AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 15


__ADS_3

Hari ini, aku harus balik ke Jakarta lagi. Meskipun singkat, tapi pertemuan ku dengan Diah semalam sungguh sangat berkesan. Aku bilang kepadanya kalau besok ada seleksi masuk BEM. Memang benar sih. Aku tidak bohong. Tapi sebenarnya ada maksut lain di balik itu.


Siang ini, selepas zhuhur aku diantar mas Yoga menggunakan motor ke terminal Daksinaga, Wonosari. Untungnya masih aku masih dapet tiket bus malam AKAP. Kalau ga, rencana yang sudah aku susun beberapa minggu terakhir akan kacau dan berantakan.


"Ati-ati yo le, bapak ibuk mung iso nyangoni slamet," pesan bapak saat melepas kepergian ku.


"Nggeh pak, mboten nopo-nopo, dongane mawon slamet dugi Jakarta," balas ku.


Dengan mengharu biru, aku sungkem ke mereka semua, kecuali Binar dan Tiara tentunya. Mereka berdua yang mencium tangan ku. Sedih rasanya bakalan pisah sama Tiara walau cuma beberapa hari. Dia juga dari pagi nanya mulu kenapa ga pulang bareng aja. T-T Tiara...om pasti bakalan kangen ama kamu. Oiya, mereka bertiga masih akan seminggu lagi di kampung.


Sekarang aku sudah ada di dalam bus. Ketika hampir sampai di turunan Irung Petruk yang meliuk-liuk, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Pak Weily.


"Halo, pak."


"Jadi pak, alhamdulillah ibuk saya kondisinya sudah membaik. Udah sehat. Makasih doanya."


"Siap pak, rencana awal akan kita jalankan besok," balasku. Bahasa ku udah kaya intel aja.


"Iya pak, sama-sama. Saya akan berusaha sebisa saya."


"Ndak perlu pak, saya kan sudah bilang kemarin kalau saya tidak mengharap imbalan."


"Iya pak. Ini belum lama jalan bus saya."


"Waduh, saya belum pernah naik pesawat pak, ga ngerti kalau sendiri."


"Hahaha, jadi malu. Kalau itu mungkin saya mau pak, hehe."


"Iya pak, sampai ketemu di Jakarta."


Aku lalu menutup telepon ku. Pak Weily tadinya mau membelikan ku tiket pesawat. Bukannya ga mau. Tapi aku belum pernah. Mana ngerti aku prosedur di bandaranya.


Di bus, aku mendapat tempat duduk di sebelah kiri, dekat kaca. Dari sini aku bisa melihat pemandangan Kota Jogja dari atas. Tidak salah kalau ada yang bilang Gunungkidul itu adalah lantai dua nya Kota Jogja. Dan aku bangga menjadi orang Gunungkidul. Meskipun banyak yang meremehkannya. Apalagi kalau menyinggung air.


Aku lalu memejam kan mata ku. Mencoba untuk tidur meskipun masih sore. Mau ngapain lagi coba kalau ga tidur? Pikiran ju lalu membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi besok. Semoga berjalan lancar. Semoga Engkau memudahkan niat baik hamba mu ini ya Tuhan. Aamiin.


***


Mba Endang said:


Aku udah sampe rumah


Pesan yang aku kirim ke mba Endang begitu sampai di rumah. Rumah mba Endang. Subuh tadi. Setelah sarapan aku langsung bersiap-siap berangkat ke kampus. Capek banget sebenernya. Tapi ya harus aku lawan.

__ADS_1


"Udah lama ki?" tanya ku begitu tiba dan duduk di depannya.


Pagi ini aku janjian dengan Kiki dan Doni di kantin untuk membahas tugas kelompok. Jadwalnya kelompok kami yang akan presentasi.


"Baru aja kok, gimana kondisi ibu mu? Ada perkembangan kan?"


"Alhamdulillah udah baikan kok, makasih ya doanya, hehe."


"Iya sama-sama. Trus kamu jadinya balik sendiri atau...?"


"Sendiri, baru subuh tadi nyampe."


"Ga capek apa langsung kuliah?"


"Capek sih, tapi harus masuk, kan nanti seleksi masuk BEM."


"Oh, iya."


