
Sampai di rumah aku langsung mengambil sendok ke dalam rumah tapi tidak langsung memakannya. Aku berencana menikmati nasi goreng ku di halaman samping. Sekilas tentang halaman samping ini, ukurannya memanjang sepanjang badan rumah, sekitar enam belas meter dengan lebar sekitar empat meter. Di bagian belakangnya dipasang semacam kanopi dengan atap genteng metallic. Sedangkan tiang-tiangnya terbuat dari bambu besar yang diikat dengan tali sabut warna hitam.
Ukurannya empat kali lima meter. Full dari tembok rumah sampai ke pagar samping. Sedangkan sisannya lagi, atau bagian yang tidak tertutup kanopi, dijadikan taman dengan beberapa macam bunga yang tumbuh di sana. Dari teras depan ke area yang tertutup kanopi ini dibuat semacam jalan setapak dari batu alam sebagai akses. Dan di ujung tembok depan ada sebuah kolam kecil yang di dalamnya hidup beberapa ikan mas.
Di halaman samping ini, atau area yang tertutup kanopi ini, atau yang biasa kami sebut sebagai 'kantor' ini fasilitasnya cukup lengkap. Untuk ukuran pekerja ya. TV ada, meski ukurannya cuma empat belas inch dan jadul. Tapi lumayan lah buat temen kerja. Selain TV juga ada sebuah Radio, jadul juga, plus speaker active. Di kantor ini ada sebuah lemari kayu tua yang digunakan sebagai tempat menyimpan peralatan kerja. Lalu sebuah meja, tua juga, digunakan untuk tempat mengerjakan hardcase nya. Mulai dari memotong bahan-bahan bakunya, merangkainya, hingga finishing. Semua dikerjakan di tempat ini. Semuanya serba tua.
Kembali ke nasi goreng yang aku beli tadi, baru aku mau menyuap untuk yang pertama kalinya, perhatian ku teralihkan pada notifikasi sms di hp ku yang baru saja berbunyi. Diah nih pikir ku. Langsung aku membukanya.
From: Nur Riski Handayani said:
Gimana persiapan pidatonya? Anteng bener, hehe...
Kiki? Tumben-tumbenan nih sms iseng gini. Lagi ga ada kerjaan apa ya? Balas ah.
To: Nur Riski Handayani said:
Pidato? Kaya caleg aja, hahaha. Ada apaan Ki?
Balas ku dengan sedikit bercanda. Tidak lama kemudian datang balesan darinya.
From: Nur Riski Handayani said:
Emangnya mau sms doang harus ada maksut dan tujuannya ya? hmm...
Langsung ku kirim balasan lagi.
To: Nur Riski Handayani said:
Ya enggak lah, hehehe. Kirain ada yang penting gitu.
Sms terakhir yang aku kirim ke dia, sekitar lima belas menit yang lalu. Dan tidak ada balasan lagi dari nya. Nih anak, kadang suka aneh, bin misterius. Aku melanjutkan makan ku. Sudah hampir habis. Setelah nasi goreng ku habis, aku lalu meraih remote TV dan memindahkan saluran ke stasiun tv swasta yang menyiarkan acara bola. Liga inggris. Dan malam ini yang main adalah, Arsenal. Oke, untuk bagian ini aku tidak akan bercerita banyak. Karena aku akan fokus menontonnya.
***
From: Mba Endang said:
Buka gerbang Ian, kita udah deket
Mba Endang mengabari ku kalau mereka sudah dekat. Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan ke depan dan membukakan gerbang untuk mereka. Dan benar, sepuluh menit kemudian sebuah mobil setengah tuah memasuki halaman depan rumah. Aku lalu mendekat. Kali aja ada barang bawaan yang perlu aku angkat. Selain pengen segera ketemu dengan si lucu dan gemesin Tiara. Tapi sayang, ternyata Tiara tidur dalam pelukan Mba Endang, yang setelah turun dari mobil langsung menggendongnya masuk ke dalam rumah. Aku sendiri lalu mencium tangan Mas Rizal.
"Bantu bawain barang Ian," ucapnya minta tolong.
__ADS_1
"Siaaap."
Aku lalu beralih ke bagian belakang mobil dan membuka pintu bagasi. Ada tiga tas besar. Dua ku bawa langsung dan yang satu dibawa sendiri oleh mas Rizal.
"Rumah aman Ian?" tanya mas Rizal begitu kami tiba di ruang tengah. Mba Endang masih di kamar Tiara. Tapi tidak lama kemudian dia keluar dan aku mencium tangannya.
"Aman Mas, terkendali. Ibuk gimana mba?" tanya ku ke Mba Endang.
