
Dini hari tadi aku di kagetkan dengan suara gedoran pintu kamar ku. Aku sempat bertanya tanya. Siapa ya? Mba endang? Mas rizal? Ga biasanya mereka membangunkan ku dengan kasar seperti itu. Dengan malas aku bangun dan membuka pintu. Masih ngantuk rasanya. Ku tengok jam dinding ternyata masih jam 2 pagi.
"Siap siap! kita pulang sekarang. Barusan Yoga ngabarin ibu sakit, katanya kondisinya terus melemah"
Belum hilang rasa kaget akibat gedoran pintu tadi, sekarang aku mendapat kabar yang lebih mengejutkan. Ibuk sakit?
"Hah? Melemah? Ibuk...", balas ku pelan.
"Kamu jangan panik dulu. Sekarang udah di rumah sakit. Kamu siap siap ya. Mba mu juga lagi siap siap, aku mau siapin mobil dulu"
"I-iya mas"
Aku lalu bergegas kekamar mandi dulu untuk sekedar mencuci muka. Setelah itu aku langsung balik ke kamar nyiapin baju secukupnya.
Sudah beberapa hari ini ibuk memang lagi tidak enak badan. Aku mengetahuinya saat menelponnya dua hari yang lalu. Waktu itu dia ngeluh badannya sakit semua. Tapi aku tidak mengira akan semakin menurun kondisinya.
***
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua belas jam, kami berempat sampai di salah satu rumah sakit di kota jogja. Mba Endang jalan paling depan diikuti mas Rizal dibelakangnya. Sedangkan Aku paling belakang menggendong tiara yang tertidur kecapean. Kasihan mba Endang, dia yang paling kuatir diantara kami berempat.
"Gimana ibu ga?" tanya mba Endang ke mas Yoga saat kami tiba di depan kamar.
"Alhamdulillah sudah mendingan mba, bapak sama binar ada di dalam."
Mas Yoga lalu mencium tangan mba endang. Kemudian mas Rizal.
"Sehat mas?"
"Alhamdulillah, ibu gimana?"
"Udah mendingan, masuk aja mas."
"Iya."
Mba Endang dan mas Rizal kemudian masuk.
"Sehat ian?" mas Yoga menjabat tangan ku. Aku mencium tangannya sambil menggendong Tiara.
"Alhamdulillah, mas sendiri?"
"Ya seperti yang kamu lihat ini, hehe. Ya sudah kamu masuk juga, sini Tiara biar sama aku saja," pinta mas Yoga. Aku lalu menyerahkan Tiara padanya dan ikut masuk ke dalam.
Mba Endang sudah duduk di tepian tempat tidur sebelah kanan. Ibu ternyata sedang tidur. Aku bisa melihat mata mba Endang sudah berkaca-kaca. Di sampingnya berdiri mas Rizal. Sedangkan di sisi tempat tidur yang lain berdiri Bapak dan Binar. Aku lalu menghampiri mereka.
"Pripun kabare pak?" tanya ku setelah sungkem padanya.
"Sehat le, ibuk mu kui lho mambengi sewengi malah panase ra mudo-mudon," jelas bapak sedih. Aku lalu menyalami Binar.
"Sehat de?"
"Alhamdulillah mas"
Aku kemudian duduk di tepian tempat tidur. Sama seperti mba Endang, aku mengelus lengan dan bahu ibu. Seolah mau mengatakan "Buk, ini lho anak mu udah pada pulang, ibuk cepet sembuh ya." Sedih rasanya kalau melihat keluarga lagi sakit seperti ini. Apalagi kalau yang sakit adalah orang tua kita. Kalau bisa ditukar, lebih baik aku saja yang sakit.
"Trus diagnosanya apa pak," tanya mas Rizal.
"Kata dokter sih kemungkinan gejala typus mas, atau bisa juga DB, tadi siang baru di ambil sampel darahnya," jelas de Binar.
"Kalau panasnya udah turun dari kapan?"
"Dari pagi tadi mas, mudah-mudahan ga naik lagi ya."
"Iya mudah-mudahan, kita semua berdoa ya untuk kesembuhan ibuk".
"Iya mas, eh tiara mana ya?"
