AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN

AKU RINDU PADA SEBUAH KESEDERHANAAN
part 27


__ADS_3

Don," sapa ku saat perkuliahan telah selesai.


"Hmmm...?" balasnya dengan malas-malasan.


"Aku ndak bisa ikut, aku sudah ada janji duluan..."


"Sama?" tanya nya lagi.


"Ehmm...itu..." jawab ku ragu sambil menunjuk ke belakang tempat dimana ada Gita.


"Gita?" tanya Kiki yang ikutan nimbrung.


"I-iyaaa."


"Sudah gue duga," balas Doni lagi agak sinis.


"Kok gitu responnya?" tanya ku karena merasa tidak enak.


"Emang dari awal gue menduganya begitu, masa harus bilang yang lain?" jawab Doni. Makin ga enak balesannya.


“Kalian ikut aku sama Gita aja,” tawar ku.


"Males! Yuk Ki, kita berdua aja! Ian nya lagi sibuk," ajak Doni pada Kiki lalu beranjak pergi duluan. Sedangkan Kiki hanya mengekor sambil memberikan senyum yang dipaksakan. Tanpa sepatah kata pun. Ini bukan Kiki yang seperti biasanya.


Dengan lemas, aku pun balik ke tempat Gita duduk untuk mengajaknya berangkat.


"Yuk, jalan," ucap ku tanpa semangat.


"Kok lemes gitu?"


"Gapapa, udah yuk jalan," ajak ku tanpa menunggu persetujuannya, dan langsung meninggalkannya.


"Ian, tungguuu!" teriaknya sambil bangkit dan bergegas. Sebelumnya dia sudah berpamitan terlebih dahulu dengan kedua sahabat sosialitanya itu. Sama seperti Doni dan Kiki, mereka berdua juga nampak tidak terlalu suka. Ya elah. Ini bukan akhir dunia kali. Aku menggerutu dalam hati sambil berjalan menuju parkiran. Anak-anak kota sepertinya terlalu membawa perasaan. Di kampung dulu jalan mah jalan saja dengan siapa yang mau. Namanya juga berteman.


Aku benar-benar tidak menyangka dengan sikap Doni dan Kiki tadi. Aku pikir mereka akan mengerti, tapi ternyata malah begitu. Namanya janji harus ditepati kan? Masa aku ngeberatin mereka daripada janji ku. Janji itu kan hutang. Mau gimanapun ya harus ditepatin. Aku masih mencoba mencari pembenaran atas keputusan yang aku ambil. Tapi entahlah, mungkin mereka berdua belum terbiasa aja kali dengan aku yang baru sekali ini menolak ajakan mereka.


"Ian, tungguuiin!" teriak Gita sambil berjalan dengan tergesa-gesa menyusul ku ke arah parkiran. Lucu sekali jalannya yang tergesa-gesa gitu menggunakan high heels.


Aku sudah berdiri tepat di samping mobilnya. Berdiri menghadap kearahnya. Aku masukan dua tangan ku ke kantong depan celana Jeans ku. Memandangnya dari kejauhan. Dasar, ke kampus aja pakai sepatu hak tinggi.


"Buru-buru banget sih?" omel nya dengan kesal ketika sudah sampai di depan mobil dan langsung menuju pintu kemudi. Dia langsung masuk dan menyalakan mobil, setelah itu membuka kunci pintu mobilnya. Akupum langsung masuk.


"Jadi kemana kita?" tanya nya dengan tersenyum manis. Lagi-lagi perubahan ekspresinya terjadi begitu drastis.


"Terserah kamu aja, yang penting kamu suka."


"Kamu kenapa sih? jadi jutek gitu?" tanya nya. Mobil sudah bergerak keluar dari parkiran menuju gerbang kampus.


"Nanti aku ceritain," balas ku dingin.


"Okay," balasnya lagi singkat.


Mobil mulai masuk ke jalan raya. Menembus kemacetan pinggiran kota Jakarta yang hampir tidak kenal waktu. Entah aku akan dibawa kemana. Terserah dia saja.


***


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, aku dan Gita tiba di sebuah restoran yang sebelumnya aku pernah makan di sana dengan Pak Weily. Restoran milik Pak Weily. Berarti milik Gita juga dong. Tapi aku memilih diam saja. Kalau aku nanya macem-macem takutnya Dia nanti malah curiga.


