
Aku sampai di daerah Cipete sore ini pas banget dengan berkumandangnya adzan magrib. Suasana komplek yang sangat elit ini sangat-sangat sepi. Beberapa kali aku pergi ke tempat ini selalu begitu. Seperti tidak ada interaksi sama sekali antara masing-masing rumah. Individual banget. Sempat aku membayangkan bagaimana rasanya punya rumah sebesar dan semewah ini. Enak kali ya. Pasti nyaman. Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya ga enak. Mana enak tinggal di lingkungan yang individualis seperti ini. Tidak ada interaksi sosial. Tapi ya sudah lah, belum tentu juga aku bisa membelinya. Hahaha.
Aku sudah hampir sampai. Kujalankan motor ku dengan pelan sambil tengok kiri dan kanan Meskipun sudah beberapa kali ke sini tapi aku masih belum hafal banget yang mana rumahnya. Lalu tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam dengan kaca gelap memepet motor ku hingga ketepian jalan. Awalnya motor yang aku naiki ini hanya oleng. Namun karena terus dipepet akhirnya aku menabrak trotoar jalanan dan...
'BRAAKK!!'
Aku jatuh dan terperosok ke trotoar. Aku masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi. Badan ku tertimpa motor beserta beban yang aku bawa. Aku masih agak kesulitan untuk bangun. Lalu dari mobil yang memepet ku tadi keluar empat orang menggunakan penutup wajah menghampiri ku.
Awalnya aku pikir mereka akan menolong ku. Tapi ternyata aku salah. Setelah motor ku di angkat, bukannya di setandarkan tapi justru di banting ke sisi yang lain. Aduh...makin ringsek aja tuh hardcase.
"Eh, apa-apaan nih?" reaksi ku melihat perbuatan mereka. Tidak ada jawaban. Yang ada justru kerah polo shirt ku ditarik oleh salah seorang dari mereka.
‘BUGH’
Sebuah tinju keras telak mengenai pipi kanan ku hingga membuat ku terpelanting dan terjatuh lagi. Lagi-lagi belum sempat membela diri atau membuat sebuah pertahanan, bertubi-tubi tendangan dari mereka berempat mendarat di tubuh ku.
'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH' 'BUGH'
Tidak mungkin aku bisa melawan mereka semua dengan posisi terdesak seperti ini. Aku hanya bisa meringkuk. Memejamkan mata. Melindungi kepala ku dengan kedua tangan ku. Awalnya sangat sakit. Sakit sekali. Lalu, lambat laun aku mulai tidak merasakan apa-apa. Tubuh ku sudah seperti mati rasa. Bahkan pandangan ku pun mulai kabur saat aku melihat salah satu dari mereka melepas ikatan hardcase di motor ku lalu membanting hardcasenya ke segala arah. Menginjaknya. Menghancurkannya.
Setelah puas menjadikan ku bola, keempat orang tadi meninggalkan ku begitu saja. Aku masih meringkuk dengan posisi miring mengarah ke jalan. Kepala ku tergeletak di trotoar jalan. Badan ku lemas, tidak bisa digerakan. Pandangan ku mulai buram. Makin lama makin gelap. Hingga ketika hampir benar-benar gelap, dari arah berlawanan muncul sebuah mobil yang tidak asing.
Mobil itu berjalan agak lambat, dan semakin melambat. Hingga tepat di depan ku, tapi di seberang jala, mobil itu berhenti. Kaca mobil yang super gelap itu lalu terbuka. Ternyata seorang wanita. Tidak terlalu jelas, tapi aku cukup mengenalinya meskipun pandangannya lurus kedepan dengan angkuhnya, jangankan menolong ku, menengok pun tidak.
Momen ini tidak berlangsung lama. Setelah memberikan sebuah senyum jahat dan penuh dengan kepuasan, perlahan kaca mobil itu tertutup kembali, dan mobil pun berlalu. Dan saat itu juga berbarengan dengan pandangan ku yang gelap total. Aku tidak bisa melihat apa apa. Aku hanya merasakan tubuh ku seolah melayang-layang. Namun aku masih tidak bisa menggerakkannya. Dan semuanya berubah menjadi gelap total seketika.
