
Dua minggu semenjak insiden itu,, kondisi tubuh ku kini sudah berangsur membaik. Meskipun masih belum kembali fit seratus persen, namun aku sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Hari ini aku akan mulai masuk kuliah lagi.
Waktu itu, Mas Rizal sempat akan melaporkan tindakan penganiayaan ini ke pihak kepolisian, tapi aku larang. Aku berdalih tidak ada bukti dan saksi. Dan tidak ada petunjuk apapun. Semuanya rapi. Kecuali Gita, yang entah kenapa malah dengan sengaja menunjukkan dirinya. Nantangin banget sih pikir ku. Tapi biar lah. Aku akan mendiamkan saja. Dia pasti merencanakan sesuatu lagi dibalik ini semua. Aku tidak mau masuk ke perangkapnya.
Total, waktu itu aku di rawat inap selama lima hari. Selama lima hari itu pula Mba Endang merawat dan menunggui ku. Aku sampai tidak enak. Bukan apa-apa, tapi tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu rumah tangga menjadi sedikit terganggu. Lebih ga enak lagi dengan Mas Rizal dan Tiara. Kasian Tiara, selama lima hari perhatian Mba Endang seperti terbagi menjadi dua. Antara aku, dan keluarga kecilnya. Selain itu, bagi Mba Endang, seminggu sebelumnya dia sudah merawat ibuk waktu beliau sakit, sekarang malah harus merawat ku.
Aku jadi teringat ketika Mba Endang kembali ke ruangan dimana aku di rawat, saat melihat ku telah sadar, dia langsung menghambur ke arah ku. Dan langsung menangis, pasti. Untung ada Kiki yang bantu nenangin. Tiara, nampak bingung dengan kondisi ku.
"Om Ian udah bangun ya dari bobo nya?"
"Iiiih...kok mama nangis ma? ga malu apa?" tanya Tiara polos waktu itu. Yang sontak membuat kami semua termasuk Mba Endang tersenyum menahan geli.
Untungnya, Mas Rizal masih memiliki pengertian yang cukup besar. Waktu itu, saat aku dirawat di hari ke dua, aku yang merasa sudah bisa ditinggal menyuruh mereka pulang saja. Kalau mau, balik besok lagi aja tapi mereka kekeh menunggui ku. Aku benar-benar terharu. Beruntungnya aku memiliki keluarga seperti mereka.
Selain mereka, ada juga teman kuliah ku yang menjenguk ku, tepatnya pas hari ke dua aku dirawat. Kiki, Doni, dan beberapa teman lainnya menjenguk ku. Gita? Mana mungkin. Khusus Doni dan Kiki, hari minggu kemarin menjenguk ku lagi ke rumah. Hampir seharian mereka berdua menjenguk ku.
"Kamu yakin mau kuliah hari ini?" tanya Mba Endang saat menyiapkan sarapan untuk kami semua.
"Iya Mba, sudah dua minggu lho, takutnya makin ketinggalan ntar kuliahnya."
"Ya udah, atau mau dianter Mas Rizal?" tanya Mba Endang.
"Eh, ndak perlu, ndak usah, bisa sendiri kok," jawab ku yang langsung menolaknya. Aku paling tidak bisa kalau harus merepotkan orang. Apalagi orang yang kita tua kan. Aku lalu memulai sarapan. Sepiring nasi plus telor dadar dengan kecap. Menu sarapan yang paling aku suka.
"Om Iaaannnnn," teriak Tiara yang berlari ke arah ku sudah lengkap dengan seragamnya. Manis sekali.
"Aduuuh...cantik banget ini ponakan Om," puji ku pada Tiara.
"Hehehe, tante Kiki kapan main lagi om?" tanya nya tiba-tiba dengan polos nya.
"Eh, ehmmm..." aku bingung menjawabnya. Kenapa Tiara nanyain Kiki ya? Aku menengok ke arah Mba Endang yang ternyata juga menatap ke arah ku dengan bingung.
***
Begitu tiba di kampus, aku langsung menuju kelas. Oiya, aku sudah mengabari Doni dan Kiki kalau hari ini aku masuk kuliah. Agar mereka tidak terlalu heboh gitu pikir ku.Tapi nyatanya hampir sebagian anak-anak kelas langsung mengerubuti ku ketika melihat ku nongol di pintu kelas.
"Ian, gimana keadaan lo?"
"Udah sehat Ian?"
"Alhamdulillah ya sudah bisa masuk kuliah lagi, kita-kita kangen sama lo Ian."
Beberapa kalimat yang terucap dari mereka yang menyambut ku.
"Udah sembuh kok. Ini mah luka kecil," balas ku menyombong dengan sedikit melirik ke arah seorang perempuan, Gita. Dia ada di kelas juga sekarang. Ikut menyambut ku? Tentu saja tidak. Dia membalas pandangan ku dengan sinis.
"Masuk juga lu mas bro, luar biasa jagoan kita ini...," oceh Doni saat menjabat tangan ku dan merangkul bahu ku.
"Jagoan apaan? Masa jagoan babak belur?" balas ku.
"Lah itu, gue aja yang lu bilang slengekan ini belum pernah lawanin empat orang sekaligus, lu diem-diem preman juga, hahaha."
"Kamu kalau diem bisa ga sih Don?" protes Kiki tiba-tiba.
__ADS_1
"Minggir-minggir!" lanjutnya.
Doni pun minggir, memberi akses kepada Kiki yang ingin menyalami ku.
"Apa kabar Ian? Udah enakan badannya sekarang?" tanya nya lembut, dan teduh. Bikin tentram hati. Andai semua wanita di dunia ini punya tabiat yang sama seperti Kiki, tentu akan jadi sangat indah dunia ini.
"Alhamdulillah Ki, berkat doa kalian," ucap ku sambil duduk di antara mereka berdua.
Kami akhirnya ngobrol bertiga. Topik pembicaraan tak jauh-jauh dari materi perkuliahan. Mereka berdua secara bergantian memberikan informasi serta update apa saja selama aku tidak masuk dua minggu ini. Mulai dari materi perkuliahan, tugas, kuis, hingga jadwal ujian tengah semester yang akan berlangsung sebentar lagi.
Asik-asik mengobrol tiba-tiba kelas kami di kejutkan dengan kehadiran beberapa orang berpakaian rapi. Mahasiswa juga, tapi dilihat dari wajahnya, udah uzur. Hehe, maksutnya mahasiswa tingkat atas. Kalau anak baru biasa nyebutnya udah karatan. Ada-ada saja.
"Hi class...perhatiannya dong sebentar, ini...kelas 1 A2XX ya?" tanya salah seorang dari mereka. Seorang wanita dengan pembawaan yang dewasa. Berdiri paling depan diantara dua lainnya yang satu langkah di belakangnya. Masing-masing cewek dan cowok.
Kak Ayuuu..." teriak Gita dengan lebay sambil berlari ke arah wanita itu. Oiya, aku baru inget kalau wanita tadi itu adalah mahasiswa tingkat empat yang tak lain adalah President BEM yang sekarang. Aku inget sekarang dia lah yang mewawancarai ku waktu itu. Ada apa ya dia kesini? Dan..., kok Gita sepertinya akrab betul sama Mba Ayu?
"Hi...apa kabar Gita?" balas Mba Ayu masih dengan pembawaanya yang tenang dan kalem. Sedangkan Gita sendiri lebih ke arah yang heboh, histeris, SKSD, atau sejenisnya. Membuat ku malas melihatnya.
"Baik Ka, Kaka apa kabar?" tanya Gita balik. Masih dengan senyum-senyum ga jelas. Mungkin pikirnya dia mau nyombong di depan anak-anak bisa kenal dekat dengan President BEM.
"Baik juga, oiya selamat ya udah keterima di BEM, kita tunggu partisipasi mu satu tahun ke depan di BEM yah," balas Mba Ayu.
"Siap Ka, pastinya. Oiya Kaka Ada apa yah ke kelas aku?" tanya Gita dengan sok manis. Ni anak bener-bener bisa banget berubah-ubah karakternya.
"Oiya sampe lupa, Gita sih...hehe. Gini, sorry semuanya! Boleh minta perhatiannya sebentar?" tanya Mba Ayu dengan lantang namun tidak mengurangi sisi kelembutannya.
Semua perhatian anak-anak kelas lalu tertuju padanya. Termasuk Aku, Doni, dan kiki.
"Ehmm...di sini ada yang bernama Alfian Restu Kusuma?" tanya nya.
"Sa-saya Mba?" jawab ku sambil berdiri. Sedikit gugup. Entah apa yang membuat ku gugup. Karena dulu waktu di interview itu kita ngobrol biasa aja. Layaknya temen.
Owh, kamu," balas Mba Ayu.
"Bisa kita bicara sebentar?" ajaknya. Dia mengisyaratkan ku untuk maju kedepan.
"Tentu," aku lalu bergegas maju. Saat aku berjalan kedepan itu dia sedikit bergeser kearah pintu, yang artinya menjauh dari Gita. Dan ini tentunya harus membuat ku berjalan melewati Gita. Tentu saja momen ini aku manfaatkan untuk menyombong di depannya, karena ternyata yang di cari Mba Ayu adalah aku. Dan sesuai prediksi ku, wajahnya langsung berubah kesal gitu.
"Ada apa ya Mba?" tanya ku sedikit menunduk karena tinggi badan mba Ayu yang tidak terlalu tinggi. Perawakannya memang kecil. Mungkin tingginya hanya sedikit di atas bahu ku.
"Haha, kamu ini masih aja manggil aku Mba, tapi yo wes lah gapopo," balasnya sambil tertawa renyah. Dia nampaknya mulai inget dengan ku. Mungkin inget orangnya, tapi lupa nama. Makanya tadi dia tidak mengenali siapa Alfian sebenarnya.
"Emang dusun dia Ka, ya gitu deh," potong Gita yang masih mendengar pembicaraan kami.
"Eh, Gitaaa! ga boleh ngomong gitu, udah balik sana, aku ada perlu sama Alfian dulu," bela Mba Ayu.
Aku laku menoleh ke arahnya dan mengangkat tangan ku ke samping sebagai tanda aku tidak ada urusan dengannya. Jadi silahkan pergi atau diam saja. Dia terlihat semakin kesal.
"Kalian ini, berantem terus ya?" tanya nya pelan.
"Lah kok tau?" tanya ku bingung.
"Haha, lupakan. Oke, jadi gini, Aku sudah tau musibah apa yang menimpa diri mu," ucapnya. Berhenti sebentar untuk menarik nafas lalu melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku melihat kamu ada potensi, dan sayang kalau kamu tidak jadi masuk BEM karena suatu hal yang bukan kemauan mu."
"Tunggu, maksutnya apa ya?" tanya ku bingung.
"Aku, sebagai President's BEM atas nama organisasi akan kasih kamu kesempatan untuk coba presentasikan program kerja mu."
"Beneran Mba?"
"Iya lah, tapi ingat, tidak ada pengistimewaan dari kami. Kami hanya memberikan kesempatan saja agar kamu juga bisa menunjukkan apa yang kamu punya, dan apa yang kamu bisa.
Siap...waaah makasih Mba kalau gitu," ucap ku lalu spontan meraih tangannya, menjabatnya, dan mencium punggung tangannya. Beneran aku sungkem padanya. Beberapa temen langsung bersorak. "Modus, Ian Modus." Untung dia tidak menarik tangannya, pasrah gitu aja saat tangannya aku cium, jadi aku ga malu-malu amad.
"Udah-udah, malu tuh diliatin temen-temen mu," ucapnya sambil berusaha menarik tangannya. Aku pun lalu melepaskan genggaman tangan ku pada tangannya.
"Hehe, terus tau aku kena musibah itu dari mana?"
"Yang ngasih tau, minta namanya di rahasiain," jawabnya berbisik. "Tapi, pesen ku kalau kamu nanti tau siapa orangnya, entah dari siapa, berterima kasih lah. Dia perhatian banget sama kamu," jelasnya.
Perhatian dengan ku? Siapa?
"Siapa Mba?" tanya ku masih penasaran.
"Amanah bukannya harus di jaga kan?"
"Eh, iya sih."
"Ya sudah kalau gitu, urusan ku sudah selesai. Aku tinggal dulu ya. Semuanya, tinggal dulu ya. Belajar yang rajin biar pinter!" pesan Mba Ayu pada anak-anak yang disambut dengan tawa seisi kelas. Dia pun lalu pergi dengan kedua temannya tadi.
Aku lalu kembali kebelakang bergabung lagi dengan Doni dan Kiki.
"Ada apaan bro?"
"Ada kesempatan ke dua Don, ada yang kasih info ke Mba Ayu tentang pemukulan itu"
"****, kesempatan kedua, haha. Eh tapi siapa yang kasih tau?"
Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
"Siapapun orangnya dia pasti temen deket kita, yang care banget ama lu!" ucap Doni tegas.
Temen deket? Care? Mata ku memicing ke arah Doni, dia pun begitu. Lalu spontan kami berdua menoleh ke arah Kiki yang lagi sibuk menulis. Entah apa yang di tulis nya.
"Apa lihat-lihat?" tanya nya galak saat mendapati kami berdua memperhatikannya.
"Eh, endak Ki endaak…" jawab ku.
"Gapapa Ki, galak banget!" jawab Doni.
"Apa kamu bilang Don?" tanya Kiki lagi.
"Enggak," jawab Doni ketakutan. Haha, kadang suka lucu mereka berdua kalau berantem. Tidak ada tanggapan lagi dari Kiki, hanya sebuah pelototan mata yang di dapat Doni.
Lalu timbul pertanyaan di benak ku. Apa benar Kiki yang memberitahukan insiden itu ke Mba Ayu? Segitu perhatiannya kah dia pada ku? Lalu, kalau iya kenapa dia tidak ingin namanya diketahui? Bingung.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu perkuliahan dimulai. Semua memperhatikan apa yang disampaikan Dosen dengan khitmat. Semuanya, kecuali satu orang, Gita. Dari sudut mata ku, aku bisa melihat bagaimana bete, kesel dan marahnya dia saat tau aku diberi kesempatan kedua dari BEM. Haha, mang enak!