
Untuk kedua kalinya dalam semester ini, aku dan kedua sahabat ku ini membolos kuliah dengan sengaja. Tapi bedanya, ada pada siapa yang berinisiatif. Kalau dulu mereka berdua yang memaksa ku untuk membolos, sekarang aku yang merengek minta mereka berdua menemani ku. Dan tentu saja tempat yang kami gunakan untuk bermalas-malasan kali ini adalah kostan Kiki.
"Dah kan, kita berdua udah nemenin lu di sini, sekarang cerita lu!" ucap Doni saat kita bertiga sudah berkumpul di 'lobi' kost Kiki.
"Iya aku cerita...," aku menghela nafas sebentar lalu meneruskan ucapan ku.
"Jadi gini..." aku lalu menceritakan percakapan ku dengan Diah semalem.
Halo," sapa ku lewat telepon.
"Halo..." balasnya pelan. Pelan sekali. Kemudian hening sesaat.
"Apa kabar? Sibuk banget nih kayanya sekarang?" tanya ku berusaha mencairkan suasana.
"Hehe, restoran rame. Maaf ya...," balasnya. Masih dengan intonasi yang lemas. Tidak seperti Diah yang biasanya yang selalu bersemangat. Mungkin harus aku dulu yang memulai pembicaraan.
"Kamu kenapa Di? Ada masalah?" tanya ku langsung.
"Hiks..." suaranya terdengar seperti sedang menangis.
"Di, kamu kenapa sayang? Cerita ke aku kalau ada masalah."
"Maafin aku..."
"Maaf kenapa?"
"Hiks...Hiks...A-aku..."
"Kenapa?"
"Aku… ga bisa nolak kemauan Bapak…hiks..."
"Kemauan apa?" tanya ku lagi dengan gemas.
"A-aku...dijodohin."
'JEDUAAAR'
Semua menjadi terasa sangat dingin. Pikiran ku mendadak kosong. Kepala ku seperti terkena hantaman benda keras, pusing. Kami kembali hening untuk beberapa saat. Komunikasi yang aku harapkan bisa membunuh rasa kangen ini justru malah berujung dengan kabar buruk.
Kamu menerimanya?"
"Aku ga bisa menolaknya, maaf. Kecuali kalau kamu...," ucapnya terputus.
"Kecuali apa? Apa yang bisa aku lakukan?"
"Lamarannya akhir tahun ini, aku belum tau kedepannya akan gimana, tapi sebelum itu terjadi, tolong temui bapak, aku mohon! hiks...hiks..." pintanya sedih. Hati ku bergetar mendengar permintaannya. Aku minta maaf Di udah berprasangka buruk pada mu selama ini, batin ku.
"I-iya Di, udah jangan nangis lagi. Semua pasti ada jalan keluarnya. Aku pasti akan menemui bapak, sebelum akhir tahun aku akan pulang lagi, aku janji."
__ADS_1
"I-iya, makasih Ian, makasih untuk usaha mu."
"Ga perlu berterima kasih Di, kita harus sama-sama berjuang kan? Dan sekarang aku akan memperjuangkan mu. Aku janji. Kamu tenang ya, semua pasti akan baik-baik aja."
"Makasih udah nenangin Diah, Diah sayang Ian, sayang...banget."
"Ian juga sayang banget ama Diah, senyum dong biar manis, hehe."
"Hehehe, dasar jelek." jawabnya sambil tertawa kecil.
"Kamu yang jelek, ada masalah gitu ga langsung ngomong malah diem, weeek!"
"Diah ga jelek, Diah cantik tauuu, weeek!" balasnya manja.
"Hahaha, iya-iya Diah cantik, paling cantik sedunia akhirat, hehehe."
"Gombal, weeek!"
"Hahaha, eh kamu lagi apa Di? ga kangen apa ama aku?" tanya ku santai. Aku mencoba membuatnya tenang. Meskipun sebenarnya aku sendiri sangat terkejut dengan kabar yang diberikannya. Tapi aku harus tenang. Aku juga harus mempersiapkan mental ku untuk menemui orang tua Diah sebelum akhir tahun. Yang itu artinya kurang dari dua bulan lagi.
Kangen tau, kamu kangen ga? hihihi."
"Kangen lah, kamu mah tega, nggantungin sms ku berhari-hari," balas ku pura-pura ngambek.
"Hehe, maaf deh, nanti kalau pulang aku kasih hadiah deh, hehe."
"Hadiah? apa itu?" tanya ku penasaran.
"Siapin mental dulu aku nya, hahaha. Tapi tenang, sebelum akhir tahun aku pasti pulang dan menemui bapak."
"Iya, aku tunggu kok, makasih ya, muach..."
"Maunya beneran!" canda ku.
"Iya nanti, aku kasih yang buaaanyaaaak, hihihi."
"Asiiiik..." balas ku girang. Seperti Tiara saat dapet apa yang dia mau.
"Girang banget, dasar mesum, hihihi.
"Biarin, ga suka?" tantang ku bercanda.
"Haha, suka kok suka. Ya udah, bobo yuk, udah malem nih, besok aku masuk pagi." ajaknya.
"Ya udah yuk, met istirahat ya sayaaang," balas ku.
"Mimpiin aku ya, hihihi."
"Mimpi basah dong kalau gitu?"
__ADS_1
"Hiiih...emang kalau mimpiin aku selalu gituan? Kamu itu..."
"Hehehe."
"Ya udah ya, daaa..."
"Daaa..."
***
Mereka berdua sekarang menatap ke arah ku dengan tatapan yang aneh.
"Kok liatinnya gitu?" tanya ku sambil mengambil minum yang disediakan Kiki.
"Mesum juga lu, hahaha," komentar Doni.
"Tapi Aku ke Diah doang," Balas ku.
"Hahaha, wajar bro namanya juga pria."
"Sudah-sudah, kalian ini malah keluar dari topik ngobrolnya," potong Kiki. Doni hanya nyengir.
"Jadi menurut kalian aku tetep harus nemuin bapaknya Diah kan?"
"Iyalah, harus. Lo cowok bro, lo harus berjuang. Apa perlu gue temenin?" tawar Doni.
"Menurut ku juga begitu," ucap Kiki menambahkan lagi.
"Makasih ya, makasih untuk supportnya."
"Ya itulah guna nya sahabat, saling berbagi susah maupun senang, iya ga Ki?"
"I-iya, betul itu," lagi-lagi Kiki menambahkan.
Aku tersenyum pada mereka berdua. Support dan motifasi dari mereka berdua cukup membuat ku semakin yakin untuk memperjuangkan Diah. Ya, aku harus pulang lagi sebelum akhir tahun untuk menemui orang tua Diah.
"Jadi kapan kamu mau pulang?" tanya Kiki.
"Belum tau, sebelum akhir tahun yang pasti, tapi setelah masa pengenalan BEM."
"Pengenalan?" tanya Doni.
"Iya, mereka menyebutnya gitu."
"Di kampus atau?"
"Di luar, aku belum tau pasti detail waktu dan tempatnya seperti apa," jelas ku.
"Owh...," balas Kiki singkat.
__ADS_1
Hari ini kami habiskan hanya dengan bermalas-malasan di kost Kiki. Canda tawa mengiringi kenakalan kami yang membolos kuliah hanya karena kegalauan ku. Gapapa lah, sekali-kali pikir ku. Sekali-kali nakal. Hehe. Nakal bersama sahabat tidak ada salahnya.