AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 21


__ADS_3

Hari ini, atau tiga hari setelah pemberitahuan itu, waktunya aku mempresentasikan program kerja ku. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tidak ada kendala apapun. Dan aku akan di kabari besok untuk keputusannya. Sekarang aku sedang berjalan menuju kantin di mana dua sahabat ku sedang menunggu.


"Beres bro?" tanya Doni saat aku tiba dan duduk di sampingnya.


"Bereesss, ngomong-ngomong, kalian berdua makin lama makin mesra ya?" canda ku.


"Mesra dari hongkong," balas Doni agak sewot. Mungkin karena dia selama ini selalu merasa jadi pihak yang tertindas dan teraniaya oleh Kiki.


"Dia mah bukan mesra, tapi mesum," balas Kiki.


"Hahaha, eh kalian udah pada makan belum? Aku traktir nih," ucap ku.


"Wuih, ada angin apa nih?" tanya doni.


"Iya, ada apa Ian? Tumben-tumbenan?" tambah Kiki.


"Ndak ada apa-apa, abis dapet rejeki aja, itung-itung sukuran kan aku udah sembuh, hehe," jawab ku.


"Manteb emang juragan yang satu ini. Lu mau makan apa? Gue yang pesen deh. Lu juga Ki, mau apa?" tanya Doni.


"Pecel ayam Don," jawab ku.


"Lu Ki?"


"Baso aja Don."


"Oke deh, bentar yak gue pesenin dulu."


"Oke!"


"Oke!"


Doni lalu pergi meninggalkan kami berdua.


"Kapan pengumumannya?"


"BEM?"


"He'em."


"Besok katanya, kan cuma aku aja jadi sehari aja cukuplah buat mereka ambil keputusan."


"Ya apapun hasilnya mudah-mudahan jadi yang terbaik buat kamu," ucapnya.


"Aamiin, tapi aku masih penasaran," balas ku dengan bingung.


"Dengan?"


"Yang kasih info ke BEM, khususnya ke Mba Ayu langsung. Katanya yang kasih info itu ga mau namanya disebutin. Dah kaya beramal aja nama ga mau disebut," canda ku.


"Uhuuggg...uhhhuggg...," tiba-tiba Kiki terbatuk mendengar candaan ku.


"Ki, kamu ndak apa-apa?" tanya ku sambil berusaha menepuk pelan tengkuk nya.


"Gapapa Ian, gapapa, hehe, udah-udah," jawabnya sambil berusaha menjaga jarak dengan ku. Gadis berjilbab lebar seperti Kiki tentu akan menjaga jarak dengan lawan jenis nya. Aku lalu balik ke tempat ku semula.


"Eh Ian, Kiki lo apain?" tanya Doni yang baru saja kembali.


"Apain apanya?" tanya ku balik.


Lah itu dia ngejauh gitu?"


"Batuk dia Don, jangan mikir yang aneh-aneh deh!"


"Bener gitu Ki?" tanya Doni ke Kiki tidak percaya seolah dia adalah malaikat pelindung temannya.


"Eh, i-iya, he'eh?" jawab Kiki terbata. Nih anak kenapa ya?


"Baso nya mana?" tanya Kiki lagi.


"Entar dianter, udah laper banget lu ya?"


"Iya laper banget nih."


Entah perasaan ku saja atau bagaimana, aku merasa percakapan setelah ini menjadi sangat kaku dan garing. Doni mencoba mencairkan suasana, tapi tetap saja beda. Garing, tidak serenyah biasanya. Perubahan sangat kentara terlihat dari sikap Kiki. Kenapa ya? Wanita sepertinya memang menyimpan sejuta misteri. Salah, sepuluh pangkat tak terhingga mungkin.


***


"Om Ian...Tiara bobo duluan ya...," pamit Tiara lembut. Tumben?


"Oh, iya Tiara bobo duluan aja, biar besok bangunnya pagi. Om Ian juga bentar lagi bobo kok."


"Oke Om, oiya Tiara titip salam buat Tante Kiki yaaa...bilangin Tiara kangen, Tiara pengen Tante Kiki maen lagi kaya waktu itu, ya Om yaaa...," rengek Tiara dengan muka memelas tidak seperti biasanya yang suka memaksa. Ini serius apa acting? Segitu pengennya kah dia ingin Kiki main? Sedekat itu kah dia dengan Kiki?


