AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 28


__ADS_3

Kalau soal anak itu, gimana sih cerita yang sebenarnya?” tanya ku pada Gita saat kami berdua sudah berada di dalam mobil.


“Waktu di hutan?”


“Iya…”


“Dia sih ngaku nya ga sengaja lewat situ.”


“Kamu ndak nanya dia dari mana?”


“Kata nya abis nengokin sodara yang rumahnya ga jauh dari perkemahan itu.”


“Terus?”


“Untungnya dia ga sendiri, sama pamannya kalau ga salah, intinya rombongan lah, lalu dia yang nganter aku ke perkemahan, sedangkan rombongannya itu yang nolongin kamu, wah kalau ga ada mereka mah aku ga tau apa yang bakalan terjadi.”


“Nasib Andre dan kawan-kawannya sekarang gimana?” tanya ku.


“Ga tau, papa yang urus. Udah ah ga mau bahas masalah itu lagi. Ga kebayang kalau kamu sampai ga...”


“Yang penting ada hikmah di balik itu semua, kamu jadi anak manis nya pak Weily lagi.”


“Iiih…Ian jangan bilang anak manis mulu napa siih?” balasnya manja.


“Lah kenapa?” tanya ku dengana aneh, di puji ga mau.


Kan Gita jadi malu, hihihi.”


“Di puji kok malu.”


“Hihihi, emang beneran manis yaah?”


“He’em, apalagi kalau cerita soal mba Endang dan Kiki, manis nya bertambah berkali-kali lipat, hehehe.”


“Itu sih maunya kamu aja, emang pengen tau banget apa?”


“Iya lah.”


“Hmmm…”


“Cerita aja sih, ndak mungkin juga aku bilang ke mereka kalau kamu cerita, aku cuma pengen tau aja…”

__ADS_1


“Janji?”


“Iya janji.”


“Ya udah deh aku cerita, tapi ini beneran ya jangan bilang ke mereka kalau aku cerita?”


“Iya janji, demi Tuhan dan semua yang ada di antara langit dan bumi.”


“Ya, waktu itu memang mba Endang marah besar sama aku setelah tau kalau Andre dan Aku ada hubungannya dengan kejadian waktu kamu nganter hardcase itu.”


“Trus?”


“Selain mba Endang, Kiki dan Doni juga. Intinya semua sangat marah kepada ku. Aku pun waktu itu juga marah pada diri ku sendiri. Kamu, yang sebelumnya pernah aku gampar, pernah aku maki-maki, pernah di gebukin karena aku, tapi kamu juga yang waktu itu jadi orang yang mau mengorbankan nyawanya untuk ku. Jujur aku benar-benar malu. Malu sama diri ku sendiri.”


“Hmm…”


“Aku lalu bilang ke papa kalau aku benar-benar nyesel dan mau ngelakuin apapun asal keluarga kamu, Kiki dan Doni mau maafin aku.”


“Akhirnya?”


“Yang aku denger sih papa sampai sujud di hadapan mba Endang minta aku di beri kesempatan sekali lagi. Papa mau semuanya diselesaikan dengan kekeluargaan. Papa benar-benar hanya minta kesempatan sekali lagi. Kalau aku berulah lagi, papa sendiri yang akan menyerahkan ku, plus diri nya. Papa bersedia ikut menanggung akibatnya.”


Dan kamu sadar kesalahan kamu?”


“Emang kamu ndak ikut waktu pak Weily minta maaf itu?” Gita langsung menggeleng.


“Aku ga ikut karena aku benar-benar takut,” jawabnya dengan lemas.


“Setelah itu mba Endang mau ambil jalan damai?”


“Iya, aku lalu rutin nengokin kamu. Awalnya memang sangat kaku, tapi pada akhirnya mba Endang mau menerima ku.”


“Mba ku itu memang ndak ada dua nya,” ucap ku memuji kakak kandung ku sendiri itu.


“Setuju, aku paham sih bila dia begitu marah sama aku, dan sekaligus kagum dia masih mau berbesar hati memaafkan ku.”


"Ngomong-ngomong ini kita mau kemana?" tanya ku saat mobil yang kita naiki berbelok ke sebuah gang kecil di pinggiran Kota jakarta. Aku sepertinya baru sekali ini pergi ketempat ini. Suasanya masih cukup asri, pepohonan masih banyak tumbuh di kiri kanan sepanjang jalan yang aku lewatin tadi. Aku sampai tidak percaya bahwa tempat seperti ini tidak jauh dari Jakarta.


"Ntar juga tau. Eh iya, kamu ga bisa nyetir mobil ya?" tanya nya.


"Hehehe, ndak bisa. Belum butuh juga kayanya, kan ndak punya mobil," balas ku polos.

__ADS_1


"Jangan bilang ga punya, belum punya gitu dong," pesannya.


"Eh iya belum punya."


"Belajar aja sih, ambil kursus gitu, cowok mah ga ada ruginya bisa nyetir mobil, kali aja lain kali kita bisa jalan bareng lagi, kamu setirin aku deh," ucapnya saat mobil sudah terparkir di halaman sebuah rumah.


