
Tiga bulan telah ku lalui di kota ini, atau tepatnya dua bulan setelah kejadian penamparan Gita di depan kelas waktu itu. Kecuali hubungan ku dengannya, semuanya berjalan baik-baik saja. Kuliah ku lancar. Marahnya mba Endang kepada ku waktu itu juga tidak berlangsung lama. Semuanya sudah kembali normal.
Seminggu sekali aku rutin menelpon bapak dan ibuk di kampung. Tentu melalui hp mas Yoga atau de Binar. Ya, kedua orang tua ku memang tidak memiliki hp sendiri. Dulu pernah mau dibelikan mba Endang tapi mereka berdua menolaknya. Katanya tidak bisa mengoperasikannya. Padahal kalau niat mah bisa belajar, tapi kadang namanya orang tua, dibujuk seperti apa juga ngeyel nya melebihi balita. Ops!!
Hubungan ku dengan Diah juga masih berlanjut. Sekarang dia bekerja di sebuah mall di kota Jogja. Hanya bermodalkan sebuah Ijaza SMA, bisa bekerja di mall seperti itu sudah sangat beruntung. Aku tidak mempermasalahkannya. Bagiku Diah tetap lah Diah. Yang akan menjadi nyonya Alfian kelak. Harpaan terbesar ku saat ini.
Bisnis mas Rizal juga semakin lancar. Baru sebulan ini dia membeli sebuah mobil, meskipun mobil bekas keluaran awal tahun dua ribu an. Mas Rizal memang orang yang sangat gigih. Dia tidak perduli mau gagal atau berhasil. Yang penting adalah mencoba. Beberapa kali dia pernah kena tipu, tapi dia tidak langsung menyerah. Dia gunakan kegagalannya itu sebagai pembelajaran. Semangatnya tidak kunjung berkurang, bahkan justru semakin bertambah.
Salah satu hal yang aku suka darinya adalah kata-kata motivasi yang sering diucapkannya pada ku. Sederhana tapi mengena. Contohnya beberapa tahun yang lalu ketika dia kena tipu. Barang yang dibelinya adalah barang baru yang paling harga pasarannya kisaran ratusan ribu. Padahal untuk mendapatkannya dia harus mengeluarkan duit belasan juta. Apa reaksinya?
"Anggap saja itu rezeki orang yang nipu itu lewat aku, rezeki orang ga akan ketuker, usaha aja terus. Aanggap saja itu ongkos untuk belajar bisnis."
Dan alhamdulillah berkat usaha dan keikhlasannya, ikhlas mencari nafkah untuk keluarga kecilnya, dan bahkan untuk keluarga besar ku juga, karena tak jarang mas Rizal membantu perekonomian keluarga besar kami, sekarang dia mulai menikmati hasilnya.
Sebagai imbas dari semakin majunya usahanya ini, sekarang semua urusan pembuatan hardcase diberikan sepenuhnya pada ku. Semuanya. Modal dari aku, dan semua keuntungan juga diserahkan pada ku. Tempat dan peralatan katanya pakai saja ga perlu kasih apa apa ke dia. Yang penting usaha ini terus berjalan. Baik banget kan?
Untuk masalah modal, awalnya dia mau meminjami ku. Tapi aku menolaknya karena aku masih ada dari hasil pekerjaan sebelumnya. Itu karena aku memang tidak terlalu boros. Makan, gratis di rumah ini. Aku hanya perlu mengerjakan tugas rumah ku. Paling hanya untuk ongkos ke kampus dan beli pulsa. Atau mungkin sesekali ikut jalan dengan teman teman kelas. Sesekali aku pernah ikut mereka ke mall, atau kadang main futsal. Tapi itu tidak seberapa.
Prinsip ku adalah dimana aku berada, disitu aku harus menyesuaikan diri. Aku tidak mau jadi anak yang kuper-kuper banget. Tapi aku juga masih mampu menahan untuk tidak ikut terbawa derasnya arus pergaulan bebas. Beberapa kali pernah aku diajak clubing atau semacamnya. Jelas saja aku menolak dengan berbagai macam alasan. Karena itu bukan jiwa ku.
