
sesampainya di alamat yang saya tujui..
Aku berdiri di depan gerbang sebuah rumah. Sebesar rumah ku di kampung. Tapi ini versi mewahnya. Rumah ku di kampung juga besar. Tapi sebagian lantainya masih tanah, dan sebagian dindingnya masih anyaman bambu. Tidak ada mewah nya. Jadi inget rumah.
Aku masih diam mematung. Bingung gimana caranya memanggil orang di dalam ya? Pagarnya tinggi, tertutup, dan prediksi ku jarak antara rumah dan pagar cukup jauh alias halamannya luas. Lalu tiba tiba...
"BUGH"
"BRUGH"
"Aduuh"
Sebuah mobil yang tidak asing bagi ku menabrak ku dari belakang hingga membuat ku tersungkur ke depan.
"Arrgghhh...," aku meringis kesakitan karena merasakan nyeri di sekitar kaki ku bagian belakang.
"HEH, NGAPAIN LO BEDIRI DEPAN RUMAH GUE? NGIKUTIN GUE LU YA?" dan ternyata wanita itu lagi. Ini rumah nya? Ya ampun, sempit banget kayanya Jakarta tuh. Wanita itu membentak dan memarahi ku. Jadi ini rumahnya? Ampun gusti. Tobat. Mimpi apa saya semalam?
Jujur aku sudah sangat malas. Kalau bukan karena mas Rizal ogah sebenarnya aku dateng ke rumah ini.
"Situ kan yang dateng belakangan, situ kali yang ngikutin,” ucap ku pelan dan ngasal pura-pura tidak paham dengan teriakannya barusan. Aku sudah kehilangan rasa hormat ku kepadanya.
"APA LU BILANG?"
"Enggaaaaaak..."
Tiba tiba pagar terbuka. Seorang ibu ibu paruh baya yang membukakannya.
"Loh, non Gita? Kok teriak-teriak sih non? Ada apa toh ini?"
"Ada orang gila ngikutin Gita bi!!"
__ADS_1
"Mana non?" tanya ibu tadi kebingungan, mungkin di dalam benak nya tidak mungkin ada orang gila seganteng aku, hahaha.
"Tuh!!!" jawab Wanita yang ternyata bernama Gita ini sambil menunjuk ke arah ku.
"Eh, nak kamu kenapa? Kok kakinya dipegangin?" tanya si ibu yang sadar kalau aku sedang memegangi kaki ku dengan ekspresi menahan sakit.
"Engg...anu..."
"Jangan ditolongin bi!!!" teriak si wanita bernama Gita itu. Tega benar ya? Ya Allah…
"Iya non," balas si ibu patuh.
"Papa ada?" tanya wanita itu lagi.
"Ada non di dalam."
"Elu, jangan kemanana mana!!!", ucapnya sambil menunjuk ku lalu berjalan dengan cepat ke dalam rumah nya.
"Paaaa...papaaa..."
"Kamu ini siapa nak? Kakinya kenapa?” tanya ibu itu saat melihat ku masih kesakitan meskipun aku sudah berdiri.
"Ga apa apa bu, kepleset saja tadi, hehehe. Oiya saya ada perlu dengan pak Weily, betul disini rumahnya pak Weily?" tanya ku ramah sambil sedikit membungkuk.
"Iya betul, ya sudah bibi bilang ke pak Weily dulu, kamu tunggu sini ya."
"Iya bu."
Baru ibu ibu itu mau masuk, terdengar samar sama suara seorang pria.
"Kamu itu kebiasaan! kalau ngomong pake teriak..."
__ADS_1
Kemudian muncul seorang bapak bapak bersama wanita arogan itu. Jangan jangan ini pak weily. Dan makhluk itu anaknya? Astaga…..
"Kamu siapa?" tanyanya dengan tenang. Suaranya berat. Berwibawa. Tapi tetap sopan. Membuat siapa pun pasti akan memberikan hormat kepadanya.
"Maaf pak sebelumnya, apa benar ini kediaman pak Weily?"
"Ya benar, saya Weily, kamu siapa?"
"Alhamdulillah, saya Alfian, saya adik nya Rizal, di suruh ngambil ukuran,” ucap ku sambil mengulurkan tangan.
"Owalahh...jadi kamu yang disuruh si Rizal, diapain kamu tadi sama gita?"
Pak weily menjabat tangan ku dengan erat.
"Ga diapa-apain pak, saya yang salah tadi berdiri di depan gerbang, hehe,” jawab ku diplomatis tidak mau memperkeruh suasana.
"Ya sudah ayo masuk, aku sudah nungguin kamu dari tadi."
"Tapi pa, dia itu...,” protes Gita yang tidak terima Ayah nya sendiri malah mempersilahkan aku masuk.
"Apa? Mending kamu masukin tu mobil, papa ada urusan dengan orang ini, ayok," ajak pak Weily kepada ku.
Pak weily lalu mengajak ku masuk. Sedangkan makhluk yang bernama Gita itu akhirnya dengan muka manyun semanyun manyunnya menuruti perintah papanya itu. Iseng aku memberikan senyum kemenangan ku kepada nya untuk membuat nya semakin kesal. Entah kenapa aku melakukan itu.
Sampai di dalam aku dibuat kagum dengan design dan interior rumah ini. Elegan. Unik. Dan yang pasti mewah. Tidak banyak basa basi di antara aku dan pak weily. Langsung ke inti tujuan ku datang kemari. Mengukur barang barang porselen yang akan dibuatkan hardcase.
Sore hari sekitar pukul 4 semuanya sudah beres. Ada sekitar 20 barang yang aku ukur. Wah lumayan nih pikir ku. Kalau diitung kemungkinann upah yang akan aku terima dari mas rizal, tinggal tambahin dikit udah bisa buat bayar satu semester. Alhamdulillah.
Aku sempat disuruh makan. Tapi karena aku nya sungkan, aku menolaknya. Aku bilang sudah makan, padahal belum. Aku hanya mencicipi beberapa kue dan minuman yang dihidangkan. Setelah itu aku pamit pulang. Tapi sebelumnya aku berpesan pada pak Weily untuk tidak menceritakan insiden kecil di depan rumahnya tadi kepada mas rizal. Pak weily mengiyakan dan juga meminta maaf atas kelakuan anaknya.
sesampainya di rumah saya ngobrol dengan mas rizal..
__ADS_1
"Haha, jadi anaknya pak Weily daftar situ dan ujian bareng kamu juga tadi?" tanya mas rizal. Kita sedang meeting, bahasa kerennya, di kantor kami di halaman samping rumah. Lagi menghitung hitung banyaknya bahan dan apa saja yang harus dibeli, sekaligus menghitung harga jualnya.
"Iya mas, kebetulan banget," jawab ku santai seolah tidak terjadi apa apa seharian tadi. Padahal, hampir stress aku ngadepin tingkah dari wanita yang hampir mati juga aku karena ulahnya. Tidak terbayangkan oleh ku akan bagaimana kedepannya. Mungkin ya beginilah namanya hidup. Semua hal terjadi begitu saja. Mengalir seperti aliran sungai. Kadang alurnya landai dan tenang. Kadang terjal, curam, dan penuh gejolak. Entah semuanya serba kebetulan atau sebenarnya sudah tersusun dalam sebuah keteraturan.