AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 6


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu semenjak insiden SKSD ku terhadap gadis di ruang pendaftaran itu dan hari ini tiba saatnya aku menjalani tes penentuan grade. Aku harus bisa mendapatkan grade A agar bisa mendapatkan biaya kuliah yang paling murah. Semoga lancar. Dan pagi-pagi ini aku sudah bangun untuk mempersiapkan semuanya. Berkas-berkas lengkap. Baju juga sudah siap, hasil pinjam punya mas Rizal. Untuk tes ini memang diwajibkan memakai celana bahan hitam dan kemeja putih, dan kebetulan aku tidak punya. Ada sih, tapi di kampung tapi aku tidak membawanya. Untungnya mas Rizal ada kemeja putih dan ukuranya kebetulan juga sama. Jadi untuk sementara pakai ini dulu saja dari pada beli.


Seminggu ini aku habiskan dengan bekerja. Total ada lima pesanan dan untuk setiap quantity nya aku mendapatkan serratus ribu dari mas Rizal. Jadi awal pekan yang indah ini aku sudah memegang uang lima ratus ribu. Jumlah yang sangat banyak untuk ukuran ku.


Tes nya sendiri akan di mulai jam Sembilan pagi. Sekarang masih jam enam, tapi karena takut terlambat, aku berpamitan dengan mas Rizal dan mba Endang untuk berangkat ke kampus. Dan benar dugaan ku, ketika sampai kampus suasana masih sangat sepi.


Aku tidak langsung ke lokasi tes melainkan ke bagian pendaftaran dulu untuk menyerahkan kelengkapan berkas. Setau ku bagian pendaftaran sudah buka dari pukul tujuh tiga puluh pagi. Aku duduk di depan gedung itu. Memperhatikan satu dua orang yang lewat. Kebanyakan berpakaian seperti ku. Pasti mereka juga akan mengikuti tes. Sesekali juga lewat security dan petugas kebersihan. Aku mencoba tersenyum kepada mereka dan meraka pun membalasnya dengan senyuman yang ramah juga.


Tidak lama kemudian bagian pendaftaran di buka. Aku langsung menyerahkan berkas-berkas ku. Alhamdulillah semuanya lengkap dan diterima dengan baik. Kata mas nya aku bisa langsung mengikuti tes. Aku pun bergegas ke gedung lokasi tes. Saat aku berjalan ke lokasi tes, karena begitu bersemangatnya aku sampai tidak melihat ada mobil yang melintas dengan kencang dari arah samping ku dan hampir saja menabrak ku.


"CIIIIIIIIIT"


"TIIIINNNNMN", terdengar suara nyaring gesekan ban mobil dengan aspal yang diikuti dengan suara klakson mobil.


Huffftt...hampir saja, kalau orang itu tidak sigap mungkin aku sudah tertabrak. Aku memang salah sih. Tapi, di area kampus seperti ini kenapa bawa mobil nya mesti ngebut gitu ya?


Hingga beberapa detik pertama tubuh ku masih diam mematung. Kaget dan emosi campur aduk menjadi satu. Tapi aku coba menahannya. Aku harus tenang. Aku tidak mau cari masalah. Aku lalu berjalan ke pinggir. Mobil itu perlahan mulai berjalan lagi dan kaca mobil sebelah kiri juga terbuka.


"KALAU JALAN PAKE MATA!!!", bentak seorang wanita dari balik kemudi. Eh, wanita itu kan...yang dua minggu lalu judesin aku itu. Haduuuh...kenapa mesti dia lagi sih keluh ku. Aku sempat khawatir dia akan turun dan melabrak ku. Meskipun awalnya aku agak emosi, tapi sekarang melihat tampangnya yang galak itu membuat ku berfikir dua kali jug ajika harus ribut dengannya. Tapi untungnya yang aku takutkan ternyata tidak terjadi. Mobil itu terus berjalan. Dan masih tetap ngebut. Luar biasa batin ku.


Aku lalu melanjutkan perjalanan menuju lokasi tes. Ternyata sudah ada beberapa peserta tes yang hadir meskipun masih jam 8. Kebanyakan dari mereka saling berbincang membentuk beberapa gerombol. Aku memilih untuk duduk di pinggiran dekat tiang. Kaya orang hilang. Biarkan saja.


Masih lama nih keluh ku. Ngapain ya? Belajar? Kata masnya, tesnya hanya seputar matematika, bahasa, dan pengetahuan umum. Bingung juga mau belajar apa. Hingga tiba tiba seseorang menepuk bahu ku.


