AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 24


__ADS_3

Aku membuka mata dan sadar ketika disekeliling ku berdiri empat bidadari cantik. Bidadari? Benarkah mereka bidadari? Lalu, tempat apa ini? Aku berbaring disebuah singgasana emas dan beralaskan permadani yang halus. Aku mengenakan baju kebesaran yang terbuat dari sutra yang lembut. Apa aku sudah di Surga? Jadi seperti ini surga?


"I-ian? Ian, sudah sadar nak? Nasib mu kok ya gini banget le"


Sayub sayub aku mendengar suara itu terucap dari salah seorang bidadari tadi. Eh tapi, sepertinya aku mengenal pemilik suara itu?


"I-ibuk?" Ucap ku lirih. Bagaimana Ibuk bisa ada di sini? Dan itu, Mba Ayu? Kiki? Mba Endang? Kenapa mereka juga berkumpul di sini?


"Ian? Kamu udah sadar?" tanya Mba Endang.


"A-aku di mana?" tanya ku balik.


"Ki, tolong panggilin dokter ya," ucap Mba Endang.


"Iya mba," balas Kiki, lalu pergi meninggalkan ruangan ini.


Sedangkan aku sendiri masih bingung dengan semua ini.


"Argh..." aku berusaha memegang kepala ku yang masih terasa sangat sakit dan nyeri.


"Sudah, kamu tenang dulu ya Ian, jangan dipakai buat mikir dulu, kamu aman di sini," ucap Mba Ayu lembut.


Aku merasa seperti deja vu.


"Argh..." aku baru ingat.


Terakhir kali aku tersadar adalah malam itu, saat aku berhadapan dengan...


"Argh..." aku kembali mengerang. Mencoba mengingat sesuatu dan yang aku ingat adalah… Gita.


"Gita? Gimana keadaan Gita?" tanya ku dengan panik.


"Gita aman Ian, kamu tenang aja," jelas Mba Ayu.


"Benarkah? Di-dimana Dia sekarang?" tanya ku lagi.


Tidak ada jawaban dari mereka bertiga. Mba Ayu sepertinya nampak ragu ingin menjawabnya. Sedangkan Mba Endang, raut muka nya mendadak masam.


"Sudah le, kamu tenang saja, ndak usah mikirin apa-apa dulu ya," jawab Ibuk. Tentu saja aku mengiyakan. Tapi, dalam hati aku masih penasaran. Kenapa mereka seperti menyembunyikan sesuatu?


Tidak lama kemudian Kiki dan beberapa orang lagi masuk. Ada seorang dokter, Bapak, Mas Rizal, dan Tiara. Aku langsung tersenyum melihat kemunculan Tiara. Anak itu, selalu membuat ku tersenyum. Si dokter langsung memeriksa ku. Sedangkan yang lainnya dengan antusias memperhatikan ku. Entah apa yang diperiksa si dokter. Aku tidak terlalu memperhatikan. Kepala ku masih terlalu pusing. Tapi aku tidak tau apa yang aku pusing kan. Seperti ada sesuatu yang..., ah iya. Diah.


"Diah..." ucap ku dengan agak berteriak sambil berusaha bangkit.


"Ian, tenang nak, tenang, biar kamu diperiksa dulu, hiks..." ucap Ibuk menenangkan ku sambil menangis.


"Berapa lama aku ndak sadar bu?" tanya ku. Tidak ada jawaban. Semuanya diam.


"BERAPA LAMAAA?" tanya ku lagi dengan keras. Masih tidak ada jawaban.


"KENAPA KALIAN DIAM? JAWAB!! BERAPA LAMA AKU NDAK SADAR? HIKS...HIKS..." tidak terasa aku meneteskan air mata. Terasa sesak sekali di dada ku. Aku mencoba berontak dengan sekuat tenaga. Bapak, dan Mas Rizal semakin kuat memegangi ku. Lalu aku merasakan sebuah jarum menusuk ke lengan kanan ku. Perasaan ku kemudian menjadi sedikit tenang. Badan ku kemudian melemah. Pandangan ku kemudian berangsur menjadi gelap. Dan semakin gelap. Dan aku pun terlelap dalam ketenangan.