Kembali ke mas Rizal, dia juga mulai mengenalkan ku pada langganannya. Dia bilang untuk urusan order sekarang langsung ke aku. Awalnya aku agak sungkan karena rata rata mereka orang kaya. Tapi kata mas Rizal cuek aja. Sama-sama makan nasi ini. Imbasnya aku semakin banyak relasi. Wawasan ku sekarang juga jadi lebih update dari sebelumnya.
Siang ini aku ada kuliah hingga sore. Kalau jadwalnya begini aku sampai rumahnya bisa sampai jam tujuh malam dan biasanya sudah capek. Maka pagi pagi tadi aku sudah menyelesaikan kewajiban ku, nyapu ngepel. Sekalian olahraga.
"Weeeiii si juragan datang," sapa Doni saat melihat kedatangan ku di gazebo kampus. Di sana juga sudah ada Kiki, dan mahasiswa lainnya. Di gazebo ini adalah salah satu fasilitas kampus yang merupakan salah satu titik hotspot. Jam-jam seperti ini memang selalu ramai oleh mahasiswa yang ingin memanfaatkan fasilitas internet gratisan baik itu untuk mengerjakan tugas, atau sekedar berselancar di dunia maya. Bahkan tak jarang juga yang memanfaatkannya untuk mendownload film. Tapi bukan film dewasa tentunya.
__ADS_1
"Apaan sih juragan-juragan?" balas ku sewot.
"Kamu itu di doain kok malah sewot sih, mbok ya aamiin gitu," nasehat Kiki.
"Eh, iya aamiin, hehe."
"Tuh dengerin nasehat bu Haji Nur."
"Iyaaa aamiin bu Haji dan pak Haji, eh masa pak hajinya model begini?" canda ku yang melihat dandanan Doni yang lebih mirip seorang anak geng motor.
PLAK!!!
"Aduh, sakit kiii!"
"Dibilang jangan panggil aku Nur ngeyel ya!"
"Kalau yang bandel Ian lu biasa aja, giliran gue pasti langsung dijitak."
"Eh aku bandel apa ya?"
"Perlu gue jelasin?"
"Hehehe," aku nyengir. Sebenarnya aku mengerti dengan maksud Doni. Ini menyangkut masalah Gita.
Ya, aku akhirnya menyanggupi permintaan pak Weily. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah aku melakukan semua ini tidak mengharapkan imbalan apapun. Dan tidak ada batasan waktu nya. Aku hanya akan mencobanya. Meskipun aku sendiri belum tau akan memulainya dari mana. Entahlah. Semoga yang maha kuasa memberiku jalan untuk niat baik ku ini. Aku hanya akan menyoba mendekatinya, mengenalnya, dan mencari tahu apa yang membuatnya menjadi wanita yang galak dan judes seperti itu.
__ADS_1
"Siapa bilang aku biasa aja? Ian udah aku omel-omelin tapi dasar orangnya aja keras kepala ya sudah. Biarin aja. Kemarin kan baru digampar, mungkin ntar kalau udah ditabokin baru kapok."
"Hahaha, ndak segitunya juga kali Ki, aku tau Gita sebenarnya baik."
“Belain aja teruuus!!”
“Beneran kok Ki…”
"Sok tau lu, kaya pernah ngobrol aja. Orang gitanya liat lu aja langsung buang muka gitu hahaha," giliran Doni memanasi.
"Hmm….ya ya, Gita memang orang baik,” ucap Kiki akhirnya, namun dengan nada sarkastik.
"Jangan liat orang dari luarnya aja don."
"Jadi maksud lu gue harus liat dalemannya Gita gitu? Boleh tuh hahaha."
PLAK!!!
"Aduh!"
"Hahaha, rasain! Maksud ku itu ndak ada orang yang bener-bener jahat. Pasti masih ada sedikit kebaikan di hatinya biar kata cuma secuil, percaya saja," ucap ku menjelaskan.
"Bukan begitu bu Kiki?" lanjut ku.
"Mudah-mudahan, tapi kalau sampai kejadian waktu itu terulang lagi, aku ndak ikutan."
__ADS_1
"Insyaallah endak ki," senyum ku pada mereka berdua.
Semoga keyakinan ku kali ini memang benar. Aku yakin tidak ada manusia yang benar-benar jahat. Yang ada adalah tingkat keimanan mereka yang naik dan turun. Ingatan ku kemudian kembali ke peristiwa beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang mengubah pandangan ku terhdap seorang wanita, yang baru saja kami bicarakan.