AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 6 - BLACK KLOAK


__ADS_3

 


 


 


 


Perlahan kedua mata Vita terbuka. Sejenak dia mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling.


 


 


Apa yang terjadi? Apa aku bermimpi buruk? Tanyanya dalam hati.


 


 


Vita menunduk melihat tubuhnya yang telanjang diselimuti jubah hitam. Gadis itu menggeleng, ketika menyadari, kalau yang terjadi padanya bukanlah mimpi.


 


 


Vita bangkit untuk duduk sambil mempertahankan jubah hitam yang menutupi tubuhnya. Pandangannya teralihkan pada pria berambut seputih salju di dekat jendela. Pria itu menatap Vita dengan intens. Kedua mata amethyst milik gadis itu kembali berkaca-kaca. Dia mengangguk-angguk lemah sambil memegangi kepalanya yang sakit.


 


 


Pria yang sudah merenggut kecantikannya itu melangkah mendekati Vita. Dia duduk di samping gadis itu lalu mengusap rambutnya dengan lembut.


 


 


Vita menepis tangan pria itu lalu menatapnya dengan tajam. Pria itu tampak sedih.


 


 


"Aku ingin sekali melihat tatapanmu yang dulu. Tatapan penuh cinta saat melihat mataku," ucapnya.


 


 


"Pergi dari sini!" Teriak Vita ketakutan.


 


 


Pria itu menggeleng. "Aku tidak akan pergi."


 


 


Vita memberanikan diri menatap kedua manik aquamarine milik pria itu. "Kau sudah menyusup masuk ke rumah orang, menguntit, meneror, dan memperkosa gadis yang jauh lebih muda darimu. Kau benar-benar tidak bermoral."


 


 


Pria itu tidak merespon.


 


 


Vita berlalu ke kamar mandi dengan jubah hitam sebagai penutup tubuhnya. Ketika bercermin, Vita terkejut, karena tidak ada bekas-bekas pemerkosaan di tubuhnya.


 


 


Tidak ada yang sakit. Vita terheran-heran dengan apa yang sudah terjadi. Padahal jelas, pria itu memperkosanya. Gadis itu juga merasakan sakitnya hubungan pertama di ranjang. Namun, nyatanya dia baik-baik saja.


 


 


"Kau tidak apa-apa?" Suara bariton itu membuat Vita terlonjak kaget. Dia melihat bayangan pria itu lewat cermin, sehingga gadis itu segera menutupi seluruh tubuhnya lagi dengan jubah hitam.


 


 


Kenapa dia tiba-tiba di dalam kamar mandi? Aku sudah menguncinya tadi, batin Vita.


 


 


Pria tampan itu menatap Vita dengan seduktif. Lagi-lagi gadis itu ketakutan. Dia merasa risih dengan tatapan pria di depannya.


 


 


Tangan besarnya yang hangat menangkup wajah Vita yang terlihat kecil di tangannya. Vita menutup mata tidak ingin berpandangan dengan pria itu.


 


 


"Jangan takut padaku. Maafkan aku yang telah bermain kasar padamu. Lain kali aku akan melakukannya dengan lebih lembut."


 


 


Lain kali?


 


 


Yang barusan saja sangat menyakitkan dan membuat gadis itu syok. Apalagi jika pria yang sama sekali tidak dikenalinya itu kembali melakukan hal yang sama suatu waktu.


 


 


"Aku mencintaimu." Sudah dua kali Vita mendengar ungkapan rasa cinta pria tampan itu.


 


 


Vita menarik wajahnya dari tangan pria itu. Dia mengalihkan pandangannya. "Kau salah orang. Kau melukai orang yang tidak memiliki hubungan apa pun denganmu."


 

__ADS_1


 


"Baiklah, aku tidak akan menyakitimu lagi, aku berjanji. Tapi, jangan menyuruhku pergi."


 


 


Hening.


 


 


Tidak ada jawaban dari Vita.


 


 


Pria itu kembali bersuara, "Kau bisa memanggilku Rean."


 


 


Tiba-tiba pria itu menghilang dari hadapan Vita. Gadis itu terduduk lemas di lantai kamar mandi.