***
Hal pertama yang aku rasakan sekarang adalah, nyeri. Nyeri di sekujur tubuh ku. Bahkan untuk bernafas pun terasa sesak di dada ku. Semua tulang-tulang ku rasanya ngilu. Mungkin ada beberapa bagian yang retak. Aku tidak tau, yang pasti semuanya terasa sangat nyeri.
"Arrggghh...," aku mencoba menggerakan anggota tubuh ku yang lain tapi sakit luar biasa yang aku rasakan.
"Ian? Ian, kamu udah sadar?" tanya seorang wanita.
"Arrggghh...," lagi-lagi aku hanya bisa mengerang menahan sakit.
"Sebentar, aku panggil dokter ya," ucapnya lalu meninggalkan ku.
"Aku di mana?" batin ku.
Tidak lama kemudian muncul seorang pria paruh baya dan wanita tadi. Kiki? Bagaimana bisa dia ada disini? Dan aku? Ah iya, malam itu. Lalu siapa yang membawa ku ke sini ya?
"Ki...," ucap ku, tapi kemudian dipotong oleh si pria yang kemungkinan adalah dokter yang menangani ku. Kiki hanya tersenyum sambil mengisyaratkan kepada ku untuk diam dulu.
"Diperiksa dulu ya," potong si dokter lalu melakukan pemeriksaan di beberapa titik tubuh ku. Selama beberapa saat. Aku tidak paham apa yang dilakukan oleh pria ini. Yang pasti beberapa bagian tubuh ku mulai dari kaki hingga kepala di periksanya.
Semuanya normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, alhamdulillah. Hanya perlu waktu untuk penyembuhan saja, tidak ada syaraf atau apapun yang rusak, semuanya normal," ucap si dokter. Kiki nampak lega sekali mendengarnya. Aku memandangnya dengan sayu.
"Allah sudah kasih kamu mukjizat, bersyukurlah. Setelah ini suster akan kasih obat dan periksa tensi darah ya, saya tinggal dulu," lanjut si dokter lalu dia meninggalkan ruangan ini.
"I-iya dok, makasih," balas ku.
"Makasih yah dok," ucap Kiki lembut.
__ADS_1
"Arrggghh...," aku mencoba menggerakan tubuh ku lagi tapi tidak bisa. Sakit sekali. Tulang-tulang ku seperti tidak ada daya untuk menyangga tinggi tubuh ku. Aku merasa seperti tubuh yang terbuat dari bahan agar-agar. Lentur.
"Jangan banyak gerak dulu," perintah Kiki lalu mendekat ke arah ku dan memegang lengan kanan ku. Agak nyeri namun cukup menenangkan. Telapak tangannya sangat halus. Usapannya pun juga sangat lembut. Aku bisa merasakan ketulusan di dalam sentuhannya itu.
"Arrggghh...Ki, gimana aku bisa di sini?"
"Aku juga ndak tau, Mas Rizal yang ngabarin tadi pagi kalau kamu dapet musibah ini, hiks..." balasnya lesu, hampir menangis. Matanya mendadak memerah.
"Ki? Kok nangis?" tanya ku bingung.
"Gimana ndak nangis liat kondisi kamu seperti ini?"
"Aku kenapa? Aku gapapa kali hahahaaarrggghh...," sial. Aku tertawa terlalu terbahak hingga membuat badan ku berguncang dan ternyata rasanya sakit sekali. Untuk tertawa aja nyeri banget rasanya.
Kaya gitu masih bilang gapapa? hikss..." ucapnya lagi, dan mengalir lah air mata itu membasahi pipinya yang halus. Pipi putih yang suci itu kini telah ternoda oleh air matanya sendiri. Dan itu semua karena aku.
"Hehehe, seenggaknya dokter tadi bilang ndak ada yang ndak normal kan?"
"Ka-kamu itu bener-bener ya...hiks...hikss..." ucapnya gemas sambil sedikit meremas lengan ku yang sontak membuat ku kesakitan. Aku sedikit meringis.
“Maaf…” ucapnya pelan.
"Udah, udah, jangan nangis, masa aku sadar kamu malah nangis? Eh iya, ini hari apa?" tanya ku tiba-tiba teringat dengan BEM.
"Senin..."
"Berarti..."
"Yaaah..."
"Kenapa?"
"Hari ini kan seleksi BEM Ki," jawab ku lesu.
"Hiiiih, kondisi begini masih mikirin BEM," omelnya gemas.
