
Sebuah tembakan melesat ke arah yang tidak seharusnya dan orang yang melakukan itu juga bukanlah orang suruhan Ariandra, tentu saja pria itu terkejut saat tahu ada seseorang yang berusaha untuk membunuhnya saat
ini dan ketika ia melihat ke arah siapa orang yang tadi berusaha membunuhnya di sana nampaklah sosok Eva yang tengah menatapnya tajam.
“Kamu harus mati hari ini juga Ariandra!”
“Kamu tidak akan bisa membuatku mati Eva!”
Ariandra langsung membidikan senjata apinya pada Eva dan di saat yang bersamaan Eva kembali ingin menembak Ariandra namun sayangnya nyawa wanita itu sudah hilang duluan karena peluru milik orang suruhan Ariandra terlebih dahulu mengenai tubuh Eva sebelum wanita itu sempat melukai Ariandra.
****
Vicko melaporkan Astrid ke polisi atas kejahatan yang coba ia lakukan pada keluarga Hermanto, tentu saja laporan Vicko itu membuat Astrid terkejut karena tidak menyangka kalau putranya saat ini malah berbalik menyerangnya.
“Kenapa kamu bisa berbuat seperti ini pada Mama, Nak?”
“Aku melakukan ini karena tidak memiliki pilihan lain, Ma.”
“Jadi kamu ingin melihat Mamamu ini membusuk di penjara, begitu?”
“Ini adalah keputusan yang berat, namun aku tidak memiliki jalan lain lagi supaya membuat Mama sadar kalau dendam Mama akan menghancurkan semua orang.”
Astrid begitu kesal dan marah pada Vicko karena sudah berani melaporkannya pada polisi, Astrid segera masuk ke dalam kamarnya dan setelahnya Vicko mendengar suara tembakan dari dalam kamar mamanya.
“Mama?”
Buru-buru Vicko masuk ke dalam kamar sang mama dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan sosok Astrid yang sudah tidak bernyawa akibat bunuh diri dengan senjata api miliknya.
“Mama.”
Vicko nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, ia benar-benar tidak dapat berpikir jernih karena melihat mamanya sudah tidak bernyawa padahal baru beberapa saat yang lalu mereka berbicara.
“Kenapa Mama harus melakukan ini? Kenapa?!”
Tidak lama kemudian ambulance datang ke rumah karena asisten rumah tangga mereka sudah menelpon rumah sakit sesaat setelah terdengar suara tembakan yang lumayan keras.
****
Kabar meninggalnya Astrid rupanya sampai juga ke telinga Dela, ia benar-benar tak percaya kalau Astrid saat ini sudah meninggal dunia. Ia merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi permintaannya untuk membalaskan dendamnya pada keluarga Hermanto. Ketika Dela tiba di rumah duka, ia langsung memeluk peti jenazah Astrid yang sudah tertutup di sana sudah banyak sekali pelayat yang datang sementara Vicko berdiri di sebelah peti
jenazah mamanya dan memperhatikan Della yang menangisi kepergian Astrid yang begitu mendadak.
__ADS_1
“Dela, sudahlah.”
“Hiks.”
“Aku tahu bahwa kamu sangat sedih sekali saat ini namun ini adalah takdir yang terbaik untuk mamaku, biarkan dia beristirahat dengan tenang di sana.”
“Kenapa dia bisa meninggal dunia? Kenapa?!”
“Sudah aku katakan bahwa ini adalah takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan Dela, kita semua harus ikhlas melepaskan kepergian beliau.”
Setelah itu jenazah Astrid dibawa ke pemakaman untuk dikebumikan, isak tangis Grace dan Dela pecah saat peti jenazah Astrid mulai ditimbun oleh tanah sementara Vicko berusaha tegar menyaksikan jenazah sang mama yang sudah mulai tertimbun tanah. Selepas itu satu persatu pelayat yang datang pun membubarkan diri namun tidak dengan Vicko, Grace dan Dela yang masih bertahan di sana.
****
Ariandra berjalan menghampiri Dela yang masih berduaka akibat kepergian Astrid, kehadiran Ariandra tersebut membuat Dela menjadi waspda, ia takut kalau pria ini akan melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.
“Lama kita tidak berjumpa kan?”
“Kenapa kamu tahu aku ada di sini?”
“Ibumu yang memberitahuku mengenai keberadaanmu.”