"Oh, oke bos...besok pasti om sampein. Sekarang bobo ya…"


Oke Ommm...hore...tante Kiki maen lagi...yeey yeey yeey..." balasnya dengan sangat riang.


Aku melongo. Ini anak kenapa girang banget ya?


Tidak lama setelah kepergian Tiara menuju kamarnya, HP ku berbunyi. sebuah SMS. Nomer baru.

__ADS_1


From: +6281264826XXX said:


Selamat ya, kamu masuk BEM. Officialnya besok lihat di pengumuman


Siapa ini? BEM? Apa Mba Ayu? Masa iya? Niat banget ngabari aku langsung gini? Tapi kalau bukan dia, siapa lagi? Aneh.


Pikiran ku malah mengawang-awang. Hari ini banyak hal aneh terjadi. Dari Kiki yang tiba-tiba sikapnya berubah. Tiara yang merengek-renget minta Kiki maen. Sekarang ada SMS kaya gitu. Padahal aku ngarepinnya SMS dari Diah.


Diah, ngomong-ngomong soal dia, akhir-akhir ini kami jarang komunikasi. Dulu biasanya sehari sekali kita sering berkabar. Menanyakan hal-hal sepele, namun sangat berarti bagi kami. Atau tak jarang kami saling bercerita tentang hal-hal yang kami lakukan sepanjang hari.


Tapi sekarang, sudah seminggu ini kami hanya berkabar dua kali. Dan itu juga yang terakhir sudah tiga hari yang lalu. Aku sudah menanyakannya, dan jawabannya "Tidak ada apa-apa kok, restoran lagi rame-ramenya."


Kadang muncul berbagai macam pertanyaan. Dan kecurigaan. Tapi aku langsung menepisnya. Aku sudah terbiasa dengan berprasangka baik. Hanya masalah sepele seperti ini harusnya aku tidak berfikir yang macam-macam. Ya, aku yakin semua pasti baik-baik saja.


***


"Cieee...resmi jadi anak BEM nih..., selamat yaah...," ledek Kiki pada ku saat kami berjalan dari ruang sekretariat BEM menuju kelas. Aku dan Kiki baru saja melihat pengumuman terbaru tentang hasil seleksi penyaringan anggota BEM. Dan ternyata benar, seperti SMS semalem, aku benar-benar diterima menjadi anggota BEM. Berarti kemungkinannya yang mengirim SMS itu cuma satu orang.


"Belum resmi tau, orang belum di lantik."


"Ah tinggal tunggu waktu aja."


"Hehehe, iya sih."


"Oiya Ki, Tiara beberapa hari ini nanyain kamu tuh, kamu apain dia?" lanjut ku.


"Hah? Nanyain gimana?"


"Nanya kapan kamu mau maen lagi, trus katanya kangen, gitu."


"Masa sih?" tanya nya balik dengan antusias.


"Serius, ngapain bo'ong. Tumben-tumbenan tau. Dia ga pernah kaya gitu ke orang selain saudara."


"Ya bedalah, kalau aku kan ketahuan baiknya, cantik lagi, hihihi."


"Wooo narsis," ucap ku sambil menoyor pelan kepala nya yang berbalut kerudung warna hijau muda itu.


"Iiih...kok aku ditoyor sih?"


"Abisnya narsis, hehe. Jadi gimana? kapan kamu bisa maen ke rumah? Tiara nya udah bawel banget."


"Ya aku sih tergantung kamu, kapan kamu ajak aku maen ke rumah kamu" jawabnya.


"Kok aku?"


"Iya lah, masa aku yang cewek ini, ujug-ujug maen ketempat cowok, sendirian, apa kata Mba Endang?" jawabnya dengan gemas.


"Oiya ya, hehe," balas ku sambil garuk-garuk kepala.


"Dah yuk ah, dah mau masuk nih," ucapnya lagi lalu berjalan mendahului ku.


Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas. Aku hanya mengekornya dari belakang. Cepat juga dia jalannya. Baru sadar aku. Padahal dia memakai rok panjang..


