AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 26


__ADS_3

Minggu ketiga terakhir bulan Januari, aku memulai aktifitas ku lagi sebagai seorang mahasiswa setelah terakhir kali dua setengah bulan yang lalu. Satu minggu tidak sadarkan diri, dua minggu menginap di rumah sakit, dan sebulannya lagi bengong ga ngapa-ngapain selain tidur, makan, mandi, BAB, dan bernafas karena kebetulan sedang libur semester.


Seperti biasa aku ke kampus naik angkutan yang dari rumah ke kampus harus melalui dua rute. Dan dari rumah ke angkutan pertama harus jalan keluar dulu sekitar tiga puluh meter. Di daerah rumah Mas Rizal ini, suasana kekeluargaannya masih cukup terasa. Rata-rata orang Betawi asli. Antar penghuni lingkungan sini masih saling kenal satu sama lain.


Tempat aku menunggu angkutan adalah sebuah perempatan kecil. Di salah satu pojokan ada sebuah minimarket. Pojokan satunya ada sebuah counter pulsa. Di pojokan yang lain ada sebuah foto copy an. Sedangkan aku menunggu di depan warung kelontong di pojokan ke empat.


"Udah kuliah lagi Ian?" tanya abang pemilik warung.


“Udah bang, bosen di rumah mulu, hehe," balas ku santai.


"Emang udah sembuh lu?"


"Ya kaya gini bang, udah sehat kan," balas ku sambil menirukan gaya atlet binaraga. Si abangnya tersenyum.


"Ya yang penting ati-ati, kasian Abang sama Mpok lu kalau lu kenapa-napa lagi," pesannya.


"Pasti bang, mudah-mudahan ndak kejadian lagi deh," aku menanggapi pesannya.


Pas banget aku selesai bicara, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan warung kelontong ini. Sepertinya aku tau ini mobil siapa. Dan benar, setelah kaca mobil terbuka, wajah yang sangat aku kenal muncul dan tersenyum dengan manis ke arah ku dan abang warung kelontong.


"Ayo masuk," ajaknya dengan manja.


"Kamu? Kok bisa di sini?"


"Masuuuk!" perintahnya lagi. Mau tak mau akhirnya aku menurutinya.


"Bang, duluan ya..." pamit ku ke abang warung.


"Iye, ati-ati tong," balasnya dengan logat betawinya yang kental banget.


***


"Kamu ngapain pakai jemput segala sih?" tanya ku memecah keheningan. Mobil yang dikendarainya sudah berjalan sekitar lima belas menit. Sebelumnya tidak ada pembicaraan diantara kami. Aku hanya diam, dia hanya senyum sesekali.


"Depan belok kiri kan ya?" dia malah bertanya balik.


"Ditanya malah nanya balik! Iya belok kiri trus bis itu masuk jurang," balas ku kesal.


"Hihihi, kamu lucu deh, gitu aja sewot," ejeknya. Mobil sudah berbelok ke kiri masuk ke jalan raya.


Kalau ditanya tuh dijawab," balas ku masih dengan agak kesal.


"Iya-iya aku jawab, nanya apa tadi?"


"Ngapain pake jemput segala?"


"Pertanyaan seperti itu harus ya disampaikan? Bukannya lebih baik bilang Ya ampun, Gita makasih ya udah jemput aku, atau apa gitu," ocehnya. Aku langsung menoleh kearahnya dengan ekspresi wajah yang sangat gemas. Ingin rasanya aku acak-acak lagi rambutnya yang lembut dan wangi itu. Tapi karena dia lagi nyetir maka aku urungkan niat ku. Aku hanya membuat gerakan seolah meremas sesuatu menggunakan kedua tangan ku tepat di samping kepalanya.


"Hihihi," tawanya lagi sambil menutup mulutnya dangan telapak tangan kirinya. Dia malah semakin tertawa geli melihat kekesalan ku.

__ADS_1


"Dari jam berapa kamu tadi?" tanya ku lagi.


"Maksutnya?" tanyanya balik sambil berlaga bingung.


"Aku rasa ndak mungkin kamu kebetulan lewat sini pas aku lagi nungu angkutan."


"Hehehe, ketahuan ya?"


"Dari jam berapa?"


"Jam enam, hehehe," jawabnya sambil nyengir.


Aku lihat jam di dashboard mobilnya, sudah jam delapan kurang, berarti hampir dua jam dia menunggui ku. Ini anak benar-benar keras kepalanya. Kalau sudah punya keiinginan tekad nya tidak akan pernah luntur.


"Ngapain sih pake jemput? Trus kenapa ndak mampir aja sekalian malah nunggu di jalan? Dua jam lho. Lain kali ndak usah lah jemput-jemput segala!" ucap ku melarangnya.


"Ga boleh ya?" tanyanya pelan sambil mengok ke arah ku dengan wajah yang memelas dan nada yang sangat dibuat-buat sedih. Aku tidak tau itu di buat-buat atau tulus. Aku jadi tidak tega melihatnya.


"Hmmm...iya iya boleh..." jawab ku dengan terpaksa.


"Yeeey...asiiik..." teriaknya girang.


"Tapi jawab dulu pertanyaan ku tadi," ucap ku mengajukan syarat. Semua pertanyaan ku belum ada satu pun yang di jawab.


"Haha, iya-iya, satu satu ya."


"Hmmm..."