"Iya zal, cucu ku mana ya? Ikutkan?"
"Kaleh mas Yoga pak, tiange tilem wau." jelas ku.
"Binar sama bapak keluar aja dulu gapapa kalau mau nemui tiara, biar kami yang nunggu di dalam," saran mas Rizal.
Bapak sama Binar lalu keluar menemui Tiara. Kasian juga anak itu, kecapean sampai tidurnya pulas banget.
"Udah mba, jangan nangis lagi, ibuk pasti ndak apa-apa, yang penting sekarang kita berdoa untuk kesembuhan ibuk"
"Tuh mah, dengerin ian, jangan bikin yang lain ikut sedih juga. Kita semua sedih melihat kondisi ibuk, tapi kita juga harus tetap kuat dan yakin kalau ibu pasti segera sembuh lagi"
__ADS_1
"Hiks...iyaa...ta-tapi aku ga tega liatnya...hiks..."
"Ya sama, aku juga ga tega, Ian pasti juga ga tega, kita semua ga tega. Tapi kalau kamunya kaya gitu bisa-bisa kamu juga ikut ngedrop nanti."
"Iya mba, mas Rizal bener. Mba Endang ga boleh banyak pikiran. Ibuk udah ditangangi, pasti sembuh."
"Iya, makasih ya."
Aku dan mas Rizal lalu keluar. Membiarkan mba Endang di dalam bersama ibuk yang masih tertidur.
"Eh, anak papa udah bangun ya, digendong ama siapa itu enak banget."
"Ama mbah Kuuuuuung," teriak Tiara lalu kembali memeluk leher mbah nya lagi. Kelihatan bahagia banget. Bapak pun juga begitu, terlihat bahagia banget bisa gendong cucunya lagi.
Bapak makasih ya zal, kamu udah anterin Endang sama Ian pulang,"
"Sama sama pak, kaya sama siapa aja pakai makasih segala."
"Gimana perjalanan tadi, macet ga?"
"Alhamdulillah lancar, tapi ya macet dikit wajar."
"Oh ya syukur kalau gitu, kalian pasti capek, nanti kalian pulang saja."
"Justru kita datang tu mau jagain ibu pak, bapak, Binar sama Yoga yang pulang, nanti biar Yoga bawa mobil ku."
"Lha apa ndak capek?"
"Capek, tapi sama aja kan di rumah atau di sini? Udah, malam ini gantian kita yang jagain ibuk."
"Lha terus Tiara?"
Mas Rizal lalu mendekat ke Tiara.
"Tiara malam ini mau ikut papa di sini atau Mbah Kung?"
"Ikut Mbah Kung ajah!"
"Tapi ga boleh nakal sama rewel ya!"
"He'eh"
"Siap mas. Tiara nanti bobo bareng tante ya," ucap Binar ke Tiara.
"Yeeeey...bobo sama tante antikkk."
Lahhh...ni bocah. Aku dibilang jelek, giliran Binar dibilang cantik.
Setelah membereskan baju kotor masing-masing, mereka berempat pulang ke rumah menggunakan mobil mas Rizal. Mas Yoga yang nyetir. Untungnya Tiara anaknya ga rewel jadi bisa ikut pulang. Dan lebih baik baginya untuk tidur di rumah saja.
Sore menjelang magrib itu aku dan mas Rizal sudah berada di depan Mushola untuk Ibadah berjamaah. Kadang aku malu dengan yang maha Kuasa. Ibadah ku masih bolong-bolong. Hanya ingat padanya disaat seperti ini. Ya Tuhan, ampuni hambamu ini.
Selesai beribadah berjamaah, mas Rizal langsung balik ke kamar. Gantian dengan mba Endang. Sedangkan aku ke depan untuk beli makan buat bertiga. Sekitar jam tujuh kami bertiga makan bersama. Ibuk sudah bangun tadi dan seneng banget bisa ketemu kami bertiga. Tapi agak kecewa juga karena Tiara sudah keburu pulang.
Jam tujuh lewat, waktunya ibuk buat makan. Mba Endang dengan telaten menyuapi ibuk. Aku terharu. Mungkin seperti itu lah dulu ibuk menyuapi kami. Merawat kami. Membesarkan kami. Dan sekarang giliran kami yang akan merawat mu buk. Ibu ndak usah kuatir. Kami akan selalu ada untuk mu.