Udah pernah makan disini belum?" tanyanya saat kami sudah duduk di salah satu meja yang posisinya sangat strategis di lantai dua. Sebelumnya aku melihat pelayan yang mengantarkan kami tadi mengambil sebuah papan bertuliskan "Reserved" yang sebelumnya berada di atas meja.


"Eh? Apa? Aku? Aku pernah ke sini apa belum? Hahaha, yang belum lah," jawab ku berbohong.


"Oh kirain udah pernah, enak tau di sini. Makanannya lumayan, suasannya juga oke punya," jelasnya. Ya iyalah, restoran milik Papa mu sendiri ya pasti kamu bilang enak lah. Aku lalu iseng nanya mengenai papan reservasi tadi.


"Meja ini udah kamu pesen? Kapan mesennya? Atau...?"


"Eh, hehehe, kamu merhatiin aja. Iya udah aku pesen dari pagi tadi, tapi cuma sebagai backup aja sih," jelasnya.


"Backup? Kaya file aja di backup," canda ku. Dia lantas tertawa renyah.


"Aku tadinya mau ikut aja kemanapun kamu mau ajak aku, karena aku pikir kamu pasti sungkan kalau aku ajak ke tempat seperti ini," jelasnya.


"Kemanapun? Kalau aku ajak ke hotel?" canda ku lagi.


"Iiihhh nakal ya Ian sekarang, hahaha," balasnya manja sambil mencubit ku pelan dan tertawa.


"Serius," balas ku dengan mimik muka serius.


"Halah, kaya berani aja," ejeknya.


"Hahaha, emang ga berani sih," balas ku polos. Tapi, untuk urusan semacam itu aku memang belum pernah.


Lalu, kenapa kamu jadi ngikut kemana mau ku?"


"Lagi sebel aku," keluh ku.


"Sama?"


"Tuh bocah berdua."


"Doni sama Kiki?"


"Siapa lagi."


"Kok bisa sih? hahaha, kayanya yang perlu curhat kamu deh, bukan aku."


"Enak aja, rencana awal tetep harus," protes ku.


"Tapi sebelumnya kamu harus cerita dulu," ucapnya memberikan syarat.


"Hmmm...intinya mereka rada bete aku menolak ajakan mereka. Tapi kan aku menolak karena sudah ada janji duluan ama kamu," jawab ku polos.


"Duh...kamu so sweet banget, jadi enak hihihi."


"Jangan GR! Garis bawahi tuh kata duluan nya."


"Biarin, yang penting kan kamu bela-belain buat nepatin janji kamu sama aku, hehehe."


"Pengen banget ya jalan sama aku sampai seneng banget gitu," ledek ku.


"Eh, enggak sih, biasa aja weeek," kilahnya. "Jadi, sebelum aku cerita, kamu mau makan apa? Pesan aja," lanjutnya.


"Kamu aja deh yang pesenin, aku ndak ngerti makanan ginian," jawab ku lagi-lagi berbohong.


"Tapi dimakan ya, awas kalau ga dimakan," ancamnya.


"Iya, tapi jangan banyak-banyak juga," jawab ku.


"Suka-suka aku dong, hihihi," lagi-lagi dia membalas ucapan ku dengan senyum nya yang manis. Senyumnya seperti anak kecil, manis, imut, tapi tetap anggun. Ah susah di jelasinnya. Senyumnya nampak selalu beda dengan yang lain.


"Mba...!" panggilnya ke pelayan dengan lembut. Serius, ini beda banget dengan Gita yang aku kenal dulu. Gita yang sekarang benar-benar lembut dan halus. Kira-kira kulit tubuhnya halus juga ga ya? Haha. Sekilas aku melihat kulit bawah lehernya yang terbuka, nampak sangat putih dan bersih. Hei, matanya dijaga!! Haha, gagal fokus.


Dengan telaten Gita memesan beberapa macam menu makanan yang aku tidak tau bentuk dan rasanya seperti apa. Tapi dari nama-nama makanan yang dipesan, sepertinya komplit. Mulai dari menu pembuka, utama, penutup hingga minumannya. Calon istri idaman sepertinya. Boleh nih masuk list. Haha. Ngaca Ian, mana mau Pak Weily nerima kamu yang hanya seorang anak petani ini jadi mantu. Haha. Ngimpiii.