"Bro, ada korek?" tanyanya.


"Hah?" aku yang awalnya bengong jadi bingung dengan kalimatnya.


"Eh, maksut gua lo punya korek ga?" jelasnya lagi.


"Oh korek, maaf mas ndak punya, aku ndak ngerokok."


"Oh, sorry, ah pake ketinggalan lagi korek gua,” ucapnya lagi dengan kesal. Dia nampak melihat sekeliling. kayanya lagi mau nyari pinjaman korek. Dan dia pergi meninggalkan ku begitu saja. Orang aneh pikirku. Aku kembali memeriksa jam di hp ku. Masih empat puluh lima menit lagi tesnya baru dimulai.


Tak lama kemudian pria yang tadi menghampiri ku datang lagi.


"Tes juga ya?" tanyanya.


"Iya nih, hehehe."


"Ambil jurusan apa?"

__ADS_1


"Akuntansi."


"Wah, sama dong, oiya kenalan dulu lah, nama gua Doni, Ardoni Sebastian", ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Alfian Restu Kusuma, mase bisa panggil aku Fian," jawab ku. Kurasakan jabatan tangannya kuat di telapak tangan ku.


"Dari daerah ya? Hehe,” tanyanya lagi.


"Hehe, iya mas. Mas nya?" tanya ku balik.


"Ya elah, ga usah pake mas kali. Santai aja bro. Keluarga gue juga dari daerah, tapi gue lahir di Jakarta."


"Oh ya? Dari mana mas?"


"Bokap gue asli padang, kalau nyokap sih Jakarta."


"Oh padang, aku punya kakak ipar juga asli padang. Kamu padangnya dimana?"


Orang bernama doni ini tidak langsung menjawab pertanyaan ku, malah melihat ku dengan tatapan aneh. Lalu kemudian malah tertawa.


"HAHAHAHA."


"Eh kenapa? Ada yang lucu yah mas?" tanya ku dengan polos.


Tawanya tidak berhenti malah semakin kencang. Hingga beberapa saat, setelah bisa mengontrol diri baru dia menjawab pertanyaan ku.


"Hahaha, sorry, geli aja gue lo ngobrol pake aku-kamu."


"Emang nya lucu ya kalau pakai aku-kamu,” tanya ku dengan polosnya.


"Hahaha, ga sih ga ada yang lucu, Cuma sok manis aja, hehe."


Aku makin bingung dengan jawabannya. Tapi ya sudah lah. Ga penting juga pikir ku.


Ardoni ini orangnya lumayan enak ternyata. Dan ga sombong yang pasti. Dia bersikap biasa saja meskipun tau aku dari kampung. Tidak ada sedikitpun dari sikapnya yang merendahkan ku. Kami ngobrol layaknya teman biasa. Saling cerita kehidupan masing masing, terutama masa-masa SMA. Lalu tiba-tiba dia menepuk bahu ku lagi saat aku sedang menunduk melihat hp ku.


"Bro bro, manteb tuh bro, body nya brooo…"


"Apaan?" tanya ku sambil menoleh ke arahnya. Dia lalu memberikan isyarat ke arah sebaliknya. Aku pun menengok kearah yang dia maksud.


"DEG!!!" Wanita itu lagi, batin ku. Haduh.

__ADS_1


Aku melihat sosok tubuh wanita yang hampir sempurna di mata ku. Iya hampir, dan akan sempurna bila sopan santunnya bisa sedikit dijaga. Sayangnya wanita itu tidak memiliki sopan santun sama sekali. Setidaknya itulah yang ada di pandangan ku. Meskipun aku akui tubuh nya memang sangat aduhai. Tinggi, ramping tapi berisi, kulit putih, dan wajah yang sangat cantik.


Saat ini dia menggunakan setelan kemeja putih yang nge press body banget dengan renda-renda di bagian dadanya, celana bahan hitam ketat, ditambah highheels yang lumayam tinggi. Dan, cara berjalannya aku akuin memang sangat anggun sekali. Tapi kalau inget bagaimana dia berbicara, bagaimana dia membentak ku tadi, aku jadi tidak tertarik sama sekali dengannya.


