
Dela pergi ke sebuah hotel untuk menginap, ia ingin menenangkan dirinya setelah apa yang terjadi di restoran. Ia sama sekali tidak menyangka karena Ariandra dengan sengaja membawa ibunya untuk membongkar kepalsuannya sebagai Kimmy. Dela merasa bersalah karena sudah membuat ibunya sedih dan menangis karena tidak mau mengakuinya sebagai orang tuanya, Dela kini hanya bisa menangis dan meratapi apa yang sudah ia lakukan pada ibunya tadi.
“Aku minta maaf Bu, aku minta maaf, hiks.”
Dela sejak keluar rumah Astrid memang tidak menyalakan ponselnya karena ia ingin tidak ada gangguan ketika meluapkan kesedihan ini, ia ingin pergi menjauh sejenak dari Astrid dan keluarganya sampai ia benar-benar siap kembali bertemu dengan mereka.
****
Tidak butuh waktu yang lama untuk Astrid mengetahui keberadaan Della, ketika Della membuka pintu kamar hotelnya ia dibuat terkejut dengan sosok Astrid yang sudah berdiri di depan pintu dan menatapnya tajam.
“Tante?”
“Apakah kamu mau membiarkanku berdiri di depan sini?”
Dela kemudian mempersilakan Astrid untuk masuk ke dalam kamarnya, di sana Astrid baru bertanya pada Dela kenapa ia memutuskan untuk pergi dari rumah. Dela sendiri hanya diam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Astrid barusan, nampaknya ia belum siap menceritakan apa yang terjadi padanya di restoran itu.
“Dela, kalau memang kamu sedang ada masalah kamu kan bisa bicara padaku dulu dan tidak lari begitu saja tanpa memberikan kabar?”
“Aku minta maaf Tante karena sudah merepotkan Tante.”
“Siapa yang bilang kalau kamu merepotkanku? Kamu sama sekali tidak merepotkanku, Nak.”
Astrid kemudian membujuk Dela untuk mau bercerita apa yang sebenarnya sudah terjadi padanya, Dela yang awalnya ragu pun akhirnya menceritakan permasalahan yang ia alami sampai-sampai membuatnya harus keluar
dari rumah itu.
“Jadi semua ini karena Ariandra yang membawa ibumu untuk mempertemukan kalian di restoran seperti itu?”
“Aku benar-benar merasa sudah menjadi anak yang durhaka karena tidak mengakuinya sebagai ibu kandungku, padahal itu bukan maksudku yang sebenarnya. Aku sudah membuatnya kecewa,” isak Dela.
“Jangan berpikir seperti itu, aku yakin ibumu pasti akan mengerti keputusan yang kamu ambil ini kelak.”
****
Ruswianthi masih menangis sejak kemarin jika memikirkan pertemuannya dengan Dela di restoran itu, ia masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Dela sampai-sampai ia tidak mau mengakuinya sebagai ibunya? Apakah yang Ariandra katakan padanya itu benar? Namun entah kenapa hati kecil Ruswianthi mengatakan kalau ia jangan sampai termakan ucapan Ariandra.
__ADS_1
“Bu, apakah Ibu masih sedih karena memikirkan Kak Dela?”
“Tidak sayang.”
“Ibu tidak perlu memungkirinya.”
Ruswianthi tidak menanggapi ucapan putrinya barusan karena sejujurnya ia masih sedih dan bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Dela hingga membuatnya seperti itu.
“Apakah Ibu mempercayai apa yang Ariandra katakan soal kakak?”
“Sejujurnya Ibu tidak tahu apakah harus percaya padanya atau tidak.”
“Menurutku lebih baik Ibu tidak perlu percaya padanya, Ibu tahu sendiri kan bagaimana sikapnya selama ini pada kakak?”
“Iya Nak, Ibu paham.”
Saat mereka sedang berbincang tersebut, ponsel Ruswianthi berdering dan ia melihat ke arah layar ponselnya yang di sana tertera sebuah nomor asing.
