
"Itu adalah segel drucless milikku yang aku tanam sejak 100 tahun lalu."
Deg!
"Aku adalah seorang drucless. Aku datang dari dunia drucless untuk menemuimu dan kembali hidup bersamamu. Segel drucless ini adalah tanda, jika kau adalah istri dari seorang drucless."
Vita melihat ada huruf aneh di bagian leher kirinya. "Ini bacaan apa?"
"Itu namaku, Rean Attlass Gigarez."
Atlas? Dalam benak Vita, muncullah bayangan buku tebal berisikan kumpulan peta di seluruh dunia.
"Segel milikku memang limited edition. Hanya aku yang memiliki segel seindah ini," ucap Rean sambil mengusap leher Vita.
Dia bisa bahasa Inggris juga?
Vita masih membeku. Tidak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Banyak hal yang berputar dalam kepalanya.
"Vita?"
Gadis itu mengusap segel drucless milik Rean dari lehernya. Namun, segel itu tidak akan menghilang.
"Sampai mati pun, kau tidak akan pernah bisa menghilangkannya," kata Rean sambil mengubah warna matanya kembali menjadi biru laut.
Segel di leher Vita pun menghilang. Gadis itu menghela napas lega.
"Apa sekarang kau percaya?" Tanya pria itu.
"Sedikit," jawab Vita hati-hati.
Sunyi.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan, setelah kau menemukanku?" Tanya Vita.
"Aku akan bersamamu di dunia manusia," ujar Rean, "aku akan menunggumu agar jatuh cinta padaku dulu."
Dia sangat serius rupanya. Meskipun dia mesum dan cabul, dia bisa menuruti ucapanku. Asalkan aku sedikit lebih tegas padanya. Ah, mau tegas bagaimana. Dia sangat menakutkan begitu. Tidak ada senyuman hangat di wajahnya. Dia bilang, dia mencintaiku, tapi tatapannya padaku seperti ingin membunuhku.
"Apa yang kau pikirkan? Kau masih ragu padaku?" Tanya Rean.
Vita menggeleng. "Bisakah kau sedikit tersenyum padaku?"
Rean tersenyum paksa. Vita menutup wajah pria itu dengan kedua tangannya. Kedua pipi gadis itu memerah melihat keseksian ekspresi Rean ketika tersenyum.
"Kenapa menutup wajahku? Apa kau takut padaku?" Rean melepaskan tangan Vita dari wajahnya.
"Tidak, kau tampan... hanya saja ekspresimu itu...." Vita tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa? Ekspresiku seperti pembunuh? Baiklah, aku tidak akan tersenyum lagi, jika itu membuatmu takut."
__ADS_1
Vita menggeleng. "Tidak, tidak... usahakan kau belajar tersenyum lebih manis lagi."
Rean menggeleng. "Aku benci yang manis-manis."
Vita terlihat sedih. Pria itu mencubit hidung Vita. "Tapi, jika yang manis itu dirimu, aku suka."
Sialan, dia bisa menggombal juga! Jerit Vita dalam hati.
Sore harinya, tiba-tiba ayahnya Vita datang ke rumah omma, tanpa memberitahu lebih dulu.
"Ibu, aku akan membawa Vita bersamaku." Tuan Prasega memohon pada ibunya.
"Beraninya kau mau menculik cucuku! Aku tidak akan mengizinkanmu membawanya. Kau tidak pernah memperhatikan Vita dengan baik." Omma tampak kesal.
Vita memang merindukan ayahnya, tapi dia tidak mau pergi dari rumah omma. Dia tidak mau meninggalkan omma. Gadis itu hanya berdiri di belakang kursi roda omma sambil menunduk sedih.
"Jauh-jauh datang kemari hanya ingin mengambil cucuku. Kau tidak sopan sekali. Apa aku yang mengajarimu seperti itu?" Perkataan pedas omma sudah biasa didengar Tuan Prasega sejak kecil.
Tiba-tiba Rean muncul di samping Vita. Dia merangkul gadis itu. Vita terkejut dan menoleh.
"Ada yang bisa kulakukan untukmu?" Bisik Rean. Vita menggeleng pelan.
Rean memperhatikan ayah dan ommanya Vita yang sedang mempertahankan keinginan masing-masing.
