
Waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal-soal ujian ini adalah seratus dua puluh menit, dan sekarang aku sudah menyelesaikan semuanya meskipun waktu yang di berikan masih ada sekitar dua puluh menitan. Petugasnya sudah mulai menginstruksikan bagi yang sudah selesai boleh meninggalkan ruangan.
Aku yang sudah tidak nyaman duduk di samping wanita ini langsung buru-buru menutup aplikasi ujiannya dan meninggalkan ruangan. Dan cukup membuat beberapa peserta lainnya kaget. Termasuk makhluk sombong di samping kanan ku ini. Tapi tetap, pandangannya tetap sinis terhadap ku. Tapi aku merasa senang karena aku bisa menyelesaikan soal ku lebih cepat dari dia.
"Keren juga lo bro bisa selesai paling cepet, beneran ngerjain apa ngasal tuh? Haha,” canda doni yang lagi-lagi menepuk bahu ku dari belakang. Ni anak hobi banget ngagetin orang. Dan aku baru sadar ternyata waktu ujiannya sudah habis dan mau tidak mau semua peserta harus menghentikan pekerjaannya.
"Hehe, lihat saja nanti hasilnya, aku juga nda yakin sih, tapi ya mudah mudahan dapet grade A, kan lumayan tuh paling murah semesterannya."
"Aamiin dah, eh ke kantin dulu yuk, mayan setengah jam buat nyegerin tenggorokan. Kering banget nih, aus."
"Nyegerin tenggorokan apa mata?" canda ku.
"Haha, dua duanya boleh juga,” jawabnya nyengir.
"Eh lo tinggal di mana? Lupa gua."
"Sawangan Don."
"Oiya, yang ikut kakak lo itu ya?"
"Iyaa."
Aku dan doni sudah berada di kantin. Kami sedang menikmati segarnya es di siang hari yang panas ini. Dan betul juga kata si Doni. Setelah dua jam mikir, tubuh ini rasanya dehidrasi banget, kering banget. Dan es ini adalah solusinya.
"Eh gue ampe lupa, nomer lu berapa, ada wa nya kan?"
"Wa?"
"..."
"Apaan?"
"Lu ga tau wa? Whatsapp..."
"Oh whatsapp..." jawab ku dengan polos nya. Aku baru tau kalau whatsapp di singkatnya jadi WA. Orang Indonesia memang paling senang menyederhanakan suku kata. Kalau ada yang bisa di sederhanakan, kenapa harus di persulit? Betul sih, sayang nya birokrasi di negeri ini kebalikannya.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Doni, tapi kemudian merogoh kantong celana ku dan menunjukkan hp jadul ku kepada nya.
"Haha, sorry sorry, ya udah nomer lu dah sini berapa?"
"0812XXXXXXXX."
Dia lalu misscall ke hp ku.
"Disimpen ye, itu noner gue."
"Iyaaa bawel..."
"Hahaha, gitu dong kasih imbal balik. Di jakarta tu jangan iya iya aja…"
"Iyeeee…"
"Hahaha."
Tak tok tak tok tak tok
Tiba tiba terdengar suara benturan antara hak sepatu dengan keramik lantai kantin. Khas banget suara dari sepatu hak tinggi seorang wanita. Aku dan Doni sama-sama menoleh. Dan ya Tuhan, dia lagi dia lagi. Aku langsung menekuk muka ku dan menunduk pura-pura mengaduk minuman ku. Jujur aku mulai males dengan wanita ini. Doni? Malah cengar cengir dan sok cari perhatian kepada mereka.
Mereka? Iya, sekarang wanita judes itu jalan bereng dengan dua wanita lain yang model-model dandanannya sebelas dua belas dengannya. Dan dari gerak-geriknya, sifat mereka bertiga sepertinya juga tidak jauh berbeda. Sombong dan arogan. Dan yang pasti, senang menjadi pusat perhatian.
"Sstthhh...cewek itu lagi tuh..."
"Iya aku juga lihat, terus?"
"Mau ga ikut gua? Kenalan...," ucapnya sambil menaik turunkan alis matanya.
"Ndak mau, kamu saja…"
"Cemen, jangan nyesel ya kalau nanti dia jatuh ke pelukan gua, hahaha."
"Aku justru berharap dia seperti itu…"
"Hahaha…"
Doni lalu bangkit dan menghampiri tiga wanita itu dengan pede nya. Bener-bener nekad nih bocah, batin ku. Aku memalingkan pandangan ku ke arah parkiran, ga berani ngelihat apa yang akan terjadi.
