
Vita tengah menonton TV sambil berbaring di sofa. Dia melihat Rean menuruni tangga. Jubah hitamnya bergerak seiring dengan langkahnya.
Dia melihat pada Vita. Gadis itu memilih kembali memusatkan perhatiannya ke TV. Rean duduk di sofa dekat kaki Vita yang berselonjor.
Rean menepuk bokong Vita. "Jangan pura-pura tidak melihatku. Di sini hanya kau yang bisa melihatku."
Vita menoleh sesaat pada pria itu. "Kau yang berbohong pada Ashlan dengan mengatakan, kalau kau pacarku. Iya, kan?" Tanya Vita tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca.
"Iya."
Vita bangkit dan beringsut menjauh dari Rean. "Kau pasti salah orang. Aku bukan pacarmu, bukan kekasihmu, bukan istrimu."
"Kau istriku," jawab Rean penuh penekanan. Dia menggeser duduknya ke dekat Vita.
"Kembalilah ke planetmu. Jangan ganggu aku lagi," ucap Vita pelan.
Dengan nada dingin, Rean menyahut, "Aku tidak suka ada pria lain yang mendekatimu."
Vita terdiam tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Pria tampan di depannya sangat menakutkan dan memiliki tatapan yang begitu tajam, seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
"Aku tahu, kau menyadari kehadiranku saat kau pergi tidur. Aku yang datang dan menciummu."
Vita sudah menduganya. Namun, sangat menakutkan ketika mendengar pengakuannya secara langsung dari mulut Rean.
"Aku mendatangi semua pria yang berani mendekatimu dan mengatakan pada mereka, kalau kau adalah pacarku."
Deg!
Ashlan juga? Karena makhluk ini dia menjauhiku! Teriak Vita dalam hati.
"Kau ingin punya pacar, kan? Berterimakasih, lah, karena kau punya suami yang tampan sepertiku."
Mengerikan! Kau punya tatapan seperti serigala yang mau memakanku!
Rean menyandarkan punggungnya ke sofa. "Seandainya kau ingat, kau pasti mengerti."
"Ingat apa?" Tanya Vita. Rean menoleh pada gadis itu. "Mengingat semua yang pernah kita lakukan di masa lalu. Kehidupan kita setelah menikah."
Vita bergidik ngeri. Meskipun Rean adalah pria yang tampan, dia harus berpikir ratusan kali untuk menikah dengan pria itu.
Gadis itu membatin, di masa lalu? Apa dia datang dari masa lalu? Dia hanya bicara omong kosong. Hantu yang tersesat ke dunia manusia.
"Apa kau bisa membuktikan kalau aku memang istrimu?" Tanya Vita.
"Tanyakan yang hanya kau ketahui, maka aku akan menjawabnya," tantang Rean.
"Hari apa aku lahir?"
"Minggu."
__ADS_1
"Tinggi badanku?"
"Sepertiga dari tinggi badanku."
Vita tampak berpikir mendengar jawaban unik pria di depannya itu.
"Berat badanku?"
"Sama dengan 12 ekor treteaa gemuk."
Vita mengernyit bingung. "Benda apa itu?"
"Sama dengan kelinci, hanya saja mereka sedikit lebih besar dari kelinci dan memiliki kaki kecil dan telinga kecil. Mereka bisa berdiri dengan dua kaki belakang dan berbulu warna-warni."
"Kalau begitu, itu berbeda dengan kelinci," Vita menggerutu pelan.
"Pertanyaan lain." Tampaknya Rean sedang serius ingin membuktikan, kalau Vita memang benar-benar istrinya.
"Benda favoritku?"
"Debu dan cat."
Lagi-lagi Vita mengernyit. "Aku tidak suka debu dan cat. Kau hanya asal menjawab."
Rean tampak berpikir. "Kau pernah mengoleskan debu yang wangi ke wajahmu. Aku juga melihatmu mengecat bibirmu dengan cat berwarna merah muda."
Vita terbengong. Apa yang dia bicarakan itu... maksudnya bedak tabur dan lipstik?
"Semua warna, kecuali kuning dan hijau."
Dia bisa tahu banyak juga, ya? Batin Vita.