***


Takdir memang tidak bisa dirubah. Bahkan ketika kita punya niat dan usaha untuk merubahnya. Sekuat apapun, ketika takdir Tuhan mengatakan lain, kita hanya bisa menjalaninya, dengan sabar. Mungkin itu lah yang terbaik. Seminggu sudah berlalu semenjak siuman ku, atau dua minggu semenjak peristiwa berdarah itu. Ya, aku telah melewatkan satu-satunya kesempatan ku untuk memperjuangkan Diah. Dan semua itu karena, "Argh...", kembali aku mengerang menyesali semua yang telah terjadi. Diah telah menerima lamaran dari pria pilihan orang tuanya.


Tapi, aku tidak pernah menyalahkannya. Itu semua karena keterpaksaannya yang tidak bisa nenolak permintaan Bapaknya. Terpaksa? Iya, aku yakin. Kami sudah saling tau hati masing-masing. Dan aku tidak meragukannya. Sekarang aku masih terbaring tak berdaya di pembaringan ini. Untungnya, masih ada keluarga dan teman baru ku yang hampir setiap hari datang mengunjungi ku.


"Kok bengong sih?" tanya nya, aku tak menjawab, hanya menggelengkan kepala.


"Pasti mikirin Diah ya?" tanya nya lagi dengan nada sedih.


Sudah hampir satu minggu ini dia selalu menanyai ku kenapa aku sering murung. Pertanyaan yang aku yakin Dia sudah tau jawabannya. Tapi aku tidak pernah mengiyakan karena tidak mau menambah bebannya. Ya, Dia, yang tak lain adalah Gita, merasa sangat bersalah terhadap apa yang menimpa ku. Aku tidak tahu rasa bersalah itu muncul dari dalam hatinya sendiri atau karena Mba Endang. Kok Mba Endang? Iya karena Mba Endang sempat mengamuk padanya waktu itu.


Katanya sih begitu, karena waktu itu aku belum sadar. Jadi ceritanya, aku mendengar cerita ini dari Kiki, saat malam kejadian itu, Mba Endang mengamuk ke Gita setelah mendengar kronologi cerita yang entah dia dengar dari siapa. Mungkin karena kejadian yang dulu pernah terjadi, masih menimbulkan kesan yang buruk bagi Mba Endang hingga membuatnya sangat sensitif terhadap Gita.


Tapi untungnya sekarang Mba Endang sudah bisa mengerti dengan posisi. Itu karena lagi-lagi aku berbohong dengan mengatakan kalau Andre dan kawan-kawan tidak ada hubungannya dengan Gita. Aku dan Gita hanya berada di tempat dan di waktu yang tidak tepat. Lalu kenapa aku harus berbohong? Kalau sampai Andre tertangkap dan buka mulut, maka Gita yang akan kena. Dan rusak lah rencana Pak Weily. Toh sekarang Andre dan kawan-kawannya sudah dibereskan oleh Pak Weily.


Jadi untuk masalah Andre, mereka semua tahunya ini murni kriminal, tanpa ada motif tertentu. Dan yang tahu kalau ini adalah balas dendam itu hanya aku dan Gita. Kiki dan Doni pun tidak tau.


"Semua karena aku. Maafin aku ya," ucapnya sedih.


"Aku sudah maafin kamu dari awal," balas ku.


"Tapi, Kamu dua kali hampir kehilangan nyawa, dan sekarang, Diah..." lanjutnya.

__ADS_1


"Sudah lah, semua sudah kejadian, mau gimana lagi? Mungkin memang begitu takdirnya. Sekuat apapun kita mencoba merubahnya, kalau Tuhan sudah berkehendak, kita bisa apa?" ucap ku.


"Kamu itu bener-bener ya," ucapnya sambil tertunduk.


"Hati semua manusia itu sama besarnya, tergantung orangnya saja mau membesarkannya atau tidak. Aku cuma mau pesen sama kamu, kalau kamu memang benar-benar menyesal, rubahlah sedikit sifat mu. Bukan untuk aku saja, tapi untuk orang-orang di sekitar mu. Terutama untuk Papa mu, jangan pernah berfikir dia tidak menyayangi mu, beliau itu sangat menyayangi mu, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, masalahnya hanya bagaimana cara mereka memberikannya," ucap ku.


"I-iya, aku tau, aku akan berusaha merubah sikap ku. Bantu aku ya? Hehehe," pintanya dengan tersenyum manja. Manis juga pikir ku. Tapi tetap masih kalah jauh bila dibanding dengan Diah.


