AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 29


__ADS_3

Aku melihat jam di HP ku, sudah hampir jam tujuh. Setelah beribadah berjamaah dengan hampir seluruh penghuni rumah ini, kecuali Gita tentunya, aku dan Pak Ahmad, penjaga dan yang bertanggung jawab atas rumah ini, ngobrol di teras depan rumah. Obrolan hangat terjalin di antara kami berdua. Ditemani dengan dua gelas teh manis hangat dan beberapa cemilan, rasanya seperti sedang ngobrol dengan Bapak.


Pak Ahmad banyak bercerita tentang masa mudanya yang ternyata dari kecil tinggal bersama dengan Kakek dan Nenek Gita dari Ibu. Bisa dibilang mirip dengan Aku dan Mba Endang. Karena dari penjelasannya, Pak Ahmad ini adalah saudara jauh dari Kakek nya Gita. Beliau sudah dianggap anak sendiri oleh Kakek nya Gita. Dan sekarang, Gita sudah beliau anggap seperti anak kandungnya sendiri. Sampai dengan sekarang, diusia pernikahannya yang hampir duapuluh tahun itu, mereka belum dikaruniai seorang anak.


Gita sendiri sekarang sedang di dalam membantu Bu Rini, menyiapkan makan malam untuk semua. Rasanya tuh seperti, aku dan Gita adalah sepasang suami istri, dia sedang membantu Ibu di dapur sedangkan aku dan Pak Ahmad menunggu di depan. Kalau dibayangin rasanya indah sekali. Hahaha. Ngelantur lagi.


Kembali ke rumah ini, rumah ini adalah warisan dari kakek dan nenek Gita ke Ibu nya Gita. Dan, sekarang menjadi rumah Gita setelah Ibu nya mengamanahkan rumah ini kepadanya. Bisa dibilang, ini adalah kenang-kenangan yang ditinggalkan kakek, nenek, dan ibu nya kepadannya.


Meskipun sederhana, aku bisa merasakan kehangatan di rumah ini. Pantas saja dia tadi bilang rumah ini adalah tempat dimana dia pulang dan berteduh. Tapi, kenapa dia bilang sudah lama tidak merasakan suasana hangat seperti ini? Atau yang dia inginkan itu kehangatan dari keluarga khususnya Papa nya? Tapi kan yang ada di rumah ini sudah seperti keluarga sendiri bagi nya? Aku semakin tidak mengerti dengan anak itu.


"Nak Ian sudah berapa lama kenal dengan Gita?" tanya Pak Ahmad membuyarkan lamunan ku.


"Eh, ehmm...kenalnya sih sudah setengah tahun lebih pak, tapi kenal deket baru sebulanan ini," balas ku.


"Owh...sedeket apa ya nak kalau bapak boleh tau?" tanya nya lagi. Kaya lagi diinterogasi.


"Ehmm...itu...," jawab ku terputus karena ragu mau menjawab apa.


"Ga usah bingung, bapak cuma pengen tau aja," ucapnya lagi sambil menoleh ke arah ku.


"Ya, seperti sahabat aja sih pak, tidak lebih," jawab ku.


"Bapak boleh minta tolong sesuatu pada naik Ian?"


"Minta tolong? Minta tolong apa ya pak?"


"Dari bayi, bapak sudah ikut kakek nya neng Gita. Bisa dibilang, bapak punya hutang budi seumur hidup dengan keluarga besar neng Gita," jelasnya sambil memandang kedepan. Membelah lebatnya hujan yang turun bersama dengan kenangan masa lalunya.


Kalau diminta, apapun akan bapak lakukan demi kebahagiaan neng Gita," lanjutnya masih dengan menerawang ke depan. Aku hanya diam mendengarkan ceritanya.


"Sudah lama sekali bapak tidak melihat keceriaan neng Gita seperti sore ini, terakhir bapak melihatnya mungkin sekitar tujuh tahunan yang lalu sebelum Almarhum Bu Ratna meninggal," ucapnya lagi dengan sedih. Aku bisa merasakan betapa dia juga merasakan kehilangan atas mamanya Gita.


"Bapak juga tidak mengerti kenapa neng Gita bisa berubah seperti itu. Bapak ga terlalu tau bagaimana hubungan pribadi keluarga mereka, tapi baik Pak Weily, Bu Ratna, sama-sama baiknya. Sama-sama dermawan dan rendah hati. Sama-sama perhatian dengan kedua anaknya, neng Yohana dan Neng Gita," jelasnya lagi.


