
Berbekal petunjuk rute angkot yang aku peroleh dari orang kampus yang sebelumunya aku telephone, aku tidak tau jabatannya apa, bagian informasi mungkin, pagi menjelang siang ini aku kunjungi dua universitas yang menjadi pilihan ku. Sesuai saran mas Rizal, aku akan melihat dulu lingkungan kampusnya seperti apa sebelum menentukan pilihan. Semoga tidak nyasar.
Mas Rizal awalnya mau mengantar ku. Tapi mba Endang melarang. Katanya aku kan laki laki. Biarin aja aku usaha sendiri. Kalau tidak usaha sendiri kapan aku bisanya. Aku tau mba endang memang keras terhadap ku, tapi itu semata mata agar aku bisa mandiri. Lagi pula aku juga ga mau merepotkan mas rizal. Ya sudah akhirnya jalan sendiri.
Setelah sekitar satu jam lamanya berada di dalam angkot, akhirnya aku tiba di kampus yang pertama. Pertama-tama aku kelilingi seluruh sudut kampus yang ternyata tidak terlalu luas ini. Aku perhatikan lingkungannya, sekaligus semua fasilitasnya, termasuk kantinnya, karena bagaimanapun juga kalau kantinnya tidak nyaman, maka makan siang ku di kampus nanti juga bakalan tidak akan nyaman, ujung-ujungnya kuliah ku juga bisa jadi bakalan tidak nyaman, yang bisa jadi juga akan berpengaruh ke prestasi kun anti, hahaha, terlalu panjang analisa ku. Dan terakhir aku kebagian informasi mencari tau seluk beluk kampus secara lebih detail. Dan yaaah, pada akhirnya aku sudah tau gambarannya secara langsung dan. Sekarang waktunya meluncur ke kampus yang ke dua.
Begitu sampai di lokasi, sama seperti yang pertama tadi, aku melihat lihat kondisi sekitar. Secara umum tidak jauh berbeda. Hanya saja di sini lebih tenang suasananya. Aku banget nih pikir ku. Langsung aku ke bagian informasi dan pendaftaran.
Saat aku masuk kedalam ruang ber AC itu, aku melihat ada beberapa anak muda seusia ku yang sepertinya juga calon pendaftar.
"Pagi mas, ada yang bisa di bantu?" sapa seorang petugas yang berada di belakang meja. Ramah sekali orangnya. Masih muda juga.
"Ini mas, eh pak, saya mau nanya nanya nih soal pendaftaran, sekalian tolong di jelasin juga untuk detail biaya kuliahnya,” ucap ku.
"Oh, jadi gini mas..."
Petugas itu mulai menerangkan dengan detailnya. Mulai dari apa saja syarat-syarat yang dibutuhkan, biaya perkuliahan, kegiatan diluar perkuliahan, hingga jam perkuliahan. Semuanya di jelaskan dengan sangat jelas.
Setelah di rasa cukup jelas, petugas itu menyuruh ku menunggu sebentar karena kebetulan stock formulir pendaftaran habis dan dia akan mengambil dulu ke belakang. Aku pun berjalan ke arah bangku untuk duduk dan menunggu. Ku lempar pandangan ku ke deretan bangku yang berjajar dengan rapi yang di sediakan untuk para calo mahasiswa baru seperti ku ini. Terlihat beberapa orang duduk di sana, baik yang seumuran maupun yang sudah setengah baya, mungkin mereka adalah keluarga si calon mahasiswa.
Sebentar lagi aku akan jadi anak kuliahan. Pikir ku dalam hati. Sedikit bangga juga karena di kampung ku sana hanya beberapa saja anak-anak muda yang bisa atau mau lanjut kuliah. Kenapa aku bilang begitu? Karena selain biaya, ada juga beberapa teman ku yang sebenarnya mampu untuk kuliah, meskipun bukan di kampus yang bonafit, masalahnya kebanyakan dari mereka malas dan enggan untuk lanjut kuliah. Kalau ga langsung kerja, ya paling garap sawah. Yang cewek-cewek paling langsung nikah. Aku sekarang memiliki dua-duanya. Biaya, ada. Semangat, alhamdulillah masih menggebu. Aku harus memanfaatkannya dengan sebaik baiknya.
Lumayan lama juga aku termenung. Mas nya tadi juga belum balik. Pandangan ku tiba-tiba tertarik ke arah samping ku. Seorang wanita, cewek, perempuan, apapun istilahnya, yang jelas manusia yang duduk di samping ku ini adalah sebangsanya yang mampu menarik perhatian ku. Karena kalau laki-laki, tentu aku tidak akan perduli. Aku perhatikan dia lebih detail. Awalnya dia tidak sadar. Tapi lama-lama sepertinya dia sadar dan mungkin agak risih juga. Iseng aku membuka pembicaraan.
"Mau daftar juga ya mba?" tanya ku dengan agak ragu namun aku paksa dengan se percaya diri mungkin.
Dia tidak langsung menjawab tapi malah menatap ku dengan pandangan sinis. Matanya melotot, lidahnya menjulur, eh enggak, tidak pakai menjulur, seram amat, hehehe. Tapi yang jelas pandangannya sangat tidak bersahabat dan tidak suka dengan sikap ku yang sok dekat kepada nya. Si mba-mba ini kemudian sedikit menggeser duduknya menjauh.
__ADS_1
"Menurut lo?" jawab nya dengan sebuah pertanyaan yang kasar bagi ku.