Selesai makan dan minum obat, ibuk langsung mengantuk. Demamnya sebenarnya sedikit naik. Tapi kata dokter wajar karena memang begitu siklusnya. Jam-jam sekarang ini biasanya panas tubuhnya akan naik lagi.
Setelah ibuk tertidur, sekitar pukul sembilan, mas Rizal dan mba Endang pergi ke kantin. Pacaran lagi nih pikir ku mereka berdua. Biarin dah. Aku sekarang di kamar sendirian menemani ibuk yang tertidur pulas.
Sekitar tiga puluh menit kemudian mereka berdua balik.
"Loh kok udah balik pacarannya, masih sore ini," canda ku.
"Haha, kan memang cuma mau ngopi doang, lagian mba mu ini udah ga betah katanya"
"Lagian, kantin udah kaya kebakaran gitu, asep rokok dimana-mana, ini kan rumah sakit, kamu juga ga bisa apa nahan ga ngerokok semalem aja," omel mba Endang.
Mulai dah berdebat nya sepasang suami istri ini. Haha. Kadang suka lucu kalau melihat mereka berdebat. Sama-sama keras tapi untungnya salah satu masih mau mengalah. Dan itu tentu saja mas Rizal.
Merasa bosan, sekitar jam sepuluh malam aku minta izin untuk kedepan sebentar sekedar mencari angin. Mereka mengiyakan. Entah kenapa, walaupun baru tiga bulan lebih aku meninggalkan kota ini, rasanya sudah kangen banget. Sebesar kangen ku pada Diah. Ah iya, dia kan kerja di Jogja, aku hubungan aja ah.
"Halo, Waalaikumsalam," suara lembutnya benar benar menyejukkan hati ku.
"Diah apa kabar? Sehat?"
"Alhamdulillah aku juga sehat iah."
__ADS_1
"Oh iya, kamu belum dapet kabar ya?"
"Ibuk iah, dirawat, sakit typus dari semalem."
Aku merasakan kepanikan dari suaranya. Tapi aku segera menenangkannya.
"Tapi sekarang udah mendingan kondisinya. Udah tidur sekarang, tadi setelah makan malem."
"Iya aku di Jogja," ucap ku sambil tersenyum, padahal Diah tidak mungkin bisa melihat senyum ku saat ini.
"Oh, Diah besok lusa pulang? Ya udah lihat nanti ya, mudah-mudahan bisa ketemu Diah, hehe."
"Ya udah kalau gitu, met malem ya, met bobo ya," balas ku lagi lagi dengan tersenyum.
Tadi Diah sepertinya seneng banget tau aku sekarang ada di Jogja. Dan dia mengatakan kalau lusa pulang ke Wonosari. Mudah-mudahan ibuk sudah bisa dibawa pulang. Ketemu Diah deh.
Keluar dari gerbang Rumah Sakit, kulangkahkan kaki ku ke arah kanan. Kalau dari sini, kearah kanan itu menuju salah satu Universitas Negeri terbaik di Indonsia, tiga terbaik. Indahnya suasana malam di kota ini. Selalu membuat ku rindu. Aku memang asli dan tinggal di wonosari. Tapi untuk beberapa tempat di sudut kota Jogja ini aku sudah cukup familiar.
Aku terus melangkahkan kaki ku. Padahal tidak ada tujuan pasti. Hanya melangkah. Menyusuri trotoar yang terdapat beberapa penjual makanan disana. Gorengan, Angkringan, Susu Jahe, Roti Bakar. Mereka semua melempar senyum pada ku saat aku melewati lapaknya.
Aku terus berjalan. Hingga aku berhenti disebuah bundaran depan gerbang kampus. Masih rame ternyata. Sama seperti saat terakhir aku, Diah, dan beberapa teman ku waktu dulu main ke tempat ini. Aku langsung berjalan menuju tukang jahe susu. Pasti enak untuk menghangatkan badan.
"Jahe susu ne setunggal pak dhe," pesan ku yang langsung di iyakan si bapak bapak tukang jahe.