Kamu, tidak sedang lagi usaha ngajak aku kencan kan?" tanya ku sama seperti yang dia tanyakan tadi pagi. Tidak ada jawaban darinya. Hanya tawa yang keluar dari mulut kami berdua.


"Rumah siapa ini Git?"


"Rumah ku dong," jawabnya bangga.


Rumahnya? Seperti ini? Bukan aku menganggap jelek rumah ini, tapi ini bukan Gita banget. Halaman rumah ini cukup luas, namun hanya halaman biasa saja. Tidak ada yang menarik, tapi lumayan rapi dan bersih.


"Rumah kamu? Kamu tinggal disini gitu?"


"Kenapa? Bukan aku sih, tapi hati ku yang tinggal di sini. Di sini adalah rumah tempat aku pulang dan berteduh," jawabnya dengan yakin yang membuat ku semakin tidak memgerti. "Dari pada bingung mending turun yuk, bantuin aku nurunin barang-barang," ajaknya. Aku yang sempat bengong tadi akhirnya ikut turun. Gita! Ya, ya, ya, masih banyak hal yang belum aku tau tentang diri mu. Tidak masalah.


Oiya, saat diperjalanan tadi, kami berdua sempat mampir ke sebuah minimarket membeli berbagai macam keperluan sehari-hari. Aku tanya buat siapa, katanya untuk kebutuhan bulanan. Sebenarnya aku tadi tidak percaya karena gak mungkin seorang Gita berbelanja seperti ini sendiri jika hanya untuk kebutuhan di rumah mewahnya. Pekerjaan asisten rumah tangga itu. Tapi kalau dia meminta ku untuk membatunya menurunkan barang-barang itu di sini, sepertinya ketidak percayaan ku tadi sudah terjawab.


Sekilas tentang rumah ini, tidak terlalu besar, tapi bukan tipe rumah RSS juga. Namun yang pasti halamannya cukup luas. Meskipun halamannya masih rumput dan tanah, tapi sangat bersih, tidak ada sampah sama sekali. Keren. Kami berdua lantas turun dari mobil. Saat kami berdua turun itu, tiba-tiba dari dalam rumah secara berbarengan keluar belasan anak-anak yang rata-rata berusia, mungkin sekitar lima sampai sepuluh tahun.


"Kak Gita datang...Kak Gita datang..." teriak mereka sambil berlari menghambur ke arah Gita. Dibelakang mereka ada satu anak, kayanya masih balita, dengan lucunya juga berlari ke arah Gita. Dia menjadi anak paling terakhir. Tapi semangatnya tidak kalah dengan yang lainnya.


"Kakak..." teriak anak itu dengan suara yang masih agak cadel. Begitu sampai, Gita langsung menggendong balita tadi. Aku bisa melihat rona bahagia dari mereka semua, termasuk Gita sendiri. Gita sendiri sempat menoleh ke arah ku dan tersenyum. Beberapa anak nampaknya menyadari keberadaan ku dan menatap ke arah ku heran.


"Itu siapa kak?" tanya salah seorang anak laki-laki sambil menunjuk tepat ke arah ku. Aku sempat bingung namun Gita buru-buru menjawabnya.


"Eh, itu teman kakak. Namanya Kak Alfian, tapi kalian bisa panggil Kak Ian aja. Ayo semuanya, salim dulu sama Kak Ian," jelas Gita ke mereka semua dengan lembut. Anak-anak itu lalu melangkah ke arah ku. Gita mengangguk ke arah ku. Aku pun ikut maju ke depan menghampiri mereka semua. Dan kemudian anak-anak itu dengan rapi berbaris antri salim mencium tangan ku. Terakhir, Gita ikut melangkah ke arah ku.


"Ayo, Aldi juga salim sama Kak Ian," perintah Gita. Oh si anak paling kecil ini namanya Aldi. Awalnya Aldi ragu, namun kemudian dia mengulurkan tangannya. Langsung ku sambut dan menyorongkan tangan ku ke arah keningnya.


"Semuanya udah salim kan sama Kak Ian, sekarang waktunya masuk, lets gooo. Andri, Rian, ehmmm...sama Riko bantuin Kak Ian ya bawa barang-barang," perintah Gita ke tiga anak laki-laki yang paling besar diantara semuanya.


"Oke Kak," balas mereka serentak.


Pikiran ku sekarang mulai menerka-nerka tentang Gita dan anak-anak itu. Kalau benar dugaan ku, maka mereka ini adalah...


Yuk Kak," ajak salah seorang dari mereka yang membuyarkan lamunan ku barusan.


"Eh, ayuk," balas ku sambil tersenyum.

__ADS_1


Aku dan ke tiga anak tersebut lalu masuk dengan masing-masing menenteng kantong plastik di kiri dan kanan. Total ada sepuluh kantong, empat di aku dan enam dibawa mereka bertiga, masing masing membawa dua kantong.


Sambil berjalan, aku membatin lagi. Gita Gita Gita. Aku pikir aku sudah tau semuanya tentang kamu. Ternyata aku salah. Masih banyak hal yang kamu sembunyikan tentang diri mu. Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan pada ku Git? Hmmm...Apapun itu, semoga sesuatu yang positif.


__ADS_2