Waduh...salah nanya nih kayanya aku. Atau memang semua orang kota begitu ya sikapnya? Manis sih orangnya, tapi kok jutek gitu. Akhirnya aku hanya bisa nyengir, ga tau harus menjawab apa. Kembali memalingkan pandangan ku ke arah depan dan berharap kejadian beberapa saat tadi sebenarnya tidak terjadi.
Untung tidak lama setelah itu mas-mas petugas tadi sudah balik dan menyelamatkan nasib ku dari momen tidak enak ini. Sedangkan mba-mba di samping ku tadi sepertinya juga sudah selesai mengisi kertas entah apa itu. Form pendaftaran? Mungkin. Dia bangkit dan meninggalkan ku begitu saja, berjalan ke arah petugas tadi. Dasar orang kota. Ga punya sopan santun pikir ku. Pamit kek atau apa gitu basa-basi. Pamit? Situ siapa Alfian, hahaha.
Setelah itu petugas tadi memberiku isyarat kalau form pendaftarannya sudah ada dan siap untuk aku isi. Aku pun langsung mengisinya dengan teliti. Di ruang itu sebenarnya masih ada beberapa calon pendaftar lagi. Cewek maupun cowok. Tapi tidak aku pedulikan lagi. Selain takut, aku juga bodo amat. Dari pada dijutekin lagi kaya tadi. Males banget pikir ku.
Setelah selesai mengisi formnya, aku langsung menyerahkannya ke mas petugas. Aku lalu diberi sebuah kertas kecil berupa jadwal tes untuk menentukan grade ku yang akan berpengaruh pada biaya kuliah nanti. Selain itu aku juga di beri list persyaratan yang harus dilengkapi, copy ijaza, pas foto, dan temen temennya yang bisa aku bawa pas tes nanti.
Setelah itu aku langsung pulang karena tidak tau mau kemana juga. Teman juga belum punya. Tapi saat jalan keluar dari area kampus, aku mampir dulu ke warung untuk beli air mineral.
"Air mineralnya satu bang yang botol sedang,” ucap ku sambil merogoh saku celana
Mas nya lalu mengambilkan satu plus sedotan dan kantong plastik kecil. Tapi aku menolak kantong dan sedotannya karena tidak memerlukannya. Aku dari dulu memang kalau beli sesuatu ke warung atau mana pun selama bisa tanpa kantong plastik, aku tidak pernah meminta kantong plastik. Karena hanya akan memperbanyak limbah plastik saja menurut ku. Dan itu tidak akan baik untuk lingkungan.
"Nih mas."
"4 ribu."
Aku lalu menyerahkan 2 ribuan dua lembar. Abangnya menerimanya dengan tersenyum ramah.
"Mas nya baru ya di sini?" tanya nya tiba tiba.
"Kok tau bang?"
"Keliatan dari logat nya, hehe,” jawabnya.
__ADS_1
"Baru daftar?" tanyanya lagi.
"Loh kok tau lagi?" tanya ku dengan polosnya.
"Iya baru liat ini kayanya, saya sudah 15 tahun jualan di sini, jadi hampir hafal muka-muka mahasiswa yang lewat depan sini," lanjutnya.
"Owh gitu toh,” aku lalu menenggak air mineral dalam botol itu.
"Mas nya dari daerah mana memangnya," tanya nya lagi. Ni abang-abang banyak nanya ya pikir ku. Tapi tidak apa-apa juga sih, paling tidak dia ramah kepada ku.
"Jogja bang, abangnya? Kayanya bukan asli sini ya?" iseng aku menebak.
"Walaaah, lha gene tonggo. Aku sleman, sampeyan jogjane pundi mas?"
(Walah, ternyata tetangga. Aku sleman, anda jogjanya dimana mas?)
"Wonosari mas, sampeyan slemane pundi?" tanya ku balik.
(Wonosari mas, anda slemannya mana?)
"Aku nang maguwoharjo, dolano nek muleh kampung. Mengko tak pek ke salak, haha,” canda mas-mas itu.
(Aku di maguwoharjo, main lah kalau pulang kampung, nanti aku petikin salak, haha)
Ternyata mas-mas ini orang sleman. Pantes sikapnya khas banget orang daerah. Setelah berbasa basi sebentar aku lalu pamit pulang. Tapi sebelumnya kami sempat bertukar nomer hp. Katanya kalau ada masalah atau apa apa di daerah sini kasih tau dia saja. Sesama perantauan harus saling membantu tambahnya.
Lumayan lah dapet satu kenalan baru. Meskipun awalnya tadi dapat kesan pertama yang tidak enak dari mba-mba judes itu. Ga apa-apa lah temenannya sama mas-mas tukang warung. Yang penting orangnya baik, ramah dan sopan.
__ADS_1
Singkat cerita aku sudah sampai rumah. Walaupun perjalanan tadi tidak singkat singkat amat. Macet hampir dari ujung keujung. Bisa stress nih lama lama. Beda banget sama di kampung. Tapi aku ga boleh ngeluh, harus tetap semangat.
Setelah makan dan istirahat sebentar, aku lalu ke halaman samping untuk melanjutkan pekerjaan ku. Membuat hardcase. Alhamdulillah ada saja orderan satu dua biji. Untuk sementara cukup lah buat ongkos ke kampus dan beli pulsa, pikirku. Ya, aku harus belajar mandiri. Apapun akan aku kerjakan. Yang penting halal. Ya Tuhan, Semoga Engkau Melancarkan Usaha hamba Mu. Doa yang selalu aku panjatkan.