
Tidak lama berselang pintu kamar terbuka kembali. Seorang suster masuk membawa satu nampan makanan yang rasanya...sangat hambar. Tapi ya sukuri saja, dari pada ga makan. Pengennya bisa segera pulang dan makan makanan manusia normal kembali. Pecel ayam, nasi padang, hhmmm…
"Asik bener bercandanya, boleh dong ikutan gabung," canda suster itu.
"Hahaha, sini sus gabung ama kita-kita," balas Gita menanggapi.
"Hehehe, mas Ian nya makan dulu yah, terus abis itu minum obatnya yah, biar cepet sembuh," ucap suster itu.
"Iya sus," balas ku sambil tersenyum.
"Oiya," lanjutnya sambil melirik ke Gita dan Kiki.
"Makannya sendiri atau...di suapin? hihihi, tinggal pilih tuh mas, mau disuapin sama yang pakai kerudung atau yang enggak, sama-sama cantik nya kok, hihihi," oceh suster itu. Kemudian momen ini menjadi sangat awkward.
"Kok pada diem? Salah ngomong ya? Saya permisi dulu aja deh kalau gitu, hehehe. Oiya, kalau bingung, ganti-gantian aja nyuapinnya, hihihi," lanjut suster itu lalu pergi begitu saja. Sialan, setelah jadi kompor langsung pergi gitu aja. Hahaha, ini sih namanya adu domba. Aku pun memutuskan untuk makan sendiri. Lagi pula belum tentu juga Gita mau nyuapin aku, kalau Kiki sih aku yakin pasti mau.
***
"Enak ya Ian, pulang dari RS dikawal dua cewek cakep, hahaha," canda Mas Rizal. Aku yakin yang dia maksud adalah Gita dan Kiki.
"Owh… cuma dua ya, okey..." sela Mba Endang dengan intonasi menyindir. Mas Rizal yang menyetir mobil mendadak panik. Aku di sampingnya menahan senyum. Mba Endang dan Tiara ada di tengah. Sedangkan Kiki dan Gita ada di paling belakang.
"Eh, ehmm...maksudnya empat, iya empat," jawab Mas Rizal gugup.
"Tiara nanti bobo nya bareng Mama aja ya sayang, Papa biarin bobo sendiri di luar," ucap Mba Endang jutek.
"Asiiik...bobo bareng mama lagi. Eh tapi...kasian Papa ma kalau bobo di luar, ntar papa di gigit nyamuk," jawab Tiara polos.
"Biarin, papanya nakal soalnya."
PLAK
Tiba-tiba Tiara memukul bahu kiri papanya.
"Aduh, Papa kok dipukul sih Tiara?" protes Mas Rizal.
"Abisnya Papa nakalin Mama sih, weeek," jawabnya dengan polos. Membuat aku, Gita dan Kiki tertawa. Mba Endang ikut tersenyum.
"Ampun, Papa janji ga nakal lagi deh, Papa boleh bobo di dalem ya Tiara sayaaang," rengek mas Rizal.
Enggak. Sekali enggak pokoknya enggak," jawab Tiara sambil berkacak pinggang. Sontak jawabannya membuat seisi mobil tertawa. Ni anak bener-bener deh. Haha.
Setelah melewati macetnya kota Jakarta yang tidak kenal waktu, kami sampai juga di rumah. Oiya Gita dan Kiki ikut juga ke rumah. Itu karena Tiara memaksa Kiki untuk ikut. Sedangkan Kiki memaksa Gita untuk menemani. Katanya dia masih sungkan kalau bertamu ke rumah ku seorang diri. Gita sendiri oke-oke aja.
***
"Tante Kiki nanti jadi nginep kan?" tanya Tiara saat kami semua sudah berkumpul di ruang tengah.
"Tiara, ga boleh maksa gitu ah, tantenya besok kuliah, lagian kalau Tante Kiki nginep nanti di cariin Mama nya," jelas Mba Endang.
"Tiara, kalau Tante ga pulang, mamanya tante sedih, Tiara ga mau kan mama nya Tante sedih?", Kiki melanjutkan. Dia tentu juga ga mau nginep di rumah ini. Apa kata orang?