Tunggu dulu, sama-sama perhatian? Lalu pengakuan Gita tadi sore apa? Kenapa bisa berbeda seperti ini? Aku merasa Gita tadi tidak mengada-ada, tapi aku juga yakin Pak Ahmad tidak berbohong. Semakin pusing aku dengan keluarga ini.


"Kembali ke neng Gita, apapun hubungan nak Ian dengan neng Gita, bapak mohon nak Ian mau tetap bersama dengan neng Gita. Menjaganya, menemaninya, dan membahagiakannya, Bapak percaya neng Gita akan bahagia dengan nak Ian" ucap Pak Ahmad.


"Waduh," ucap ku spontan.


"Nak Ian tidak bersedia?"

__ADS_1


"Bukan tidak bersedia pak, tapi...takut tidak sanggup, dan saya juga tidak yakin apakah Gita benar-benar membutuhkan saya karena kami dekat juga belum lama ini," jelas ku.


"Tidak masalah, nak Ian cukup jalani saja seperti sekarang, tidak perlu berusaha mendekat, tapi jangan menjauh dari neng Gita," pintanya lagi.


"Kalau itu, insyaallah saya sanggup," balas ku. Bertepatan dengan itu datang salah seorang anak, aku lupa namanya, dari dalam rumah membuat obrolan serius kami terhenti.


"Abah, kak Ian, disuruh makan, katanya udahan ngobrolnya," ucap anak itu dengan polosnya. Aku dan Pak Ahmad sama-sama tersemyum menanggapinya.


"Ayoook, abah juga sudah laper ini, nak Ian, mari makan," ajak Pak Ahmad.


"Mari Pak," balas ku sambil tersenyum.


Kami bertiga lalu masuk untuk makan bersama. Rasanya sudah lapar juga perut ini. Namun, pikiran ku kembali bertanya-tanya. Setelah kejutan tentang rumah dan keluarga besar ini, aku semakim dibuat bingung dengan cerita dari Pak Ahmad dan Gita yang saling bertolak belakang. Tapi ya sudah lah. Mungkin dengan berjalannya waktu aku akan mengetahuinya.


***


Seperti dugaan ku sebelumnya, acara makan bersama ini pasti akan berlangsung di ruang tengah karena tidak mungkin kalau di dapur. Tidak akan cukup. Dua buah tikar digelar diruang tengah yang memang cukup luas ini. Satu tempat nasi berukuran besar berada ditengah. Di sampingnya terdapat satu panci berisi sayur yang nampak sangat sedap. Lalu disekelilingnya ada beberapa piring berisi tahu dan tempe goreng dan juga beberapa piring kecil sambel matang. Terakhir sebuah toples besar berisi kerupuk. Ini sih aku banget pikir ku.


Ayo nak Ian seadanya ya, ga usah sungkan, anggep aja makan di rumah sendiri," ajak Pak Ahmad yang mulai menyendok nasi.


"Dia mah krupuk, sambel, sama kecap aja juga udah seneng Pak," ucap Gita menyela. Aku baru mau menjawabnya tapi sudah keduluan Gita.


"Maafin neng Gita ya nak Ian, kadang suka begitu orangnya," lanjutnya


"Ndak apa-apa bu, saya sudah biasa kok dianiaya sama Gita, jadi udah kebal," canda ku. Tapi raut wajah Gita nampak langsung berubah. Apa dia merasa tersindir? Aduh, ni anak suka ngeledekin tapi baperan juga.


"Maksut saya dianiayanya yang enak-enak lho bu, hehe, jadi saya sih seneng-seneng aja, hehehe."


"Eh, apaan tuh aniaya yang enak-enak, boong bu, Ian ngaco tuh," sanggah gita sambil menjulurkan lidahnya. Dia nampak kesal dengan candaan ku. Tapi terlihat juga kalau dia tau aku hanya bercanda.


Bu Rini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Pak Ahmad masih sibuk dengan piring dan nasinya. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi, apa ya? Ah, iya. Sebagian anak-anak, khususnya yang sudah agak besar, menatap ke arah ku dengan curiga. Aku yang merasa risih lalu melirik ke arah Gita. Tidak lama kemudian Gita sadar tapi juga tidak mengerti kenapa mereka mematap ku. Lalu tiba-tiba seorang anak menyeletuk tanpa dosa di depan kami semua.


"Kak Ian pacaran ya sama Kak Gitaaa?"