"Ada pertanyaan lain?" Tanya Rean sambil mendekatkan wajahnya.
Vita menahan dada Rean. "Jangan dekat-dekat. Kau tidak tuli, kan? Kau bisa mendengarnya di tempat semula."
Tidak ada jawaban dari Rean. Pria itu tetap mendekat dan semakin dekat. Hidung mereka bersentuhan.
"K-kau bilang, kau mencintaiku, kan?" Tanya Vita dengan suara bergetar.
"Aku sangat mencintaimu," jawab Rean cepat.
Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, Vita segera bersuara, "Kalau kau mencintaiku, kau tidak boleh memaksakan keinginanmu padaku."
Sejenak Rean terdiam lalu kembali ke posisi semula. "Iya, baiklah."
Vita menghela napas lega. "Jawabanmu sama sekali tidak ada yang masuk akal. Kau tidak bisa membuktikan apa pun. Kau hanya asal menjawab."
Rean menatap Vita dengan dingin, pria itu tampak menahan marah.
Vita menelan saliva dengan gugup. "Ke-kenapa menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Berikan pertanyaan yang bisa membuatmu yakin, kalau aku adalah suamimu," kata Rean.
Vita menoleh pada Rean. "Ka-kapan aku menikah denganmu? Kenapa kau menganggapku istrimu? Aku 'kan baru berusia 17 tahun. Aku tidak ingat pernah menikah denganmu."
Rean menatap Vita dengan tatapan yang berbeda. Tatapan manik biru langit itu tampak menyendu.
"Kau menikah denganku 100 tahun yang lalu. Tapi, ada sesuatu yang membuatmu harus bereinkarnasi menjadi dirimu yang sekarang." Rean mengalihkan pandangannya.
Vita terkejut. "Bereinkarnasi? Itu artinya aku pernah mati sebelumnya."
Rean memegang kedua lengan Vita. "Sekarang kau percaya?"
Gadis itu melihat kedua tangan Rean yang berada di lengannya lalu menatap pria itu dengan ekspresi yang masih menyiratkan ketidakpercayaan.
Rean menatap dalam manik amethyst milik Vita. "Kau terlahir dengan tubuh yang berbeda. Namun, warna kedua matamu masih sama."
Vita melepaskan diri dari Rean. "Aku masih tidak percaya."
"Jika aku bisa meyakinkanmu, apa kau tidak akan menjauhiku lagi?" Meskipun ucapan Rean terdengar dingin, terselip nada kecemasan dan ketakutan lewat kalimat tersebut.
Vita merasa kasihan juga pada pria itu. Jika saja pria itu manusia seperti dirinya, mungkin Vita tidak keberatan. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, pria itu sangat mesum dan menakutkan.
Vita dirundung kebingungan sekarang. Ada rasa yang tidak bisa dimengerti yang tiba-tiba muncul di hatinya.
"Tyss?" Panggil Rean.
Vita mengerutkan dahinya. "Kau memanggil siapa?"
"Dulu aku memanggilmu begitu."
"Nama mengerikan. Kau bisa memanggilku Vita."
"Baiklah... Vita."
Gadis itu tampak berpikir. "Memangnya apa yang akan kau lakukan untuk meyakinkanku?"
Tiba-tiba kedua mata Rean berubah warna menjadi gelap. Vita merinding melihat itu secara langsung. TV dan listrik di rumah itu mati. Vita ketakutan. Dia melihat ke sekeliling. Apalagi hari mulai gelap. Mungkin karena langit juga sedang mendung.
Ada sesuatu yang muncul di leher Vita. Ukiran seperti tato dari tinta biru itu mengelilingi lehernya. Vita menyentuh lehernya, ketika merasakan ada sesuatu di sana.
"Ada apa?" Tanya Vita panik.
"Kau bisa melihatnya sendiri."
Gadis itu segera mengambil ponsel dan melihat lewat pantulan layarnya. Tato berwarna biru itu tampak bergemerlip.
"Apa ini?" Tanya Vita tampak khawatir.
"Itu adalah segel drucless milikku yang aku tanam sejak 100 tahun lalu."
-
__ADS_1
01.00 : 2 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah