AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 3


__ADS_3

Satu hari setelah kedatangan ku di jakarta, aku mulai diajari sama mas rizal bagaimana cara pembuatan hardcase. Prosesnya ternyata cukup panjang, tapi tidak terlalu ribet menurut ku. Mulai dari memotong triplek sebagai bahan dasarnya, merangkainya menjadi kotak sesuai ukuran, hingga melapisinya dengan kain sebagai finishing. Semua diajarkannya pada ku dengan sabar. Untungnya aku cepat menangkapnya, jadi sekali dua kali diajari langsung ngerti.


Mas Rizal sebenarnya memiliki dua pegawai lepas yang dipanggilnya kalau lagi ada orderan saja. Orang sekitar sini juga. Tapi karena sekarang orderan lagi sedikit, dan ada aku juga, maka mereka tidak dipanggil. Gantinya, akulah yang mengerjakannya.


Sempat terfikir oleh ku, kalau ceritanya seperti ini apakah sama saja aku ngambil rezeki orang? Sempat ada perasaan tidak enak. Tapi, bagaimana kita bisa bertahan di kota jakarta yang keras ini kalau kita tidak ambil setiap peluang yang ada? Yang penting aku tidak ngrampok, aku tidak nyuri, dan aku tidak nipu, maka itu sah-sah saja. Dan itulah pesan yang diberikan mas Rizal kepada ku.


Hari ini hari sabtu, kebetulan mas Rizal tidak akan pergi kemana mana. Tidak ada urusan yang penting katanya. Jadi seharian ini full ngajarin aku bagaimana membuat hardcase dari awal hingga akhir. Dan alhamdulillah, meskipun belum sebagus yang lain, aku sudah bisa melakukannya.


"Tinggal dirapihin aja, dan dicepetin aja kerjanya,” itu lah komentar yang diberikan mas Rizal tadi.


Saking asiknya mengerjakan hal baru yang menyenangkan ini, tak terasa hari sudah menjelang sore. Kenapa pekerjaan ini menurut ku menyenangkan? Karena setiap prosesnya membutuhkan perhitungan dan ketelitian yang memang aku cukup tertarik dengan hal itu. Mulai dari mengukur triplek dan bahan lain yang di butuhkan, hingga menghitung perkiraan berapa banyak bahan yang digunakan, semuanya membutuhkan ketelitian dan aku sangat menyukainya. Entahlah, ada semacam kepuasa tersendiri ketika aku bisa mengerjakannya dengan sempurna.


"Kamu ambil arsitek aja ian, itu ukuran dan gambar yang kamu bikin akurat banget, cocok itu buat kamu. Apalagi kamu kalau itung itungan cepet kan?" saran mas Rizal tadi.


"Ah, belum tau mas, liat nanti deh, hehe, lagi pula mahal kan kuliah arsitek?" balas ku.

__ADS_1


"Dibilangin ga usah mikirin biaya,” ucapnya lagi dengan muka agak sewot tapi aku tau dia tidak bermaksut begitu.


"Iya mas, nanti aku pikirin lagi, hehe,” balas ku sambil nyengir.


Rasanya senang sekali hari ini. Ternyata seperti ini rasanya cari duit. Capek, pasti. Apalagi ini termasuk pekerjaan kasar. Panas, keringetan, jelas. Tapi gak tau kenapa aku sangat menikmatinya. Bahkan mba Endang sampai menyuruh ku dua kali untuk istirahat makan siang. Yang pertama aku mengacuhkannya karena saking asiknya. Yang ke dua, tentu aku tidak mau durhaka dengan tidak mendengarkan perintah kakak ku sendiri, walau sebenarnya aku juga sudah mulai lapar.


Tiara? Beberapa kali dia menghampiri ku dan ayahnya untuk sekedar bercanda. Kadang juga dengan usilnya dia malah mengganggu pekerjan kami, tapi kami tidak menanggapinya serius, justru malah menganggapnya sebagai hiburan dan sebagai obat capek kami. Oiya, Hari ini dia libur sekolah. Seperti kebanyakan sekolah di kota, hari sabtu mereka libur. Beda dengan di kampung yang biasanya masuk hingga sabtu.