Setelah itu tidak adalagi percakapan yang terjadi di antara mereka berdua sampai akhirnya Ariandra mengatakan bahwa ia meminta maaf atas apa yang sudah ia coba perbuat pada Dela hingga membuatnya hampir saja
“Apakah aku sama sekali tidak salah dengar? Kamu meminta maaf?”
“Iya, aku meminta maaf padamu dan keluargamu atas apa yang sudah aku dan keluargaku lakukan, aku tahu kejahatanku mungkin tidak akan pernah bisa kamu maafkan karena memang aku sudah sangat keterlaluan, namun kini aku menyadarinya dan aku sangat menyesal akibat perbuatanku saat itu.”
Dela nampak terenyuh mendengar ucapan Ariandra barusan yang terdengar begitu tulus dan meyakinkan, dendam dan kebencian yang sebelumnya bersemayam di dalam hatinya pergi entah ke mana selepas mendengar
permintaan maaf Ariandra barusan.
“Aku permisi dulu, selamat melanjutkan hidupmu Dela, aku berharap kamu akan menemukan bahagiamu selepas ini.”
“Aku juga berharap kamu akan mendapatkan kebahagiaan selepas ini.”
Mereka berdua saling tersenyum sebelum Ariandra memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat Dela ini.
****
3 tahun berlalu dengan cepat, hubungan Dela dan Ariandra mulai membaik selepas permintaan maaf Ariandra waktu itu hingga membuat Dela bisa memaafkan Ariandra dan tidak menyimpan dendam berkelanjutan pada pria yang menjadi mantan suami dan berniat untuk membunuhnya. Tidak hanya Ariandra, Tika juga meminta maaf padanya secara langsung walaupun berat sekali untuk wanita itu mengatakannya namun pada akhirnya ia bisa juga meminta maaf secara langsung pada Dela. Kini adalah hari yang dinantikan oleh Dela karena setelah tiga tahun sendiri, akhirnya ia akan menikah dengan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta dan dapat meyakinkan dirinya untuk membuka kembali hatinya untuk orang baru walau secara perlahan. Orang itu tidak lain adalah Vicko, pria yang memang sejak awal menarik perhatian Dela ketika mereka pertama kali bertemu, dua tahun yang lalu Vicko mengutarakan perasaannya pada Dela dan pria itu secara terang-terangan memintanya menjadi kekasihnya namun Dela menolak karena masih trauma dengan kisah masa lalunya dengan Ariandra.
__ADS_1
“Kak, kamu nampak cantik sekali,” puji adiknya.
“Kamu ini bisa saja memuji Kakak.”
“Aku serius, Kakak hari ini cantik sekali.”
“Kalau begitu terima kasih pujiannya.”
“Calon suamimu sudah menunggu dan acaranya akan segera dimulai.”
Dela dan adiknya kemudian keluar dari ruang ganti dan di depan sana, ini bukan pertama kali Dela menikah namun jantungnya berdegup kencang lagi saat prosesi ijab kabul dilaksanakan, setelah dinyatakan sah sebagai pasangan suami-istri nampak di wajah Della terpancar kelegaan dan ia bisa tersenyum lepas pada semua tamu undangan yang hadir di acara ini.
“Selamat ya Nak,” ujar Ruswianthi memeluk putrinya dengan haru.
“Terima kasih banyak Bu,” ujar Dela.
“Ibu harap ini adalah pernikahan terakhirmu hingga maut memisahkan kalian.”
“Terima kasih banyak doanya Bu.”
“Tolong jaga putriku ya? Jangan kecewakan dia,” pinta Ruswianthi pada Vicko.
“Iya Bu, aku akan menjaga putri Ibu sebaik mungkin yang aku bisa.”
Tamu undangan memberikan selamat pada Dela dan Vicko termasuk Ariandra yang datang sendiri karena orang tuanya sedang ada perjalanan bisnis ke Eropa.
“Selamat atas pernikahanmu, Dela.”
“Terima kasih karena kamu sudah mau datang Ariandra.”
“Aku harap ini adalah pernikahan terakhirmu dan Vicko bisa menjagamu lebih baik dariku, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku.”
“Terima kasih banyak, Ariandra.”
Ariandra kemudian menyalami Vicko dan mereka nampak berbisik hingga membuat Dela menjadi penasaran apa yang dibicarakan oleh keduanya.
“Kalian bicara tentang apa, sih?”
“Rahasia, ini pembicaraan antar pria.”
“Menyebalkan sekali!”
__ADS_1
T A M A T