"Yaaah, Tiara kan pengen tante Kiki nginep, tapi ya udah deh," balas Tiara dengan memelas. Sungguh aku tak tega, tapi ga mungkin juga Kiki nginep.
"Tiara, kalau tante Gita aja yang nginep gimana? Hehehe," ucap Gita tiba-tiba. Aku ga tau itu serius atau bercanda.
"Ga mau, maunya tanti Kiki," jawab Tiara judes. Waduh...
"Yaaah sedih deh tante Gita nya, Tiara jangan gitu dong" ucap ku membela Gita.
"Kamu kali Ian yang sedih," sela Mas Rizal.
"Eh, kok aku Mas?" aku berkilah. Kiki dan Mba Endang langsung menengok ke arah ku. Gita hanya menahan senyum.
"Kan yang dari dulu pengen Gita nginep kan kamu? Jangan pura-pura deh...mumpung ada orangnya tuh," balas Mas Rizal. Sialan, ini fitnah.
"Eh, enggak itu. Bohong Git, suwer deh," balas ku.
"Halah pake malu-malu," balas Mas Rizal lagi.
"Sudah-sudah, berantem mulu kalian ini. Jangan-jangan Kamu lagi Pa yang pengen Gita nginep? Ian kamu lihat pisau yang di meja ga? Kemana ya tu pisau?" ucap Mba Endang dengan santainya. Waduh, udah maen pisau nih.
"Eh, ehmm… ga tau Mba, Mas Rizal lihat kali, hehe," balas ku sambil tersenyum. Sedangkan Gita dan Kiki yang lagi maen sama Tiara ikutan senyum-senyum.
__ADS_1
Kamu lihat pa?" tanya Mba Endang ke Mas Rizal.
"Eh, enggak ma, aku ga lihat," jawab Mas Rizal dengan gugup. Haha. Aku tertawa dalam hati melihat drama diantara mereka berdua.
"Ya udah, tante Gita nginep aja ama Om Ian, Tante Kiki sama Aku...," ucap Tiara lagi masih berusaha.
Boleh-boleh, hayuk...teriak setan yang sedari tadi berdiri di samping kiri ku. Sedangkan malaikat di sebelah kanan ku berpesan jangan Ian, ga boleh. Bukan mukhrim. Hadeh.
"Tante Gita juga ga bisa sayang, mama marah nih kalau nakal gitu, ga boleh maksa-maksa ah!" ancam Mba Endang.
"Iya deh, tapi nanti main lagi ya tante," pinta Tiara.
"Iya, nanti tante main lagi kok, sama Tante Gita juga yah," jawab Kiki.
"Ga mau, Tante Kiki aja yang main," jawab Tiara lagi dengan cueknya. Gita nampak agak kecewa dengan jawaban Tiara. Tapi mau gimana, masa ucapan anak kecil mau di sela. Sedangkan Kiki nampak ga enak dengan Gita.
"Iya-iya nanti Tantenya main lagi kok, sekarang semuanya makan dulu ya," ucap Mba Endang menengahi. Tiara nampak senang. Sedangkan Gita dan Kiki hanya tersenyum.
"Makan ku mana ma?" tanya Mas Rizal minta diambilkan makan seperti biasanya.
"Ambil sendiri! Manja baget!" jawab Mba Endang. Aku, Kiki dan Gita lagi-lagi tertawa cekikikan. Tiara tidak terlalu mengerti dengan maksut dari ucapan mamanya. Justru malah ikut menimpali.
"Iya nih papa manja, udah gede juga masih minta diambilin makan. Kaya aku aja, dasar papa manja," ucapnya tanpa bersalah. Membuat kami semua tertawa.
"Ian, nanti bis makan kabari bapak sama ibuk ya. Mereka udah tau kamu pulang, tapi pasti pengen denger suara kamu langsung," pesan Mba Endang sambil menyerahkan piring makan ke Mas Rizal. Di mulut aja galak, hatinya mah tetep sayang banget ama suaminya. Hehehe. Seandainya istri ku nanti kaya Mba Endang. Semoga.
