Aku Kembali

Aku Kembali
Dibutakan Dendam


__ADS_3

Ariandra mengirimkan sebuah pesan pada Dela yang intinya mengajak Dela untuk bertemu lagi di sebuah tempat. Dela yang mendapati pesan tersebut nampak berpikir mengenai balasan apa yang harus ia kirimkan untuk Ariandra, belum sempat ia membalas pesan dari Ariandra itu, pria tersebut kembali mengirimkan sebuah kalimat ancaman kalau Dela tidak datang maka Ruswianthi akan meregang nyawa di tangannya. Dela tentu saja tidak bisa


tinggal diam jika hal ini menyangkut tentang keluarganya, ia segera menelpon Ariandra untuk menanyakan apa maksud pria itu mengirimkan pesan seperti tadi.


“Aku pikir kamu tidak akan membalas pesanku.”


“Kenapa kamu mengirimkan pesan ancaman seperti itu padaku?”


“Terbukti kan akhirnya kamu mau menelponku?”


****


Ariandra memberitahu Ruswianthi untuk datang menuju sebuah tempat yang sudah dikirimkan alamatnya, Ruswianthi tanpa menaruh curiga sedikit pun datang ke alamat yang diberikan oleh Ariandra dan di sana ia


menemukan pria itu sudah menunggunya.


“Kenapa kamu mengajakku ke sini?”


“Ibu ingin bertemu dengan Dela kan?”


“Iya, tentu saja aku ingin bertemu dengannya.”


“Kalau begitu Ibu bisa bertemu dengan Dela di sini dan bujuklah supaya dia mau pulang bersamamu.”


“Baiklah, aku akan melakukannya.”


Ariandra nampak tersenyum dan kini mereka hanya tinggal menunggu Dela saja untuk datang, tidak lama kemudian akhirnya Dela datang juga ke tempat itu ia langsung berlari menghampiri Ariandra dan Ruswianthi.


“Anakku,” ujar Ruswianthi memeluk Dela dengan erat.


“Kamu tidak perlu berpura-pura lagi Dela, aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya,” ujar Ariandra tenang.


Dela pun akhirnya memeluk Ruswianthi dan menangis bersama sang ibu karena ia pun menyimpan kerinduan yang besar dengan sang ibu.


“Kenapa kamu bersikap seperti itu, Nak?”


“Aku minta maaf Bu, namun sekarang kita harus pergi.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena Ariandra akan berbuat hal yang tidak baik padamu.”


“Aku tidak akan melakukan hal yang buru, aku mengatakan itu supaya kamu mau datang dan menemui ibumu, apakah kamu tidak kasihan padanya dan membiarkan dirimu diperbudak oleh wanita jahat itu?”


“Ariandra sudah menceritakan semuanya pada Ibu, kamu pokoknya harus kembali pada Ibu, tinggalkan wanita itu, dia tidak baik untukmu.”


“Tapi Bu ….”


“Kamu ingin berpisah secara resmi dariku kan? Aku akan mengabulkannya kalau kamu mau kembali pada ibumu dan tinggalkan wanita bernama Astrid itu.”


Dela nampak bimbang saat mendengar tawaran menggiurkan dari Ariandra barusan, ia bisa segera berpisah secara resmi dari pria itu dan kembali pada keluarganya namun di sisi lain bagaimana dengan Astrid yang mana ia sudah kepalang berjanji pada wanita itu?


****


Rupanya Astrid mengetahui tipu muslihat Ariandra, ia pergi ke tempat di mana mereka bertiga sedang berada, Dela nampak terkejut ketika mendapati Astrid juga ada di sana hingga situasi semakin memanas.


“Kimmy, ada apa ini?”


“Jaga ucapanmu Ariandra.”


“Apakah aku salah mengatakan itu? Anda memperalat orang lain untuk balas dendam pada keluargaku, kalau memang anda ingin menghancurkan kami maka lakukan itu dengan kedua tanganmu sendiri jangan menyuruh orang lain berlumuran darah sementara dirimu bisa cuci tangan layaknya orang tak berdosa!”


“Berani sekali kamu mengatakan itu padaku!”


