
Setelah dibukakan pintu dan masuk, aku langsung meletakkan tas ku di kamar yang memang telah disediakan untuk ku. Rumah ini punya satu kamar tidur utama, dan dua kamar tidur anak. Sedangkan mba Endang dan mas Rizal baru memiliki satu orang anak perempuan, namanya Tiara Zulkarnaen. Umurnya sekarang lima tahun dan baru masuk TK. Jadi pas tuh kamar satu buat aku.
Rumah mas rizal ini cukup besar untuk lingkungan sini. Eh salah, bukan rumahnya, tapi tanahnya. Ada halaman depan dan samping juga. Nah halaman samping inilah yang biasa digunakan untuk mengerjakan usaha sampingannya. Mas rizal punya usaha sampingan berupa jasa pengepakan dan pembuatan hardcase untuk barang barang pecah belah. Tapi kadang tidak terbatas pada barang itu saja, semua barang yang bisa di “duit” in, pasti akan dia kerjakan.
"Gimana perjalanan semalam? Bisa tidur di bus?", tanya mas Rizal saat aku tiba di ruang keluarga. Aku melihat sudah tersedia teh hangat dan beberapa macam kue yang di hidangkan di meja makan. Ruang keluarga dan ruang makan memang menjadi satu dalam sebuah ruangan besar.
"Bisa sih mas, tapi tetep aja berasa juga capeknya, pegel, hehehe."
"Ya udah, hari ini kamu istirahat dulu aja, mulai bantu bantu kerjanya besok aja. Oiya diminum dulu tuh teh manis dah di buatin tadi sama mba mu."
"Iya mas, eh mba endang mana mas?"
__ADS_1
"Tuh di kamar Tiara lagi bangunin bocahnya, dibiasain bangun pagi tapi susah"
"Ya wajar sih mas, anak kecil hehehe.”
Aku lalu duduk di meja makan dan meminum teh manis serta makanan kecil yang ada.
"Gimana? Udah tentuin belum mau lanjut dimana?” tanya mas Rizal lagi.
"Hehe, belum mas. Tapi nyari yang murah murah aja, yang terjangkau.”
"Iya tuh, dengerin mas mu, masalah biaya kamu ga usah mikirin. Yang penting kamu rajin dan mau bantu bantu di sini,” ucap mba endang yang baru keluar bareng tiara. Aku pun hanya tersenyum mengiyakan ucapannya.
__ADS_1
"Eh ada om iaaaan", teriak Tirara. Tiara yang melihat aku langsung berlari ke arah ku dan duduk di pangkuan ku.
"Eh tiara udah bangun. Mau sekolah ya? Sekolahnya pinter ga?", tanya ku.
"Pinter dong om, dapet bintang 5 terus, hehehe,” jawabnya membanggakan diri.
“Wuiiih, ponakan Om ini memang hebat,” puji ku kepada nya sambil mengusap lembut kepalanya. Anak ini selalu membuat ku gemas. Terakhir ketemu lebaran tahun lalu.
Akhirnya setelah berbincang bincang dan bercanda dengan tiara sebentar, aku dipersilahkan untuk istirahat. Aku pun ke kamar. Mas Rizal sepertinya juga akan segera pergi untuk cari objekan. Mba Endang juga seperti biasa akan melakukan pekerjaan rumah tangganya termasuk menyiapkan keperluan sekolah tiara.
Aku merebahkan badan ku di pembaringan. Akhirnya, jadi juga aku merantau ke kota ini. Aku harus kuat. Ga boleh males lagi. Harus bisa bantu-bantu apapun yang bisa aku bantu. Pekerjaan rumah pun akan aku lakukan. Aku tidak mau hidup gratis di sini. Begitulah tekad ku pagi ini. Sekaligus menyemangati diri ku sendiri.
__ADS_1
Pandangan ku menerawang ke atas. Melihat langit langit kamar. Tiba tiba terbayang wajah seseorang. Seseorang yang selama ini mengisi hati ku. Yang selalu menyemangati ku. Bahkan ketika aku harus meninggalkannya, dia tetap memberikan dukungan kepada ku, karena dia sadar ini adalah demi masa depan ku, dan mungkin masa depannya juga, bila kami berjodoh tentunya. Selain kedua orang tua ku, dia lah salah satu alasan ku berat meninggalkan kampung halaman ku.
Lagi apa ya dia. Kabarin sekarang apa ntar ya? Entar aja deh. Mata ku sudah terlalu capek. Tak sadar aku pun terlelap dalam tidur ku. Tapi sebelum itu aku masih sempat membatin, berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga Engkau memudahkan segala jalan yang aku tempuh. Aamiin.