Aku sudah di kelas. Kuliah kali ini sangat membosankan bagi ku. Etika bisnis. Materi yang di bawakan menurut ku sangat nggantung. Tidak ada kepastian jawaban benar atau salah. Semua tergantung argumentasi. Padahal kan aku maunya kepastian. Dari Diah. Keinget lagi kan. Dari semalem tidak ada kabar. Ditelpon juga tidak diangkat. Ada apa ya?


Tapi, meskipun begitu, ada satu hal yang membuat ku geli. Gita, sedari pagi mukannya ditekuuuk mulu. Udah baca pengumuman kali ya? haha. Sukurin. Niatnya jahat sih.


"Aduh," perut ku tiba-tiba mules banget. Dengan tergesa aku lalu meminta ijin pada dosen untuk ke toilet. Setengah berlari, aku lalu menuju toilet. Sesampainya di toilet aku langsung masuk ke bilik yang di tengah. Ada tiga bilik, aku pilih yang paling tengah karena aku tau di situ yang paling bersih diantara dua lainnya. Aku masuk lalu memasang posisi.


Aku menghidupkan keran air agar saat kotoran ku jatuh, suaranya tidak terlalu kentara. Ah lega rasanya. Tidak lama kemudian aku mendengar samar-samar ada beberapa orang yang masuk ke toilet juga. Mereka seperti bercanda sambil membicarakan sesuatu.


"Ndre, lu serius mau lakuin itu ke Gita?"


"Yoi men, sakit ati gua, gua udah nurutin kemauannya tapi apa yang gua dapet?"


"Iya ngerti sih, gue juga kesel waktu dia nolak lu kemarin. Eh tapi, ajak kita-kita lah! Sisaan juga gua mau kalau dia mah, hahaha."


"Iya Ndre, bagi-bagi yak ke kita-kita."


"Hahaha, tenang aja. Kita kasih pelajaran ke anak itu. Pelajaran yang akan membuatnya menyesal karena udah nolak gue."


"Stthhh...kalian brisik ya, itu di dalem ada orang, ****!"


"Alah cuek aja, dia ga tau kita ini. Belum tentu kenal kita juga kan."


"Iya sih. Ya udah yuk, kita cabs."


Aku benar-benar kaget mendengar obrolan mereka. Siapa mereka? Apa yang akan mereka lakukan terhadap Gita? Trus apa yang sudah mereka lakukan untuk Gita? Apa jangan-jangan...?


***


Sore ini, setelah selesai kuliah, aku tidak langsung pulang. Aku bilang ke Mba Endang akan mengerjakan tugas terlebih dahulu. Padahal, aku akan menemui Pak Weily. Jujur aku agak kuatir dengan posisi Gita. Meskipun belum pasti 'Gita' yang mereka maksut itu Gita Ratna Puspita atau bukan.


Aku dan Pak Weily janjian di restoran yang dulu pernah kita makan siang bareng. Aku baru tau kalau restoran itu adalah milik Pak Weily sendiri. Kaya banget nih orang pikir ku. Begitu sampai, aku lalu minta di anter oleh dormen ke meja yang sudah diinfokan sebelumnya.


"Hei anak muda, apa kabar? Ayo duduk," sapa Pak Weily ramah.


"Sehat Pak, Bapak sendiri apa kabar?"


"Ya...masih begini-begini saja. Seorang calon kakek yang kesepian."

__ADS_1


"Calon? kesepian?"


"Oiya kamu belum tau, kakaknya Gita lagi hamil, tapi kan dia di luar negeri tinggal sama suaminya, sama aja aku ga ada temennya."


"Wah, selamat kalau gitu. Tapi kan ada Gita pak"


"Mana pernah dia nemenin aku, maen terus kan orangnya?"


"Ehmmm...ndak tau pasti saya, kan saya bukan baby sitter nya, hehe."


"Hahaha, bisa aja kamu. Oiya, tadi katanya ada hal penting yang mau kamu bicarakan, tentang apa itu?"


"Yang pasti tentang Gita."


"Oke..."


"Tadi siang, pas saya di kampus, ndak sengaja saya denger pembicaraan beberapa orang. Intinya, mereka punya niat jahat ke Gita, tapi saya ndak tau apa itu."


"Dimana kamu mendengarnya?"


"Toilet kampus."


"Kamu tau siapa mereka?"


"Tidak, tapi saya denger salah seorang dari mereka memanggil yang lain dengan panggilan Ndre ke yang lainnya."