__ADS_1


"Sebanyak itu?" tanya ku dengan herannya karena baru sadar kalau apa yang dipesan Gita mungkin cukup untuk lima sampai enam orang. Baru sadar? Dari tadi ngapain aja? Liatin dada nya Gita?


"Pasti abis kok, tenang aja," jawabnya santai.


"Aku baru tau porsi makan kamu sebanyak ini," ucap ku masih dengan takjubnya.


"Kenapa? Ilfeel?"


"Enggak-enggak, ndak ada yang salah dengan porsi makan sebanyak itu, tapi...kok...," tanya ku sambil sedikit memperhatikan bentuk tubuhnya termasuk ke bagian dada nya yang membusang indah itu. Reflek Gita nampak menyilangkan kedua lengannya, berusaha menutupi dadanya yang menantang itu..


Iiih...Ian genit banget sih! Liatin Gita ampe segitunya," protesnya manja. Tapi tidak ada ekspresi marah sedikitpun. Mukanya kesal tapi ya hanya sebatas gemas pada keusilan ku.


"Hehehe, normal kan?" balas ku bercanda.


"Iya tapi ga se terang-terangan gitu juga kali, kan jadi malu! Semua cowok mah sama aja!"


"Papa Weily juga dong? berarti kalau liatinnya diem-diem ndak apa-apa dong?"


"Ga boleh! Enak aja! Mungkin juga sama aja papa mah, aku ga tau kelakuannya di luar sana kek gimana, dan ga mau tau juga," ucapnya santai.


"Itu Papa mu lho," balas ku sambil mengernyitkan dahi.


"Trus? Kalau mau buat kamu ajah, kayanya kalian cocok, hahaha," balasnya sambil tertawa.


"Ga lucu, aku serius," balas ku tegas.


"Aku juga serius!"


"Sebenarnya ada apa sih di antara kalian berdua? Kenapa kamu begitu cuek dengan papa mu?"


"Menurut kamu?"


"Mana aku tau."


"Kamu pasti tau, Papa pasti udah cerita macem-macem tentang aku ke kamu!"


"Dih, pede banget. Serius, hubungan ku dengan Papa mu tidak lebih dari urusan bisnis saja."


"Hahaha, gaya banget."


"Terserah, tapi kenyataannya memang begitu kok."


"Hahaha, sewot lagi, kaya cewek ah kamu itu."


"Bodo!"


"Hahaha."


"Hiiih," saking gemasnya akhirnya aku mengacak-acak rambutnya lagi.


"Iiih...jangan digituin!"


"Makanya cerita!"


Tidak lama setelah aku memintanya cerita, semua makanan yang dipesan Gita tadi sudah tiba.


"Makan dulu yuk, baru nanti aku cerita deh...," ajaknya.


"Bisa aja ya kamu cari alesannya," protes ku.


"Sabar, pasti cerita kok, okeh."


"Okeh."


Kalau menurut Gita sendiri, Kiki itu orangnya terlalu serius, pemalu, dan apa ada nya seperti ku. Sedangkan Doni, tidak banyak komentar, tapi Gita merasa geli kalau melihat tingkah polah Doni. Haha. Aku mengamininya, tapi aku juga menegaskan kalau mereka berdua itu orangnya sangat baik.


Sekitar tiga puluh menit kemudian kami selesai makan. Sebenarnya, Gita yang butuh waktu selama itu. Aku sih cuma butuh waktu setengahnya saja, meskipun kalau dihitung jumlah makan ku lebih banyak. Tentu saja, dia makannya lelet. Lebih sering ngocehnya dari pada makannya. Dasar wanita.


"Tuh kan bener ndak abis," protes ku saat kami berdua sudah selesai makan tapi makanan di meja masih tersisa banyak. Mungkin yang kemakan baru sepertiganya saja.


"Tenang, pasti abis kok. Waktu masih panjang," balasnya santai.


"Ya udah sekarang kamu mulai!"


"Hehe, tapi aku bingung mulainya dari mana."


"Ga ada alasan lagi!"


"Ya udah kamu tanya deh, ntar aku jawab."


Aku lalu berfikir sejenak. Memikirkan kalimat apa yang akan aku tanyakan padanya.