 


 


-


 


 


Vita keluar dari kamar mandi dengan kaos pendek dan hotpants navy yang melekat di tubuhnya. Dia melihat ke sekeliling, tidak ada siapa pun di kamarnya.


 


 


Jam menunjukkan pukul 10. Dia mendengus kesal, karena tidak pergi ke sekolah. Gara-gara kunci mobil yang tertinggal, dia harus 'berkelahi' dulu dengan pria bernama Rean itu di kasur.


 


 


Vita melihat ke tempat tidurnya yang kusut. Dia tidak menemukan darah atau apa pun di ranjangnya. Itu menandakan, jika dia benar-benar masih seorang gadis yang 'utuh'.


 


 


Vita menghela napas lega.


 


 


"Kau takut kehilangan keperawananmu?" Lagi-lagi Vita tersentak kaget dengan suara bariton Rean yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


 


 


Vita tertunduk takut.


 


 


 


 


Deg!


 


 


Vita terdiam seribu kata mendengar ucapan Rean. Gadis itu menatap Rean dari atas ke bawah, lalu dari bawah ke atas.


 


 


"Aku bukan hantu. Kau tidak perlu takut." Rean merentangkan kedua tangannya.


 


 


Vita bergidik. Kau bahkan lebih menakutkan dari hantu, penjahat kelamin.


 


 


Terdengar suara pintu diketuk. Vita yakin, itu adalah salah satu perawat ommanya.


 


 


Vita berkata dengan pelan, "Pergilah, jangan sampai perawat omma melihatmu."


 


 


Rean memiringkan kepalanya. "Mereka tidak bisa melihatku."


 


 


Vita berlalu membuka pintu. Ternyata benar, Perawat yang mendorong kursi roda omma yang mengetuk pintu kamarnya.


 


 


"Vita? Kau tidak pergi ke sekolah? Omma mendengar suaramu. Kau bicara dengan siapa?"


 


 


Vita menoleh ke dalam kamar. Ada Rean yang masih berdiri di sana menatapnya. Perawat itu tidak bisa melihat Rean.


 


 

__ADS_1


Semoga omma tidak mendengar suara teriakanku dan suara desahan pria mesum itu, batin Vita.


 


 


"Aku kesiangan, Omma. Tadi aku sedang berbicara pada Twisy," jawab Vita berbohong.


 


 


"Omma sudah memanggil orang yang mengerti tentang dunia hantu. Apa kau mau menemuinya?" Tanya omma.


 


 


Vita pun setuju.


 


 


Seorang wanita yang usianya sekitar 30 tahunan itu tersenyum tipis ketika melihat Vita. Gadis itu juga tersenyum santun.


 


 


"Ini cucuku, Devitaa Joanne La Prasega."


 


 


Vita dan wanita itu bersalaman.


 


 


"Vita, ini temannya papa kamu waktu SMA di New Zealand. Namanya Katherine O'Riordan."


 


 


"Senang bertemu denganmu, Vita."


 


 


"Senang bertemu dengan anda."


 


 


Omma kembali berucap, "Kathy memiliki indra keenam. Dia bisa melihat hantu."


 


 


Vita terkejut.


 


 


"Apa di rumah ini benar-benar ada hantu?" Tanya omma pada Katherine.


 


 


Sesaat wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Vita memperhatikan wanita itu.


 


 


Pandangan Katherine teralihkan pada Vita. Wanita itu menatap Vita penuh arti untuk sesaat lalu beralih menoleh pada omma.


 


 


"Sepertinya bukan hantu yang ada di rumah ini, Nyonya Prasega."


 


 


"Lalu apa?" Tanya omma. Vita juga tampak penasaran.


 


 


"Dia seperti makhluk yang bukan dari jenis apa pun. Aku belum pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya. Sepertinya dia menyukai Vita."


 


 


Deg!


 


 


Omma terlihat khawatir. Dia mengguncangkan tangan Katherine. "Apa makhluk tak bernama itu bisa dihilangkan saja dari rumah ini?"


 


 


"Aku ragu. Dia sangat kuat. Aku tidak akan sanggup."


 


 


Sekakmat!


 


 


-


 


 

__ADS_1


20.17 : 1 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2