Kiki kembali fokus ke laptopnya. Dia sedang mengedit file ppt untuk bahan presentasi nanti. Aku lalu bangkit dan berdiri di belakang kanannya. Ikut memperhatikan. Syukur-syukur bisa ngasih masukan. Biar keliatan ada andil gitu maksutnya. Hahaha.


"Gimana menurut kamu?" tanya kiki.


"Sudah oke kok, isinya juga udah bagus, mungkin animasinya aja yang belum."


"Kamu bisa nambahin?"


Posisi ku sekarang sedikit membungkuk, sehingga membuat tubuh atas ku agak merapat ke tubuh kiki. Aku sekarang fokus menambahkan beberapa animasi pada slide powerpoint tugas kami.


"Kalau cowok lebih detail ya soal gitu-gituan?"


"Maksutnya?"


"Iya, nambah-nambahin animasi gitu. Kalau aku males."


"Hahaha, ini juga cuma yang standar-standat aja kali, biar lebih enak dilihat aja ki."


'KLIK' 'KLIK' 'KLIK'


Aku masih terus menambahkan beberapa animasi di slide tugas kami. Saking fokusnya aku sampai tidak menghiraukan posisi tubuh ku yang sekarang semakin merapat ke tubuh Kiki. Kikinya sendiri juga tidak ada respon apa-apa. Cuek-cuek saja orangnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian barulah semua slide sudah selesai aku edit. Aku lalu meng-klik ikon slide show dan muncul lah prensentasi kami full screen di layar monitor yang menjadi lebih enak dipandang.


"Yeeey...bagus bagus...keren Ian, keren banget," ucap Kiki girang sambil menengok ke arah ku. Wajah kami sekarang saling beradu pandang. Dekat sekali. Dalam sepersekian detik kami saling pandang. Waktu seolah berhenti. Aku tidak tau kenapa, rasanya seperti tidak ingin melepaskan pandangan ku dari wajahnya, dan mungkin begitu juga dengan dia.

__ADS_1


"Kalau mau pacaran bukan di sini kali tempatnya!! tempat lain juga banyak. Ga punya modal??" nyinyir seorang wanita sambil berlalu tepat di samping.


Aku dan Kiki sama-sama langsung tersadar. Dan sama-sama malu. Muka kami sama-sama memerah.


"Eh, anu, maaf Ki."


"I-iya gapapa, maaf juga akunya..."


Aku lalu kembali ketempat duduk ku semula. Mencoba membuang jauh rasa canggung yang tiba-tiba muncul ini.


Wanita yang mengagetkan kami tadi, yang tak lain adalah Gita, duduk di bangku yang berjarak empat meja di sebelah kiri ku. Aku sekilas melihat ke arahnya. Dia dan dua temannya juga menatap ke arah ku dan Kiki dengan pandangan sinis yang membuat ku dan Kiki menjadi agak risih.


Sepertinya ada yang ga suka dengan kita tadi," komentar Kiki dingin.


"Eh, masa sih?"


"Liat aja mukanya ga enak gitu."


"Cuekin aja. Paling sirik ama kamu, kalah saing dia."


"Maksutnyaaa?" tanya Kiki dengan intonasi yang dibuat-buat.


"Ya kan kamu aja bisa deket sama aku, sedangkan dia enggak, hahaha."


"Kok kamu jadi narsis gitu? Trus bangga gitu?"


"Yaelah canda Ki..."


"Ga lucu."


"Hahaha."


"Ketawa mulu."


"Hahaha, lagian cewek macem dia mana mungkin ada yang mau deketin, sifatnya ja judes gitu."


"Bukannya kemarin kamu yang bilang sendiri kalau dia anak bak-baik."


"Eh, iya ya, ehmm...cuma feeling aja sih dia itu sebenarnya anak baik, tapi kenapa ya sifatnya bisa begitu?"


"Ga tau," balas Kiki sambil mengangkat bahunya.


"Ya udah yuk masuk kelas aja, lama-lama males juga aku nya," ajak Kiki.

__ADS_1


"Ayuk dah, aku juga males."


Aku dan Kiki akhirnya meninggalkan kantin. Sambil jalan aku mengirim kan sms ke doni untuk langsung masuk kelas aja. Ga perlu ke kantin.


__ADS_2