"Kok aku?"


"Iya, kamu awasi dan ingetin aku kalau aku khilaf lagi, hihihi."


“Hidup ku udah terlalu banyak masalah Git, ngawasin kamu udah kaya orang ndak ada kerjaan saja,” balas ku cuek.


“Ah kamu mah…”


"Kenapa?" tanya ku.


"Gapapa, hehehe, jadi gimana?"


"Iya-iya, yang penting kamu berubah jadi anak manis nya pak Weily," jawab ku.


"Kok kamu apa-apa untuk Papa sih? jangan-jangan kalian..."


"Jangan-jangan apa?" tanya ku balik sambil menoyor kepalanya.


"Abis nya ini banget sama Papa, Aku nya kan jadi curiga, hahaha."


"Papa mu udah banyak berjasa Git."


"Hah? Berjasa? Untuk?"


"Secara langsung untuk Mas Rizal, secara tidak langsung untuk keluarga ku."


"Maksudnya gimana sih?"


"Lain kali kalau ada waktu luang Aku jelasin, dan kamu juga harus cerita ke Aku kenapa kamu bersikap seperti ini selama ini?"


"Seperti ini gimana maksutnya?"


"Sok tau!" protesnya tidak mau mengakui bahwa hatinya sebenarnya baik.


"Akuin saja, anak kecil yang kamu beliin makan sama kamu kasih uang di parkiran mobil itu buktinya, hahaha," tawa ku.


“Kamu tahu anak itu?”


“Iya lah, hahaha,” tawa ku lagi.


“Jadi kamu selama ini mata-matain aku? Iiihh Ian ngeselin! Sebel ah!” protes nya lagi dengan muka manyun namun lucu dan menggemaskan.


“Enak aja, kebetulan aja waktu itu aku liat kamu. Tapi ndak nyangka ya, pada akhirnya anak itu yang nolongin kita berdua.”


“Iya, ga nyangka aku ternyata kampungnya ada di sekitaran perkemahan itu.”


“Nah itu, aku sudah sering bilang, berbuat baik sama orang itu ndak akan ada ruginya, siapa tau suatu hari kita yang gantian butuh bantuan. Sebaliknya, kalau kita jahat sama orang, bisa jadi suatu hari nanti kita akan kena karmanya.”


"Iya, maaf…"


"Dan satu lagi," lanjut ku.


"Apalagi?" balasnya dengan gemas. Lucu banget.


"Bagaimana ceritanya mereka berdua bisa akrab denga mu seperti sekarang."


"Mereka?" tanya nya balik.


"Mba Endang dan Kiki. Aku tanya langsung ke mereka berdua, ndak ada yang mau cerita."


"Kepo ya? hihi."


"Menurut mu?"


"Hahaha, iya nanti aku cerita. Tapi syaratnya kamu harus maafin akuuh, deal?" tawarnya dengan bersemangat.


"Kamu ndak punya posisi tawar," jawab ku tegas, tapi sebenarnya bercanda. Tapi sepertinya dia menanggapinya serius. Terlihat dari raut muka nya. Polos juga nih anak. Di awal kan aku sudah jelas memaafkannya, pake nanya lagi.

__ADS_1


"Kedepannya ndak ada yang tau kan akan seperti. Kamu boleh saja berjanji akan berubah, tapi maaf aku tidak perlu janji mu. Cukup diam saja dan buktikan, yang pasti aku udah maafin mu. Tinggal kamu mau berubah atau tidak," balas ku sambil tersenyum.


"Udah, pokoknya sekarang kita mulai dari awal lagi ya, kita teman sekarang," lanjut ku lagi sambil mengacak-acak rambutnya.


"Iiihhh jangan digituin, nanti ga cantik lagi," protesnya sambil merapikan kembali rambutnya. Tapi kemudian dia mengangguk.


"Kita teman sekarang," ucapnya mengulang kalimat ku tadi. Dia lalu mengulurkan jari kelingkingnya.


"Eh?" aku bingung.


"Sebagai tanda kita teman sekarang," ucapnya.


"Hehehe," aku hanya tersenyum. Lalu menyambut kelingkingnya dengan kelingking ku.