BRAAAK
Aduh...suara apa itu? Pikiran ku bertanya-tanya Tapi kayanya suara meja digebrak. Pasti sekarang semua pengunjung kantin ini menatap ke arah mereka. Rasanya aku tidak ingin lagi berbicara dengan Doni saat ini, di tempat ini. Aku ingin lupa ingatan saja dan tidak mengenal nya untuk saat ini. Atau, aku pura-pura ga kenal aja kali ya?
__ADS_1
"BISA GA SIH LO KALAU GA GANGGU?"
"Kok galak sih neng ama abang?"
Begitulah percakapan yang samar-samar aku dengar. Don, tolong jangan tambah bikin malu, ucap ku pelan seraya berdoa pada Tuhan Yang Maha Pengasih Dan Penyayang pada setiap Umatnya. Kira-kira Tuhan sayang ga ya sama Doni yang ganjen itu?
Aku masih belum berani menengok ke arah mereka meskipun sudah tidak ada percakapan yang aku dengar lagi. Tapi tidak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki dari sepatu ber hak tinggi itu mendekat ke arah ku. Ada apa ini?
"Lain kali kalau punya temen diajarin sopan santun!!!" ucap wanita itu pelan, tapi tajam dan dalam. Dalam banget. Sialan. Aku lagi kan yang kena. Reflek aku menatap ke arahnya. Serem banget. Mukanya merah. Entah apa yang diucapkan Doni tadi hingga wanita ini bisa jadi emosi seperti ini.
"I-iya mba, maafin temen saya ya…"
"Awas lu ya sekali lagi gangguin gue!!!"
"Iya mba..."
"Jangan iya iya aja, ngerti ga???"
"Iya ngerti mba..."
Wanita ini sepertinya memang tempramental. Dikit dikit langsung naik. Aku tidak mungkin menghadapinya dengan emosi juga. Meskipun sebenernya dari tadi aku juga sudah menahan emosi karena sikapnya. Tapi biarin lah. Sekarang gimana caranya tuh mba-mba pergi dari tempat ini.
"Satu lagi, jangan panggil gue mba lagi, gue bukan mba lo!!! Paham???"
"Iya mb...eh...iya paham, sekali lagi maaf ya..."
Tidak ada balasan darinya. Dan sekali lagi wanita itu pergi begitu saja dengan sombongnya. Dasar orang kota pikir ku.
Tapi untungnya dia segera pergi. Kalau ga, lama-lama bisa stress aku. Cewek kaya gitu apa ada yang mau ya. Apa tidak langsung darah tinggi itu pasangannya nanti? Entahlah.
Tidak lama setelah itu Doni datang dengan santainya. Dan tidak ada perasaan bersalah sedikitpun.
"***** tuh cewek, galak banget men."
"Kamu sih, udah aku bilangin juga masih aja nekad. Aku jadi ikutan kena kan," keluh ku.
"Hahaha, ngomong apa dia tadi?"
"Suruh ngajarin kamu sopan santun…"
"Hahaha, tapi gue jadi tertantang nih."
"Naklukin dia lah.”
"Jangan bercanda ah, kamu ndak kapok apa di bentak di depan umum kaya tadi?"
"Alah, cewek mah gitu, awalnya doang galak, kesininya paling nurut, tapi ga tau deh kalau di ranjangnya gimana, hahaha."
"Sarap, aku ndak mau ikutan ah kalau urusan begituan…"
"Siapa juga yang mau ngajak lu, orang kita mau enak-enakan di ranjang berdua aja, haha."
"Terserah…”
"Haha, ngambek...sorry deh buat yang tadi. Gantinya nih es gue bayarin deh."
"Cuma tiga ribu."
"Haha, oke-oke, kapan-kapan gue traktir makan deh. Sekarang kita liat pengumuman yuk, kayanya udah keluar hasilnya."
"Ya udah ayok."
Kita berdua akhirnya meninggalkan kanti dan berjalan menuju ke lokasi tes tadi. Seharusnya hasil ujian sudah keluar. Sebenarnya lucu juga tes ini. Ujian tapi semua peserta pasti lulus. Namanya juga PTS. Tes ini hanya menentukan biaya masing-masing saja. Doni berjalan duluan. Agak tergesa-gesa. Sepertinya dia sangat penasaran. Aku hanya mengekor di belakangnya.
Sesampainya di depan ruangan, aku lihat sudah banyak sekali peserta tes yang berkerumun di depan sebuah papan kaca yang di situ ditempel hasil tes tadi. Doni mencoba merengsek masuk. Aku? Hanya berdiri saja beberapa meter di belakang mereka. Paling malas aku kalau harus berkerumun seperti itu.