"Sejujurnya aku tidak paham dengan diri mu. Tapi aku tau kamu yang sebenarnya adalah kamu yang sekarang aku lihat ini. Pertanyaan ku, kenapa kamu sebelumnya selalu..., kamu tau maksut ku," tanya ku. Sengaja aku tidak meneruskan kalimat ku.


"Aku yang sekarang? Cantik maksutnya? Makasii," balasnya sambil tersenyum. Aku tidak meresponnya. Hanya sebuah pelototan mata tanda tidak ada sesi bercanda lagi kali ini.


"Hahaha, oke aku jawab deeeh," ucapnya lalu berhenti dan menarik nafas.


"Masih inget kan waktu di rumah kamu aku bilang rindu dengan suasana hangat makan malam itu?"


"Ya, aku inget."


"Aku kangen mama."


"Trus?" tanya ku bingung.


"Iiih...,"


"Apaan sih?" Aku makin bingung.


"Papa tuh gila kerja orangnya. Baginya kerja adalah yang nomer satu. Selama dia bisa mencukupi kebutuhan kami, baginya sudah cukup. Kamu ngerti kan maksut ku?"


Aku sebenarnya belum nyambung, tapi sepertinya sedikit-sedikit mulai tau ke arah mana pembicaraan Gita.


"Ya, aku mengerti," jawab ku sambil mengangguk.


"Dulu, aku dan Ka Yohana masih punya mama, tapi semuanya berubah setelah...hiks..." kalimatnya terhenti. Air matanya mengalir. Gita menangis.


"Tidak usah dilanjutkan kalau kamu tidak sanggup," potong ku.


"E-enggak, aku harus menceritakannya. Kamu satu-satunya teman ku yang perhatiin aku sampai sedetail ini."


"Cuma aku? Lah dua sahabat kamu itu?"


"Mereka tidak seperhatian kamu, lagi pula aku memang tidak pernah menceritakan masalah pribadi kesiapapun," jawabnya sedih sambil memainkan sendok diatas makanannya. Kan bener, Gita itu contoh anak yang kuper. Kurang perhatian.


"Trus..., setelah almarhum mama kamu...meninggal?" tanya ku mencoba bersimpati.


"Papa nikah lagi," jawabnya pelan sambil menunduk. Masih berman dengan sendoknya. Sama seperti pengakuan Pak Weily.


"Aku pikir setelah mama meninggal, papa akan lebih memberikan kasih sayangnya ke aku dan KakYo, tapi aku salah. Yang aku takutkan terjadi. Papa malah menikah lagi dan lebih memperhatikan istri barunya itu. Dari awal itu aku ga setuju papa nikah lagi. Aku ga mau ada yang gantiin mama, siapapun orangnya. Ga mau punya mama baru."


Tapi aku lihat Pak Weily perhatian juga kok sama kamu."

__ADS_1


"Perhatian macam apa yang selalu mengawasi anaknya? Dikira aku robot apa?"


"Hah? Maksutnya?"


"Kamu lihat saja ke arah jam sembilan, di dalam, dan arah jam satu di bawah sana," perintahnya.


Karena takut menarik perhatian, aku hanya menengok sedikit dan melirik semaksimal aku bisa. Astaga! Orang-orang itu?


"Jangan bilang mereka itu orang-orangnya Papa kamu!"


"Kalau bukan orangnya papa, orangnya siapa lagi?"


"Kamu tau dari mana?"


"Awalnya aku tidak tau dan tidak sadar juga, tapi lama-lama aku sadar karena orang-orang itu selalu ada dimana aku berada."


"Ya, mungkin Papa Kamu sedang sibuk mungkin, jadi hanya bisa suruh orang untuk jagain kamu," ucap ku. Pembelaan yang konyol.


"Ian! Aku butuh kasih sayang Papa, bukan pengawasan dari mereka!" balasnya tegas.


"Iya, aku mengerti," balas ku menenangkannya.


"Setelah semua itu terjadi, kamu berontak?"


"Hmmm..."


"Jadi, setelah itu kamu mencoba mencari perhatian Pak Weily dengan semua ulah kamu itu?" tanya ku lagi


"Kesannya aku kriminal banget, hikss...," keluhnya.


"Hahaha, canda Git, hehehe."


"Ga lucu!"


"Trus-trus?"


"Tras trus tras trus, dasar tukang parkir!" omelnya.