“Apa yang Ariandra katakan benar, saya tidak akan pernah rela jika anak saya kamu jadikan budak untuk balas dendam! Sampai kapan pun saya tidak akan rela jika anak saya hancur akibat anda!” seru Ruswianthi yang memegangi Dela supaya anaknya ini tidak melarikan diri.


“Berani sekali kalian menentangku, kalian akan menerima akibatnya karena sudah berani berurusan denganku!” seru Astrid murka.


“Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman anda, silakan lakukan apa yang dapat anda lakukan pada keluarga kami, aku akan pastikan rencana anda tidak akan pernah berhasil sampai kapan pun!”


****


Ruswianthi akhirnya bisa membawa Dela untuk pulang bersamanya, ia berterima kasih pada Ariandra karena mau membantunya hari ini. Ariandra juga menyerahkan surat cerai yang sudah ia tanda tangani sebagai tanda kalau dia benar-benar ingin bercerai dengan Ariandra.


“Kenapa kamu sepertinya tidak suka melihat surat cerai itu, Nak?”

__ADS_1


“Aku tidak bisa membiarkan Ariandra dan mamanya bisa begitu saja lepas dari jerat hukum setelah dia sepakat untuk berpisah denganku.”


“Sudalah Della, lupakan itu, Ariandra sudah meminta maaf padamu dan ia bilang akan tetap memberikanmu uang bulanan setelah kalian bercerai.”


“Bukan soal itu Bu, namun ini menyangkut keadilan, Ariandra dan mamanya sudah hampir membunuhku namun mereka sama sekali tidak tersentuh oleh hukum hanya karena mereka datang dari keluarga kaya raya, aku


masih tidak rela akan hal itu.”


“Dela, dengarkan Ibu, biarkan mereka menikmati kekayaan mereka di dunia dengan sewenang-wenang nanti juga Tuhan akan membalas perbuatan mereka, pokoknya satu pesan Ibu kamu jangan coba-coba mendekati wanita bernama Astrid itu lagi, jangan buat Ibumu ini lebih kecewa lagi padamu, Nak.”


****


Astrid begitu geram bukan main saat Dela pergi bersama Ruswianthi dan semua rencana balas dendamnya pada keluarga Hermanto menjadi kacau balau semua ini dikarenakan Grace, karena putrinya sendiri yang sudah menghancurkan rencana balas dendamnya pada keluarga itu dan ia tidak bisa membiarkan semua ini terjadi.


“Maafkan Mama Grace, namun Mama tidak memiliki pilihan lain selain harus melakukan ini,” gumam Astrid.


Grace saat ini tengah tidur di dalam kamar tidurnya, secara tiba-tiba saja ada dua orang perawat yang masuk ke dalam kamarnya dan membawanya keluar dari dalam kamar.


“Apa-apaan ini? Siapa kalian? Aku mau dibawa ke mana?”


Grace yang memberontak kemudian akhirnya harus mendapatkan obat penenang sebelum akhirnya mereka berdua bisa membawa Grace masuk ke dalam sebuah mobil. Vicko yang melihat kejadian itu tentu saja


terkejut bukan main, ia berusaha menghentikan perawat namun tidak berhasil, Grace tetap dibawa menuju rumah sakit jiwa.


“Semua ini pasti karena ulah Mama.”


Vicko kemudian pergi menuju kamar mamanya, Astrid nampak tidak terkejut ketika pintu kamarnya dibuka oleh Vicko yang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, ia sudah menduga bahwa Vicko pasti akan marah padanya dengan Grace yang dibawa paksa barusan.


“Ini semua pasti ulah Mama kan?”


“Aku tidak memiliki pilihan lain, dia harus aku singkirkan karena dia yang sudah membuat semua rencanaku berantakan seperti ini.”


“Namun bukan seperti ini caranya, Ma!”


“Kamu tidak perlu ikut campur Vicko atau Mama juga akan melakukan hal yang sama padamu!”


“Kalau begitu silakan saja, kalau perlu bunuh aku sekarang juga kalau memang itu bisa membuat Mama merasa lebih baik dari pada harus membuat Grace masuk rumah sakit jiwa!”

__ADS_1


__ADS_2