"Woooiii ian, sini! Lu masuk grade A nih", teriaknya dari dalam kerumunan itu ke arah ku. Sontak sebagian dari para peserta itu menoleh ke arah ku. Waduh. Ga akan ada tindakan anarkis kan? Batin ku. Entah darimana pikiran itu muncul, tapi dilihat dari pandangan mata mereka, seperti menunjukkan ketidak senangan. Aku hanya tersenyum kaku pada mereka semua.
"Wah, pinter juga lu bro, ga nyangka gue."
"Kebetulan aja itu."
"Ga mungkin, lo emang keliatan pinter kok."
"Biasa aja don, paling yang dapet grade A juga banyak kan?"
Aku memang tidak tau siapa saja dan berapa orang yang sudah beruntung mendapatkan grade A. Aku tidak melihatnya. Aku yakin saja dengan informsi dari doni. Kerumunan itu tidak kunjung berkurang. Justru semakin bertambah karena peserta lain malah baru berdatangan. Dan itu semakin membuat ku tidak berminat untuk masuk ke kerumunan.
"Elu sih ga mau liat, yang dapet grade A cuma dua orang tau, dan salah satunya itu elu."
__ADS_1
"Ya abis kerumunan gitu, males akunya…"
"Justru itu enaknya, empuk empuk nyoi...hahaha."
"Mesum…"
"Biarin…"
"Trus satu lagi siapa?"
"Lupa aku namanya, tapi yang pasti cewek. Kebanyakan sih grade C, kaya gue, hehe…"
Cewek? Aku berharap bukan wanita itu. Kalau iya, bisa makin besar kepala dia. Entah kenapa aku tidak suka bila wanita itu bisa mendapatkan nilai yang sama dengan ku.
"Woi, napa bengong lu?" tanya Doni.
"Eh, enggak, eh bentar, ada telpon nih, bentar ya."
Kita berdua sekarang sedang berjalan meninggalkan gedung itu. Tujuan Doni ke parkiran motor, sedangkan aku ke gerbang depan. Tapi kita masih searah. Dan tiba tiba ada panggilan masuk dari mas rizal.
"Ya, halo, ada apa mas?"
"Oh gitu ya, aku ke sana?"
"Ya mudah mudahan bisa, hehe."
"Iya mas, nanti sms aja alamatnya."
"Iya mas, tenang aja, hehe."
"Iya mas, sama sama."
Dapet tugas negara nih. Gimana ya pikir ku?
"Siapa?"
"Mas ku."
"Kenapa? Kok bingung?"
"Inget kan usaha sampingan kakak ku yang aku ceritain tadi?"
"Iya, oke, trus?"
"Dia nyuruh aku ngambil ukuran ke tempat pelanggannya."
"Iya masalahnya apaaa?", Doni nampak gemas. Dia belum paham karena memang aku nya yang terlalu bertele tele.
"Aku ga tau mesti naik angkutan apa ke sana, hehe,” jawab ku nyengir.
"Emang dimana?" tanya nya penasaran.
"Dia baru mau sms, ah ni dia baru masuk,” aku lalu menunjukkan sms mas Rizal ke Doni.
"Ah, ini sih searah ke rumah gue. Udah yuk bareng gue aja."
"Serius?"
"Iya, anggep aja ucapan maaf dari gue soal yang tadi."
"Tapi helm nya?"
"Banyak jalan tikus. Udah tenang aja, terima jadi deh pokoknya."
"Ya udah kalau gitu."
Aku menerima tawaran dari doni. Alhadulillah. Rezeki anak baik. Hehe.
"Yakin lu ga mau gue tungguin?"
"Ga usah, makasih Don."
"Inget kan angkotnya? Pokoknya naik aja angkot warna biru itu, tapi yang ke arah sono, jangan sebaliknya. Itu udah langsung ke terminal Depok, Abis itu lu tinggal nyambung sekali doing ke arah Sawangan."
"Iya iya inget, suwon njih mas…hehehe…,” balas ku bercanda dengan loga jawa.
"Suwan suwon, jangan terlalu lugu jadi orang. Ya udah, gue cabs dulu kalau gitu, ati ati bro.."
"Makasih Don, hati-hati juga."
__ADS_1
Doni lalu menyalakan motornya dan berlalu meninggalkan ku. Aku kemudian berbalik dan wah...perumahan elit nih pikir ku. Aduh, jadi minder mau masuk. Bodo ah. Namanya juga usaha. Malu urusan ke seribu, pesan mas Rizal tempo hari saat memberiku wejangan. Katanya kalau usaha itu jangan pikirin malunya. Yang penting usahanya bener dan halal.