Sore harinya, setelah dirasa cukup, mas rizal menyuruh ku untuk menghentikan pekerjaan ku dan di lanjut besok lagi. Katanya yang order kali ini tidak buru buru. Kalau kebetulan pelanggannya santai seperti ini enak, kita jadi tidak dikejar waktu. Tapi kalau lagi banyak order dan yang order memberikan target barang harus dikirim kapan, tidak jarang mas rizal dan pegawainya mengerjakan hardcase ini hingga tengah malam. Dan sepertinya aku juga harus bersiap-siap begadang sampai tengah malam bila nanti mendapatkan pelanggan dengan karakter seperti itu.


Begitu masuk rumah aku mendapati mba Endang sedang nonton tv berdua dengan Tiara di ruang keluarga. Iseng aku ikut bergabung dengan mereka. Mas Rizal, lagi ngerokok kayaknya tadi.


"Nikmatin mba, seru, hehe,” jawab ku.


"Nah gitu, aku ga ngelarang kamu mau kerja atau belajar cari duit, tapi sekali pesen ku ya ian, kamu harus lanjut sekolah, aku mau kamu jadi orang sukses nantinya. Bahagiain bapak ibuk di kampung. Ya!! Ngerti kan maksud ku,” pesannya lagi.

__ADS_1


"Hehe, iya mba ngerti,” balas ku sambil nyengir. Tiba tiba pandangan ku beralih ke Tiara yang sadar ga sadar ternyata memperhatikan ku dari tadi.


"Eh, Tiara kok liatin om gitu sih?" tanya ku bingung.


"Om ian jeleeek, dekil, bau acem, hihihi,” ejeknya sambil tertawa cekikikan. Setelah aku perhatikan, badan ku emang dekil banget sore ini. Tapi wajar sih, setelah apa yang aku kerjakan seharian ini. Rese juga nih bocah, kalau ngomong sekenanya. Mirip banget sama bapaknya. Haha.


"Hahaha, kamu tuh yang bau aceeeem, belum mandi kan weeeek,” balas ku bercanda. Dia balas menjulurkan lidahnya.


"Hus, tiara!! ga boleh ngomong gitu ah sama om nya, ga sopan,” tegur mba Endang sambil melotot. Tiara hanya tertawa menanggapinya.


"Ga apa apa kali mba, namanya juga anak kecil, ya kan tiara?" bela ku ke keponakan ku satu satunya itu.


"Iyaaa oommmm...haha...tapi om beneran jeyeeeek deh hihihi,” ucapnya lagi. Aku tertawa mendengarnya. Hahaha. Bener-bener deh ini bocah. Udah dibelain tapi masih aja ngeledekin. Mba Endang hanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku anaknya itu.


Bahagianya mba ku yang satu ini. Punya suami yang penyayang. Anak yang lucu. Keluarganya sudah sempurna. Aku kapan ya? Haha, kerja aja belum udah mikirin keluarga.

__ADS_1


Selepas bercanda dengan mba endang dan tiara, aku melanjutkan kegiatan ku sore itu dengan menyapu dan ngepel rumah. Ya, seperti tekad ku sebelumnya bahwa aku tidak mau hidup gratis di sini, maka sebagiam pekerjaan rumah aku yang kerjakan. Setelah berdebat singkat, aku kebagian jatah nyapu, ngepel dan mencuci piring plus segala peralatan dapur yang kotor lainnya.


Awalnya aku hanya diberi tugas nyapu dan ngepel saja. Tapi aku ngotot untuk mencuci piring juga. Kalau nyuci baju, masing masing. Dan tidak mungkin juga aku nyuci pakaian dalam mba Endang. Masak, sudah jelas itu tugas utama mba Endang. Kita semua tinggal makan enak saja.


__ADS_2