"Owh...ya ya, trus apalagi?"


"Apalagi? Pak, anak mu dalam bahaya, kok bapak bisa sesantai itu?" tanya ku dengan agak kesal. Setelah apa yang diperbuat Gita selama ini pada ku, entah mengapa aku masih ada rasa kuatir terhadap keselamatannya.


"Dengan sekali perintah, aku bisa menemukan mereka sekaligus membereskan mereka semua, kamu tenang saja! Trus apa lagi yang kamu dapat? Aku jadi kepikiran untuk memanfaatkan orang-orang itu."


“Memanfaatkan?”


“Ya, rencana kita.”


“Apa tidak terlalu beresiko?”


“Udah tenang aja, terus kamu denger apa lagi?”


"Feeling saya, mereka orang yang di suruh Gita untuk memukuli saya tempo hari. Sepertinya Gita menjanjikan sesuatu kepada mereka namun Gita ingkar, makanya sekarang mau balik berbuat jahat ke Gita."


"Kamu yakin?"


"Yakin!"


“Anak itu, sukanya main api! Berarti kamu yang harus membereskan mereka," ucapk Pak Weily santai sambil menyesap kopi di depannya.


"Lah? Saya?"


"Iya, rencana awalnya memang seperti itu kan? Sekarang kita 'terbantu' oleh mereka, jadi ga perlu bikin skenario lagi kan?"


Pak, ini bukan main-main lagi!" suara ku agak meninggi.


"Memang, makanya kamu juga harus serius. Sekarang Gita tanggung jawab mu. Kalau sampai dia kenapa-napa, yang artinya kamu gagal menjaganya, paling..." Pak Weily tidak melanjutkan bicaranya.


"Paling apa?" suara ku makin meninggi.


"Ya kamu yang harus tanggung jawab," ucapnya santai, tapi terlihat serius.


"Tapi, perjanjian awalnya tidak seperti itu kan!" balas ku tegas. Jujur aku mulai panik mendengar ancamannya.


"Hahaha, jangan panik gitu ah. Aku bercanda."


"Tapi, rencana orang-orang itu tidak bercanda!"


"Sudah, tenang saja. Percaya saja kamu. Gita itu tanggung jawab ku. Kamu cukup jalankan saja rencana awal. Oke. Sekarang kita makan dulu."


"I-iya pak."


Kami pun akhirnya makan bersama lagi dan mengakhiri perdebatan ini. Orang tua yang aneh pikir ku. Anaknya dapet ancaman seperti itu masih bisa tenang-tenang saja. Atau, orang-orang nya di luar sana benar-benar bisa diandalkan? Bisa jadi. Berarti Pak Weily ini bukan orang biasa pikir ku. Aku tidam boleh sembarangan dengannya. Bisa-bisa aku kenapa-napa. Tapi aku juga yakin kalau kita baik padanya, dia akan jauh lebih baik.


***


Cukup lama aku ngobrol bareng dengan Pak Weily. Setelah perdebatan singkat itu obrolan lebih ke arah hal-hal santai. Selepas magrib aku pamit pulang. Sampai di rumah aku langsung di sambut oleh Tiara yang lagi-lagi nanyain tentang Kiki. Aku janjiin aja minggu besok mau ngajak maen ke rumah. Biar ga bawel. Dan Tiara girang bukan main. Sampai lompat-lompat. Dasar anak kecil.


Setelah ngobrol sebentar dengan Tiara tadi, aku lalu menemui Mas Rizal dan Mba Endang. Seperti biasa, cium tangan dulu. Setelah itu baru masuk ke kamar. Istirahat sebentar lalu mandi. Setelah masuk kamar aku memeriksa HP ku. Ada sebuah SMS masuk. Diah. Akhirnya.


From: My Diah said:


Maaf...


Langsung aku membalasnya.


To: My Diah said:


Maaf kenapa? Kok gitu SMS nya?


Tidak lama berselang muncul lagi balesannya.


From: My Diah said:

__ADS_1


Nanti malam jam 10 telpon aku!


Ada apa ya? Sekarang baru jam tujuh. Masih tiga jam lagi. Dan ini pasti akan terasa lama. Penasaran kan jadinya. Ya Allah, semoga tidak ada apa-apa.


__ADS_2