"Udah bener-bener sehat, udah beraktifitas kaya biasanya," jelas Mba Endang.
"Alhamdulillah," balas ku lega. Terima kasih ya Allah. Engkau telah kembalikan kesehatan orang tua ku.
"Ada air panas ga Ian? Bikin teh manis dong, hehe," perintah Mas Rizal. Tentu saja aku langsung menyanggupinya. Dia rebahan di sofa ruang tamu. Mba Endang sendiri langsung masuk ke kamarnya, mungkin akan langsung mandi.
Yang acara di kampus mu itu apa Ian? BEM ya? Gimana jadinya?" tanya mas Rizal dari ruang tengah. Aku sendiri sekarang sudah di dapur untuk masak air, biar mateng.
"Lolos mas ke seleksi berikutnya."
"Owh, sukur deh. Kapan itu?"
"Senen besok mas."
"Mang seleksinya apa lagi?"
"Halah, ribet amat!"
"Ya namanya juga organisasi, hehe."
"Tapi emang kamu bisa bagi waktu? Kuliah mu, trus hardcase?"
"Ya dicoba aja dulu, ga ada ruginya mas berorganisasi tuh. Justru untungnya banyak. Jadi punya banyak kenalan baru, teman baru, bukannya mas Rizal yang ajarin begitu?"
"Iya sih, tapi takut kamunya ga bisa atur waktu aja."
"Insyaallah bisa mas."
"Ya mudah-mudahan, trus hardcase gimana?"
"Apanya gimana?"
"Ada orderan ga?"
__ADS_1
"Ada tuh empat biji punya pak James."
"Empat doang ya? Lagi sepi nih kayanya ya akhir-akhir ini?"
"Iya mas, sepi. Tapi ya lumayan lah tiap minggu lima hardcase mah ada aja."
"Iya, tetap harus bersyukur, berapapun banyaknya."
"Yoi, nih tehnya," aku memberikan secangkir teh manis panas untuk sang kakak ipar yang selalu menginspirasi ku.
"Trus mau di kirim kapan tuh hardcase?"
"Besok paling, udah rapi kok."
"Owh, ya sudah. Ati-ati besok ngirimnya."
"Siiip...," balas ku.
Kami berdua lalu menonton tv bareng, diselingin dengan obrolan-obrolan ringan. Sedangkan Mba Endang sendiri masih belum selesai mandinya. Biasalah cewek, mandinya kadang seabad. Bingung aku, kenapa bisa selama itu? Tapi ya sudahlah, biarkan saja.
***
"Kamu yakin mau ngirim itu pakai motor? Sore ini?" tanya mba Endang saat aku masih sibuk mengikat empat hardcase ukuran sedang langsung di jok belakang motor.
"Kenapa emangnya?" tanya ku balik.
"Ya gapapa, ati-ati aja yang penting!" pesan mba Endang.
"Wuaaaaa tinggi bangeeet!" teriak Tiara yang tiba-tiba muncul dan memperhatikan tumpukan hardcase berbentuk box itu di jok belakang motor.
"Hehehe, iya tinggi, lebih tinggi dari Tiara ya," balas ku sambil tersenyum dan mengusap rambut kriwil nya.
"He'eh. Itu mau dibawa kemana om?" tanya nya tiba-tiba. Wajahnya masih dengan mimik takjub dan kagum. Lucu. Dia yang rese dan ngeselin ini ternyata liat tumpukan box aja udah seneng.
"Ehmm...ke sono, tempat nya Pak James".
"Pak James siapa?" tanya nya lagi.
"Ya...yang beli kotak ini," jawab ku menjelaskan.
"Ooo...gitu..." balas nya sambil manggut manggut sambil seperti memikirkan sesuatu. Tapi entah apa yang ada dipikirannya, aku juga tidak mau menanyakannya karena takut akan bertambah panjang. Dia kan ceriwis. Jadi aku mending diam saja.
__ADS_1
"Udah yuk masuk, om Ian nya lagi sibuk," ajak mba Endang ke Tiara. Sepertinya dia kuatir Tiara tiba-tiba pengen ikut aku. Bukannya ga boleh, tapi pasti akan ribet. Mereka berdua pun masuk. Aku kembali fokus mengikat hardcase ini lebih kuat lagi. Sebagai antisipasi. Sesuai dengan hukum Fisika yang pernah kupelajari, dimana momentum benda yang bergerak akan berbanding lurus dengan 'masa' nya. Artinya semakin besar masa benda, maka semakin besar pula momentum yang dihasilkan. Hubungannya dengan bagaimana menciptakan inovasi usaha? Tidak ada. Ga penting juga. Yang penting sekarang adalah waktunya ngirim ini hardcase dan terima bayarannya.