dijadikan boneka sebagai alat balas dendam mamaku pada keluarga itu.”


“Apa maksudmu?”


“Mamaku dan Rangga Hermanto pernah memiliki hubungan di masa lalu dan hingga kini mamaku masih menyimpan dendam pada pria itu, ia menggunakan kamu sebagai boneka balas dendamnya, aku tidak mau kamu menjadi boneka balas dendamnya Della, aku tidak ingin kamu hancur akibat balas dendam ini.”


****


Rupanya diam-diam Astrid mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh Vicko dan Dela saat ini, ia benar-benar terkejut ketika Vicko mengetahui rencananya untuk menjadikan Dela sebagai boneka balas dendamnya


pada Rangga Hermanto, ia jadi berpikir mungkin saja Grace yang sudah memberitahu Vicko mengenai rencananya ini. Astrid kemudian masuk ke dalam kamarnya sambil mengepalkan tangannya geram, ia takut kalau Dela terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Vicko barusan.


“Tenangkan dirimu Astrid, besok kamu harus bicara pada Dela.”


Maka keesokan paginya Astrid sengaja memanggil Dela menuju ruangan kerjanya, Dela yang dipanggil oleh Astrid tentu saja bingung sekaligus takut, setelah berdiri cukup lama di depan pintu ruangan kerja Astrid, akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu dan setelah dipersilakan masuk, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerja itu. Astrid nampak sudah menunggunya dengan duduk di sofa dan ia pun mempersilakan Dela untuk duduk di sofa dekatnya.


“Ada apa Tante memanggilku ke sini?”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”

__ADS_1


“Soal apa, ya?”


“Ini menyangkut tentang yang dibicarakan oleh Vicko semalam padamu.”


Raut wajah Dela nampak begitu terkejut saat mendengar ucapan Astrid barusan, namun Astrid nampak abai soal ekspresi terkejut itu karena memang niatnya adalah memberitahu Dela yang sebenarnya.


****


Astrid akhirnya memberitahu misi balas dendamnya pada keluarga Hermanto, ia mengaku bahwa ia memang menyimpan dendam pada Rangga Hermanto dan ia ingin sekali membuat pria itu hancur dan terhina atas apa yang


sudah ia perbuat di masa lalu padanya. Astrid pun mengaku bahwa ia menggunakan Dela sebagai boneka balas dendamnya pada keluarga itu, namun Astrid mengatakan bahwa mereka berdua diuntungkan dalam misi balas dendam ini.


“Jadi aku rasa tidak ada yang dirugikan dalam misi balas dendam ini kan, Dela?”


“Iya Tante.”


“Jadi apakah kamu masih mau melanjutkan ini atau berhenti sampai di sini?”


“Saya memutuskan untuk tetap melanjutkannya Tante.”


Astrid nampak tersenyum puas dengan keputusan yang sudah diambil oleh Dela, ia berterima kasih pada Della karena mau bertahan dan melanjutkan misi balas dendam mereka, Astrid mengatakan pada Dela untuk tidak


perlu khawatir pada keluarga itu karena ia akan melindungi Dela dari Ariandra maupun Tika.


“Iya Tante, saya percaya.”


“Baguslah Dela, terima kasih karena kamu masih mau bekerja sama denganku.”


Setelah itu Astrid mempersilakan Dela untuk keluar dari ruangan kerjanya, Dela pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Astrid dan tepat di depan pintu ruangan kerja Astrid ketika ia hendak berbalik badan untuk pergi selepas menutup pintu ruangan itu kembali, ia dikejutkan oleh sosok Vicko yang sudah berdiri menjulang tepat di depannya.


“Vicko?”


“Apa yang barusan kamu dan mamaku bicarakan di dalam?”


“Maaf, namun aku tidak dapat mengatakannya padamu.”


“Kenapa?”


“Permisi.”


Namun ketika Dela hendak pergi begitu saja, Vicko tidak mengizinkan Della untuk pergi dan menahan tangannya, Vicko berkeras supaya Dela mau mengatakan apa yang tadi ia dan mamanya bicarakan.


“Baiklah, kalau memang kamu ingin tahu barusan mamamu mengakui semuanya padaku, dia mengakui bahwa aku hanya dijadikan boneka untuk balas dendamnya, apakah kamu puas?”


“Jadi mama sudah mengakuinya secara langsung padamu? Syukurlah, lalu kamu akan berhenti balas dendam pada Ariandra dan mama mertuamu kan?”

__ADS_1


“Tidak, aku tidak bisa berhenti sekarang, aku harus membuat mereka membayar atas apa yang sudah mereka lakukan padaku.”


__ADS_2