"Jika aku tidak membawa Vita segera, ibunya bisa-bisa datang kemari dan membawanya. Apa Ibu lebih merelakan Vita bersama wanita itu?" Tanya Tuan Prasega.
"Aku lebih senang Vita bersamaku di sini." Tampaknya omma tidak mau dibantah lagi.
Rean menoleh lagi pada Vita.
Gadis itu memeluk leher omma dari belakang. "Aku tidak mau meninggalkan omma. Aku akan tetap di sini bersama omma."
Mendengar jawaban cucunya, omma sangat terharu. Wanita yang usianya hampir tiga perempat abad itu mengusap tangan Vita yang melingkar di lehernya.
Tuan Prasega tersenyum. "Ya sudah, kalau kau mau sesuatu, hubungi Papa, ya."
Vita mengangguk pelan.
Setelah itu, Tuan Prasega melenggang pergi meninggalkan rumah ibunya.
Omma menggenggam tangan cucunya. "Vita, seandainya kau mau tinggal bersama papa atau mamamu, kau boleh pergi. Omma tidak memaksamu untuk tinggal di sini. Omma rasa, tinggal di rumah orang tuamu akan lebih menyenangkan. Mereka punya rumah di kota besar. Kau akan memiliki banyak teman di sana."
Vita menggeleng cepat. "Tidak, Omma. Aku sudah sangat nyaman di sini bersama Omma."
Rean menoleh pada omma dan Vita bergantian.
"Terima kasih, Vita. Kau sudah mau tinggal bersama omma."
-
Malam telah tiba, Vita dan omma sedang menyantap makan malam dengan lahap. Vita teringat pada Rean.
__ADS_1
Dalam benak gadis itu timbul banyak pertanyaan. Dia memakan makanan manusia juga, atau memakan benda lain?
Selesai makan malam, Vita mengantar omma tidur ke kamarnya.
"Selamat malam, Omma."
"Selamat malam, Sayang."
Vita mengambil sepiring makanan dan segelas minuman. Dia meletakkannya di atas nampan. Gadis itu berlalu menaiki tangga menuju kamarnya dengan membawa nampan tersebut.
Sesampainya di kamar, dia melihat Rean sedang melihat-lihat peralatan make-up miliknya di meja rias.
"Rean," panggil Vita.
Merasa namanya dipanggil, Rean menoleh pada gadis itu. Ada rasa senang di hati Rean, ketika Vita memanggil namanya untuk pertama kali di kehidupan sekarang.
"Kau memakan makanan manusia juga, kan?" Tanya Vita sambil meletakkan nampan ke meja.
Rean menggelengkan kepala sambil menepuk perutnya. "Tidak, makanan manusia berlemak. Aku bisa-bisa kehilangan abdomen-ku."
Vita mengernyit. "Bagaimana bisa seperti itu? Kalau kau tidak makan, kau pasti lapar."
Rean menghampiri Vita dan melihat makanan tersebut. Akhirnya dia memakannya. Vita menyaksikan pria itu ketika makan.
Gadis itu menekuk wajahnya sambil membatin, bahkan sedang makan pun, dia terlihat begitu tampan.
Selesai makan, Rean mengintip perutnya lewat bagian leher bajunya. Vita mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Apa makanan manusia terasa aneh bagimu?" Tanya Vita.
"Aku sedang mengecek perutku, apa masih ada, atau menghilang?" Jawab Rean dengan polosnya.
Vita sedang mati-matian menahan tawa, melihat ekspresi menyeramkan Rean berubah konyol.
Rean mendongkak menatap Vita. "Bisakah kau melihatnya?"
Sebelum Vita menjawab, pria itu mengangkat bajunya. Vita berteriak sambil menutup kedua matanya.
"Vita? Ada apa?" Tanya omma dari kamarnya.
Vita menutup mulutnya. Rean masih memasang ekspresi bingung.
"Lihat perutku," kata Rean. Vita menoleh pada perut Rean yang sekarang terekspos begitu saja.
Sejenak Vita melongo melihat otot perut yang terpahat sempurna di depannya. Pria itu memiliki 8 kotak yang menonjol.
"Masih ada?" Tanya Rean sambil menunduk melihat perutnya sendiri.
"Kenapa kau malah memperlihatkannya padaku?!"
-
__ADS_1
01.44 : 2 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah