
esoknya Kami semua berkumpul di ruang tamu, berenam. Mas Rizal duduk di kursi sofa single. Pak Weily dan nona besar Gita duduk berdampingan di sofa panjang. Mba Endang memangku Tiara di sofa single satunya. Sedangkan aku, mengambil kursi di meja makan untuk duduk. Awalnya aku ingin nerusin kerjaan saja, tapi malah diajak pak Weily untuk gabung. Ada apa ya? Sidang? Jangan-jangan Gita ngadu macem macem lagi sama bapaknya. Tapi, pak Weily gelagatnya adem ayem aja. Mungkin ada hal lain yang ingin dibicarakan.
Tapi yang sedikit membuat ku heran adalah saat aku, mas Rizal, dan pak Weily masuk kedalam rumah adalah sikap Gita yang ramah banget sama mba Endang. Selain itu aku juga melihat wajahnya yang ceria banget saat bercanda dengan Tiara. Beda banget dengan di kampus. Ah paling itu acting doang dia, batin ku. Dasar wanita bermuka dua. Cuih!!
"Baiklah, mungkin langsung saja ya Zal, dan juga Endang," ucap pak Weily mengambil alih pembicaraan.
"Jadi kedatangan ku dan Gita kesini selain untuk bersilaturahmi adalah untuk meluruskan masalah yang sudah dibuat oleh anak ku Gita. Kalian berdua pasti bingung karena aku yakin Ian ga cerita, kan? Tidak usa dijawab karena aku sudah tau jawabannya. Sebenarnya masalah ini sudah selesai karena kebesaran hati Ian. Tapi karena aku menghargaimu Zal, sebagaimana kamu yang juga selalu menghargaiku, dan aku tidak mau masalah ini jadi kesalah-pahaman di kemudian hari, aku datang kesini untuk meminta maaf atas nama anak ku, Gita, kepada kalian."
"Ini ada apa ya pak? Maaf kenapa?" mas Rizal nampak bingung.
Pak Weily menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dia lalu menceritakan insiden kecil sebulan lalu saat aku datang ke rumahnya. Penjelasannya sangat detail dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
"Jadi begitu, aku harap kalian berdua mau memaafkan dan memaklumi kecerobohan anak ku."
"Ian, betul yang pak Weily bilang?"
"Iya mba, hehe."
"Tapi kamu gapapa kan? Kok ga cerita?" tanya mba endang lagi. Sekilas aku bisa melihat perubahan di raut wajahnya. Ada sesuatu yang ditahan oleh nya, emosi.
"Akunya kan ga kenapa-napa mba, ya aku pikir ndak ada masalah yang perlu diceritakan," jawab ku agak lesu. Ini pasti bakalan jadi panjang setelah ini.
"Kamu ga mau minta maaf sama Ian Git?" ucap pak Weily sambil menyenggol lengan putrinya itu. Gita sendiri semenjak pak Weily bercerita panjang lebar tadi lebih banyak menunduk.
"I-iya, Gita minta maaf ya Ian, mba, mas, Gita salah waktu itu nabrak Ian, tapi Cuma pelann kok…," ucapnya pelan.
"Walaupun pelan, tetap saja namanya nabrak ya nabrak, pake mobil lagi, urusannya sama nyawa, tapi ya sudahlah yang penting ian gapapa," sela mba Endang.
Aduh. Nada-nadanya udah mulai ga enak. Gimana ini?
"Mah!" bisik mas Rizal pelan ke mba Endang. Seperti nya dia juga merasa tidak enak dengan pak Weily.
"Gapapa Zal, akupun pasti akan bereaksi seperti Endang kalau Gita kenapa-napa."
"Jangan salah paham ya pak Weily, saya sekedar mengingatkan saja supaya Gita lain kali lebih hati-hati. Bukan karena Ian yang kali ini jadi korban, tapi ke pengguna jalan lain juga. Gita jangan tersinggung atau salah paham ya," ucap mba Endang sambil tersenyum. Tapi senyum yang menyindir. Gita mengangguk pelan.
"Maah!!" mas Rizal berusaha mengerem perkataan mba endang lagi. Tapi sudah terlanjur blong.
"Iya mba, Gita nyesel dan lain kali bakal lebih hati hati."
__ADS_1
"Nah, kalau gini kan semuanya jelas dan aku harap tidak akan ada kesalah-pahaman dikemudian hari."
"Pak Weily ini ngomong apa sih? salah-paham apa? Ga ada. Yang penting Ian nya ga kenapa-napa kan," balas mas Rizal.
"Ian mau maafin Gita kan," tanya pak Weily.
"Saya sudah maafin Gita dari hari itu juga kok pak," jawab ku berdiplomasi, tidak mau memperpanjang masalah. Aslinya mah aku masih sakit hati. Tapi ya sudah lah. Itu biar jadi masalah pribadi ku dengan Gita. Aku ga mau hubungan mas Rizal dan pak Weily bermasalah. Bisa dibilang pak Weily adalah salah satu pelanggan mas Rizal. Kalau hubungan mereka sampai bermasalah, tentu akan berpengaruh ke bisnis mas Rizal.
"Ya sudah kalau gitu, kita pamit pulang dulu Zal, Ndang. Masih lanjut kerja kamu ian?"