"Ya kan udah niat dari awal.”
“BEM aja terooos…”
“Hehehe. Oiya, lha mba Endang mana? Mas Rizal? Dimana mereka?" tanya ku heran karena tidak melihat mereka yang merupakan keluarga ku sendiri tidak ada di sini. Justru malah ada Kiki yang hanya seorang teman kuliah yang menemani ku.
"Mas Rizal lagi pulang sebentar mau ambil baju ganti katanya. Kalau mba Endang lagi keluar. Tadi Tiara rewel minta jajan. Kamu dititipin ke aku," jawabnya.
Sekarang jam berapa?"
"Lima sore."
"Owh, oiya kamu tadi bilang kalau Mas Rizal yang ngabarin kamu, kok Mas Rizal bisa tau kamu?"
"Sebenernya bukan ke aku langsung, tapi lewat Doni, lihat kontak HP kamu kali."
"Doni nya sekarang mana?"
__ADS_1
"Doni hari ini ndak masuk, jadi dia ngabarin aku, selesai kuliah tadi aku langsung kesini."
"Owh..." balas ku singkat. Setelah itu bertepatan dengan masuknya seorang suster dengan perlengkapan perangnya. Mau diapakan saya sus?
Pertama dia memeriksa tensi darah ku. Aku terpaksa harus menahan rasa nyeri di lengan ku karena proses pengukuran tensi itu. Lalu menanyai apa yang aku rasakan. Ya pasti sakit lah, gimana sih? Kemudian mengganti infuse yang sudah hampir habis plus menyuntikkannya sebuah cairan entah apa namanya, sesuatu berwarna merah hingga membuat cairan di infuse menjadi warna pink. Lucu pikir ku.
Setelah selesai dengan urusannya, si suster pamit dan pergi. Sebelumnya dia berpesan kalau makan malam sekitar jam enam an, sekalian minum obat.
"Makasih ya sus," ucap Kiki ramah.
"Sama-sama," balas suster sambil tersenyum.
Kiki lalu mendekat. Duduk di samping kanan ranjang. Matanya menatap ku. Entah apa yang dipikirkannya, tapi…cantik.
"Ian?"
"Ya Ki?"
"Kamu tau pelakunya siapa?" tanya nya tiba-tiba.
"Eh?"
"Kamu tau ndak siapa pelakunya?"
"Enggak," jawab ku berbohong. "Kenapa Ki?" aku bertanya balik.
Gapapa, hanya saja firasat ku..."
"Jangan su'udzon Ki!"
"Iya, maaf...!"
"Udah kejadian juga kan? Ndak ada gunanya berprasangka buruk. Yang penting aku ndak apa-apa kan sekarang?"
"I-iya," jawabnya tersenyum.
Maaf Ki aku berbohong pada mu. Ini semua sudah masuk dalam rencana ku meskipun aku hampir kehilangan nyawa ku. Aku tidak mengira dia bisa berbuat sampai senekad ini. Aku membatin sambil menatap wajahnya yang masih ada rasa kekhawatiran. Menatap bola matanya yang lucu. Bola mata yang indah. Bola mata yang bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang melihatnya. Dan aku beru merasakannya sekarang.
"Kenapa?" Kiki seperti salah tingkah.
"Ndak apa-apa," balas ku sambil tersenyum.
"Hiiih, aneh!" balas nya sedikit sewot. Sedikit tersenyum lalu membuang muka seperti malu dengan sesuatu.
"Hehe, Ki..."
"Ya?" jawabnya lalu menatap ke arah ku lagi. Lagi-lagi bola mata indah itu menatap kearah ku. Bola mata indah yang memberikan kedamaian bagi siapapun yang di lihat oleh nya.
"Kalau boleh, tolong panggilkan Mba Endang ya," pinta ku.
"Oke, bentar yah," ucap Kiki dengan tersenyum lalu meninggalkan ku.
Sekarang aku sendiri di ruang ini. Mata ku terpejam. Mengingat kembali peristiwa semalam. Benar-benar nekad anak itu. Haha, luar biasa. Baiklah kalau begitu, aku harus lebih waspada sekarang. Segala sesuatu bisa saja terjadi dan menimpa ku. Ternyata aku terlalu percaya diri dan meremehkannya.
__ADS_1