"Yang itu ndak perlu dibahas lagi," potong ku.


"Aku kan cuma mau balas budi baik kamu Ian," ucapnya membela diri.


"Aku ikhlas,"


"Aku tau," selanya.


"Tapi, kalau kamu bisa ikhlas berbuat baik kepada orang lain, kamu juga ga ada hak dong melarang orang lain berbuat baik kepada yang lainnya, termasuk ke kamu," lanjutnya.


"Iya sih," balas ku pelan, memang benar analogi nya. Kita bebas berbuat baik kepada orang lain, sangat dianjurkan malah, begitu juga kita tidak seharusnya menolak kebaikan orang lain.


"Nah kan, makanya, kamu itu bukan superman, jangan terlalu menutup diri deh. Kamu ga mungkin bisa hidup sendiri, selain keluarga, ada teman dan sahabat mu, itu juga kalau kamu mau anggep aku sahabat kamu," tambahnya.


"Tumben kamu ngomong bener?" canda ku.


"Enak aja, aku mah selalu bener, kondisi yang membuat ku menjadi nggak bener, dalam tanda kutip ya."


"Dan itu yang harus kamu ceritain kepada ku. Termasuk bagaimana kamu bisa damai dengan Mba Endang dan Kiki."


Damai? emang kita perang sebelumnya?"

__ADS_1


"Enggak sampai perang sih, ya pokoknya kamu harus cerita nanti," paksa ku.


"Iya-iya, eh tapi kapan dan dimana?" tanya nya.


"Nanti sepulang kuliah, di kantin kampus juga boleh, tapi kalau kamu kurang nyaman, di tempat lain yang kamu mau juga boleh," jawab ku. Dia langsung melirik ku dengam tatapan curiga.


"Kamu, ga lagi usaha buat ngajak aku kencan kan?" tanya nya sambil menggerak-gerakan alisnya.


"Pedeee!" ucap ku sambil menoyor kepalanya.


"Iiihh kasar!" balasnya sambil cemberut. Cepat sekali perubahan ekspresinya.


"Eh, maaf," ucap ku spontan merasa tidak enak.


"Hahaha, kamu emang paling ga tegaan, hahaha," tawanya mengejek ku terdengar nyaring namun tetap manis.


"Gitaaa..."


***


Jarak dari parkiran mobil ke ruang kelas ku hari ini tidak terlalu jauh, bila dibandingkan dengan jarak dari gerbang kampus ke ruang kelas. Ya, mungkin ini sisi positif dibalik kemunculan Gita yang tiba-tiba pagi tadi. Aku tidak perlu berjalan jauh. Lagi-lagi aku merasa deja vu pagi ini. Sama seperti dulu, anak-anak kelas menyambut ku bak seorang kesatria yang baru pulang dari perang. Sekali lagi, mereka mengerubuti ku, menanyai kabar ku, dan..., meledek ku. Iya, meledeki ku karena aku datang bareng dengan Gita.


Dan yang lebih parahnya, sejak dari parkiran mobil tadi Gita menggandeng lengan ku. Katanya takut aku ga kuat dan jatuh. Padahal aku yakin kalau aku kuat dan sudah melarangnya. Malu dilihat anak-anak. Tapi, Gita tidak akan bisa dilarang. Aku hanya nyengir mendengar ledekan mereka semua.


***


"Ian, sstthh...oiii," aku mendengar ada yang memanggil ku dari belakang. Aku hari ini memang duduk di barisan depan, di samping Gita. Aku menengok, Doni ternyata.


"Apaan?" jawab ku dengan berbisik.


Bukannya menjawab, dia malah melempari ku dengan sebuah kertas kecil yang digulung. Aku lalu membukanya, ada sebuah pesan ternyata.


Selesai kuliah nongki dulu di tempatnya Kiki yuk! Kita orang kangen ama lu!


Selesai kuliahkan aku mau jalan ama Gita, eh maksutnya mau dengerin curhatan dia. Aduh gimana ya? Bimbang. Disatu sisi aku juga kangen sama mereka berdua, dan yang pasti ga enak kalau nolak. Secara, selama ini mereka selalu ada untuk ku. Tapi Gita? Aku lalu menyerahkan gulungan kertas tadi ke Gita.


"Apaan ini?" tanya nya bingung.


"Doni sama Kiki ngajakin kumpul sepulang kuliah nanti," balas ku masih dengan berbisik.


"Kita ga jadi dong?" tanya nya pelan.


"Aku bingung, hehe," jawab ku polos. Tapi aku memang benar-benar bingung.


"Kalau bingung mending kitanya ga usah, mereka berdua kan sahabat kamu, aku mah bukan siapa-siapa, hehehe," balasnya santai dengan senyum yang agak dipaksakan.


Aku jadi bingung. Mereka berdua memang sahabat ku. Tapi, aku sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Gita. Bagaimanapun janji harus ditepati. Kayanya mereka berdua juga pasti akan mengerti.


"Kita tetep jadi nanti," ucap ku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Okay," balasnya dengan ceria.


Tadinya aku ingin langsung menyampaikan balasan ku yang tidak bisa ikut kumpul ke Kiki dan Doni, tapi kayanya mending nanti saja setelah kuliah langsung. Aku hanya menoleh pada Doni dan sedikit menggeleng. Dia merasa heran dan bingung.


__ADS_2