AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 17


__ADS_3

Hoaahhhmmmm..."


Aku menguap panjang pagi ini. Tapi sebenarnya termasuk siang untuk ukuran rumah ini. Seminggu ini aku memang bangunnya selalu agak siang, aji mumpung. Mumpung Tiara belum balik. Meskipun sekarang baru jam enam lewat, karena biasanya adzan subuh atau paling siang jam lima pintu kamar ku sudah ada yang mengetuk. Entah itu Mas Rizal, Mba Endang, atau Tiara yang membangunkan ku. Tapi kalau Tiara bukan mengetuk lagi, tapi menggedor.


'DUG DUG DUG'


"Om Ian...!! Bangun...!! Sholat Subuh...!!"


Begitulah kira-kira dia kalau membangunkan ku. Pasti dengan berteriak. Bener-bener tidak nyantai. Suara khas anak umur lima tahun yang hampir setiap pagi selalu menjadi seperti alarm buat ku. Rese. Tapi tetep aja ngangenin. Ahhh...kangen Tiara.


Dengan agak malas aku bangun dan keluar dari kamar. Namun hanya berpindah tempat. Karena kemudian aku melanjutkan tidur-tiduran ku di atas sofa panjang ruang tengah. Meraih remote tv dan menyalakannya. Sekarang ini lagi heboh-hebohnya pemberitaan mengenai seseorang yang katanya bisa menggandakan uang gitu. Ya elah, jaman udah modern gini masih aja ada yang begituan. Tapi ternyata banyak juga yang tertipu. Dasar. Orang kalau kebanyakan ngimpi tanpa usaha ya gitu. Punya duit ya mending buat usaha..

__ADS_1


Ya sudah lah, biarkan saja itu urusan mereka. Urusan ku adalah gimana usaha hardcase yang diamanahkan oleh mas Rizal kepada ku ini terus berjalan. Oiya, karena sekarang usaha kecil-kecilan itu aku yang megang, maka aku sekarang jadi bos nya. Karyawannya? Dua orang yang dulu kerja sama mas Rizal itu aku tarik lagi.


Sebenarnya aku juga masih ikut kerja. Tapi porsinya ga terlalu banyak. Dan yang ringan-ringan aja. Palingan bagian finishing yang memang butuh ketelatenan dan kerapian. Selain itu waktu ku sekarang sudah mulai penuh dengan jadwal kuliah. Belum lagi kalau misal aku diterima di BEM. Aku pasti akan semakin sibuk. Dan belum ditambah lagi dengan kemungkinan urusan ku dengan si nona galak Gita. Gita Ratna Puspita. Nama yang cantik.


Ngomong-ngomong soal BEM, seleksi ke dua adalah membuat semacam program kerja, atau rencana jangka panjang untuk BEM FE, atau apapun itu namanya yang nanti harus dipresentasikan di depan Presiden BEM, yang jadwalnya adalah hari senin minggu depan. Sekarang masih sabtu tapi program kerja ku sudah selesai. Alhamdulillah.


Aku mengambil tema tentang kewirausahaan. Rencana ku adalah menumbuhkan minat mahasiswa terhadap wirausaha. Daripada wira wiri cari kerja, mending wirausaha aja. Jadi kaya iklan.


Dalam program kerja ku, aku akan membuat semacam seminar atau mungkin workshop tentang wirausaha yang terbuka untuk mahasiswa FE. Pembicaranya? Aku punya banyak chanel sekarang. Siapa lagi kalau bukan pelanggan hardcase ku yang sembilan puluh persennya adalah seorang wirausahawan. Mereka semua adalah relasi Mas Rizal. Kalau perlu ntar Mas Rizal yang aku undang. Hahaha. Lucu ngebayangin nya.


Hanya, bedanya dia seperti menjaga jarak dengan ku. Pasti, pasti dia takut. Kalau waktu itu dia pernah melabrak ku, sekarang mungkin dia akan berfikir dua kali. Tapi aku tetap waspada. Naluri ku mengatakan seorang Gita yang hatinya sudah keras seperti itu pasti tidak akan tinggal diam setelah perbuatan ku malam itu. Cepat atau lambat, dia pasti akan membalas ku. Aku hanya tidak tau kapan dan bagaimana dia akan melakukannya.

__ADS_1


Sekarang kita tinggalkan Gita, kembali lagi ke hardcase ku. Setelah diberi mandat untuk menjalankan usaha ini, aku jadi semakin tertarik dengan dunia usaha. Ternyata seru dan menarik. Aku menyesal kenapa tidak dari SMA dulu belajarnya, dalam artian praktek langsung. Aku dulu kebanyakan main, selain males juga. Kalau ga main PS di rental sepulang sekolah, ya paling tidur. Untungnya nilai-nilai ku lumayan bagus dan bisa lulus.


Pecel lele, Nasi goreng, Soto ayam, balik ke pecel lele lagi. Itu lah menu makan malam ku selama seminggu ini. Efek Mba Endang yang belum balik, terpaksa akh harus beli makan untuk makan malam. Sama seperti sekarang, aku sedang menunggu pesanan nasi goreng ku jadi. Untungnya di daerah ini, banyak penjaja makanan kalau malam. Jadi tidak perlu jau-jauh untuk beli makanan. Cukup jalan kaki.


Mba Endang dan keluarga kecilnya sekarang sudah di perjalanan. Berarti besok makan enak lagi. Maksutnya di sini bukan makan mewah lho ya. Tapi makan masakan rumahan yang rasanya ngalahin masakan restoran mewah. Menunya tetep, sederhana. Sederhana itu memang indah.


Setengah jam yang lalu Mba Endang mengabari kalau sudah sampai tol Cikampek. Sudah deket berarti.Tol Cikampek deket? Iya, kalau dibandingin sama Jogja ya jauh lebih dekat. Lagi pula kebanyakan orang jawa suka begitu. Ada yang bilang dekatnya orang jawa itu lewatin bukit dulu. Hahaha. Gimana jauhnya ya?


Malam ini aku sudah tidak ada kerjaan lagi. Semua sudah rapi. Tinggal kirim besok. Ada empat hardcase. Dan, aku akan mengirimnya menggunakan motor. Motor Mas Rizal. Oiya, sekarang malam minggu ya? Ah, malam minggu kemarin aku lagi kentjan sama Diah. Sekarang, sendiri lagi. Nge jomblo lagi. Sms aja ah, kangen.


To: Diah Nawang Wulan said:

__ADS_1


Heiii cewek...lagi apa? Kangen deh...


Begitulah isi sms ku yang setelah aku baca malah jadi agak geli aku. Hahaha. Bodoh lah. Tidak lama kemudian pesanan nasi goreng ku sudah jadi tapi belum ada balasan dari Diah. Ya sudah langsung pulang saja, menikmati nasi goreng, dalam kesendirian. Nasib.


__ADS_2