
Detik demi detik, jam demi jam kulalui tanpamu...
Baru kusadari rein tanpa melihat dirimu hidupku terasa hampa.
Semoga tuhan masih memberikan kesempatan untukku ucap Marcel dalam hati.
Semoga kita di pertemukan dalam waktu yang membahagiakan bagi kita berdua, semoga kamu dan anak kita sehat sehat saja rein, dan kenyataannya aku mulai mencintaimu rein, maafkan aku, ucap Marcel lirih menatap foto rein yang tertinggal dikamarnya.
Aku akan bangkit dan berusaha terus untuk mencari keberadaan kalian, aku harap dan sangat berharap berkumpul bersama kalian.
Segera setelah itu Marcel bersiap siap untuk bekerja, sudah hampir 2 Minggu semenjak kepergian rein, Marcel tidak masuk ke kantornya sama sekali, dan semua tugas dikantor diserahkan kepada asistennya selama Marcel libur menenangkan diri.
Saat Marcel melangkahkan kakinya memasuki ruangan CEO, Felice sekretarisnyaj kaget karna Marcel tidak mengabari sebelumnya kalo dia akan datang ke kantor hari ini.
Dengan tergesa gesa Felice menyiapkan diri dan berjalan masuk keruangan bosnya.
__ADS_1
Tok...tok...
Masuk,,jawab Marcel dari dalam ruangan.
Selamat pagi pak, maaf saya tidak mempersiapkan kedatangan bapak ke kantor.
Tak masalah jawab Marcel pelan.
Oh ya Felice, besok dan seterusnya mulainya atur jadwalku seperti biasanya, dan siapkan dirimu untuk kesibukan yang akan aku ciptakan.
Baik pak. Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan, disertai dengan anggukan Marcel.
5 bulan kemudian.....
Minggu depan Marcel akan berkunjung ke perusahaan William untuk berdiskusi tentang proyek kerjasama mereka.
__ADS_1
Sekretarisnya Felice menjadwal hari Senin sebelum makan siang Marcel akan ke sana, dan bertemu dengan asisten William, karna William dalam perjalanan ke Indonesia dari Sydney dalam rangka menghadiri undangan rekan bisnisnya, dan diperkirakan siang tiba di kantor.
Dengan perlahan Marcel masuk ke dalam lift dan menekan lantai 27 menuju ruangan William berdasarkan info dari resepsionis. Saat pintu lift terbuka Marcel melihat sekelebat perempuan hamil melintas di depan pintu lift menuju toilet, dan wajah perempuan itu sangatlah mirip dengan rein, penasaran Marcel menunggu dibalik dinding toilet tersebut, tak berapa lama perempuan itu keluar dari toilet, dan dengan spontan Marcel menyentuh bahunya dan membalikkan tubuh perempuan itu, dan betapa kagetnya Marcel ternyata itu benar rein.
Rein....teriak Marcel sambil memeluk erat tubuh rein dan tidak ingin melepaskannya. Lepas Marcel lepas, ucap rein yang merasa sesak karna Marcel memeluknya sangat erat.
Dengan tidak rela Marcel melepas pelukannya, betapa hatinya berkecamuk melihat perempuan yang berapa bulan sangat ingin dia temukan, Marcel menatap rein dengan kerinduan dan rasa bersalah yang teramat sangat, dan hatinya semakin teriris melihat tubuh itu dengan perut yang sudah membuncit, terlintas diingatkannya Marcel saat iya menendang rein karna rasa kesalnya, mata yang selalu menatap dingin rein mengeluarkan air yang tak dapat dicegah ya lagi, seketika ia berlutut dihadapan rein, dengan melupakan dirinya sebagai CEO.
Maafkan aku....maafkan aku rein...ucap Marcel dengan tertunduk. Aku sangat bersalah kepadamu dan anak kita, ampuni aku...
Rein hanya diam menatap Marcel yang berlutut dihadapannya, bingung, sedih, kecewa, terselip bahagia saat Marcel mengakui yang dikandungnya itu sebagai anak.
Karna tidak juga mendapat jawaban rein, Marcel pun bersimpuh memeluk kaki rein erat , dan membuat rein kaget, kemudian memegang bahu Marcel, bangunlah kamu tidak pantas seperti ini, ingat siapa dirimu di kota ini.
Akan kuhilangkan semua harga diriku dan ego ku hanya untuk mendapatkan maafmu, ucap Marcel dengan suara serak menahan tangis dan sesak didadanya.
__ADS_1
Oleh karena itu, bangunlah aku sudah memaafkanmu ucap rein lembut.
Marcel pun berdiri, tangannya merangkul wajah mungil yang polos nan cantik itu, semakin sesak didadanya, mengapa aku sanggup menyia nyiakan kamu rein, lirih Marcel masih menahan tangisnya, sejujurnya dia sangat gembira teramat sangat, namun didalam hatinya ada ketakutan yang mendalam rein menolaknya.