Kami berenam makan bersama. Dengan lauk seadanya tapi rasanya luar biasa enaknya. Gita yang awalnya aku pikir tidak akan suka, nyatanya malah nambah dan berkali-kali memuji masakan Mba Endang. Kalau Kiki sih memang sudah pernah ngerasain, jadi ga terlalu kaget.
"Aku belum pernah ngerasain suasana makan malam dan makanan seenak ini lagi setelah Almarhum mama meninggal, beda aja rasanya," ucap Gita ditengah-tengah acara makan kami.
"Bedanya?" tanya Kiki.
Betul suasana makan seperti ini memang sangat hangat. Tapi mungkin karena aku sudah terbiasa jadinya sudah biasa saja. Mungkin Gita sudah lama tidak merasakannya.
"Susah dijelasin nya Ki. Pokoknya enak aja. Aku rindu dengan momen seperti ini, yang tidak aku dapat kan lagi semenjak mama meninggal, hiks...eh...ehmm...maaf...jadi baper kan...hiikkss...maaf...," ucap Gita merasa bersalah karena membuat suasana menjadi sedih. Dia langsung mengusap air matanya.
"Aku boleh sering-sering main kesini yah Mba...," lanjutnya sedikit merengek. Hmm...manjanya keluar batin ku.
Iya Git...main aja kalau mau main kesini," jawab Mba Endang sambil tersenyum.
"Ajak papa mu ya Git kalau mau kesini," tambah Mas Rizal.
"Siap Mas," balas Gita sambil mengacungkan jempol.
Acara makan terus berlanjut. Hingga selesai, obrolan masih terus berlanjut ke hal-hal yang ringan. Termasuk jadwal ujian susulan ku. Mba Endang secara khusus meminta bantuan pada dua gadis cantik ini untuk membantu ku mengikuti ujian susulannya. Tentu saja mereka menyanggupi dengan senang hati. Selesai makan, para wanita kecuali Tiara langsung membereskan meja makan. Termasuk mencuci piring kotor. Aku dan Mas Rizal pindah ke ruang tamu.
"Ian," panggil Mas Rizal membuka pembicaraan.
"Ya mas?"
"Mumpung Mba mu dan yang lain masih di belakang, Aku mau ngomong sesuatu."
"Apaan tuh?"
"Kamu waktu itu nanya kan tentang biaya rumah sakit selama kamu dirawat."
"Iya mas."
"Aku mau jujur, tapi jaga rahasia ya!"
"Oke."
"Setahu kamu siapa yang menanggung semuanya?"
"M-mas kan?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Pak Weily."
"Hah? Pak Weily?"
__ADS_1
"Sstthhh..."
"Mas ndak sedang bercanda kan?"
"Aku serius, dan aku mau kamu jaga rahasia ini terutama ke Mba Mu. Jangan sampai dia tau. Itu amanah dari Pak Weily, ngerti!" ucap Mas Rizal serius. Lebih serius dari biasanya.
"Ngomongin apaan sih pada bisik-bisik?" tanya Mba Endang yang baru saja datang bergabung. Diikuti dua bidadari cantik dan satu malaikat kecil yang selalu ngintilin di paling belakang.
"Eh, enggak, ga ngobrol apa-apa kok, kamu itu ngagetin aja," balas Mas Rizal.
"Kalau ga ngobrolin apa-apa kok kaget gitu?" tanya Mba Endang lagi dengan nada curiga.
"Cowok emang gitu Mba, kalau ada apa-apa suka sembunyi-sembunyi, jewer aja Mba, hihihi," Gita memanas-manasi. Ni anak emang bisa banget. Beda banget dengan Kiki yang lebih kalem.
"Iya ntar Mba jewer. Mereka berdua sama aja tuh Git. Sukanya main rahasiaan," balas Mba Endang.
"Ntar aku bantuin deh jewer si Ian nya, hehehe," balas Gita lagi.
"Mba mu udah dapet sekutu tuh Ian, kudu siaga kita sekarang, hahaha," canda Mas Rizal. Selama ini Aku dan Mas Rizal memang lebih sering jadi satu blok sendiri. Lawannya tentu saja Mba Endang dan si kecil Tiara.
"Haha, iya Mas," balas ku sambil tertawa.