Lalu timbul pertanyaan di benak ku. Ini cewek beneran baru mau daftar kuliah? Angkatan baru? Kok setelannya udah kaya orang kantoran gitu ya? Ga salah? Pikiran ku malah melayang kemana-mana. Tapi wajar. Dandannya tidak seperti orang yang baru saja lulus SMA. Kalau anak gadis di kampung ku yang baru lulus SMA tidak akan mungkin ada yang berpenampilan seperti ini. Tapi ini Jakarta, dan semua jenis manusia memang ada di sini. Hingga akhirnya doni menepuk bahu ku lagi.


"Woiii lihatnya biasa aja dong, hahaha," ucap Doni mengagetkan ku.


"Apaan, aku juga biasa aja ah liat nya," balas ku.


"Biasa aja apanya? Ampe bengong gitu tadi lo mandang tuh cewek lewat. Haha. Tapi ga apa-apa juga sih. Wajar kok. Lo boleh dari kampung, tapi selera tetep harus kota men, haha,” ucapnya sambil menyenggol lengan ku.


Aku hanya bisa nyengir mendengar ocehan si Doni. Sialan. Apa benar aku tadi sampai bengong gitu ya? Kok aku tidak sadar? Ini pasti ga bener pikir ku.


"Abis tes, ajak kenalan yuk, berani ga lu?" ajaknya.


"Ndak ndak ndak, ndak mau aku, kamu aja kalau mau, aku ga tertarik,” jawab ku acuh.


"Yakin ga mau? Jangan nyesel ya hehe."


"Iyooo…"


Males banget aku diajak kenalan ama tu cewek. Sekarang saja cewek itu sesekali memandang ke arah ku dan doni dengan pandangan sinis. Kami ini seperti pengganggu bagi nya. Sombong sekali pikir ku. Emang pikir dia siapa?


Tidak lama setelah itu pintu ruangan tes pun dibuka. Semua peserta langsung berdiri dan berkerumun di depan pintu masuk. Petugas yang membuka pintu tadi langsung menghimbau agar masuknya tertib, tidak perlu berebutan. Semua pasti kebagian tempat duduk. Akupun memilih untuk menunggu dan masuk belakangan.


Setelah masuk ruangan, aku langsung mencari nomer kursi sesuai yang tertera di kartu ujian ku. Ternyata soal tes nya pilihan ganda dan sudah terkomputerisasi. Kampus ini memang terkenal dengan fakultas Teknologi Informasi nya. Dn salah satu Universitas swasta dengan fakultas TI terbaik. Oiya, petugas juga menginformasikan kalau tiga puluh menit setelah tes hasilnya sudah keluar. Jadi kami di himbau untuk tidak langsung pulang.


Meskipun aku dari kampung, tapi sejauh ini aku tidak gaptek-gaptek banget. Sewaktu SMA dulu di sekolah ku sudah ada mata pelajaran komputer. Jadi bagaimana mengoperasikannya sebagai user aku sudah bisa. Ga malu maluin banget lah.


"Apaan?" tanya ku. Aku mendengar bisikan dari arah kiri belakang. Ternyata doni.


"Tuh,” jawabnya dengan isyarat. Aku menengok ke arah kanan dan, ya ampun...wanita itu lagi. Dia dapat nomer tepat di samping kanan ku. Dia yang merasa aku pandangi juga ikutan nengok.


"Apa lo liat-liat?" tanya nya dengan kasar.


"Eh, enngghh...enggak kok, ga liat apa apa,” jawab ku gugup.


Dia masih menatap ku tajam dan melotot. Tak mau cari masalah aku lalu mengalihkan pandangan ku ke depan. Lalu terdengar suara cekikikan dari arah doni. Aku kembali menoleh ke arahnya. Sialan dia menertawakan ku. Aduh kenapa jadi begini sih? Fokus Ian fokus.


Tidak lama setelah itu, tes pun di mulai. Aku lalu berusaha fokus untuk mengerjakannya. Tapi dari ekor mata kanan ku, aku bisa sedikit memperhatikan wanita yang bahkan aku belum tau namanya itu, body nya kebentuk banget kalau dari samping seperti ini. Perutnya ramping, pinggulnya melengkung dengan indah, dan dadanya itu, mancung banget. Apalagi bajunya serba ketat.

__ADS_1


Duuuh...fokus fokus. Aku sampai menepuk pipi ku sendiri dengan agak keras yang malah membuat wanita itu menengok lagi ke arah ku. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya, tapi pandangan sinis dan merendahkan itu yang aku lihat. Bodo amat lah pikir ku lagi dalam hati.


__ADS_2