"Makasih yah Ian," ucapnya lalu merebahkan sedikit tubuhnya dan memeluk lengan kanan ku. Ampun, kenyal nya. Bonus! Bonus! Tepok jidad.


"Pak Weily, aku berhasil kan, hehe." Ucap ku dalam hati. Tidak masalah kalau bayarannya aku harus merasakan seperti ni. Masalah Diah, mungkin aku akan mencoba nya lagi. Begitu ada waktu aku akan langsung pulang untuk menemuinya.


Gita masih merebahkan kepalanya sambil memeluk ku. Tidak enak sebenarnya aku dalam posisi seperti ini, kalau ada yang tiba-tiba masuk dan melihat kami pasti akan berfikir yang macam-macam. Dan benar saja, belum selesai aku memikirkannya, pintu bena-benar terbuka.


Ceklek


"Eh, maaf," suara dari seorang wanita, Kiki.


Gita langsung bangkit, nampak Gita memberikan senyum kepada Kiki. Sesuatu yang baru kali ini aku lihat selama tinggal di Jakarta. Seorang Gita tersenyum kepada Kiki. Hahaha.


"Kiki?" ucap kami berdua kaget.


"Kok ga bilang mau kesini?" tanya ku. Gita menyikut tangan ku. Ah pertanyaan ku, tepok jidat lagi.


"Emang harus bilang ya? kalau aku mengganggu aku balik aja, hehehe," balasnya dengan senyum yang agak di paksakan dan hampir menutup kembali pintunya.


"Eh jangan Ki, ayo masuk, Ian emang suka gitu, kalau nanya suka sekenanya, ayo masuk," ajak Gita ke Kiki sambil bangkit dan meraih lengan Kiki dan menariknya masuk. Lucu juga melihat dua gadis cantik ini sekarang menjadi akrab setelah dulu bermusuhan karena Aku.


"Iya sih, Ian emang terlalu apa adanya, hehehe," balas Kiki menanggapi.


"Dan terlalu sederhana, kaya kamu Ki, hihihi," lanjut Gita.


"Iihhh Gita apaan sih?" wajah Kiki nampak memerah.


"Oiya ngomong-ngomong kamu tadi dari jam berapa Git?" lanjut Kiki ke Gita.


"Dari pagi, tadi sama Papa juga kok, tapi Papa ada urusan jadi ga lama. Ditinggal deh aku nya sendirian," jawab Gita sedih.


"Tenang, kan sekarang ada Aku, hehe. Mba Endang dan yang lainnya?"


"Biasa, kalau siang kan selalu ke sekolah Tiara, Mas Rizal sama kaya Papa, pergi juga."


“Oiya, ini kan hari selasa ya, hehe."


"Ehem..." aku sengaja berdehem. Asik sekali mereka pikir ku. Yang dijenguk kan aku. Kenapa aku dicuekin? Dasar wanita. Kalau sudah ngobrol pasti lupa segalanya.


"Ada yang merasa dicuekin kayanya Ki, hihihi," sindir Gita.


"Iya kayanya Git, hehehe, eh iya, tapi beneran jadi pulang hari ini kan? Aku sengaja ke sini siapa tau aku bisa bantu beres-beres," jelas Kiki.


"Jadi kok, tapi paling sore, nunggu Mas Rizal, kan pake mobil dia," jawab ku.


"Oh gitu," balasnya.


"Oiya, Doni apa kabar Ki?" aku menanyakan kabar Doni karena sudah seminggu ini Dia tidak mengunjungi ku. Kalau sekedar komunikasi, kami masih berhubungan.


"Sehat, tapi lagi sibuk Dia, kan dia sekarang Freelance."


"Freelance apa?"


"Jadi kru band gitu deh kalau ga salah, jadi kerjanya kalau si band ini mau manggung aja."


"Oh gitu, sayang sekali, Ada yang nanyain terus padahal," balas ku lagi sambil tersenyum jahat ke Gita.


"Hah? Serius? Siapa? Kemajuan banget ada yang nyariin Doni, hahaha," balas Kiki.


"Tuh, di samping kamu orangnya," canda ku.


"Heh, enak aja, fitnah itu Ki, ga pernah aku nyariin Doni, amit-amit deh," balas Gita dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Hahaha," aku dan Kiki tertawa menanggapi reaksinya.


__ADS_2