"Biarin tukang parkir, yang penting ganteng!"


"Preeet!!"


"Banyak yang bilang gitu kok."


"Paling Mama Kamu, Mba Endang, sama Diah doang. Ga ada lagi."


"Hahaha, tau aja." aku tertawa mendengar candaannya. Tapi kemudian tawa ku langsung sirna karena Gita juga ikut menyebut satu nama lagi, Diah.


Aku sudah tidak berkomunikasi sama sekali dengan Diah. Dia ternyata telah berganti nomer HP. Aku sudah mencoba minta tolong ke Binar untuk mencari informasi tentamg Diah, tapi nihil. Diah selalu menghindar saat Binar menanyainya.


"Eh, Diah apa kabar?" tanya nya tiba-tiba.


Aku hanya menggeleng.


"Maafin aku, semua karena aku, hikss...huaaa...," tangisnya semakin menjadi. Aku tidak mau orangnya Pak Weily itu mengira yang tidak-tidak. Aku langsung menenangkannya.


"Git, please jangan nangis, nanti orang-orang papa kamu itu mikir aku macem-macemin kamu."


"Hiks...e-eh i-iya ya," sekilas tangisnya langsung mereda. "Maaf."


"Aku ndak apa-apa kok, kamu tenang aja ya" ucap ku sambil tersenyum.


"Makasih ya, kamu baik banget. Dan udah mau dengerin cerita ku juga, hehe."


"Dan aku minta maaf belum bisa kasih solusi apa-apa, haha."


"Gapapa," balasnya sambil tersenyum. Sejenak aku memperhatikan wajahnya. Cantik. Benar-benar cantik.


"Trus yang kamu sama Mba Endang gimana ceritanya?"


Dia tidak langsung menjawab. Malah menatap ku sambil memicingkan matanya.


"Kamu itu mau dengerin curhat ku atau menginterogasi ku sih?" tanyanya ketus.


"Dua-duanya, eh maksud ku dengerin cerita kamu," jawab ku keceplosan.


Tuh kan! Ah males ah," balasnya sambil cemberut. Bibirnya dimanyun-manyunin.


"Jangan cemberut gitu dong...ntar ilang manisnya lho," rayu ku.


"Biarin, emangnya kamu peduli aku manis apa enggak?"


"Eh, itu..." aku bingung menjawab pertanyaannya.


"Ah kamu mah perhatiannya setengah-setengah. Udah ah, cerita-ceritanya selesai. Case closed!"


"Kok gitu? Kan udah janji mau cerita?"


"Bodooo!!"


"Ayo dong...penasaran nih."


"Enggak mau!!"


"Sedikit aja," aku masih terus memohon.


"Sekali enggak ya enggak. Lagian, Mba Endang sendiri kok yang ga bolehin aku cerita-cerita," jelasnya.


"Bohong!" Balas ku tidak percaya.


"Terserah!"


"Aku ga bilang-bilang deh."


"Ga ada jaminannya."


"Kamu mau apa biar percaya."


"Aku ga butuh apa-apa, hahaha."


"Jelek!!"


"Biarin. Lagian nih ya aku kasih tau. Rahasia antar perempuan itu sama pentingnya kaya janji antar laki-laki. Aku ga mau ambil resiko cerita ini ke kamu. Mending aku jaga perasaannya Mba Endang dari pada jaga perasaan kamu, hahaha, weeek," jelas nya sambil melet. Ah, lucunya. Pengen marah tapi ga bisa. Ekspresi wajahnya bener-bener membuat lelaki manapun langsung luluh.


"Dih gitu, tega banget sih," balas ku cemberut.


"Biarin! Dah ah, yuk cabut. Bosen aku lama-lama disini, kaya pemain sinetron ada yang nonton," ucapnya. Pasti yang dimaksud adalah dua orang berbadan tegap itu.


"Kemana kita? Pulangkan?"


"Pulang?"


"Lah terus?"

__ADS_1


"Mba, tolong dong," bukannya menjawab pertanyaan ku, Gita malah memanggil pelayan dan memberikan instruksi untuk membungkus makanan yang belum tersentuh tadi. Dengan cekatan mba nya merapikam semuanya dalam dua box makanan. Aku tidak mengerti dengan maksutnya. Biarin ajalah nona yang satu ini berkreasi sesukanya.


__ADS_2