“Siapa yang menelponku, ya?”
Ruswianthi kemudian menjawab telepon tersebut dengan agak ragu-ragu karena desakan putri bungsunya ini.
“Halo, siapa ini?”
****
Ruswianthi diajak bertemu di sebuah restoran oleh seseorang di telepon tadi, ketika ia tiba bersama dengan putrinya ia mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran dan hanya menemukan ada satu orang saja yang ada di restoran ini dan mereka pun menghampiri orang tersebut.
“Permisi, apakah anda adalah orang yang menelponku tadi?”
“Iya, silakan duduk.”
Ruswianthi dan putrinya kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan wanita ini, wanita ini sempat menawarkan mereka untuk memesan minum dulu namun Ruswianthi menolak, ia mendesak wanita ini untuk segera mengatakan apa maksud dan tujuannya menyuruhnya datang ke sini.
“Kamu adalah ibu kandungnya Della kan?”
__ADS_1
“Iya, saya ibu kandungnya Dela dan anda ini siapa?”
“Anak anda aman bersama saya.”
“Apa? Jadi selama ini anakku tinggal bersama anda?”
“Iya, anak anda tinggal bersama saya selama ini, dia meminta maaf atas apa yang sudah ia perbuat padamu tempo hari.”
“Apakah anda yang menyuruhnya melakukan itu pada ibuku?”
“Tidak, kalian jangan salah paham dulu, Dela sedang dalam misi khusus jadi ia tidak boleh sampai terbongkar identitasnya, kalau sampai identitasnya terbongkar maka bisa saja nyawanya akan terancam.”
“Apa yang sebenarnya kamu sedang lakukan pada putriku?!” geram Ruswianthi.
“Setelah semuanya selesai, dia bisa kembali pada kalian.”
****
Ariandra menjabarkan alasan kenapa perusahaan mereka tidak perlu ragu untuk melepaskan perusahaan Astrid untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka, Ariandra dengan semangat membeberkan bukti bahwa Astrid
adalah dalang di balik kekacauan yang timbul dalam tubuh perusahaan, tujuan Astrid melakukan ini semua adalah merebut sebanyak mungkin aset milik keluarga Hermanto dan juga membuat citra Rangga hancur akibat dendamnya pada pria itu. Ariandra kemudian meyakinkan dewan direksi untuk tidak terpengaruh berita negatif yang sengaja dibuat supaya membuat citra perusahaan ini buruk dan harga saham perusahaan mereka anjlok. Selepas rapat dengan dewan direksi perusahaan, kini Ariandra sudah bersiap untuk pergi dari ruang rapat namun ia ditahan oleh Rangga karena sang papa ingin bicara.
“Bagaimana bisa kamu mendapatkan semua bukti itu?”
“Aku memiliki seseorang yang dapat dipercaya Pa.”
“Apakah kamu yakin data yang kamu berikan pada dewan direksi tadi valid dan dapat dipertanggung jawabkan?”
“Tentu saja aku yakin, kalau memang data itu tak dapat dipertanggung jawabkan mana mungkin aku berani mengatakan itu di depan mereka semua kan? Wanita bernama Astrid itu begitu dendam pada keluarga kita atas apa yang sudah Papa lakukan padanya, andai saja aku tetap melanjutkan kerja sama dengan mereka maka sudah dipastikan perusahaan kita akan hancur dan terpaksa aset yang kita miliki akan jatuh ke tangannya, uang yang harus kita bayar akibat penalti sama sekali tidak sebanding dengan apa yang akan dia dapatkan jika kita terus melanjutkan kerja sama.”
“Papa percaya padamu.”
“Baguslah kalau Papa percaya padaku, aku permisi dulu.”
Ariandra kemudian pergi dari ruang rapat untuk kembali ke ruangan kerjanya sementara Rangga masih duduk terdiam di ruang rapat mengingat memori yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun yang lalu antara dirinya dan Astrid.
__ADS_1
“Rupanya kamu masih menyimpan dendam yang besar padaku Astrid?” lirihnya.