"Kok buru buru pak, masih sore ini," tanya mas Rizal basa-basi.
"Hehe, nanti lain kali kita mampir lagi. Atau gantian kalian lah yang main ke rumah ku."
"Ya boleh pak, kapan-kapan pasti main kok."
Aku lalu melongok ke jam dinding.
"Masih pak, yaaa paling 2-3 jam lagi lah, lumayan dari pada bengong ngelamunin Gita, ntar orangnya keselek, hahaha,” canda ku. Pak Weily dan mas Rizal tertawa. Mba Endang diam saja tidak ada respon. Gita, sempat menoleh ke arah ku namun kemudian menunduk lagi.
"Hahaha, bisa aja kamu. Tapi bagus lah, mumpung masih muda harus semangat. Oke deh, Git, kamu masih ada yang mau diomongin?"
"Sekali lagi aku minta maaf ya Zal, Endang."
"Iya pak weily, tenang aja."
Kami semua sudah sama-sama berdiri dan hendak mengantarkan pak Weily dan Gita ke gerbang rumah. Kecuali mba Endang, yang lebih memilih menunggu di dalam rumah, entah peralatan rumah tangga apa yang nanti akan dia gunakan untuk menghajar ku. Wes lah pasrah saja.
"Jangan kapok ya pak main kesini nya," mas Rizal basa-basi.
"Pastinya Zal, aku harap hubungan bisnis kita masih bisa terus berlanjut."
"Aamiin pak, saya juga berharap begitu."
"Oke, aku pulang dulu."
"Hati-hati pak."
Aku dan mas rizal sama sama melambaikan tangan pada mobil pak Weily yang mulai bergerak menjauh. Setelah itu kami berdua masuk. Bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
__ADS_1
***
"Ma, kamu tadi seharusnya bisa sedikit menahan diri lah, ga enak aku sama pak Weily, dan ada Tiara juga kan," kami bertiga kembali duduk di ruang tamu. Tiara sekarang nonton tv di ruang tengah. Untung dia pergi. Paling tidak dia tidak akan mendengarkan perdebatan orang dewasa ini.
"Trus maksud kamu aku harus diem aja gitu adik ku ditabrak pakai mobil?"
"Ya tapi kan Ian nya gapapa, dan yang penting hargailah sedikit etikat baik pak Weily mau datang kesini buat minta maaf."
“Aku menghargai pak Weily, tapi tidak untuk anak nya!”
“Tapi maah…Ian nya kan…”
"Iya Ian sekarang gapapa, tapi kedepannya mana aku tau. Awas aja, kalau sampai Ian kenapa-napa nanti sama tu anak, aku sendiri yang maju. Ga perduli aku hubungan mu dengan pak Weily. Rezeki bukan dari dia doang kok, mentang-mentang anak orang kaya. Awalnya aja tadi manis di depan ku sama tiara. Taunya kaya gitu kelakuannya."
"Mbaaa, permasalahannya ndak serumit itu lho, aku ndak cerita karena ya memang aku ndak kenapa-napa."
"Kamu juga, ada-apa apa gitu diem aja. Kamu ga nganggep aku lagi? Aku ini kakak mu. Aku di sini jadi gantinya bapak sama ibuk. Kamu tanggung jawab ku. Kalau kamu sampai kenapa-napa aku yang harus tanggung jawab. Aku yang salah," ucapnya menasehati ku sambil mengusap air mata di pipinya. Mba Endang menangis. Dan sekarang mata ku ikutan memerah.
"Aku cuma ndak mau hubungan mas Rizal sama pak Weily renggang karena aku."
"Mending ga usah punya hubungan sama sekali dari pada nyawa jadi taruhannya. Pokoknya awas kamu ya kalau ada apa-apa lagi tapi ga cerita ke aku!" ucapnya dengan tegas.
"Iya mba, maaf."
Mba Endang kemudian bangkit dan pindah ke ruang tengah. Mengajak tiara tidur mungkin. Tidak mungkin aku menahannya. Emosinya sedang tidak stabil.
"Mas, mba Endang..."
"Sudah, biarin tenang aja dulu, wajar lah dia bersikap begitu, naluri seorang kakak."
"Tapi aku jadi ga enak sama mas Rizal."
"Udah ga usah dipikirin. Mba mu emang gitu kalau lagi emosi, hehe. Ya sudah mending kamu sekarang istirahat saja. Pasti ga fokus kalau lanjut kerja. Lanjutin kerjanya besok aja. Eh tapi besok kuliah? Memangnya kamu ada masalah apa sih sebenarnya sama Gita?"
"Enghh…hanya kesalah-pahaman saja sih mas. Iya kuliah mas, pagi sampai siang doang sih."
“Ya sudah kalau begitu, lain kali kalau ada masalah atau salah paham sama orang itu di luruskan, biar ga berkepanjangan, oke?”
“Siap mas.”
__ADS_1
Aku menuruti perintah mas Rizal. Aku kemudian ke samping untuk merapikan peralatan kerja ku. Lalu bersih-bersih badan. Setelah itu bergegas menuju kamar untuk istirahat. Mempersiapkan tenaga untuk besok pagi.