Aku lalu duduk di bangku plastik yang disediakan. Aku mengecek hp dan ada beberapa sms dari Doni dan Kiki. Keduanya menanyakan kondisi ibuk. Langsung aku balas kalau ibuk sudah membaik.
Kuputar pandangan ku ke sekeliling area ini. Terdapat beberapa anak muda yang nongkrong di sini. Bersenda gurau dengan rekan-rekannya. Jadi kangen dengan teman teman SMA ku dulu. Ntar kalau ada waktu ajak ketemuan ah.
"Ian?" sapa seseorang yang menepuk bahu kanan ku.
"Eh, Endra, ngapain di sini?," ternyata orang itu adalah Endra, salah satu teman SMA ku.
"Kamu yang ngapain di sini? Bukannya di Jakarta?"
"Iya ya, hehe. ini ibuk ku sakit di rawat, jadi aku pulang."
"Ya ampun, sakit apa? Ngomong-ngomong apa kabar nih? Makin keren aja, hehe."
"Typus ndra, tapi udah baikan kok. Semalem panasnya tinggi banget terus akhirnya dirawat, makanya aku sama mbak ku pulang. Kabar ku baik ndra, kamu sendiri?"
"Aku juga baik kok. Gimana? Jadi kuliah?"
"Alhamdulillah jadi ndra, tapi ya cuma di kampus swasta. Kalau kamu kuliah di sini kan?"
"Iya alhamdulillah. sama aja ian mau kuliah dimana juga, yang penting kitanya serius apa nggak. Oiya aku kos di belakang kampus. Ayuk mampir!"
"Udah malem ndra, kapan kapan aja. Gimana kabar temen temen yang lain?"
"Temen-temen yang lain sehat, tapi ya gitu sebagian besar pada langsung kerja, pada males. Trus kamu selain kuliah ada kegiatan lain ga?"
"Iya sayang ya, padahal kalau mau mah bisa aja kan kuliah, pada males sih ya. Aku kerja ndra, bantu-bantu usaha mas ku. Kamu sendiri?"
"Iya pada males, kita punya kesempatan untuk memperbaiki nasib kudu memanfaatkannya ian. Kuliah yang bener. Biar sukses, dan khusus kamu, jangan ga balik! Kalau udah sukses kamu harus balik untuk membangun daerah kita biar makin maju. Oiya aku dagang ian, jualan gorengan, hehe. Tuh gerobak ku. Cobain ya! Bentar tak ambilkan, jangan kemana-mana!"
Eh ndak usah ndra," larang ku tapi percuma. Endra sudah berlari kecil menuju lapaknya.
Lima menit kemudian Endra balik lagi.
"Nih cobain, enak lho, hehe."
"Banyak amat?"
"Penghabisan itu, bawa aja nanti buat di rumah sakit."
"Kalau udah rezeki emang ga kemana, makasih ya."
"Sama-sama Ian."
"Oiya ndra, aku setuju dengan kalimat mu tadi. Kita tuntut ilmu setinggi-tingginya dan kembali untuk membangun daerah kita."
"Sepuluh tahun lagi!"
"Sepuluh tahun lagi?"
"Iya, kita kembali sepuluh tahun lagi dan kita lihat apa yang bisa kita berikan untuk daerah kita. Setuju?"
"Setuju."
__ADS_1
Tak disangka aku malah ketemu temen ku Endra. Dia salah satu sahabat ku dan salah satu siswa terpintar di sekolah. Tak salah dia bisa dapat beasiswa di kampus ini. Aku kalau sedikit lebih rajin mungkin juga bisa sepertinya. Sayangnya aku dulu malas. Baru-baru ini aja sedikit berkurang malasnya karena terus di gembleng sama mba Endang dan mas Rizal. Setelah ngobrol beberapa saat, Endra pamit untuk balik ke kos nya. Aku pun juga sudah akan kembali ke rumah sakit.
Diperjalanan menuju rumah sakit aku jadi terfikir ucapan endra. Dia benar. Suatu saat nanti aku pasti akan kembali dan membangun daerah ku supaya lebih maju. Mensejahterakan kehidupan masyarakat di sana. Semoga bisa. Aamiin.