"HAH?" aku dan Gita sama-sama terperangah dengan pertanyaan anak itu.


Andri apaan sih? Kakak sama kak Ian itu sahabatan, jadi ga mungkin kita pacaran," elak Gita.


"Betul itu, kakak itu sahabatnya kak Gita ndri, tapi sahabat yang teraniaya, hahaha," canda ku lagi.


"Tapi kan ada tuh kak lagu yang sahabat menjadi cinta?" balas andri lagi sambil senyum-senyum. Aku dan Gita sama-sama bingung dengan pernyataan anak kecil yang usianya belum genap sepuluh tahun itu.

__ADS_1


"Andri, makan dulu ya, ngurusin cinta-cintaannya nanti kalau udah gede, ngerti?" tegur Pak Ahmad tegas namun tetap santai.


"Hehehe, iya bah, tapi, Andri sama temen-temen yang lain punya permintaan buat Ka Ian," balasnya. Aduh, apa lagi ini pikir ku.


"Andri...," tegur Pak Ahmad lagi.


"Biarin aja pak gapapa, ehmm...andri dan adik-adik yang lain pengen apa? Kalau kakak bisa pasti kakak kasih deh," balas ku dengan tersenyum.


Anak-anak itu saling pandang sebentar. Sebagian dari mereka juga saling tersenyum. Senyum polos khas anak-anak.


"Kami," ucap Andri terhenti.


"Kami semua, mau Kak Ian selalu jagain dan lindungin Kak Gita apapun yang terjadi, jagain Kak Gita untuk kami," ucap Andri sebagai perwakilan dari mereka semua. Aku mendadak bengong. Lalu melirik ke gita seolah tidak percaya. Gita juga terlihat sedikit menggeleng pertanda tidak tau apa-apa.


"Udah-udah, abah marah nih kalau kalian minta yang aneh-aneh. Belum waktunya. Sekarang waktunya buat kalian makan, belajar, lalu bobok," tegur Pak Ahmad lagi semakim tegas.


"Tapi bah," seorang anak yang lain ikut bicara.


"Nissa!!"


Semua terdiam. Semua anak-anak nampak takut dengan Pak Ahmad. Pak Ahmad sebenarnya tidak salah, karena untuk urusan seperti ini belum waktunya bagi mereka. Tapi, mungkin aku harus menengahi.


Baiklah," ucap ku dengan riang ke anak-anak itu sambil mengacungkan jempol.


"Kakak janji sama kalian semua. Kakak akan selalu lindungin, jagain, dan selalu ada untuk Kak Gita, semuanya untuk kalian, karena kakak tau kalian sayang sama kak Gita kan?"


"Iya kak, kita semua sayang kak Gita," jawab mereka dengan riangnya.


"Ya udah, sekarang kita makan ya, kakak udah laper nih, hehehe," ajak ku. Semoga mereka semua lekas memulai acara makannya.


"Kan Ian mbul, hahaha," celetuk salah seorang dari mereka. Lah, dibilang mbul.


"HAHAHAHA," tawa yang lainnya.


"Husss, ga boleh gitu, ga sopan," tegur Pak Ahmad. Si anak hanya senyum-senyum saja. Aku masih belum hafal yang barusan mengataiku ini namanya siapa.


Setelah Pak Ahmad selesai menyendok nasi dan lauknya, sekarang giliran ku. Aku mengambil nasi secukupnya, sayur juga secukupnya, satu potong tahu dan tempe, sambel, dan terakhir kerupuk. Setelah aku selesai menyendok, baru giliran anak-anak itu yang menyendok. Yang aku salut, tidak ada satupun dari mereka yang berebut. Semuanya tertib menunggu giliran. Setelah anak-anak selesai, baru giliran Gita dan Bu Rini yang terakhir menyendok.


Aku kembali teringat dengan ucapan Gita tempo hari yang mengatakan kalau dia rindu suasana makan yang seperti ini. Kalau dia jujur, lalu yang sekarang ini apa? Tidak mungkin ini adalah yang pertama baginya. Lalu, apa dia berbohong? Untuk apa? Menarik perhatian ku? Menjebak ku?


Atau, yang dia rindu adalah yang dengan keluarganya. Pasti begitu. Tapi kalau memang seperti itu berarti Pak Ahmad yang berbohong dong. Argh...aku semakin bingung dengan keluarga ini. Mending makan aja deh. Biar kenyang terus pulang.

__ADS_1


__ADS_2