Semuanya kini telah berkumpul di ruang tamu. Aku dan Mas Rizal di paling ujung. Di tengah ada Mba Endang dan Gita. Sedangkan Tiara yang terus-terusan nempel dengan Kiki ada di dekat dengan pintu. Aku sebenarnya masih heran dengan sikap Tiara yang kolokan banget sama Kiki. Tapi karena Kiki nya sepertinya juga seneng-seneng aja, ku pikir biarin aja lah.
"Gita sama Kiki mau pulang jam berapa? maaf bukannya ngusir ya tapi ga enak sama tetangga kalau cewek mainnya kemaleman," tanya Mas Rizal basa-basi.
"Eh, oh iya, ini juga udah mau pulang kok Mas, iya kan Ki?" jawab Gita agak kaget.
"I-iya, keasikan main jadi lupa waktu Mas, hehe," jawab Kiki tak kalah kagetnya.
"Dianterin ya Git, Ki, sama Mas Rizal" ucap Mba Endang menawarkan.
"Ah, enggak Mba, kita naik taxi aja, iya kan Ki," tanya Gita ke Kiki lagi meminta persetujuan.
"Iya, kita naik taxi aja Mba berdua ndak papa," jawab Kiki.
"Ya udah, hati-hati ya nanti, aku cariin taxi deh kalau gitu," ucap Mas Rizal lalu bangkit dan melangkah keluar rumah.
"Gita, Kiki, Mba bungkusin lauknya ya, masih banyak tuh," tawar Mba Endang.
"Ndak usah Mba, nda usah repot-repot," jawab Kiki menolak dengan sungkan.
"Boleh Mba kalalu ga ngrepotin, hehe," jawab Gita mengiyakan hampir bersamaan dengan penolakan Kiki.
"Hahaha, kalian ini jawabannya bisa beda gitu. Mba bawain ya buat kalian," ucap Mba Endang lagi lalu bangkit.
"Gita! malu tau," protes Kiki berbisik.
"Rejeki ga boleh ditolak, kalau kamu ga mau buat aku aja, hahaha," balas Gita.
"Enak aja weeek," protes Kiki lagi.
"Tuh kan, mau juga kan, pakai malu-malu, haha," ejek Gita.
Aku hanya tersenyum melihat perdebatan kecil di antara mereka berdua. Seandainya yang duduk disitu sekarang adalah Diah, sungguh aku tidak butuh lagi apapun yang lain. Aku hanya butuh kamu Di, maafin aku yang ga bisa nepati janji ku, ucap ku dalam hati.
"Kenapa Ian? Kok murung? Diah lagi?" Kiki membuyarkan lamunan ku.
"Endak kok,” jawab ku berbohong.
"Kok pada bengong?" ucap Mas Rizal yang ternyata sudah balik dan sudah dapat taxi.
"Eh enggak Mas, hehe," jawab Gita.
"Ga usah galau gitu Ian mau milih yang mana, haha," ucapnya yang langsung ngeloyor masuk. Sialan ni abang ngeledekin mulu sukanya batin ku. Tapi, apa iya ada nya Gita dan Kiki di sini adalah sebagai pengganti Diah. Ah tidak, tidak mungkin. Terlalu cepat.
Tidak lama kemudian muncul Mba Endang yang sudah membawa dua bungkusan plastik berisi makanan. Di belakangnya ada Mas Rizal yang menggendong Tiara. Tiara nampak sedih melihat Kiki akan segera balik. Ya ampun.
"Dah nih, Mba bungkusin satu-satu buat berdua, seadanya ya. Kalau kapan-kapan mau main lagi, silahkan, Mba seneng kok, jadi ada temennya. Di sini ada dua cowok rese dan nyebelin soalnya, hihihi," ucap Mba Endang.
"Aku juga termasuk Mba?" tanya ku.
"Iya, kamu juga, sama nyebelinnya" balasnya lagi. Kiki dan Gita ikutan tertawa.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, setelah berpamitan, dua gadis cantik itu pulang juga. Tinggal kami berempat lagi. Sepi lagi deh. Jam segini Tiara udah siap-siap mau tidur. Aku lalu teringat Ibuk. Oiya, aku harus mengabari keluarga di kampung. Ku ambil HP ku dan langsung ku hubungi HP Binar.